Perbedaan Lafazh (زَوْج) dan (امْرَأَة) dalam al-Qur`an

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Nahwu-Sharaf 0 Comments

Secara bahasa (زَوْج) artinya pasangan, kata yang digunakan untuk laki-laki dan perempuan (istri dan suami) dan jama’nya (أَزْوَاجااالل), sementara (امْرَأَة) artinya wanita/perempuan secara umum tetapi di dalam al-Qur`an terkadang memakai ta mabsuthah (امْرَأَت) dan makna yang dikehendaki adalah istri untuk lafazh ini. Jika seorang istri berada dalam kekufuran, kekurangan, atau aib kemudian berubah menjadi muslimah shalihah atau hilang aib dan kekurangannya, maka ia disebut (زَوْج). Jika tidak, tetap memakai lafazh (امْرَأَة).

Perlu diketahui, di kalangan orang ‘Arab asli yang dikenal untuk istilah istri adalah (زَوْج). Meskipun lafazh (زَوْجَة) masih umum dipakai, tetapi yang pertama lebih masyhur di kalangan mereka. Untuk itu Allah menyebut Hawa dengan (زَوْج), misalkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

«وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ»

“Dan Kami berkata, ‘Wahai Adam, berdiamlah kamu dan istrimu di surga.’” [QS. Al-Baqarah [2]: 35]

Lafazh (امْرَأَة) minimal diulang sebanyak 17 kali. Perhatikan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

«وَقَالَ نِسْوَةٌ فِي الْمَدِينَةِ امْرَأَتُ الْعَزِيزِ تُرَاوِدُ فَتَاهَا عَنْ نَفْسِهِ قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا إِنَّا لَنَرَاهَا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ»

“Dan sekelompok wanita di kota (Mesir) berkata, ‘Istri al-‘Aziz (pembesar negeri Mesir) menggoda pelayannya untuk (menyerahkan) dirinya. Sungguh pelayannya telah membuatnya mabuk cinta. Sesungguhnya kami benar-benar melihatnya berada di dalam kesesatan yang nyata.” [QS. Yûsûf [12]: 30]

Sisi cacat dan aib istri al-‘Aziz adalah dia berkhianat kepada al-‘Aziz dan ingin berselingkuh dengan lelaki lain.

«ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ»

“Allah membuat pemisalan bagi orang-orang kafir istri Nuh dan istri Luth. Keduanya berkhianat kepada keduanya (Nuh dan Luth) lalu keduanya tidak mampu menyelamatkan keduanya dari (adzab) Allah sedikitpun. Dan dikatakan, ‘Masuklah kalian berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk.” [QS. At-Tahrîm [66]: 10]

Istri Nuh dan Luth tetap dalam kekafiran hingga akhir hayatnya dan untuk itu Allah memakai lafazh (امْرَأَة) bukan (زَوْج). Mengapa ayat berikutnya tetap memakai lafazh (امْرَأَة) untuk istri Fir’aun padahal Asiyah wanita beriman? Jawabannya karena suaminya seorang lelaki durjana dan kafir di mana kekafiran Fir’aun tidak akan menyatu dengan keimanan Asiyah. Memiliki suami yang kafir atau ahli maksiat keluar dari tujuan pernikahan dan ini merupakan aib bagi istri dari sisi ini.

Perhatikan pula firman Allah berikut ini:

«وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا»

“Dan sesungguhnya aku khawatir akan mawaliku (keturunan) sepeninggalku sementara istriku mandul. Maka berilah aku dari sisimu seorang wali (anak).” [QS. Maryam [19]: 5]

Sisi kekurangan istri Nabi Zakariya AS adalah mandul tidak bisa melahirkan. Bagi sebagian kaum wanita, mandul adalah aib besar karena menghalangi seorang suami dari tujuan besar pernikahan, yaitu memiliki keturunan yang shalih. Dalam ayat berikutnya, Allah mengabulkan do’a Nabi-Nya Zakariya AS dan memberinya seorang anak shalih bahkan seorang nabi shalih, yaitu Yahya bin Zakariya ASS. Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan:

«وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ (89) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ»

“Dan Zakariya, tatkala dia menyeru Rabb-nya, ‘Wahai Rabb-ku, janganlah Engkau tinggalkan aku sendirian sementara Engkau sebaik-baik pemberi keturunan.’ Maka kami kabulkan do’anya dan memberinya Yahya serta Kami perbaiki untuknya istrinya.” [QS. Al-Anbiyâ` [21]: 90]

Tatkala Allah mengganti keadaan istri Zakariya dari mandul menjadi hamil dan melahirkan, maka Allah mengganti lafazh (امْرَأَة) menjadi (زَوْج).

Faidah

Agama Syi’ah menuduh istri-istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berselingkuh bahkan murtad dari Islam. Padahal Allah sendiri menyebut mereka sebagai istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan dengan lafazh (زَوْج) yang menunjukkan kesesuain aqidah dan keimanan antara suami dengan istrinya tidak seperti Fir’aun dengan Asiyah. Saat mereka menuduh ‘Aisyah dan Hafshah selingkuh dan kafir, berarti mereka juga menuduh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selingkuh dan kafir. Mereka lebih keji dalam ucapan daripada Yahudi dan Nashrani. Allah berfirman:

«النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ»

“Nabi lebih berhak diutamakan dari orang-orang beriman daripada diri-diri mereka, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.” [QS. Al-Ahzâb [33]: 6]

Saat Allah mengabarkan bahwa istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai ibu orang-orang mukmin, maka tidak mengakui mereka sebagai ibu menunjukkan mereka bukan orang mukmin. Jika bukan orang mukmin berarti orang kafir. Imam Malik bin Anas (w. 179 H) guru Imam asy-Syafi’i dan Abu Zur’ah ar-Razi guru Imam Muslim mengkafirkan Syi’ah.[AZ]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*