surat menonton tv

Surat untuk Ayah Bunda agar Berhenti Nonton Televisi

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Adab, Akhlak Muamalah, Penyejuk Hati 0 Comments

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

Segala puji bagi Allah dan semoga shalawat dan salam untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga kesejahteraan, rahmat, dan ampunan Allah dilimpahkan-Nya kepada Ayah, Ibu, dan kita semua.

Ayah dan Ibu, memulai surat ini saya ingin menyampaikan beberapa hal penting. Suatu saat saya berhenti di suatu ayat yang saya baca:

«إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا»

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan ditanya (dimintai pertanggungjawaban).” [QS. Al-Isrâ` [17]: 36]

Saya merenung dan ternyata dosa yang mencakup tiga ini saya dapatkan pada televisi. Contoh dosa pendengaran dalam TV adalah ghibah, musik, dan ucapan lagha (sia-sia); dosa penglihatan seperti melihat aurat dan nonmahram; dan dosa hati seperti keyakinan-keyakinan rusak yang mengotori hati.

Pertama: Dosa Pendengaran

  1. Ghibah

Tanyangan televisi kebanyakan bernuansa ghibah (membicarakan aib orang lain) padahal ghibah adalah dosa besar, seperti acara-acara infotainment, krosscek, silet, dan lainnya. Tidak ada satu pun dari ulama 4 madzab yang berpendapat ghibah dosa kecil kecuali satu­dua ulama saja dari kalangan syafi’iyah. Ghibah didefinisikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kamu menyebut sesuatu tentang saudaramu yang dibencinya.” Ada yang bertanya, “Jika benar adanya kabar itu bagaimana?” Beliau menjawab, “Jika kabar itu benar itulah ghibah, dan jika kabarnya tidak benar itulah dusta.”

Seandainya dosa ghibah diwujudkan dalam bentuk bangkai, maka siksanya berupa paksaan untuk memakannya. Adakah manusia yang mau makan bangkai? Bagaimana lagi jika bangkai itu adalah saudaranya sendiri, kerabatnya, orang tuanya? Tentu tidak ada yang mau. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

«وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ»

“Dan janganlah sebagian kalian mengghibah yang lain. Apakah seorang dari kalian suka memakan bangkai mati saudaranya? Tentu kalian tidak menyukainya. Bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Penerima taubah dan Maha Penyayang.” [QS. Al-Hujurât [49]: 12]

Diriwayatkan bahwa ‘Aisyah pernah mengghibah Hafshah lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegurnya, “Sungguh kamu telah mengucapkan sebuah ucapan yang jika dicampur dengan air laut pasti akan menjadikannya berubah.” [Shahih: HR. Abu Dawud (no. 4875, IV/269) dan at-Tirmidzi (no. 2503). Dinilai shahih oleh al-Albani]

“Ucapan dia pendek” terkesan biasa dan sederhana tetapi jika yang dibicarakan tidak menyukainya itu termasuk ghibah. Untuk itulah saat ‘Aisyah mengomentari wanita pendek yang bertamu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan isyarat tangan, beliau menjawab, “Kamu telah mengghibahnya.” [Tafsîr Ibni Katsîr (VII/380)]

  1. Musik

Hampir tidak ada tanyakan TV kecuali sudah dipastikan ada musiknya bahkan iklan sekalipun, seolah dikatakan bahwa televisi seluruhnya adalah musik. Padahal, Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkannya hingga hari Kiamat. Hukum ini tidak akan batal meskipun banyak orang yang bermusik ria. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada iblis:

«وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ»

“Dan tipudayalah siapa saja yang kamu sanggupi dengan suaramu.” [QS. Al-Isrâ` [17]: 64]

Sebagian ahli tafsir menafsirkan “suaramu” di sini dengan musik dan lagu-lagu, seperti Imam Mujahid yang dikutip Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya (V/93).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang keharaman musik:

«لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ، يَسْتَحِلُّونَ الحِرَ وَالحَرِيرَ وَالخَمْرَ وَالمَعَازِفَ»

“Akan ada sekelompok dari umatku yang menghalalkan zina, sutra, miras, dan musik.” [HR. Al-Bukhari (no. 5590, VII/106) dan ath-Thabarani (no. 3417)]

Zina, sutra bagi laki-laki, dan miras hukumnya haram tanpa khilaf di antara para ulama. Tatkala musik bersanding dengan semua itu, menunjukkan bahwa musik juga haram. Namun, di zaman sepeninggal Nabi banyak yang mengatakan musik tidak haram dan ada pula yang terbiasa mendengarkan musik tanpa merasa berdosa karena keterbiasaan, inilah kebenaran kabar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

الْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِي الْقَلْبِ

“Nyanyian menumbuhkan kemunafiqan di dalam hati.” [Atsar Shahih: Diriwayatkan al-Baihaqi (no. 4744, VII/107) dalam Syu’abul Imân dan Ibnu Abiddunya (no. 30). Dinilai shahih oleh al-Albani]

Imam Ibnul Jauzi menceritakan bahwa Imam Malik bin Anas (guru Imam asy-Syafi’i) ditanya tentang sebagian penduduk Madinah yang suka bernyanyi. Imam Malik menjawab, “Menurut kami itu hanya dilakukan oleh orang-orang fasiq (rusak dan cacat agama).” [Talbîsu Iblîs (hal. 244) oleh Ibnul Jauzi]

Imam Ibnul Qayyim berpendapat bahwa musik dan al-Qur`an selamanya tidak akan bersatu di dalam hati orang beriman, pasti akan ada yang dikalahkan. Jika dia condong ke musik, pasti al-Qur`an kalah dan melemah, karena Allah tidak menciptakan dua hati dalam satu rongga. Beliau berdalil dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

«مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ»

“Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya.” [QS. Al-Ahzâb [33]: 4]

  1. Lagha (Ucapan Sia-Sia)

Banyak tanyangan-tanyangan TV yang tidak mendidik bahkan berisi ucapan-ucapan humor yang melampaui batas. Tapi anehnya justru tanyangan seperti ini yang diminati dan digemari banyak orang. Sesuatu yang berlebihan selalu berakibat keburukan, sebagaimana perut yang kelebihan makanan justru membahayakan.

Mungkin ucapan aktor itu sederhana dan sepele, tetapi barangkali amat besar akibatnya di sisi Allah sebagaimana firman Allah, “Kamu mengiranya remeh tetapi itu besar di sisi Allah.” [QS. An-Nûr [24]: 15] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَاْلمَغْرِبِ»

“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan suatu kalimat yang remeh, tetapi karena itu dia tergelincir ke neraka sejauh antara timur dan barat.” [Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 6477) dan Muslim (no. 7406)]

Dosa paling ringan bagi penikmat tanyangan-tanyangan humor ini adalah dikhawatirkan hatinya mengeras seperti batu karena telah mati, sebagaimana kabar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

«وَلَا تُكْثِرِ الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ القَلْبَ»

“Dan kamu jangan banyak tawa karena banyak tawa mematikan hati.” [Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 2305, IV/551) dan Ibnu Majah (no. 4193). Dinilai shahih oleh al-Albani]

Kedua: Dosa Penglihatan

Orang yang terbiasa menontong TV akan hilang rasa malunya karena terbiasa melihat aurat lawan jenis. Sepertinya kerusakan moral pemuda-pemuda bangsa ini tidak lain karena TV ini sehingga mereka pun mengalami kemunduran dalam akhlaq dan ilmu, enggan melaksanakan syariat Islam secara totalitas, dan tidak segan bermaksiat karena terbiasa meremehkan dosa­dosa. Tanyangan TV ini sangat bertentangan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

«قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللّٰهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ * وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ»

“Katakanlah kepada orang-orang mukmin agar mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya. Itu lebih suci bagi mereka. Allâh mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakan pula kepada wanita-wanita mukminah agar mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya.” [QS. An-Nûr [24]: 30-31]

Yang mengerikan, Allah mengancam akan mengharamkan surga bagi para dayyuts. Siapa dayyuts? Imam as-Suyuthi menjelaskan maknanya, adalah seseorang yang melihat fahisyah (segala dosa yang berkaitan dengan aurat dan kemaluan) di tengah keluarganya tetapi dia tidak cemburu dan melarangnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berfirman tentang dayyuts:

«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ دَيُّوثٌ»

“Dayyuts tidak akan masuk surga.” [HR. Abu Dawud ath-Thayalisi (no. 677, II/33) dan Ibnu Khuzaimah (II/865)]

Seorang ayah terancam menjadi dayyuts bagi seluruh anggota keluarganya, seorang ibu juga terancam menjadi dayyuts bagi seluruh anak-anaknya, dan seorang anak juga terancam menjadi dayyuts bagi saudaranya, saat mereka melihat fahisyah tetapi tidak mengingkarinya.

Sungguh hal aneh tatkala seorang istri membiarkan suaminya melihat wanita-wanita di TV yang lebih cantik dan seksi dari dirinya. Di mana kecemburuannya? Apakah dia tidak takut kalau suaminya menjadi condong kepada wanita lain?

Sungguh hal aneh tatkala seorang suami membiarkan istrinya melihat lelaki-lelaki di TV yang kebanyakan lebih gagah dan kaya dari dirinya? Di mana kecemburuannya? Apakah dia tidak takut kalau istrinya menjadi condong kepada lelaki lain?

Ketiga: Dosa Hati

Dosa hati di TV beragam macamnya, seperti tayangan-tayangan agama Hindu dan Budda (seperti film Krisna) juga Kristen dan nonmuslim (seperti film Korea), dan mitos-mitos serta film horor yang merusak hati dan aqidah umat Islam. Di dalam TV juga terdapat berita-berita tidak jelas, iklan-iklan amoral, dan ajaran sesat yang mengotori hati. Allah melarang umat Islam merusak hati setelah Allah memperbaikinya. Allah berfirman, “Dan janganlah kalian melakukan kerusakan di muka bumi setelah Allah menjadikannya baik.” [QS. Al-A’râf [7]: 56]

Akhirnya, dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, saya menyarankan kepada Ayah dan Ibu untuk melakukan salah satu dari dua hal ini, yaitu menjual TV atau membeli parabola islami yang berisi kajian-kajian salaf. Meskipun harganya cukup besar, tetapi manfaatnya begitu banyak dan insya Allah harta yang dibelanjakan untuk hal semacam ini semakin berkah dan bertambah.

Memang meninggalkan sesuatu yang disukai nafsu sangat sukar dilakukan, tetapi orang beriman meyakini pahala besar dalam meninggalkannya dan meyakini akan Allah ganti dengan sesuatu yang jauh lebih nikmat dari itu, sebagaimana sabda Nabi:

«إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلّٰهِ إِلَّا بَدَّلَكَ اللّٰهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ»

“Tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allâh melainkan Allâh akan menggantinya untukmu dengan yang lebih baik daripada itu.” [Shahih: HR. Ahmad (no. 23074, 38/170) dalam Musnadnya, al-Baihaqi (no. 10821) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Ibnul Mubarak (no. 1168) dalam az-Zuhd war Raqâ`iq, dan Abu Nu’aim (no. 7315) dalam Ma’rifatush Shahabat dari seorang Arab Badui dari Abu Qatadah dan Abu Dahdah. Dinilai shahih oleh al-Arna`uth]

Dulu dikatakan, “Jika Anda tidak mampu menambah ibadah maka jangan bermaksiat karena pahala ibadahmu yang sedikit itu akan habis untuk menghapus dosa maksiatmu, sehingga kamu datang di hari kiamat dalam keadaan bangkrut. Atau boleh jadi, Allah menghapus dosamu itu dengan mendatangkan musibah, mempersulit urusanmu, dan disempitkan rezekimu.”

Kita mengakui bahwa ibadah kita pas-pasan, shalat kita pas-pasan, puasa kita pas-pasan, sedekah kita pun pas-pasan. Sungguh tidak bijak jika ibadah yang pas-pasan ini lenyap begitu saja untuk menghapus dosa-dosa. Daripada banyak ibadah dan banyak maksiat, lebih baik tidak maksiat meski tidak bisa maksimal dalam ibadah. Ini termasuk strategi hidup orang­orang shalih terdahulu.

Boleh jadi, kesempitan rezeki yang kita alami, penyakit yang kita derita, dan kesulitan hidup yang sangat banyak karena maksiat ini. Allah wujudkan hukumannya dalam bentuk hal-hal yang tidak kita sukai. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

«وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ»

“Dan musibah apapun yang menimpamu adalah karena dosa-dosa yang dilakukan olehmu sendiri.” [QS. Asy-Syûrâ [42]: 30]

Adapun saya bertekad tidak akan memasukkan TV ke rumah saya kelak. Saya akan menjaga keluarga saya dari keburukan-keburukan dan menjauhi tempat-tempatnya. Terutama anak yang sekarang dikandung yang kelak saya impikan menjadi ahli ilmu dan dai di jalan Allah, sehingga perlu dijaga pendengarannya, penglihatannya, dan hatinya semenjak dini.

Saya sangat berharap surat ini diberi perhatian. Yang baik diambil dan yang buruk ditinggal. Jika diterima maka itu yang diharapkan tetapi jika tidak demikian, saya hanya menyampaikan amanah, agar terbebas dari laknat Allah bagi ahli ilmu yang menyembunyikan ilmunya:

«إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ»

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa penjelasan dan petunjuk setelah Kami menjelaskannya kepada manusia di dalam al-Qur`an, maka mereka akan dilaknat Allah dan dilaknat orang-orang yang melaknat.” [QS. Al-Baqarah [2]: 159]

Demikian yang bisa saya utarakan. Saya mohon maaf atas ucapan yang tidak berkenan di hati Ayah dan Ibu. Saya tidak memiliki maksud kecuali mendatangkan kebaikan semampu saya karena rasa cinta saya kepada keluarga saya. Wallahul muwaffiq.[]

Putramu yang sangat mencintai kalian

‘Abdullah[AZ]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*