wali Allah

Wali-Wali Allah (1)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Aqidah 0 Comments

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّباً مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ:

 

Wali-wali Allah bukanlah orang-orang yang mengaku mengetahui perkara ghaib, bukan pula yang mengaku shalat di Masjidil Haram padahal jasadnya tertidur pulas di kamarnya. Wali-wali Allah tidak mesti mempunyai karamah demikian dan demikian sebagaimana persangkaan orang-orang awam. Orang-orang yang beriman dan bertakwa, merekalah wali-wali Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

))أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (64)((

“Ketahuilah! Sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Yaitu, orang-orang yang beriman dan mereka bertakwa. Mereka mendapatkan kabar gembira di kehidupan dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan pada ketetapan-ketetapan Allah. Itulah kemenangan yang besar.” [QS. Yunus [10]: 62-64]

قَالَ ابْنُ كَثِيْرٍ: يُخْبِرُ تَعَالَى أَنَّ أَوْلِيَاءَهُ هُمُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَ، كَمَا فَسَّرَهُمْ رَبُّهُمْ، فَكُلُّ مَنْ كَانَ تَقِيًّا كَانَ لِلَّهِ وَلِيًّا

Ibnu Katsir berkata, “Allah mengabarkan bahwa wali-wali-Nya adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa sebagaimana yang ditafsirkan sendiri oleh-Nya. Maka, setiap yang bertakwa adalah wali Allah.” [Tafsir Ibnu Katsir (IV/277)]

قَالَ عَبْدُ اللهِ بِنْ مَسْعُوْدِ وَابْنُ عَبَّاسٍ: أَوْلِيَاءُ اللهِ الَّذِيْنَ إِذَا رَءُوْا ذُكِر اللهُ

Abdullah bin Mas’ud dan Ibnu Abbas berkata, “Wali-wali Allah adalah orang-orang yang apabila dilihat, Allah-pun diingat.”

Atsar ini diperkuat dengan hadits marfu’ yang diriwayatkan al-Bazzar.

عَنْ سَعِيْدٍ بِنْ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَوْلِيَاءُ اللهِ؟ قَالَ: “اَلَّذِيْنَ إِذَا رَءُوْا ذُكِرَ اللهُ”.

Dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah wali-wali Allah? Beliau menjawab, “Orang-orang yang apabila dilihat, Allah-pun diingat.” [Musnad al-Bazzar (no. 3626), Tafsir ath-Thabari (XI/119)]

Wali-wali Allah adalah hamba-hamba ar-Rahman yang mulia yang karena kedudukannya yang demikian itu menyebabkan para nabi dan para syahid iri terhadap mereka.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللهِ عِبَادًا يَغْبِطُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ”. قِيْلَ: مَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ لَعَلَّناَ نُحِبُّهُمْ. قَالَ: “هُمْ قَوْمٌ تَحَابَّوْا فِي اللهِ مِنْ غَيْرِ أَمْوَالٍ وَلَا أَنْسَابٍ، وُجُوْهُهُمْ نُوْرٌ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُوْرٍ، لَا يَخَافُوْنَ إِذَا خَافَ النَّاسُ، وَلَا يَحْزَنُوْنَ إِذَا حَزِنَ النَّاسُ”. ثُمَّ قَرَأَ: (( أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ ))

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di antara para hamba ada beberapa hamba yang para nabi dan para syahid iri kepada mereka.” Ditanyakan, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah? Semoga kami bisa mencintai mereka.” Beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah tanpa tendensi harta dan keturunan. Wajah mereka bercahaya di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Mereka tidak khawatir saat manusia khawatir dan mereka tidak bersedih hati saat manusia bersedih hati.” Kemudian beliau membaca, “Ketahuilah! Sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” [Tafsir ath-Thabari (XV/20), as-Sunan al-Kubra (no. 11236) oleh an-Nasa`i, Shahih Ibnu Hibban (no. 2508), Sunan Abu Dawud (no. 3527)]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa wali-wali Allah adalah orang-orang yang saling mencintai sesama mereka karena Allah tanpa tendensi apapun. Hal ini menunjukkan bahwa teman bergaul mereka adalah sesama orang shalih sehingga keimanan dan ketakwaaan mereka menjadi stabil karena pengaruh lingkungan dan saudaranya. Hal ini berbeda dengan selain mereka, di mana mereka menjadikan orang-orang yang rusak agama dan akhlaknya sebagai teman karibnya sehingga penyesalan yang mereka dapatkan para hari Kiamat kelak. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

))يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلانًا خَلِيلا لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلإنْسَانِ خَذُولا((

“Celakalah aku. Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman akrab. Sesungguhnya dia telah menyesatkanku dari al-Qur`an ketika al-Qur`an itu telah datang kepadaku. Dan setan memang tidak mau menolong manusia.” [QS. Al-Furqan [25]: 28-29]

Wali-wali Allah medapatkan dua keutamaan sebagaimana tersebut dalam surat Yunus dan hadits di atas. Ibnu Katsir menjelaskan:

(( لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ )) أَيْ: فِيْمَا يَسْتَقْبِلُوْنَ مِنْ أَهْوَالِ الْقِيَامَةِ، (( وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ )) عَلَى مَا وَرَاءَهُمْ فِي الدُّنْيَا

(( لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ )) “tidak ada kekhawatiran bagi mereka” maksudnya terhadap huru-hara dahsyatnya hari Kiamat yang akan mereka hadapi. (( وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ )) “tidak pula mereka bersedih hati” maksudnya terhadap dunia yang luput dari mereka. [Tafsir Ibnu Katsir (IV/278)]

Mereka tidak khawatir pada saat manusia khawatir dalam huru-hara hari Kiamat. Semua manusia merasa takut dan mengkhawatirkan diri masing-masing. Mereka ketakutan pada saat mereka melihat neraka menderum hendak menelan mereka sebagaimana yang disebutkan dalam surat al-Furqan:

(( إِذَا رَأَتْهُمْ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا ))

“Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara kobaran apinya.” [QS. Al-Furqan [25]: 12]

Adapun wali-wali Allah, Allah-lah yang menjadi pemelihara dan pelindung bagi mereka sehingga huru-hara dan kejutan hari Kiamat tidak menjadikan mereka ketakutan.

)) لا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الأكْبَرُ وَتَتَلَقَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ هَذَا يَوْمُكُمُ الَّذِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ ))

“Kejutan dahsyat tidak membuat mereka ketakutan dan para malaikat menyambut mereka (dengan mengatakan), ‘Ini adalah hari yang dahulu dijanjikan kepada kalian.’” [QS. Al-Anbiya` [21]: 103]

Wali-wali Allah tidak berduka cita dan bersedih atas dunia yang terluput dari mereka. Mereka meyakini bahwa Allah mencintai orang-orang mukmin lagi bertakwa dan selalu memilihkan yang terbaik untuk mereka, terutama dalam masalah rezeki. Mereka yakin bahwa Allah akan menepati janji-Nya, yaitu mengganti dunia yang terluput dengan suatu kenikmatan yang belum pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terbesit sedikitpun dalam hati manusia. Bahkan, mereka menjual jiwa dan harta mereka untuk ditukar dengan kenikmatan tersebut.

))إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ((

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah sehingga membunuh atau terbunuh. Sebagai janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur`an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” [QS. At-Taubah [9]: 111]

Oleh karena itu, mereka bersabar dalam menjalani kehidupannya hingga bertemu dengan-Nya. Sehingga, kesabarannya menjadi pahala baginya. Ketika Allah mengetahui kesabarannya yang jujur, maka Allah melapangkan rezeki baginya. Demikian pun, mereka tidak menyombongkan diri tetapi bersyukur kepada-Nya. Sehingga, semua kondisinya baik baginya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh, amat menakjubkan keadaan orang mukmin. Semua keadaanya adalah baik dan ini tidak terjadi kepada seorang pun selain orang mukmin. Apabila ia mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka ini merupakan pahala baginya. Apabila ia ditimpa musibah ia bersabar, maka ini merupakan pahala pula baginya.” [Shahih Muslim (VIII/227), Mukhtashar Shahih Muslim (no. 2101)]

Al-Busyraa bagi Wali-wali Allah

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

(( لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ ))

“Mereka mendapatkan al-busyraa di kehidupan dunia dan di akhirat.” [QS. Yunus [10]: 64]

Inilah anugrah agung yang diberikan Allah kepada mereka berupa al-busyraa (kabar gembira) di dunia dan di akhirat.

Pertama, Kabar Gembira di Kehidupan Dunia

Kabar gembira di kehidupan dunia berupa:

~Mimpi yang Baik

عَنْ عُبَادَةَ بِنْ الصَّامِتِ أَنَّهُ قَالَ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ )) فَقَدْ عَرَفْنَا بُشْرَى الْآخِرَةِ الْجَنَّةُ، فَمَا بُشْرَى الدُّنْيَا؟ قَالَ: “الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ يَرَاهَا الْعَبْدُ أَوْ تُرَى لَهُ، وَهِيَ جُزْءٌ مِنْ أَرْبَعَةٍ وَأَرْبَعِيْنَ جُزْءًا أَوْ سَبْعِيْنَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ”.

Dari Ubadah bin as-Shamit bahwa dia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ayat “Mereka mendapatkan al-busyraa di kehidupan dunia dan di akhirat.” Sungguh kami mengetahui al-busyraa di akhirat adalah surga. Lantas, apa al-busyraa di dunia? Beliau menjawab, “Mimpi baik yang dilihat oleh seorang hamba atau orang lain memimpikan untuknya. Mimpi baik adalah satu bagian dari 44 atau 60 bagian dari kenabian.” [Tafsir ath-Thabari (XV/132)]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ عَمْرٍو، عِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلًّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: (( لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ )) قَالَ: “الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ يُبَشَّرُهَا الْمُؤْمِنُ، هِيَ جُزْءٌ مِنْ تِسْعَةٍ وَأَرْبَعِيْنَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ، فَمَنْ رَأَى ذَلِكَ فَلْيُخْبِرْ بِهَا، وَمَنْ رَأَى سِوَى ذَلِكَ فَإِنَّمَا هُوَ مِنَ الشَّيْطَانِ ليُحْزِنَهُ، فَلْيَنْفُثْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلاَثًا، وَلِيُكَبِّرْ وَلَا يُخْبِرْ بِهَا أَحَدًا”.

Dari Abdullah bin Amr dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda tentang ayat “Mereka mendapatkan al-busyraa di kehidupan dunia dan di akhirat”: “Yaitu, mimpi baik yang dikabarkan kepada orang mukmin. Dia adalah satu bagian dari 49 bagian dari kenabian. Barangsiapa yang melihatnya dalam mimpi hendaklah menceritakannya. Barangsiapa yang bermimpi selain itu, maka itu hanyalah dari setan yang hendak membuatnya sedih, maka hendaklah ia meludah tiga kali ke arah kirinya dan membaca takbir dan tidak menceritakannya kepada seorang pun.” [Shahih lighairihi: Musnad Ahmad (no. 7044)]

~Pujian yang Baik di Kalangan Manusia

عَنْ أَبِي ذَرٍّ أَنَّهُ قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، الرَّجُلُ يَعْمَلُ الْعَمَلَ فَيَحْمَدُهُ النَّاسُ عَلَيْهِ، وَيَثْنُوْنَ عَلَيْهِ بِهِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهَ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ”.

Dari Abu Dzar bahwa ia berkata, “Wahai Rasulullah, ada seseorang yang mengerjakan suatu amal lalu manusia memujinya dan menyanjungnya karena amal tersebut.” Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi orang mukmin.” [Shahih Muslim (no. 2642)]

~Kabar Gembira Para Malaikat Saat Sakarat dengan Ampunan dan Surga

(( إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلاَّ تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوْعَدُونَ نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ نُزُلاً مِنْ غَفُوْرٍ رَحِيْمٍ ))

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kami-lah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat, di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Al-Fushshilat [41]: 30-32]

عَنِ الْبَرَّاءِ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: “أَنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ الْمَوْتُ، جَاءَهُ مَلَائِكَةٌ بِيْضُ الْوُجُوْهِ، بِيْضُ الثِّيَابِ، فَقَالُوْا: اُخْرُجِيْ أَيَّتُهَا الرُّوْحُ الطَّيِّبَةُ إِلىَ رُوْحٍ وَرَيْحَانٍ، وَرَبٍّ غَيْرَ غَضْبَانَ. فَتَخْرُجُ مِنْ فَمِهِ، كَمَا تَسِيْلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فَمِ السِّقَاءِ”.

Dari al-Barra` bin Azib dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Sesungguhnya jika seorang mukmin mengalami sakarat, datanglah malaikat yang putih wajahnya dan putih pakaiannya. Mereka berkata, ‘Wahai ruh yang baik keluarlah menuju rahmat, wewangian, dan Rabb tanpa kemurkaan.’ Kemudian, ruh itu keluar dari mulutnya seperti keluarnya tetesan air dari mulut wadah.” [Shahih: Musnad Ahmad (no. 18534)]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*