cerai

Agar Anda Tidak Tergesa Mencerai atau Minta Cerai

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Penyejuk Hati 0 Comments

Kepada Yth Sahabatku

Di Bumi Allah

Beberapa alasan agar Anda wahai Sahabatku tidak tergesa-gesa mencerai atau meminta cerai.

Pertama. Informasi yang beredar tentang aib pasangan Anda tidak murni benar 100%. Cek dan tabayyunlah terlebih dulu sehingga akan nampak perkara sebenarnya.

Apalagi Allah subhanahu wa ta’ala dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk tidak serta mempercayai setiap berita yang beredar dan memerintahkan mereka untuk mengklarifikasinya dulu (mengecek kebenarannya) kepada yang bersangkutan. Menerima berita tanpa klarifikasi adalah terlarang dalam agama. Allah berfirman:

«أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ»

“Wahai orang orang yang beriman jika datang kepadamu seorang yang fasiq (cacat agamanya) dengan membawa suatu kabar, maka lakukannya klarifikasi. Jika tidak justru akan mengakibatkan musibah kepada orang lain karena kebodohanmu dan kamu nanti akan menyesal atas perbuatannmu.” [QS. Al Hujurat [49]: 6]

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ»

“Cukuplah seseorang disebut pendusta jika mengabarkan setiap apa yang didengar.” [HR. Muslim (no. 10)]

Hadits ini menunjukkan bahwa justru orang orang yang suka membicarakan kabar yang beredar dan langsung percaya tanpa klarifikasi dianggap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pendusta, apalagi yang menebar fitnah. Maka, saya nasihatkan Sahabatku untuk mempertimbangkan masalah ini dan tidak tergesa gesa.

Kedua. Renungkanlah si buah hati. Apa Sahabatku rela dia nanti besar tanpa ayah/ibu? Teman temannya membawa kedua orang tuanya saat acara perpisahan sekolah lalu putri/putri Sahabatku hanya ditemani Sahabatku saja dan beredar kabar ia anak hasil keluarga brokenhome.

Renungkanlah masa depannya, kelayakan nafkahnya, pendidikannya, dan moralnya. Andai putri Sahabatku kelak besar di lingkungan tanpa kasih sayang seorang ayah/ibu, boleh jadi akan menjadikannya banyak bersedih, kurang mental, kurang akal, dan kurang kasih sayang. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

«وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ»

“Dan hendaklah orang-orang yang meninggalkan keturunan mereka dalam keadaan lemah untuk mengkhawatirkan mereka. Hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah.” [QS. An-Nisa` [4]: 9]

Ketiga. Hati hatilah dengan misi setan untuk membisikkan pasangan suami istri untuk bercerai. Bahkan misi ini termasuk misi terbesar setan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ، ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ، فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، فَيَقُولُ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا، قَالَ ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ، قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ»

“Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air kemudian dia mengutus pasukan pasukan. Yang paling dekat kedudukan mereka terhadap iblis adalah yang paling besar menimbulkan fitnah. Seorang dari mereka mendatangi iblis seraya melapor, ‘Aku telah melakukan ini dan itu.’ Iblis menjawab, ‘Kamu belum melakukan apapapun.’ Kemudian datang yang lain melapor, ‘Aku tidak meninggalkan orang kecuali telah aku pisahkan dengan istrinya.’ Lalu iblis mendekatkannya dan berkata, ‘Kamu pasukan yang paling baik.’” [HR. Muslim (no. 2813)]

Oleh karena itu setan sangat antusias dan bersemangat bagaimana caranya agar pasangan suami istri bisa bercerai dengan menimbulkan fitnah, kekacauan, kegelisahan, dan buruk sangka di antara pasangan suami istri.

Karena cerai sangat dicintai setan, maka cerai pun dibenci Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan agama. Diriwayatkan:

«أَبْغَضُ الْحَلَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى الطَّلَاقُ»

“Perkara halal yang paling Allah benci adalah thalaq.” [HR. Abu Dawud (no. 2178), hadits dha’if]

Untuk itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras para istri meminta cerai tanpa alasan yang benar dan mengancam mereka dengan ancaman yang keras. Beliau bersabda:

«أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلَاقًا مِنْ غَيْرِ بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الجَنَّةِ»

“Wanita mana saja yang meminta cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan, maka haram baginya aroma surga.” [Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 1187). Dinilai shahih al-Albani]

Keempat. Ingatlah bahwa surga wanita itu ada di bawah kaki suaminya. Allah mahaadil, sebagaimana dia menjadikan surga anak di bawah telapak kaki orang tuanya, Allah menjadikan surga istri di bawah telapak kaki suaminya. Kedudukan suami lebih tinggi daripada kedudukan orang tua bagi para istri sehingga Islam memerintahkan kaum istri untuk lebih mendahulukan kepentingan suami mereka daripada orang tua mereka sendiri yang telah melahirkannya. Untuk itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ»

“Jika seorang wanita shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, taat kepada suaminya, maka dia akan masuk dari pintu surga mana saja yang dia kehendaki.” [Shahih: HR. Ibnu Hibban (no. 4163)]

Begitu pula neraka. Kebanyakan penduduk neraka adalah kaum wanita karena mereka tidak berlaku baik kepada suami suami mereka. Mereka suka mengingkari pemberian suami, suka mengeluh, dan suka membantah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ، يَكْفُرْنَ» قِيلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللّٰهِ؟ قَالَ: «يَكْفُرْنَ العَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ»

“Neraka telah diperlihatkan kepadaku, ternyata kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita yang kufur.” Ditanyakan kepada beliau, “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau bersabda, “Mereka kufur kepada suami dan kufur kepada kebaikan. Seandainya kamu berbuat baik kepada seorang dari mereka beberapa lama lalu melihat sesuatu (yang tidak disukainya) darimu, maka dia akan berkata, ‘Aku tidak pernah melihat darimu kebaikan sedikitpun (tidak pernah diperlakukan baik sedikitpun).’” [Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 29 , XV/1) dan Muslim (no. 884) dari Ibnu ‘Abbas RAHUMA]

Demikian perkara perkara penting yang perlu diperhatikan Sahabatku. Jangan sampai karena kecerobohan dan ketergesahan menjadikan menyesal di kemudian hari.

Jangan keburu berpikiran kalau sudah cerai akan bisa mudah menikah lagi. Bagaimana tidak, Sahabatku sudah janda beranak lagi, ditambah fisik yang pas-pasan. Kalaupun ada, mungkin untuk istri kesekian, bukan pertama.

Begitu juga, seorang suami. Istri dan anak-anak adalah surga dunianya. Ingatlah masa-masa kalian memadu kasih, saling tolong-menolong dalam makan, minum, ranjang, ibadah, dan tenaga.[AZ]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*