wali Allah 2

Wali-Wali Allah (2)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Aqidah 0 Comments

Kedua, Kabar Gembira di Kehidupan Akhirat Berupa Surga

Tidak ragu lagi bahwa surga memang Allah peruntukkan bagi setiap yang beriman dan bertakwa. Dalil-dalil dan nash yang banyak sekali menunjukkan akan hal ini.

(( يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ))

“(Yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di depan dan samping kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): ‘Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang agung.’” [QS. Al-Hadid [57]: 12]

))وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ((

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” [QS. Ali Imran [3]: 133]

Allah mengakhiri pada ayat tentang wali ini dengan firmannya: (( لا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ )) “Tidak ada perubahan pada kalimat-kalimat Allah.” Ibnu Katsir mengatakan:

أَيْ: هَذَا الْوَعْدُ لَا يُبَدَّلُ وَلَا يُخْلَفُ وَلَا يُغَيَّرُ، بَلْ هُوَ مُقَرَّرٌ مُثَبَّتٌ كَائِنٌ لاَ مَحَالَةَ: (( ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ))

“Maksudnya, janji ini tidak akan diganti, dibatalkan, dan dirubah, bahkan dipastikan, ditetapkan, akan terjadi, dan tidak ada perubahan. Itulah kemengan yang besar.” [Tafsir Ibnu Katsir (IV/281)]

Penghulu Wali-wali Allah

Para shahabat adalah penghulu para wali-wali Allah. Tidak diragukan lagi bahwa mereka adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa. Bahkan, Allah sediri di dalam al-Qur`an menyebutkan akan keimanan dan ketakwaaan mereka.

(( آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ ))

Rasulullah telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadanya dari Tuhannya begitu juga orang-orang mukmin. Semua beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan para rasul-Nya.” [QS. Al-Baqarah [2]: 285]

Siapakah yang dimaksud orang-orang mukmin dalam ayat ini? Tentu para shahabat radhiyallahu ‘anhum. Karena tidak ada satupun orang mukmin pada waktu turunnya ayat tersebut selain para shahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum ajma’in.

(( لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا ))

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, karena Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka sehingga Dia menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” [QS. al-Fath [48]: 18]

Orang-orang yang berbai’at (janji setia kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) di bawah sebuah pohon yang bernama Samurah di daerah Hudaibiyyah adalah orang-orang mukmin dari kalangan Muhajirin dan Anshar radhiyallahu ‘anhum. Sebagaimana yang dikatakan Jabir, jumlah mereka saat itu sebanyak 1400 orang. Dalam ayat ini, Allah menyebut para shahabat dengan sebutan orang-orang mukmin. Kedua ayat ini adalah dalil yang tegas dan jelas bahwa para shahabat adalah orang-orang mukmin.

Di antara dalil tentang ketakwaan para shahabat adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

))إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَى وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا((

“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyyah, maka Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, dan Allah menghujamkan kepada mereka kalimat takwa, dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS. Al-Fath [48]: 26]

))وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ((

“Dan orang yang membawa kebenaran dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” [QS. Az-Zumar [39]: 33]

Tafsir orang yang membawa kebenaran adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang yang membenarkannya adalah para shahabat radhiyallahu ‘anhum dengan penghulunya Abu Bakar as-Shiddiq. Ini adalah dalil yang jelas dan tegas yang menyebutkan bahwa para shahabat radhiyallahu ‘anhum adalah orang-orang yang bertakwa.

Dan lagi, Kaum Muhajirin dan Anshar adalah orang-orang yang telah diampuni dosa-dosanya, diridhai, dan diberi kabar gembira dengan surga. Bahkan, di antara mereka ada yang secara per individu disaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penduduk surga, di antaranya: Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, dan Thalhah, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad, Sa’id, Abu Ubaidah bin Jarrah, Fatimah, Hasan, Husain, Bilal, Khadijah, Ummu Sulaim, dan masih banyak lagi, semua calon penghuni surga atas persaksian dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbicara bukan dari hawa nafsunya melainkan wahyu yang diwahyukan Allah kepadanya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

))وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ((

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. [QS. At-Taubah [9]: 100]

Apabila orang-orang berdasi berkata, “Jika Anda ingin sukses, maka belajarlah kepada orang sukses.” Maka saya katakan, “Jika Anda ingin menjadi wali Allah dan masuk surga, maka belajarlah kepada wali-wali Allah dan orang-orang yang mendapat kabar gembira dengan surga, yaitu para shahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in.”

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Masjid Thaybah, 29 Oktober 2011

Yang mengharap ampunan Rabb-nya

Abu Zur’ah ath-Thaybi

Murajaah: Ustadz Muhammad Nur Yasin

(Mudir Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*