21 dalil 2

21 Dalil Shahih tentang Keutamaan Ilmu dan Ahli Ilmu (2)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Manhaj 0 Comments

Sambungan dari: 21 Dalil Shahih tentang Keutamaan Ilmu dan Ahli Ilmu (1)

  1. Ahli Ilmu Disamakan Niatnya dengan Pahalanya Para Dermawan

Dari Abu Kabsyah al-Anmari Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ، عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَفْضَلِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا، فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَخْبَثِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ

“Dunia itu milik empat golongan, yaitu [1] seseorang yang Allah beri ilmu dan harta lalu dia bertakwa kepada Allah, menyambung silaturrahmi, dan mengetahui hak Allah pada harta tersebut. Orang ini yang paling utama kedudukannya di sisi Allah. [2] Seseorang yang Allah beri ilmu tetapi tidak diberi harta lalu dia berkata, ‘Andai aku punya harta aku akan melakukan seperti amal fulan.’ Karena niat baiknya itu, dia dan orang pertama sama dalam pahala. [3] Seseorang yang Allah beri harta tetapi tidak diberi ilmu lalu dia memboroskan harta itu tanpa bertakwa kepada Allah, tidak menyambung silaturrahmi, dan tidak tahu hak Allah pada harta itu. Orang ini kedudukannya paling buruk di sisi Allah. [4] Seseorang yang tidak diberi Allah harta dan ilmu lalu berkata, ‘Andai aku punya harta aku akan melakukan seperti amal fulan.’ Karena niat buruknya itu, keduanya sama dalam dosa.” (HR. At-Tirmidzi no. 2325 dan dishahihkan Syaikh Al-Albani)

  1. Ahli Ilmu Adalah Orang yang Dicintai dan Dikehendaki Kebaikan oleh Allah

Dari Mu’awiyah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللَّهُ يُعْطِي، وَلَنْ تَزَالَ هَذِهِ الأُمَّةُ قَائِمَةً عَلَى أَمْرِ اللَّهِ، لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ

“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan bagi dirinya maka Dia akan jadikan ia mendalami agamanya. Aku hanya membagi dan Allahlah yang memberi. Sekelompok umatku akan senantiasa tegak di atas perintah Allah. Orang yang menyelisihi mereka tidak akan bisa mencelakakan mereka hingga datang perintah Allah (hari Kiamat).” (HR. Al-Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

  1. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Berwasiat kepada Generasi Terbaik untuk Menyambut Para Ahli Ilmu dengan Santun dan Suka Cita

Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

سَيَأْتِيكُمْ أَقْوَامٌ يَطْلُبُونَ الْعِلْمَ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمْ فَقُولُوا لَهُمْ: مَرْحَبًا مَرْحَبًا بِوَصِيَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاقْنُوهُمْ

“Kelak akan datang sejumlah kaum yang menuntut ilmu. Jika kalian nanti melihat mereka maka sampaikan kepada mereka, ‘Selamat datang atas wasiat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,’ lalu ajarilah mereka.” (HR. Ibnu Majah no. 247 dan dihasankan Syaikh Al-Albani)

  1. Ahli Ilmu Wajahnya Bercahaya dan Berseri-seri

Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ غَيْرَهُ، فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ

“Semoga Allah menjadikan bercahaya seseorang yang mendengar hadits kami lalu menghafalnya hingga menyampaikannya kepada orang lain. Betapa banyak orang yang membawa (riwayat) fiqih kepada orang yang lebih faqih darinya. Betapa banyak orang yang membawa (riwayat) fiqih tetapi tidak faqih.” (HR. At-Tirmidzi no. 2656, Abu Dawud no. 3660, dan Ibnu Majah no. 230 dan dishahihkan Syaikh Al-Albani)

  1. Ahli Ilmu Mendapat Bonus Pahala dari Setiap Orang yang Mengamalkan Ilmu yang Diajarkannya

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Siapa yang mengajak kepada hidayah maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Siapa mengajak kepada kesesatan maka dia mendapatkan dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim no. 2674)

  1. Ahli Ilmu Laksana Tanah Terbaik di Muka Bumi

Dari Abu Musa al-Asy’ari bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنَ الهُدَى وَالعِلْمِ، كَمَثَلِ الغَيْثِ الكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ، قَبِلَتِ المَاءَ، فَأَنْبَتَتِ الكَلَأَ وَالعُشْبَ الكَثِيرَ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ، أَمْسَكَتِ المَاءَ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ، فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا، وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى، إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَلَأً، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ، وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ

“Perumpamaan hidayah dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya seperti hujan lebat yang menimpa tanah. Di antara tanah itu adalah tanah subur yang menyerap air sehingga menumbuhkan tanaman dan rerumputan banyak. Adapula tanah ajadib (gembur) yang menampung air lalu Allah menjadikannya bermanfaat bagi manusia di mana mereka bisa meminunya, mengairkannya, dan mengairi ladangnya. Air hujan itu juga menimpa jenis tanah lain yaitu tanah qian (tandus) yang tidak bisa menampung air dan menumbuhkan tanaman. Demikian itulah perumpamaan orang yang faqih agama yang memanfaatkan apa yang Allah utus aku dengannya untuk dipelajari dan diajarkannya, juga perumpamaan orang yang tidak memperdulikannya sedikitpun dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya.” (HR. Al-Bukhari no. 79 dan Muslim no. 2282)

  1. Ahli Ilmu Adalah Muslim Sejati

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah no. 224)

  1. Orang Terbaik dan Shalih Adalah Penuntut Ilmu

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma bahwa ‘Umar berkata, “Aku dan tetanggaku Anshar dari Bani Umayyah bin Zaid tinggal di pinggiran kota Madinah. Kami saling mewakilkan (bergantian) turun menuju Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Aku turun sehari dan dia juga sehari. Jika tiba giliranku turun maka aku akan pulang memberi kabar kepadanya tentang khabar hari tersebut berupa wahyu atau selainnya. Dan jika dia yang turun maka dia akan melakukan hal yang sama.” (HR. Al-Bukhari no. 89)

21.  Para Wanita Terbaik adalah Para Penuntut Ilmu

Semangat kaum wanita menuntut ilmu. Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha bahwa:

أَنَّ امْرَأَةً سَأَلَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ غُسْلِهَا مِنَ المَحِيضِ، فَأَمَرَهَا كَيْفَ تَغْتَسِلُ، قَالَ: «خُذِي فِرْصَةً مِنْ مَسْكٍ، فَتَطَهَّرِي بِهَا» قَالَتْ: كَيْفَ أَتَطَهَّرُ؟ قَالَ: «تَطَهَّرِي بِهَا»، قَالَتْ: كَيْفَ؟، قَالَ: «سُبْحَانَ اللَّهِ، تَطَهَّرِي» فَاجْتَبَذْتُهَا إِلَيَّ، فَقُلْتُ: تَتَبَّعِي بِهَا أَثَرَ الدَّمِ

Seorang wanita bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang cara membersihkan diri dari haidh lalu beliau menyuruhnya bagaimana membersihkannya. Beliau bersabda, “Ambillah kapas berminyak misk lalu bersihkanlah dengannya.” Dia bertanya, “Bagaimana cara membersihkannya?” Jawab beliau, “Bersihkan saja.” Dia bertanya lagi, “Caranya?” Jawab beliau, “Subhanallah, bersihkan saja.” Aku pun menarik wanita itu ke arahku dan berkata, “Bersihkanlah dengan itu bekas darahmu.” (HR. Al-Bukhari no. 314 dan Muslim no. 332)

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*