3 alasan belajar 2

Tiga Alasan Mengapa Harus Belajar Ilmu Syar’i (2)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Adab, Fiqih, Penyejuk Hati 0 Comments

3] Ilmu Syar’i menjadikan Pemiliknya Berwibawa

Banyak bukti yang menyebutkan hal demikian. Kita mulai dengan menengok Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pengemban ilmu syar’i. Selain sebagai Nabi dan Rasul, Allah memuji beliau dan menjadikannya berwibawa di tengah kaumnya lantaran dakwah dan ilmu yang beliau emban.

Setelah masuk Islam, Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu berkata:

إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ شَخْصٌ أَبْغَضَ إِلَيَّ مِنْهُ‏.‏ فَلَمَّا أَسْلَمْتُ، لَمْ يَكُنْ شَخْصٌ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْهُ، وَلَا أَجَلُّ فِي عَيْنِيْ مِنْهُ

“Sungguh, tidak ada seorangpun yang paling aku benci selain beliau. Namun, tatkala aku masuk Islam, tidak ada seorangpun yang paling aku cintai selain beliau dan aku sungkan untuk memadang beliau.” Dia juga pernah berkata:

وَلَوْ سُئِلْتُ أَنْ أَصِفَهُ لَكُمْ لَمَا أَطَقْتُ، لِأَنِّي لَمْ أَكُنْ أَمْلَأُ عَيْنِيْ مِنْهُ إِجْلَالًا لَهُ‏.

“Jika aku diminta untuk mensifatkan beliau kepada kalian, tentu aku tidak bisa karena aku tidak pernah memandang lama kepada beliau karena kewibaan beliau.”

Urwah bin Mas’ud pernah berkata kepada orang-orang Quraisy:

يَا قَوْمِ، وَاللَّهِ لَقَدْ وُفِدْتُ إِلَى كِسْرَى وَقَيْصَرَ وَالْمُلُوْكِ، فَمَا رَأَيْتُ مَلِكًا يُعْظِمُهُ أَصْحَابَهُ مَا يُعْظِمُ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ مُحَمَّدًا وَاللَّهِ مَا يُحَدُّوْنَ النَّظَرَ إِلَيْهِ تَعْظِيْمًا لَهُ، وَمَا تَنَخَّمَ نُخَامَةً إِلَّا وَقَعَتْ فِي كَفِّ رَجُلٍ مِنْهُمْ، فَيَدْلُكُ بِهَا وَجْهَهُ وَصَدْرَهُ، وَإِذَا تَوَضَّأَ كَادُوْا يَقْتَتِلُوْنَ عَلَى وُضُوْئِهِ

“Wahai kaumku, Demi Allah, aku pernah diutus kepada raja Persia, raja Romawi, dan raja-raja lain. Aku tidak pernah melihat seorang raja dimuliakan oleh para shahabatnya sebagaimana yang dilakukan oleh para shahabat Muhammad kepadanya. Demi Allah, mereka membatasi pandangan kepadanya karena memuliakannya dan tidaklah dia meludah melainkan salah seorang dari mereka menadahnya dengan telapak tangan lalu ia mengusapkannya ke wajah dan dadanya, apabila Muhammad berwudhu mereka hampir saja bekelahi untuk memperebutkan (bekas) wudhunya.” [Aqidatut Tauhid (hal. 150) karya Dr. Fauzan Al-Fauzan dan Jalaaul Afham (hal. 120-121)]

Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan nama para nabi dan rasul alaihis shalatu was salam harum dan disebut-sebut kebaikannya hingga hari Kiamat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

))وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ((

“Dan Allah meninggikan penyebutan namamu.” [QS. Al-Insyirah [94]: 4]

قاَلَ قَتَادَةُ: رَفَعَ اللَّهُ ذِكْرَهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، فَلَيْسَ خَطِيْبٌ وَلَا مُتَشَهِّدٌ وَلَا صَاحِبُ صَلَاةٍ إِلَّا يُنَادِي بِهَا: أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَ  أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللَّهِ.

Qatadah berkata, “Allah mengangkat penyebutan namanya di dunia dan di akhirat. Tidak ada seorang khatib, orang yang membaca tasyahud, dan orang yang shalat, melainkan menyeru, ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak untuk disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah.’” [Tafsir Ibnu Katsir (VIII/430)]

Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami sedang duduk-duduk di masjid, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang lalu duduk bersama kami. Tidak ada seorang pun di antara kami yang berbicara, seolah-olah di kepala kami ada burung yang bertengger.” [Shahih al-Bukhari]

))وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الآخِرِينَ سَلامٌ عَلَى نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ((

“Dan Kami abadikan untuk Nuh itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, yaitu ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam.’” [QS. Ash-Shaffat [37]: 78-79]

))وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الآخِرِينَ سَلامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ((                                                                                                                                              

“Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.’” [QS. Ash-Shaffat [37]: 108-109]

))وَتَرَكْنَا عَلَيْهِمَا فِي الآخِرِينَ سَلامٌ عَلَى مُوسَى وَهَارُونَ((

“Dan Kami abadikan untuk keduanya (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu): ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun.’” [QS. Ash-Shaffat [37]: 119-120]

))وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الآخِرِينَ سَلامٌ عَلَى إِلْ يَاسِينَ((

“Dan Kami abadikan untuk Ilyas (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, yaitu ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas.’” [QS. Ash-Shaffat [37]: 129-130]

Mengenai firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Kami abadikan untuknya (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.”

قَالَ اِبْنُ عَبَّاسٍ: يُذْكَرُ بِخَيْرٍ قَالَ مُجَاهِدٌ: يَعْنِيْ لِسَانٌ صِدْقٌ لِلْأَنْبِيَاءِ كُلِّهِمْ

Ibnu Abbas berkata, “Disebut-sebut kebaikannya” dan Mujahid berkata, “Maksudnya pujian-pujian yang baik bagi seluruh para nabi alaihis shalatu was salam.”

قَالَ قَتَادَةُ وَالسُّدِّي: أَبْقَى اللَّهُ عَلَيْهِ الثَّنَاءَ الْحَسَنَ فِي الْآخِرِيْنَ. قَالَ الضَّحَّاكُ: السَّلاَمُ وَالثَّنَاءُ الْحَسَنُ.

Qatadah dan as-Suddi berkata, “Allah melanggengkan pujian-pujian yang baik dari orang-orang yang datang kemudian bagi para nabi.” Adh-Dhahhak berkata, “Ucapan salam dan pujian yang baik.” [Tafsir Ibnu Katsir (VII/23)]

Semua ini juga berlaku bagi pewaris para nabi alaihis shalatu was salam, yaitu para ulama.

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu memegang tali tunggangan Zaid bin Tsabit sambil berkata, “Seperti inilah kami diperintah terhadap ulama-ulama kami.” [Mustadrak Hakim]

Ar-Rabi’ bin Sulaiman, salah seorang sahabat Imam asy-Syafi’i berkata, “Demi Allah, saya tidak berani minum air sementara Imam asy-Syafi’i memandangiku, karena kewibawaannya.”

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Aku bermulazamah kepada Hasyim bin Basyr selama empat tahun dan aku tidak pernah bertanya kepadanya kecuali hanya dua kali saja, karena kewibawaannya.” [Tadzkiratul Huffadz (I/249)]

Perlu diketahui bahwa ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu yang berulang kali dipuji oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam al-Qur`an dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-haditsnya, yaitu firman Allah, sabda Rasulullah, dan perkataan para shahabat. Selain dari itu bukanlah ilmu kecuali untuk memahami fiqih. Imam as-Syafi’i rahimahullah berkata dalam salah satu sya’irnya:

Segala ilmu selain al-Qur`an hanyalah menyibukkan

Kecuali ilmu hadits dan fiqih untuk memahami agama

Ilmu adalah yang tercantum di dalamnya “Qaala Haddatsana”

Selain itu adalah bisikan setan

[Diiwan Imam asy-Syafi`i (hal. 388, no. 206)]

Terakhir, wahai saudaraku, tidak ada kemuliaan kecuali bagi penuntut ilmu. Maka, bersemangatlah engkau mencarinya sebagaimana seorang ibu yang bersemangat dalam mencari bayi satu-satunya yang hilang. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita sebagai penuntut ilmu hingga maut menjemput. Wallahul Muwaffiq.

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Masjid Thaybah, 26 Mei 2011

Al-Faqir kepada ampunan Rabb-nya

Abu Zur’ah ath-Thaybi

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*