surat saudariku menikah

Surat untuk Saudariku yang Baru Menikah

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Penyejuk Hati 0 Comments

السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Teruntuk: Segenap Saudari Muslimah

Yang sedang berbahagia

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهَدْيِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ:

Sebelumnya, Saya memang belum dan tidak pernah kenal dengan Ukhti sebelumnya. Namun, tidak berarti kalau kita tidak bersaudara. Bahan, muslim terhadap muslim lainnya adalah bersaudara. Saya ucapkan selamat atas pernikahan Ukhti baru-baru ini. Untuk melengkapi kegembiraan ini, saya memiliki beberapa nasihat:

Dalam berkeluarga, sadarilah bahwa kalian berdua bukanlah para malaikat tetapi sepasang manusia yang sedang memadu kasih. Manusia tidak ada yang sempurna karena kesempurnaan hanya ada di Surga –semoga kita termasuk calon penghuninya–. Maka, wajar jika Ukhti akan menjumpai kekurangan pada si suami. Jika Ukhti tidak menyukai salah satu dari sifatnya, Ukhti harus ingat segudang sifat lain yang Ukhti sukai darinya. Yang jelas, lelaki shalih tidak akan menyia-nyiakan istrinya meskipun benih cinta belum mekar di hatinya. Saya memohon kepada Allah semoga menjadikan suamimu sebagai lelaki shalih.

Wasiat sepasang suami-istri yang paling bijak menurut saya adalah apa yang dikatakan Abu Darda’ kepada Ummu Darda’ (shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Kurang lebih seperti ini, “Jika aku sedang marah, maka diamlah engkau. Sebaliknya, jika engkau sedang marah, maka aku akan diam. Jika tidak demikian, maka pernikahan kita tidak akan bertahan lama.”

Nasehat saling memaafkan dan lapang dada adalah nasehat yang sangat diperlukan oleh pasutri. Tidak ragu lagi bahwa hubungan dan intraksi yang terus-menerus antara dua orang –suatu saat nanti– pasti akan menimbulkan goresan-goresan, baik kecil ataupun besar. Tidak ada kebaikan setelah itu kecuali jika disikapi dengan saling memaafkan dan lapang dada. Allah berfirman:

«وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ»

“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah engkau suka jika Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS. An-Nur [24]: 22)

«إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ»

“Sesungguhnya hanya orang-orang sabar saja yang akan disempurnakan pahalanya dengan tanpa batas.” (QS. Az-Zumar [39]: 10)

Sebagaimana Ukhti suka dengan kata-kata manis, maka suami pun suka kata-kata manis. Merupakan sedekah bagimu jika Ukhti bermuka manis kepadanya. Demikianlah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, candailah suamimu. Buatlah dia merasa bahwa dirimu adalah segalanya dalam hidupnya yang membimbingnya menuju keridhaan Allah.

Janganlah Ukhti terpedaya dengan tren, mode, dan gaya hidup para artis televisi dan kebanyakan wanita di masyarakat kita yang jauh dari moral Islam. Mereka membuka aurat dan berdandan cantik untuk orang-orang yang bukan suaminya, bukan pula mahramnya. Yang aneh, para istri berdandan rapi dan cantik saat keluar rumah tetapi berantakan dan amburadul saat berduaan di rumah bersama suaminya. Ini bukanlah ajaran Islam. Yang benar adalah Ukhti selalu berdandan rapi dan cantik serta berparfum wangi saat berduaan dengan suami, dan ini dinilai ibadah yang berpahala dalam Islam. Adapun jika mengharuskan keluar rumah karena suatu urusan, maka berpakaianlah yang sopan yang sesuai ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu: pakaian yang tidak transparan, tidak ketat, longgar, dan tidak berparfum, serta berhijab.

Jadilah Ukhti istri yang jika dipandang suami menyenangkannya, jika disuruh menurut, dan jika suami tidak ada maka Ukhti menjaga anak, rumah, dan harta suami. Inilah ciri wanita shalihah yang disebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya. Kemudian, jadikanlah rumah sebagai surga duniamu. Janganlah Ukhti keluar rumah kecuali untuk keperluan penting karena Allah memerintahkan wanita mukminah untuk tetap tinggal di rumahnya. Allah berfirman:

«وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى»

“Dan tetaplah engkau di rumahmu dan jangan bertabarruj (berhias dan bersolek untuk menarik lawan jenis yang bukan suaminya) seperti orang jahiliyyah terdahulu.” (QS. Al-Ahzab [33]: 33)

Dahulu para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengorbankan harta dan jiwanya untuk berjihad di jalan Allah demi menggapai keridhaan Allah dan surga. Namun, atas karunia Allah seorang istri dengan mudah bisa menggapai surga dengan memanfaatkan suaminya, yaitu dengan mentaati dan melayaninya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ!»

“Jika seorang wanita shalat lima waktu, puasa Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepadanya, ‘Masuklah dari pintu surga mana saja yang kamu kehendaki!” [Shahih: Ahmad (no. 1661). Dinilai shahih al-Arna`uth dan al-Albani]

«أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ»

“Wanita mana saja yang meninggal dalam keadaan suaminya ridha kepadanya, akan masuk surga.” [HR. Al-Hakim (no. 7328). Al-Hakim menshahihkannya dan disepakati adz-Dzahabi]

Sebuah kisah, pada suatu hari Asma` binti Yazid bin Sakan radhiyallahu ‘anha mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, “Ya Rasulullah, sesungguhnya saya adalah utusan bagi seluruh wanita muslimah yang di belakangku. Seluruhnya mengatakan dan berpendapat seperti apa yang akan aku katakan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengutusmu kepada seluruh laki-laki dan wanita, kemudian kami beriman dan berbaiat kepada Anda. Adapun kami para wanita terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum lelaki kami, dan kami adalah tempat melampiaskan syahwat mereka, kamilah yang mengandung anak-anak mereka, akan tetapi kaum lelaki mendapatkan keutamaan melebihi kami dengan shalat Jum’at, mengantarkan jenazah, dan jihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad kamilah yang menjaga harta mereka, yang mendidik anak-anak mereka, maka apakah kami juga mendapatkan pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?”

Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menoleh kepada para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum dan bersabda, “Pernakah kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang agama yang lebih baik dari pertanyaan wanita ini?”

Para shahabat radhiyallahu ‘anhum menjawab, “Bahkan, kami belum pernah mendengarnya ya Rasulullah!”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kembalilah, wahai Asma`, dan beritahukan kepada para wanita yang berada di belakangmu bahwa perlakuan baik salah seorang di antara mereka kepada suaminya dan meminta keridhaan suaminya, mengikuti persetujuan suaminya dan tunduk kepada persetujuan suaminya, itu semua dapat menyamai seluruh amal yang kamu sebutkan tadi yang dikerjakan oleh kaum lelaki.” [al-Isti’ab (IV/223) karya Ibnu Abdil Barr dan Mereka Adalah Para Shahabiyat (hal. 174)]

Saya nasehatkan Ukhti untuk banyak bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya yang amat banyak kepadamu. Dia telah menyempurnakan separuh agamamu dan sisanya bisa Ukhti cari dengan ketaatan kepada-Nya. Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendapat karunia besar berupa ampunan dosa yang lalu dan yang akan datang, beliau bersyukur kepada Allah dengan shalat malam hingga bengkak kakinya. Adapun Ukhti, bersyukurlah dengan kapasitas kemampuanmu karena Allah tidak membebani seorang hamba di luar batas kemampuannya.

Aku mohon maaf, jika surat ini terkesan menggurui. Sungguh, aku tidak bermaksud kecuali ingin mendatangkan kebaikan semampuku dan memohon balasan dari Allah atas nasihatku ini.

Terakhir, saya berdoa semoga Allah segera menganugrahkan kepadamu keturunan yang baik akhlak dan agamanya, insya Allah. Semoga Allah melanggengkan usia pernikahanmu jika baik untuk dunia dan akhiratmu dan memisahkan kalian berdua jika ujungnya adalah surga yang penuh kenikmatan. Allah-lah dibalik segala tujuan kita. Allahul muwaffiq.

Akhirnya, saya sampaikan:

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

“Semoga Allah I selalu memberi keberkahan kepadamu (di kala senang) dan atasmu (di kala susah), dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan (sakinah, mawaddah, dan surga).”

[Shahih: HR. Abu Dawud (no. 2130), at-Tirmidzi (no. 1091), dan Ibnu Majah (no. 1905). Dinilai shahih al-Hakim dan disepakati adz-Dzahabi]

وَالسَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bumi Allah, DD/MM/YYYY

Akhukunna al-Majhul

‘Abdullah[AZ]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*