Perbedaan Lafazh (النِعْمَة) dan (النَّعِيم) dalam al-Qur`an

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Nahwu-Sharaf 0 Comments

Lafazh (النِعْمَة) dan (النَّعِيم) berasal dari (نَعِمَ) artinya nikmat, bedanya (النِعْمَة) adalah nikmat yang Allah berikan saat di dunia dan (النَّعِيم) diberikan saat di akhirat. Setiap lafazh (النِعْمَة) dan (النَّعِيم) dalam al-Qur`an bermakna demikian.

Lafazh (النِعْمَة) diulang sebanyak 16 kali. Lafazh ini umum mencakup nikmat keduniaan (harta, sehat, pangkat, dll) maupun agamiyah (keimanan dan keislaman). Contoh untuk nikmat keduniaan:

«وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا»

“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah niscaya tidak akan bisa menghitungnya.” [QS. An-Nahl [16]: 18]

Konteks ayat ini tentang nikmat dunia karena ayat-ayat sebelumnya menyebutkan nikmat-nikmat dunia yang banyak sekali hingga dikatakan surat ini sebagai suratun ni’am (surat nikmat-nikmat), di antaranya nikmat penciptaan manusia, langit dan bumi, binatang ternak dan kendaraan: kuda, keledai, binghal, dan seterusnya.

Adapun contoh untuk nikmat agamiyah:

«وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَاءَ وَجَعَلَكُمْ مُلُوكًا وَآتَاكُمْ مَا لَمْ يُؤْتِ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ»

“Dan (ingatlah) saat Musa berkata kepada kaumnya, ‘Ingatlah nikmat Allah atas kalian ketika Dia jadikan di tengah kalian para nabi dan menjadikan kalian para raja serta memberi kalian apa yang tidak diberikan kepada seorang pun dari seluruh makhluk.’” [QS. Al-Mâ`idah [5]: 20]

«لَوْلَا أَنْ تَدَارَكَهُ نِعْمَةٌ مِنْ رَبِّهِ لَنُبِذَ بِالْعَرَاءِ وَهُوَ مَذْمُومٌ»

“Seandainya bukan karena dia mendapatkan nikmat dari Rabb-nya, niscaya dia akan lempar ke tempat gersang dalam keadaan tercela.” [QS. Al-Qalam [68]: 49]

Nikmat di sini adalah Nabi Yunus AS diberi ilham untuk selalu bertasbih kepada Allah saat di dalam perut ikan paus. Allah mengujinya dengan ujian yang berat sekaligus sebagai teguran karena meninggalkan kaumnya yang sangat durhaka.

Adapun lafazh (النَّعِيم) diulang sebanyak 15 kali. Misalnya firman Allah subhanahu wa ta’ala:

«يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُمْ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَهُمْ فِيهَا نَعِيمٌ مُقِيمٌ»

“Rabb mereka memberi kabar gembira kepada mereka dengan rahmat dari-Nya, keridhaan, dan surga yang berisi kenikmatan yang kekal.” [QS. At-Taubah [9]: 21]

«أَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ (88) فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّتُ نَعِيمٍ»

“Adapun jika dia termasuk orang-orang yang didekatkan. Maka, (dia mendapatkan) rauh, raihan, dan surga kenikmatan.” [QS. Al-Wâqi’ah [56]: 89]

Faidah Pertama:

«وَذَرْنِي وَالْمُكَذِّبِينَ أُولِي النَّعْمَةِ وَمَهِّلْهُمْ قَلِيلًا»

“Tinggalkan Aku untuk menindak para pendusta yang memiliki kenikmatan, dan berilah mereka penangguhan sebentar.” [QS. Al-Muzzammil [73]: 11]

Lafazh ini memakai fathah pada nunnya yang berbeda dengan asalnya (النِعْمَة), seakan mengisyaratkan bahwa harta yang mereka miliki hakikatnya milik Allah dan mereka tidak berhak sedikitpun atasnya, juga mereka menggunakannya dalam kemaksiatan dan pemborosan, meskipun mereka mengaku harta tersebut hasil kerja kerasnya seorang diri seperti ucapan Qarun, “Sesungguhnya aku diberi ini semua karena kecerdasanku.” [QS. Al-Qashash [28]: 78]

Faidah Kedua:

Jika diperhatikan (نَعِيْمٌ) memakai shighah mubalaghah (فَعِيْلٌ) yang berarti kenikmatan puncak dan besar seperti ungkapan (الرَّشِيْدُ) yang artinya Allah sangat besar dan banyak memberi petunjuk (maha). Hal ini mengisyaratkan bahwa kenikmatan surga jauh lebih lebih besar, banyak, kekal, dan puncak daripada kenikmatan dunia yang sedikit, fana, dan rendah.[AZ]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*