surat malas sholat

Surat untuk Sahabatku yang Malas Shalat

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Penyejuk Hati 1 Comment

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

Segala puji bagi Allah dan semoga shalawat dan salam untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga kesejahteraan, rahmat, dan ampunan Allah dilimpahkan-Nya kepada Sahabatku Ahmad, dan kita semua.

Saya berdoa semoga Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan urusan Sahabatku Ahmad sekeluarga, menjaga mereka, dan memberi taufiq untuk senantiasa istiqamah di jalan dakwah dan ibadah.

Di sini saya ingin mengajak Sahabatku Ahmad merenung tentang nikmat­nikmat Allah subhanahu wa ta’ala.

Bukankah Allah yang memberi kita nikmat beragama Islam ataukah karena pilihan kita semata? Bahkan kita tidak memiliki pilihan siapa yang menjadi orang tua kita. Andai saja bisa tentu kita akan memilih menjadi anak para nabi dan rasul ‘alaihimussalam. Allah Mahakuasa jika seandainya menjadikan kita terlahir dari rahim wanita Yahudi, Kristen, Hindu, dan Budha lalu kita pun beragama Yahudi, Kristen, Hindu, atau Budha lalu meninggal di atas agama tersebut lalu masuk neraka, sebagai janji dari Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman­Nya:

«إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ»

“Sesungguhnya orang­orang kafir dari ahli kitab (Yahudi dan Kristen) dan orang­orang musyrik (Hindu, Budha, Konghucu, Sinto, dll), mereka semua di neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah seburuk­buruk manusia.” [QS. Al­Bayyinah [98]: 6]

Bukankah banyak umat Islam yang mengamalkan ritual bid’ah (ibadah baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) tetapi Allah justru menjadikan kita mengenal sunnah dan manhaj salafi ahlus sunnah wal jamaah? Siapa kita sehingga Allah lebih memilih kita daripada mereka, padahal sebagian mereka lebih giat ibadahnya, lebih banyak sedekahnya, dan lebih mulia akhlaknya daripada kita? Tiada lain ini adalah nikmat dari Allah subhanahu wa ta’ala semata. Sungguh sangat mudah bagi Allah menjadikan kita tidak mengenal sunnah.

Allah subhanahu wa ta’ala tidak menerima setiap ritual bid’ah meskipun dikerjakan dengan ikhlas, menangis dan khusyu’, dan semangat tinggi dalam menjalankannya. Kelak Allah akan menjadikan amalan mereka seperti debu yang beterbangan, yakni tidak Allah beri pahala dan tidak dianggap, sebagaimana kabar dari­Nya:

«وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا»

“Dan Kami hadapkan seluruh amal ibadahnya, lalu Kami jadikan amal itu seperti debu yang berterbangan.” [QS. Al­Furqân [25]: 23]

«قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا (١٠٣) الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا»

“Katakanlah: Apakah kalian mau aku kabarkan tentang orang­orang yang rugi amal ibadahnya, yaitu orang­orang yang sesat ritualnya di kehidupan dunia, meskipun mereka menyangka telah mengerjakannya dengan sebaik­baiknya.” [QS. Al­Kahfi [18]: 103­104]

Bukankah Allah subhanahu wa ta’ala telah memberi kita kelapangan rezeki ataukah semata karena kecerdasan dan ijasah kita? Tidak, bahkan Allah semata. Adapun kecerdasaan dan ijasah untuk mengais rezeki hanya pelantara yang tidak mesti berhasil. Kalau benar rezeki kita karena kecerdasan dan ijasah, lantas siapakah yang membiayai kuliah kita? Orang tua? Lantas siapakah yang menjadikan orang tua kita kaya dan mampu menyekolahkan kita sampai ke perguruan tinggi? Apakah Allah tidak kuasa menjadikan kita terlahir dari keluarga miskin sehingga hanya tamat SD? Benar Allah Mahakuasa.

Allâh mengabarkan ucapan Qarun:

«قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي»

“Dia berkata, ‘Aku diberi semua ini (kekayaan) karena ilmu yang ada pada diriku.’” [QS. Al-Qashash [28]: 78]

Kekayaan Qarun yang kunci-kunci gudangnya tidak sanggup dipikul orang-orang kuat di zamannya ini, diperoleh dari hasil kerja kerasnya karena kepandaiannya dalam mencari rezeki. Begitulah persangkaannya. Ternyata ucapan yang sederhana ini dibenci Allâh dan Dia pun menghukum Qarun di dunia sebelum di akhirat:

«فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللّٰهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ»

“Maka Kami benamkan dia bersama rumahnya (harta bendanya) ke dalam bumi. Tiada baginya kelompok apapun yang mampu menolongnya selain Allâh, dan dia bukan termasuk orang-orang yang ditolong.” [QS. Al-Qashash [28]: 81]

Di antara ahli ilmu menjelaskan, hal ini dikarenakan ucapan itu seolah­olah mengandung makna bahwa Allah tidak ikut andil dalam rezeki Qarun, padahal yang benar Allah­lah yang menanggung semua rezeki para makhluk­Nya. Andai benar karena kecerdasan Qarun, seharusnya yang paling kaya bukan Qarun karena selain Qarun di masa itu ada yang lebih cerdas darinya, seperti Fir’aun dan Haman. Bahkan Fir’aun memiliki keahlian yang tidak dimiliki Qarun, yaitu keahlian memimpin rakyat, sementara Haman memiliki keahlian khusus membangun arsitektur mahabesar piramida Mesir tanpa alat kontraktor modern apapun.

Seandainya gelar sarjana menjadi tolok ukur kekayaan seseorang, tentunya manusia yang paling kaya adalah yang paling tinggi gelarnya (doktor dan profesor), tetapi ternyata kita melihat banyak sarjana miskin dan doktor yang pas-pasan ekonominya. Bahkan orang terkaya nomor 1 di dunia tidak memiliki gelar sarjana, yaitu Bill Gates pemilik perusahaan Microsoft Corporation. Ini menunjukkan bahwa harta adalah urusan Allâh dan Dia membagi-baginya kepada siapa yang Dia kehendaki sejumlah berapa yang Dia inginkan. Allâh berfirman:

«أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ»

“Apakah mereka yang membagi rahmat (harta) Tuhanmu? Kami-lah yang membagi kekayaan di antara mereka. Kami lebihkan sebagian atas sebagian yang lain.” [QS. Az-Zukhrûf [43]: 32]

Allah telah memberi kita banyak nikmat, di antara nikmat yang agung yang telah disebutkan adalah nikmat Islam, sunnah, dan dilapangkannya rezeki kita. Dengan segala nikmat ini, apakah pantas bagi kita untuk tidak memenuhi seruan Allah subhanahu wa ta’ala, shalat?

Bukankah ketika seorang atasan memanggil kita, maka kita langsung memenuhinya bahkan di awal waktu dan dengan sebaik­baik penampilan dan jawaban? Padahal atasan kita hanya memberi kita gaji sekian juta saja, tidak sebanding pemberiaan Allah, bahkan harta itu pada asalnya berasal dari Allah semata. Apakah pantas Allah sang pemberi nikmat yang banyak ini tatkala memanggil kita shalat lewat juru adzan­Nya “hayya ‘alash shalah” mari kita shalat, lantas kita tidak memenuhi panggilan­Nya?

Kita wajib bersyukur atas nikmat Allah ini lewat hati, lisan, dan amal. Syukur hati dengan meyakini semua nikmat datangnya dari Allah. Syukur lisan dengan mengucapkan pujian dan dzikir kepada Allah. Syukur amal dengan memenuhi panggilan­panggilan­Nya dan kewajian­Nya bagi kita. Allah Mahakuasa mencabut nikmat­Nya atas hamba­Nya yang tidak pandai syukur seketika itu juga. Allah berfirman:

«لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ»

“Jika kalian bersyukur, pasti aku akan tambah (nikmat­Ku) kepada kalian. Jika kalian tidak bersyukur, sesungguhnya adzab­Ku amatlah pedih.” [QS. Ibrâhîm [14]: 7]

Apakah Wajib Jamaah di Masjid?

Para ulama khilaf (berbeda pendapat) tentang hukum shalat berjamaah di masjid. Di antara ulama yang mewajibkannya (fardhu a’in) adalah madzhab ‘Ahmad, Ibnu Hazm, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. [Al-Mughni (II/176), Kasyaf al-Qonna’ (I/454), al-Bada’i (I/155), al-Muhalla (IV/188), dan Majmu’ al-Fatawa (XXIII/239)]

Sedangkan yang tidak mewajibkannya (fardhu kifayah) adalah madzhab jumhur Abu Hanifah, Malik, dan asy-Syafi’i. [Al-Mughni (I/229), Ibnu Abidin (I/371), al-Qowanin (69)]

Pendapat yang paling rajih (kuat) adalah hukum shalat berjamaah fardhu kifayah (tidak wajib per individu, maksudnya gugur kewajiban jika ada sekelompok orang yang shalat berjamaah di masjid), seperti pendapat Imam asy-Syafi’i. Inilah pendapat yang paling adil, paling kuat, dan paling benar berdasarkan hadits-hadits yang ada lalu dikumpulkan. Hanya saja perlu diketahui bahwa orang yang melalaikan shalat berjamaah dan tidak merutinkannya (tanpa suatu udzur yang syar’i) hanyalah menimpa orang-orang yang terhalang dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala dan orang-orang yang celaka.

Sedangkan bagi kaum wanita, maka telah terjadi ijma’ dikalangan ulama bahwa shalat berjamaah tidak diwajibkan bagi mereka. Namun, mereka tidak dilarang bila menghendakinya asal aman dari fitnah, tidak berparfum, tidak bertabarruj (memamerkan kecantikan), dan berhijab syar’i. Hanya saja, shalat mereka di kamarnya lebih baik daripada shalat mereka di bagian tengah rumah, shalat mereka di bagian tengah rumah lebih baik daripada shalat mereka di mushola, dan shalat mereka di mushola lebih baik daripada shalat mereka di masjid kota. [HR. Ibnu Hibban (III/1689)]

Kesungguhan Orang Shalih Terdahulu

Imam Ibnul Mubarak berkata, “Aku pernah melihat Sa’id bin ‘Abdul Aziz manakala ketinggalan shalat jama’ah, ia memegang jenggotnya karena menangis.” [Hilyatul Aulilyâ` (VI/126) oleh Abu Nu’aim al-Ashfahani]

Abu Hayyan berkata, “Ayahku pernah bercerita bahwa setelah ar-Rabi’ jatuh sakit, maka dia dipapah oleh dua orang pria menuju masjid kaumnya.” Dikisahkan bahwa shahabat-shahabatnya berkata, “Hai Abu Yazid (ar­Rabi’), Allah memberi keringanan kepada Anda untuk shalat di rumah Anda.” Lalu dia menjawab, “Itu menurut kalian. Namun, aku mendengar panggilan hayya ‘alal falah (mari menuju keberuntungan). Maka, barangsiapa di antara kalian mendengar panggilan hayya ‘alal falah, hendaklah ia memenuhi panggilan itu meskipun dengan merangkak atau merayap.” [Ibid (II/113)]

Imam al-Auza’i meriwayatkan bahwa ‘Umar pernah menulis surat kepada para pekerjanya, “Hindarilah kesibukan menjelang shalat. Sebab, orang-orang yang menyia-nyiakan shalat akan lebih berani menyia-nyiakan syiar-syiar Islam yang lain.” [Ibid (V/316)]

Fatwa Syaikh Bin Baz rahimahullah

Pertanyaan: Banyak di antara orang-orang sekarang yang meremehkan shalat, bahkan sebagian mereka ada yang meninggalkan semuanya, bagaimana hukum mereka? Dan apa yang diwajibkan kepada setiap muslim berkaitan dengan mereka dan kerabatnya, seperti: orang tua, anak, istri, dan sebagainya?

Jawaban: Meremehkan shalat termasuk kemungkaran yang besar dan termasuk sifat orang-orang munafik. Allah berfirman:

«إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا»

“Sesungguhnya orang-orang munafiq itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” [QS. An-Nisâ` [4]: 142]

«وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ»

“Tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul­Nya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka melainkan dengan rasa enggan.” [QS. At-Taubah [9]: 54]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«لَيْسَ صَلَاةٌ أَثْقَلَ عَلَى الْمُنَافِقِينَ مِنَ الْفَجْرِ وَالْعِشَاءِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا»

“Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang-orang munafik daripada shalat Shubuh dan seandainya mereka mengetahui apa (pahala dan siksa) yang terkandung pada keduanya, tentulah mereka akan mendatangi keduanya meskipun dengan merangkak.” [Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 657) dan Muslim (no. 252, 651)]

Maka, yang wajib bagi setiap muslim dan muslimah adalah memelihara shalat yang lima pada waktunya, melaksanakannya dengan thuma’ninah, konsentrasi, khusyu’, dan menghadirkan diri. Sebab, Allah ta’ala telah berfirman:

«قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (١) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ»

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” [QS. Al-Mu`minun [23]: 1-2]

Berdasarkan riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau memerintahkan kepada orang yang buruk dalam melakukan shalatnya tanpa thuma’ninah agar mengulangi shalatnya. Dan kepada kaum lelaki hendaknya mereka memelihara shalat-shalat tersebut dengan berjamaah di rumah-rumah Allah, yakni di masjid-masjid, hal ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

«مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ»

“Barangsiapa yang mendengar adzan tapi tidak mendatanginya, maka shalatnya tidak berarti kecuali karena ada udzur.” [Shahih: HR. Ibnu Majah (no. 793), ad-Daruqutni (I, no. 420), dan Ibnu Hibban (no. 2064)]

Pernah ditanyakan kepada Ibnu ‘Abbas, “Apa yang dimaksud dengan udzur itu?” Beliau menjawab, “Takut (dari serangan musuh) atau sakit.”

Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau didatangi oleh seorang laki-laki buta, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku pergi ke masjid. Apakah aku punya rukhshah (keringanan) untuk shalat di rumahku?” kemudian beliau bertanya:

«هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ؟» قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: «فَأَجِبْ»

“Apakah engkau mendengar adzan shalat?” Dia menjawab, “Ya.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi, “Kalau begitu, penuhilah.” [Shahih: HR. Muslim (II/124)]

Dalam as-Shahihain dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

«لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ الْمُؤَذِّنَ فَيُقِيمَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا يَؤُمُّ النَّاسَ ثُمَّ آخُذَ شُعَلًا مِنْ نَارٍ فَأُحَرِّقَ عَلَى مَنْ لَا يَخْرُجُ إِلَى الصَّلَاةِ بَعْدُ»

“Sungguh aku sangat ingin memerintahkan shalat untuk diiqamatkan, lalu aku perintahkan seorang laki-laki untuk mengimami orang-orang. Kemudian, aku berangkat bersama beberapa orang laki-laki dengan membawa beberapa ikat kayu bakar kepada orang-orang yang tidak ikut shalat, lalu aku bakar rumah mereka dengan api tersebut.” [Shahih: HR. Al-Bukhari (2420) dan Muslim (651)]

Hadits-hadits shahih ini menunjukkan bahwa shalat berjamaah termasuk kewajiban kaum laki-laki dan merupakan kewajiban yang paling utama, dan yang menyelisihinya berhak mendapatkan siksaan yang menyakitkan.

Kita memohon kepada Allah, semoga memperbaiki kondisi seluruh kaum muslimin dan memberi petunjuk kepada jalan yang diridhai­Nya.

Adapun meninggalkan shalat seluruhnya –ataupun hanya sebagian waktunya- maka ini adalah kekufuran yang besar meskipun tidak disertai mengingkari kewajibannya, demikian menurut pendapat yang paling kuat di antara dua pendapat para ulama, baik yang meninggalkan shalat itu laki-laki ataupun perempuan, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

«بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ»

“Sesungguhnya (pembatas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” [Shahih: HR. Muslim (I/62)]

Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

«الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ»

“Perjanjian kita dengan mereka adalah shalat. Maka, barangsiapa meninggalkannya berarti dia telah kafir.[Shahih: HR. Ahmad (V/346), at-Tirmidzi (2621), an-Nasa’i (I/232), dan Ibnu Majah (1079)]

Juga berdasarkan hadits-hadits lainnya yang berkenaan dengan masalah ini.

Sedangkan mengenai orang yang mengingkari kewajibannya –baik laki-laki maupun perempuan- maka pengingkarannya itu menjadikannya kafir dengan kekufuran yang besar berdasarkan kesepakatan ahlul ‘ilmi, bahkan sekalipun ia melaksanakan shalat. Kita memohon kepada Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kita dan kaum muslimin agar senantiasa dibebaskan dari yang demikian. Sesungguhnya, Dia sebaik-baik tempat meminta.

Wajib bagi semua kaum muslimin untuk saling menasehati dan saling berwasiat dengan kebenaran serta saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakqwaan. Di antaranya adalah dengan menasehati orang yang meninggalkan shalat berjamaah atau meremehkannya sehingga terkadang meninggalkannya, juga memperingatkannya akan kemurkaan dan siksaan Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di samping itu, hendaknya sang ayah, ibu, dan saudara-saudaranya yang serumah, agar senantiasa menasehatinya, dan terus-menerus mengingatkannya. Mudah-mudahan Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberinya petunjuk sehingga ia menjadi lurus. Demikian juga perempuan yang meninggalkannya, mereka harus dinasehati dan diperingatkan akan murka dan siksa Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta terus-menerus diperingatkan. Selanjutnya, perlu mengambil tindakan dengan mengasingkan orang yang enggan dan memperlakukannya dengan cara yang sesuai dengan kemampuaan dalam masalah ini. Sebab, hal ini termasuk tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, serta amar ma’ruf dan nahi mungkar yang telah diwajibkan Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada hamba­Nya baik yang laki-laki maupun perempuan, berdasarkan firman Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

«وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ»

“Dan orang-orang yang beriman baik laki-laki ataupun perempuan sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul­Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” [QS. At-Taubah [9]: 71]

Juga berdasarkan sabda Nabi:

«مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ»

“Perintahkanlah anak-anakmu untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka (jika enggan) saat mereka berumur sepuluh tahun serta pisahkanlah tempat tidur mereka.” [HR. Abu Dawud (495 & 496)]

Dari hadits ini dapat disimpulkan bahwa anak-anak, baik laki-laki ataupun perempuan, diperintahkan untuk shalat sejak berusia tujuh tahun, kemudian jika telah mencapai usia sepuluh tahun dan belum juga mau melaksanakannya maka mereka harus dipukul. Maka, orang yang lebih baligh tentu lebih wajib lagi untuk diperintah shalat dan dipukul jika enggan melaksanakannya tapi disertai dengan nasehat yang terus-menerus serta wasiat kepada kebaikan dan kesabarana. Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam berfirman:

«وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ»

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” [QS. Al-‘Ashr [103]: 1-3]

Barangsiapa yang meninggalkan shalat setelah usia baligh dan enggan menerima nasehat, maka perkaranya bisa diadukan ke mahkamah syar’iyyah (pengadilan di Saudi) sehingga ia diminta untuk bertaubat, jika tidak mau bertaubat maka dibunuh. Kita memohon kepada Allah agar memperbaiki kondisi kaum muslimin dan menganugrahi mereka kefahaman tentang agama serta menunjukkan mereka untuk senantiasa saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan, amar ma’ruf dan nahi mungkar, serta saling berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran. Sesungguhnya Dia Mahabaik lagi Mahamulia. [Fatawa Muhimmah Tata’allaqu bis-Shalah (hlm. 21-27) oleh Syaikh Bin Baz, selesai fatwa Syaikh Bin Baz rahimahullah]

Kisah Pembongkar Kubur

Seorang pemuda datang dengan sedih dan menangis kepada amirul mukminin ‘Abdul Malik bin Marwan. Dia berkata, “Ya Amirul Mukminin, aku telah melakukan dosa besar. Apakah taubatku bisa diampuni?”

Abdul Malik bertanya, “Ya. Apa dosamu?”

Dia menjawab, “Dosaku besar.”

‘Abdul Malik berkata, “Apa itu? Bertaubatlah kepada Allah karena Dia menerima taubat dari hamba-hamba­Nya dan memaafkan keburukan-keburukan.”

Dia menjawab, “Ya Amirul Mukminin, suatu malam aku membongkar kuburan. Aku melihat penghuninya telah dipalingkan dari arah kiblat. Aku ketakutan, maka aku keluar darinya. Tiba-tiba sebuah suara memanggilku dari dalam kubur, ‘Mengapa kamu tidak bertanya tentang si mayit? Mengapa wajahnya dipalingkan dari kiblat?’ Aku bertanya, ‘Mengapa?’ Suara itu menjawab, ‘Karena dahulu dia meremehkan shalat. Inilah balasannya.’”

Pemuda itu berkata, “Lalu aku membongkar kuburan lain. Aku melihat penghuninya telah berubah menjadi babi. Lehernya telah diborgol dengan rantai besi. Aku takut dan hendak keluar. Saat hendak keluar, aku mendengar suara, ‘Tidakkah kamu bertanya tentang amalnya mengapa dia disiksa?’ Akupun bertanya, ‘Mengapa?’ Suara itu menjawab, ‘Karena dahulu dia minum miras dan mati sebelum bertaubat.’”

Pemuda itu bercerita lagi, “Aku membongkar kuburan ketiga. Ya Amirul Mukminin, aku melihat penghuninya diikat dengan tali busur dari api dan lisannya menjulur dari tengkuknya. Aku ketakutan. Manakala aku hendak keluar, ada suara memanggil, ‘Mengapa kamu tidak bertanya tentang keadaannya, mengapa bisa begitu?’ Aku bertanya, ‘Mengapa?’ Suara itu menjawab, ‘Karena dia tidak bisa menjaga diri dari kencing dan dia adalah penyebar fitnah. Maka inilah balasannya.’”

Pemuda itu melanjutkan, “Kuburan keempat aku bongkar. Wahai Amirul Mukminin, aku melihat dilapangkannya untuk si mayat sejauh mata memandang, bercahaya sangat kuat. Si mayat tidur di atas ranjang. Wajahnya berseri-seri dengan pakaian bagus. Aku takut padanya dan hendak meninggalkannya. Maka dikatakan padaku, ‘Tidakkah kamu bertanya tentang keadaanya, mengapa dia memperoleh kehormatan ini?’ Aku bertanya, ‘Mengapa?’ Dia menjawab, ‘Dia adalah seorang pemuda yang tumbuh di atas ketaatan dan ibadah kepada Allah.’”

Abdul Malik berkata, “Pada perkara-perkara itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang durhaka dan berita gembira bagi orang-orang yang taat.”

Barangsiapa yang melakukan dosa tersebut hendaklah segera bertaubat dan kembali kepada ketaatan. Semoga Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba­Nya yang taat dan menjauhkan kita dari amalan orang-orang fasik. [Mausuah Qashasis Salaf oleh Ahmad Salim Baduwailan]

Renungan­renungan yang berharga ini semoga memberi manfaat kepada saya, Sahabatku Ahmad, dan semua kaum muslimin untuk menjaga panggilan­panggilan Allah.

Saya mohon maaf bila ada perkataan yang tidak sopan atau tidak berkenan di hati Sahabatku Ahmad. Saya hanya menyampaikan dan tidak memiliki maksud lain kecuali mengadakan perbaikan semampu saya, seperti ucapan Nabi Hud ‘alaihissalam:

«إِنْ أُرِيدُ إِلاَّ الإصْلاحَ مَا اسْتَطَعْتُ»

“Saya tidak bermaksud kecuali mendatangkan perbaikan semampu saya.” [QS. Hud [11]: 88]

Sahabat Karibmu

‘Abdullah[AZ]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Comments 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*