bayi baru lahir syari

Begini Cara Menyikapi Bayi Baru Lahir Sesuai Syar’i

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Fiqih 0 Comments

Para bidan dan para tenaga kesehatan kelahiran perlu merujuk kembali sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ditinggalkan, yaitu mentahnik bayi yang baru lahir dan didoakan berkah. Boleh juga hari pertama diberi nama atau hari ke-7 saat aqiqah si bayi dan ditimbang rambutnya yang dicukur gundul lalu bersedekah sejumlah dirham seberat rambutnya.

Tahnik adalah menyuapi bayi dari makanan yang sudah dikunyah (lumat) oleh orang shalih dan dianjurkan kurma. Imam Muslim membuat bab Sunnah Mentahnikkan Bayi Kepada Orang Yang Salih dan Diberi Nama Yang Baik.

Diriwayatkan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:

كَانَ ابْنٌ لِأَبِي طَلْحَةَ يَشْتَكِي، فَخَرَجَ أَبُو طَلْحَةَ، فَقُبِضَ الصَّبِيُّ، فَلَمَّا رَجَعَ أَبُو طَلْحَةَ، قَالَ: مَا فَعَلَ ابْنِي، قَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ: هُوَ أَسْكَنُ مَا كَانَ، فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ العَشَاءَ فَتَعَشَّى، ثُمَّ أَصَابَ مِنْهَا، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَتْ: وَارُوا الصَّبِيَّ، فَلَمَّا أَصْبَحَ أَبُو طَلْحَةَ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ، فَقَالَ: «أَعْرَسْتُمُ اللَّيْلَةَ؟» قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: «اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمَا» فَوَلَدَتْ غُلاَمًا، قَالَ لِي أَبُو طَلْحَةَ: احْفَظْهُ حَتَّى تَأْتِيَ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَتَى بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَرْسَلَتْ مَعَهُ بِتَمَرَاتٍ، فَأَخَذَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «أَمَعَهُ شَيْءٌ؟» قَالُوا: نَعَمْ، تَمَرَاتٌ، فَأَخَذَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَضَغَهَا، ثُمَّ أَخَذَ مِنْ فِيهِ، فَجَعَلَهَا فِي فِي الصَّبِيِّ وَحَنَّكَهُ بِهِ، وَسَمَّاهُ عَبْدَ اللَّهِ

“Putra Abu Thalhah sakit, dan Abu Thalhah keluar lalu putranya meninggal, dan ketika kembali Abu Thalhah bertanya, ‘Bagaimana keadaan putraku?’ Jawab Ummu Sulaim, ‘Kini ia lebih tenang dari semula.’ Lalu Ummu Sulaim menghidangkan makan malam, dan sesudah makan lalu tidur menyetubuhinya, setelah selesai Ummu Sulaim berkata, ‘Orang-orang telah menguburnya (telah meninggal).’ Kemudian ketika pagi Abu Thalhah pergi memberitahu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Apakah kalian berbulan madu semalam?’ Jawab Abu Thalhah, ‘Ya.’ Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a, ‘Ya Allah berkahilah keduanya.’ Setelah Ummu Sulaim melahirkan putra, Abu Thalhah berkata kepadaku (Anas), ‘Jagalah anak ini sampai kamu bawa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lalu dibawa oleh Anas kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa beberapa biji kurma, maka diterima oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bayi itu lalu bertanya, ‘Apakah membawa sesuatu?’ Jawab Anas, ‘Ya, beberapa biji kurma,’ lalu diambil oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dikunyah (dilumat) beberapa kurma kemudian diambil dari mulut beliau dan disuapkan pada bayi untuk tahnik lalu diberi nama ‘Abdullah.’” (HR. Al-Bukhari no. 5470 dan Muslim no. 2144)

Diriwayatkan Abu Musa radhiyallahu ‘anhu berkata:

وُلِدَ لِي غُلاَمٌ، فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ، فَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ، وَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ، وَدَفَعَهُ إِلَيَّ، وَكَانَ أَكْبَرَ وَلَدِ أَبِي مُوسَى

“Bayiku lahir lalu aku bawa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau menamainya Ibrahim, kemudian mentahniknya dengan sebiji kurma dan mendoakannya keberkahan, lalu diserahkan kembali kepadaku, dan itu putra Abu Musa yang terbesar (tertua).” (HR. Al-Bukhari no. 6198 dan Muslim no. 2145)

Diriwayatkan Asmaa radhiyallahu ‘anha mengandung ‘Abdullah bin az-Zubair, ia berkata:

فَخَرَجْتُ وَأَنَا مُتِمٌّ فَأَتَيْتُ المَدِينَةَ فَنَزَلْتُ بِقُبَاءٍ فَوَلَدْتُهُ بِقُبَاءٍ، ثُمَّ أَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعْتُهُ فِي حَجْرِهِ، ثُمَّ دَعَا بِتَمْرَةٍ فَمَضَغَهَا، ثُمَّ تَفَلَ فِي فِيهِ، فَكَانَ أَوَّلَ شَيْءٍ دَخَلَ جَوْفَهُ رِيقُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ حَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ ثُمَّ دَعَا لَهُ، وَبَرَّكَ عَلَيْهِ وَكَانَ أَوَّلَ مَوْلُودٍ وُلِدَ فِي الإِسْلاَمِ

“Aku keluar ke Madinah di waktu hamil tua, sesampainya di Quba’ aku melahirkan, kemudian aku bawa putraku itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku meletakkannya di pangkuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau minta kurma dan dikunyah kemudian menyuapkannya ke dalam mulut bayiku itu, dan yang pertama masuk dalam perut anakku adalah ludah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau mendoakannya keberkahan. Bayiku adalah bayi pertama yang dilahirkan dalam Islam.’” (HR. Al-Bukhari no. 3909 dan Muslim no. 2146)

Diriwayatkan Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu berkata:

أُتِيَ بِالْمُنْذِرِ بْنِ أَبِي أُسَيْدٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ وُلِدَ، فَوَضَعَهُ عَلَى فَخِذِهِ، وَأَبُو أُسَيْدٍ جَالِسٌ، فَلَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَيْءٍ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَأَمَرَ أَبُو أُسَيْدٍ بِابْنِهِ، فَاحْتُمِلَ مِنْ فَخِذِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَاسْتَفَاقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «أَيْنَ الصَّبِيُّ» فَقَالَ أَبُو أُسَيْدٍ: قَلَبْنَاهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «مَا اسْمُهُ» قَالَ: فُلاَنٌ، قَالَ: «وَلَكِنْ أَسْمِهِ المُنْذِرَ» فَسَمَّاهُ يَوْمَئِذٍ المُنْذِرَ

“Al-Mundzir bin Abi Usaid ketika baru lahir dibawa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau meletakkannya di pangkuan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang Abu Usaid duduk, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disibukkan oleh suatu yang terjadi di depannya, sehingga Abu Usaid menyuruh (seseorang) untuk mengambilnya dari pangkuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sadar bertanya, ‘Di manakah bayi tadi?’ Abu Usaid menjawab, ‘Kami pulangkan wahai Rasulullah.’ Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Siapakah namanya?’ Dijawab, ‘Fulan.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tetapi namailah al-Mundzir.’ Akhirnya ia dinamai al-Mundzir semenjak itu.” (HR. Al-Bukhari no. 6191 dan Muslim no. 2149)

Allahu a’lam.[]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*