pertanyaan nazhar

Pertanyaan Saat Nazhar

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Fiqih, Tanya Ustadz 3 Comments

Bagi Anda yang ingin nazhar tapi bingung ingin bertanya apa kepada calon akhwat, tidak ada salahnya ada menggunakan pertanyaan ini. Pertanyaan ini diajukan guna mengetahui latar belakang kecerdasaan dan kefaqihannya dalam agama.

***

Pertanyaan:

Saya punya kisah. Ada dua wanita yang masing-masing sudah bersuami. Wanita pertama sangat baik kepada suaminya. Pelayanannya kepada suami amat mengagumkan baik dalam hal makanan, pakaian, dan kebersihan rumah, bahkan dalam urusan ranjang sekalipun, sampai-sampai dia merasa telah banyak berjasa kepada suami. Adapun wanita kedua kurang maksimal dalam pelayanan kepada suami, dan terkadang membuat jengkel suami. Sebenarnya wanita kedua ini baik hati, hanya saja dia biasa marah dan malas seperti wanita pada umumnya. Kemudian tiba-tiba suami mereka melihat wanita yang lebih cantik daripada istrinya lalu terpikat sehingga memutuskan untuk poligami. Wanita pertama sangat shok dan tidak ridha, apalagi saat dia mengingat pelayangannya kepada suami yang tanpa cacat, tetapi suami mengancam akan menceraikannya. Akhirnya, dengan terpaksa wanita ini pasrah sehingga muncul kejengkelan dan kebencian kepada madunya, terutama poligami. Adapun wanita kedua, dia mengingat kekurangannya dalam melayani suami sehingga menyetujui poligami suaminya, meskipun di hatinya tidak rela cinta suaminya dibagi untuk selainnya.

Kemudian kedua wanita itu meninggal dunia di waktu bersamaan di tempat saling berjauhan. Pertanyaannya, “Kepada wanita mana, ukhti menghadiri shalat jenazah?”

***

Jawaban:

Wanita pertama membenci syariat poligami, dan ini pemahaman kufur yang bisa menyebabkannya keluar dari Islam alias murtad, meskipun untuk tunjuk hidung “si fulanah kafir” masih butuh perincian.

Adapun wanita kedua, kita tidak melihat ketidaksempurnaanya dalam melayani suami karena yang sedeng dibahas adalah shalat jenazah. Zhahir kisah meski tidak ridha suaminya poligami, tetapi tidak mengingkarinya sehingga tidak divonis kafir.

Berhubung menshalati orang kafir atau murtad atau musyrik haram, maka jawabannya ukhti tersebut menghadiri shalat jenazah wanita kedua.

Dalil kekafiran mengingkari syariat Islam dan poligami adalah firman Allah:

«وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ (8) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ»

“Dan orang-orang kafir, kecelakaan bagi mereka dan amal mereka sesat. Demikian itu karena mereka membenci apa yang Allah turunkan (syariat/al-Qur`an/hadits), sehingga Dia menghapus amal kebaikan mereka.” [QS. Muhammad [47]: 8-9]

Pertanyaan ini sedikit mengecoh sehingga butuh pemahaman. Allahu a’lam. [AZ]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Comments 3

    1. Sedikit menambahi, bahwa yang dimaksud di sini adalah hukum kufur mutlak tidak individu. Maksudnya orang yang meyakini boleh menolak syariat Islam tidak lantas kafir meskipun ucapannya dan pahamnya adalah paham kufur. Hal ini disebabkan boleh jadi dia jahil, dipaksa, atau lainnya dari penghalang-penghalang kufur.

    2. na’am, insya’Allah telah jelas bagi kita bahwa vonis hukum kafir ini tidaklah secara person, namun secara umum saja

      Baarokallohu fiikum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*