mengangkat tangan shalat

Bagaimana Cara Mengangkat Tangan dalam Shalat?

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Fiqih 0 Comments

Mengangkat tangan dalam shalat caranya kedua ujuang tangan disejajarkan dengan cuping (daun telinga paling bawah) atau sejajar bahu. Jari-jari tangan tidak digenggam atau mengatup tetapi dihamparkan secara alami dan telapak tangan menghadap qiblat. Demikian yang dijelaskan dari kitab-kitab fiqih.

Kapan Saja Mengangkat Tangan dalam Shalat?

Disunnahkan mengangkat tangan pada 4 tempat:

  1. Saat takbiratul ihram (takbir pertama pembuka shalat)
  2. Saat rukuk
  3. Saat bangkit dari rukuk (i’tidal)
  4. Bangkit dari duduk tasyahud awal.

Empat cara ini telah shahih dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhuma. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhuma berkata:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ فِي الصَّلاَةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يَكُونَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ، وَكَانَ يَفْعَلُ ذَلِكَ حِينَ يُكَبِّرُ لِلرُّكُوعِ، وَيَفْعَلُ ذَلِكَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، وَيَقُولُ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، وَلاَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ

“Saya melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika berdiri shalat mengangkat kedua tangannya sejajar bahunya. Beliau melakukan itu juga ketika takbir mau ruku’, dan ketika bangun dari ruku’ (i’tidal) sambil membaca: ‘Allah mendengar siapa yang memuji-Nya,’ tetapi tidak mengangkat kedua tangannya ketika bersujud.” (HR. Al-Bukhari no. 736 dan Muslim no. 390)

Diriwayatkan dari Abu Qilabah bahwa ia telah melihat Malik bin al-Huwairits jika takbir untuk shalat mengangkat kedua tangannya dan juga mengangkat kedua tangannya ketika akan ruku, dan ketika bangun dari ruku’, dan mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah berbuat begitu. (HR. Al-Bukhari no. 737 dan Muslim no. 391)

Bagaimana Bila Mengangkat Tangan di Selain Empat Tempat Tadi?

Meskipun demikian kita tidak boleh menyalahkan orang mengangkat tangannya di selain 4 tempat tadi, seperti saat hendak sujud dan bangkit dari sujud, karena ada hadits shahih yang menyebutkan demikian. Barangkali suatu waktu beliau melakukan yang pertama seperti penuturan Ibnu ‘Umar dan kadangkala melakukan yang kedua ini.

Setiap gerakan ini baik turun atau bangkit melafazhkan ALLAHU AKBAR kecuali saat bangkit dari rukuk (i’tidal) maka membaca SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu ketika mengimami orang-orang bertakbir tiap bangun dan tunduk, kemudian selesai shalat berkata:

إِنِّي لَأَشْبَهُكُمْ صَلاَةً بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Saya contohkan kepada kalian shalat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (HR. Al-Bukhari no. 785 dan Muslim no. 392)

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika berdiri shalat bertakbir ketika berdiri, kemudian takbir ketika ruku’, lalu membaca (سَمِعَ الله لِمَنْ حَمِدَهُ) ketika mengangkat punggungnya dari ruku’, lalu membaca saat bangun (رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ). Kemudian takbir ketika akan sujud, kemudian takbir ketika mengangkat kepalanya (bangkit dari sujud), kemudian takbir ketika sujud (kedua kali), kemudian takbir ketika bangun dari sujud, dan begitulah beliau berbuat pada tiap shalatnya hingga selesai, dan juga takbir ketika bangun dari raka’at kedua sesudah duduk tasyahhud.” (HR. Al-Bukhari no. 789 dan Muslim no. 392)

Mutharrif bin ‘Abdillah berkata, “Aku bersama Imran bin Hushain Radhiyallahu ‘Anhu shalat di belakang ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu. Jika sujud ia bertakbir, jika bangun bertakbir, dan jika berdiri dari rak’aat kedua bertakbir. Ketika selesai shalat, Imran bin Hushain memegang tanganku dan berkata:

لَقَدْ صَلَّى بِنَا هَذَا صَلاَةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَوْ قَالَ: لَقَدْ ذَكَّرَنِي هَذَا صَلاَةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

‘Dia mengimami kita seperti shalat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam —atau berkata—sungguh ia telah mengingatkan saya pada shalat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.’” (HR. Al-Bukhari no. 826 dan Muslim no. 393)

Allahu a’lam.[]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*