pemudarabbani

Jadilah Pemuda Rabbani (1)

Ustadz Ridwan Bin Abdul 'Aziz Penyejuk Hati 0 Comments

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim.

Pemuda Rabbani artinya ialah seorang pemuda muslim yang tumbuh berkembang hidupnya, di atas didikan yang benar (Islami), ilmiyah, dan senantiasa berjalan di atas ketaatan terhadap agamanya. Sering juga hal ini diistilahkan dengan kehidupan seorang pemuda yang saleh, taat kepada agamanya, dan sayang kepada kedua orang tuanya, serta berakhlak baik bagi lingkungannya.

Pemuda Rabbani adalah pemuda harapan bagi semua orang dan bangsa, dalam rangka meraih kehidupan yang berkesinambungan, serasi, ilmiyah, makmur, tertib, aman sejahtera, dan senantiasa di atas jalan yang diridhai oleh Allah Ta’ala.

Masalah pemuda adalah merupakan masalah yang sangat penting bagi setiap bangsa, agar pendidikan mereka diupayakan dengan maksimal terutama dalam bidang mental dan spiritual mereka, karena para pemuda pada hakikatnya adalah calon penerus bangsa dan tulang punggungnya.

Persoalan umat ini adalah cenderung semakin carut marut; kebanyakan generasi muslim semakin  kehilangan arah dan tidak menyadari peran besar mereka sebagai agen  perubahan untuk kelangsungan agama dan bangsanya dimasa mendatang. Sementara musuh Islam semakin gencar melancarkan serangan halusnya lewat ghowzul fikri (perang pemikiran), melalui media massa dan buku-buku sebagai senjatanya. Serangan yang dikemas sangat cantik  hingga para generasi muda tak sadar jika mereka sedang diperangi dari depan, belakang, atas, dan bawah. Mereka yang digadang-gadangi sebagai calon pewaris peradaban dan pimpinan umat nantinya, semakin terbuai oleh peluru-peluru kafir laknatullah yang di keluarkan melalui doktrin-doktrin yang menyesatkan. Akhirnya sebuah pil pahit harus ditelan oleh umat Islam, terutama di Indonesia, bahwa degradasi moral (kemerosotan moral) para pemuda semakin berada pada titik terendah.

Disadari atau tidak, media ternyata memberikan sumbangsih yang sangat spektakuler (mencolok, menarik) dalam sisi pergaulan hidup manusia. Lihatlah betapa media mempunyai kekuatan powerful dalam menanamkan nilai-nilai budaya norma dan tren di dalam diri khalayaknya. Kaum muda muslim yang terus-menerus menyaksikan film-film produksi barat lambat laun akan menyerap budaya yang disajikan di dalam film tersebut.

Dan tanpa disadari mereka melupakan batasan-batasan budaya serta nilai-nilai Islam yang seharusnya dianut, sehingga pada akhirnya perilaku pun akan mudah berubah. Ini dapat dilihat betapa mudahnya anak-anak dan remaja mengikuti apa yang sering ditampilkan di televisi. Misalnya dari pakaian, gaya rambut, cara berbicara, bahasa, pergaulan, perilaku kekerasan, atau bahkan gaya hubungan antara lawan jenis.

Masalah akhlak pemuda muslim di Indonesia ini juga kian memburuk. Faktanya generasi muda saat ini banyak yang mengatasi masalah-masalahnya dengan jalan pintas. Seperti minum minuman keras, menggunakan narkoba, pergi ke tempat-tempat hiburan malam, dan bahkan sampai ada yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Sungguh ini merupakan kerusakan moral dari jati diri Islam yang begitu fatal.

Selain moral dan gaya hidup, ketakwaan generasi muda bangsa Indonesia yang mencermainkan lunturnya nilai keagamaan, seperti contoh nyatanya banyak generasi muda muslim Indonesia yang tidak bisa membaca Al-Qur’an. Hal itu terjadi karena lemahnya sistem pendidikan agama di negara ini. Padahal sebenarnya jika generasi muda mempunyai ketaqwaan yang tinggi pasti tidak akan ada tindakan-tindakan yang melanggar hukum seperi korupsi, kolusi, pelecehan seksual, kerusuhan antarormas, dan tindakan menyimpang lain. Karena, mereka menganggap dirinya selalu diawasi oleh Yang Maha Kuasa sehingga mereka takut dosa dan akan selalu berbuat baik.

Di sisi lain, kita sering mendengar istilah “The Lose Generation” atau “generasi yang hilang”. Yaitu hilangnya jati diri, etika, moral, dan mulai dilupakannya nilai-nilai agama yang menjadi pelindung umat manusia. Istilah ini bukan sesuatu yang baru, tetapi telah tenggelam karena kurang disadari dan dianggap tidak penting karena banyak pihak yang meremehkan persoalan ini. Padahal “The lose Generation adalah persoalan besar yang menghantui masa depan umat, bangsa dan Negara, yang merupakan dampak atau akibat dari hilangnya jati diri umat Islam dan degradasi moral generasi mudanya.

Adanya suatu generasi merupakan “sunnatullah”, sesuatu yang sifatnya afirmatif (menguatkan), tidak bisa ditawar-tawar dan pasti terjadi pada suatu kaum atau bangsa. Baik atau buruk suatu generasi sebenarnya tergantung kita sebagai bangsa dalam mempersiapkan generasi mendatang. Harus diakui upaya untuk itu telah dilakukan dengan baik, tetapi di sisi lain tantangan dan hambatan juga cukup keras dan intens.

Gejala dekadensi moral dan indikasi sosial semakin nyata karena memang situasi global yang sangat terbuka dan daya tahan bangsa yang semakin rapuh. Hedonisme, kejahatan, dan kekerasan menjadi konsumen harian anak-anak kita karena disajikan secara masif dalam media kita. Perzinaan, aborsi, kecanduan narkoba dan kerusuhan dijadikan sebagai bahan informasi murah dan gampang diperoleh melalui media canggih internet. Pendek kata arus informasi yang masuk hampir tanpa batas, mengalir begitu saja diadopsi tanpa filter (saringan) dan lucunya dijadikan sebagai kebiasaan.

Berikut merupakan beberapa macam, krisis jati diri umat Islam di Indonesia:

  1. Krisis pemahaman terhadap Al-Qur’an
  2. Krisis pemahaman terhadap ajaran agama Islam
  3. Krisis keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah Ta’Ala
  4. Krisis pemurnian ketaatan
  5. Krisis pemahaman dan pelaksanaan hukum Islam
  6. Krisis akhlak dan moral
  7. Krisis persatuan
  8. Krisis aqidah
  9. Krisis pemahaman pelaksanaan ibadah
  10. Krisis dakwah
  11. Krisis sistem pendidikan agama Islam
  12. Krisis pemahaman lintas agama

Fenomena di atas hendaknya dijadikan sebagai bahan renungan bagi kita. Apakah selama ini kita telah menjaga diri, keluarga dan masyarakat di sekitar kita agar tidak terkena dampak demoralisasi. Ataukah selama ini kita lupa dan melalaikannya. Padahal Allah –subhanahu wata’ala-, dengan jelas memberikan perintah kepada kita dalam firmanNya,

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارً۬ا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡہَا مَلَـٰٓٮِٕكَةٌ غِلَاظٌ۬ شِدَادٌ۬ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ (٦)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Kita harus mewaspadai gejala ini, sebab akan menimbulkan akibat buruk bagi generasi yang akan datang. Kita tidak bisa membayangkan seperti apa jadinya generasi yang akan datang, jika generasi sekarang seperti saat ini. Dan inilah yang Allah gambarkan sebagai generasi yang buruk, suatu generasi yang akan membawa pada kehancuran dan kesesatan.

Allah berfirman: Maryam ayat 59:

٥٩) فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا)

 “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang buruk) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan”.

Pada ayat ini, Allah menjelaskan bahwa ada dua karakter utama dari generasi yang buruk yaitu adoo’ush-sholah (menyia-nyiakan shalat) dan ‘wattaba’usy-syahawat (memperturutkan hawa dan nafsu).

Gambaran gejala kemerosotan moral sebagaimana tersebut di atas perlu mendapat perhatian khusus oleh segenap pemimpin, ulama, orang tua, guru, lembaga kepemudaan, bahkan generasi muda sendiri. Kalau tidak, bayang-bayang menakutkan “The Lose Generation” akan menjadi kenyataan dan sekaligus menimbulkan akibat buruk bagi generasi yang akan datang. Bagaimanapun “generasi yang hilang” akan membawa kehancuran dan kesesatan bagi umat.

Bersambung.

Da’i asal Malang yang tengah mengasuh Pondok Pesantren (Ma’had) Tauhidullah di Surabaya. Kesehariannya menulis di majalah Tauhidullah yang merupakan majalah asuhannya. Kesibukan lain, beliau membina beberapa majelis taklim rutin di Surabaya. Sering juga mengadakan safari dakwah di berbagai pelosok desa di pulau Jawa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*