3 alasan belajar

Tiga Alasan Mengapa Harus Belajar Ilmu Syar’i (1)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Adab, Manhaj, Penyejuk Hati 0 Comments

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّباً مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ:

            Kita sekarang ini sedang berada di suatu zaman di mana nyala api menuntut ilmu mulai redup, syubhat pemikiran sesat makin hidup, dan syahwat pesona wanita makin kencang mendegup. Fitnah-fitnah ini dari segala penjuru menyelundup. Siapa yang tidak punya benteng, maka ia akan celaka seumur hidup.

Ketahuilah! Sebaik-baik benteng adalah ilmu. Namun demikian, banyak yang tidak berhasrat memilikinya. Maka, mereka memerlukan penyulut untuk membesarkan nyala api yang hampir padam itu.

            Cukuplah dengan merenungi tiga alasan ini untuk memompa semangat menuntut ilmu syar’i. Barangsiapa yang tidak terpengaruh sedikitpun dengan tiga alasan ini, maka hanya kepada Allah-lah kita mengadu dan meminta pertolongan. Berikut ulasannya:

1] Ilmu Syar’i Menentukan Sah Tidaknya Suatu Ibadah

Islam adalah agama sempurna yang dibangun di atas dua pondasi kokoh, yaitu ilmu dan amal. Amal akan rusak bila tidak disertai dengan ilmu. Amal tanpa ilmu ibarat membangun istana di atas air. Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah. Semuanya buruk dan menimbulkan kerusakan. Untuk itulah Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong ummat Islam untuk menuntut ilmu kemudian dengan ilmu itu dia beramal. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

))هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا((

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” [QS. Al-Fath [48]: 28]

Tatkala menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

أَيْ: بِالْعِلْمِ النَّافِعِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ فَإِنَّ الشَّرِيْعَةَ تَشْتَمِلُ عَلَى شَيْئَيْنِ: عِلْمٌ وَعَمَلٌ فَالْعِلْمُ الشَّرْعِيُّ صَحِيْحٌ وَالْعَمَلُ الشَّرْعِيُّ مَقْبُوْلٌ.

“Maksudnya, dengan ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih. Sebab, syari’at itu mencakup dua hal: ilmu dan amal. Ilmu yang sesuai dengan syari’at adalah ilmu yang benar dan amal yang sesuai dengan syari’at adalah amal yang diterima.” [Tafsir Ibnu Katsir (VII/360)]

Maka, makna dari al-hudaa adalah ilmu yang bermanfaat sedangkan diinul haq adalah amal yang shalih. Ini adalah tafsiran yang sesuai dengan dalil dari al-Qur`an dan as-Sunnah. Dari sini, sangatlah jelas akan kedudukan ilmu dan amal dalam Islam.

Karena kedudukan ilmu inilah, maka wajib bagi seseorang yang akan beramal dan beribadah kepada Allah harus disertai dengan ilmu tentangnya agar bisa diterima ibadahnya. Mengingat tujuan diciptakannya manusia adalah agar beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala sementara ibadah tidak akan diterima kecuali didasari dengan ilmu (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka tidak ada alasan baginya untuk tidak menuntut ilmu.

Ibadah tidak akan diterima kecuali di atas dasar ikhlas dan ittiba’ (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Inilah dua syarat agar amal seseorang diterima atau sah di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Banyak dalil-dalil yang menyebutkannya baik dari al-Qur`an, as-Sunnah, ataupun ijma para Salaf. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

))بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ((

“Bahkan, barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang dia berbuat kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak bersedih hati.” [QS. Al-Baqarah [2]: 112]

            Maksud (أَسْلَمَ وَجْهَهُ) adalah ikhlas dalam beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan yang dimaksud (وَهُوَ مُحْسِنٌ) adalah amalan yang sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

            Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Inti agama ada dua pokok, yaitu kita tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan kita tidak menyembah Allah subhanahu wa ta’ala kecuali dengan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan dan tidak mengada-ngada. Ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

))فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا((

“Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan tidak berbuat syirik kepada Tuhannya dengan suatu apapun.” [QS. Al-Kahfi [18]: 110] Ini adalah perwujudan dari syahadat la ilaaha illallah dan muhammadur rasuulullah. [Al-Ubudiyyah (hal. 103), Majmuu’atut Tauhid (hal. 645)]

            Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

))الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا((

“Dialah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk mengujimu siapakah di antaramu yang paling ahsan amalnya.” [QS. Al-Mulk [67]: 2]

            Seorang tabi’in besar pada zamannya, Imam Fudhail bin ‘Iyadh v, berkata tatkala menafsirkan ayat ini:

أَيْ أَخْلَصُهُ وَأَصْوَابُهُ فَإِنْ كَانَ خَالِصاً وَلَمْ يَكُنْ صَوَاباً لَمْ يُقْبَلْ وَإِنْ كاَنَ صَوَاباً وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ حَتَّى يَكُوْنَ خَالِصًا وَالْخَالِصُ إِذَا كَانَ لِلَّهِ وَالصَّوَابُ إِذَا كَانَ عَلَى السُّنَّةِ

“Maksud (أَحْسَنُ عَمَلا) adalah amalan yang paling ikhlas dan benar. Jika amal itu dikerjakan dengan ikhlas tapi tidak benar, maka amal tersebut tidak diterima. Jika amal itu dikerjakan dengan benar tapi tidak ikhlas, maka amal tersebut juga tidak diterima hingga benar-benar ikhlas. Amal dikatakan ikhlas jika hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala semata dan dikatakan benar jika sesuai dengan Sunnah.” [Hilyatul Aulia wa Thabaqatul Asyfiya’ (VIII/95), Alfu Bithaqah (no. 183)]

Berdasarkan tiga ayat ini dan selainnya, Ahli Sunnah mengatakan bahwa syarat diterimanya amal ada dua. Pertama, amalan itu harus ikhlas karena Allah semata dan, yang kedua, amalan itu harus ada dasarnya dan sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika salah salah satu dari dua syarat ini tidak terpenuhi, maka amalan tersebut tidak akan diterima.

            Maka, amal ibadah yang hanya mengandalkan ikhlas semata dan semangat membabi buta tanpa ada dasar petunjuknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah batal dan tidak akan diterima. Dalam sebuah riwayat shahih disebutkan bahwa ada tiga orang datang ke kediaman istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya tentang ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menganggap biasa ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menurut mereka, hal itu wajar karena beliau telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang, sementara mereka tidak ada jaminan apapun. Sehingga, di antara mereka ada yang berkata, “Aku akan terus-menerus berpuasa dan tidak akan absen.” Yang kedua berkata, “Aku akan terus-menerus shalat malam dan tidak akan tidur.” Yang ketiga berkata, “Aku tidak akan menikah agar bisa fokus beribadah.” Atau yang semakna dengan itu.

            Tentu kita sepakat bahwa mereka melakukan itu dengan niat baik dan semangat yang tinggi dalam beragama. Namun, tatkala kabar ini sampai ke telinga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau mendatangi mereka dan bersabda:

أَنْتُمْ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Kalian kah yang mengatakan demikian dan demikian? Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan yang paling bertakwa di antara kalian. Namun, aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan tidur, dan aku menikahi wanita-wanita. Barangsiapa yang membenci Sunnahku maka dia bukan dari ummatku.” [Shahih al-Bukhari (no. 4675)]

            Memang hampir semua orang bisa mengusahakan ikhlas dalam beribadah. Namun, tidak semua orang yang ibadah mereka sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas, siapakah yang selamat dari syarat ibadah yang kedua ini? Tentu tidak ragu lagi bagi kita bahwa mereka adalah penuntut ilmu. Mereka giat dalam mempelajari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga mereka mengetahui ucapan-ucapan, perbuatan-perbuatan, dan sifat-sifat ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2] Hanya Pemilik Ilmu Syar’i yang Takut Kepada Allah

Para ulama mempunyai khasyyah (rasa takut) yang tinggi kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan ini tidak dimiliki oleh selainnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

))إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ((

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari kalangan para hamba-Nya hanyalah para ulama.” [QS. Fatir [35]: 28]

Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala membatasi bahwa hanya para ulama saja yang mempunyai rasa takut kepada-Nya. Pengkhususan ini ditunjukkan oleh lafazh innama yang dinamakan adawatul hashr (faidah pembatasan) dalam ilmu Nahwu.

Mengenai ayat (إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ), Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata:

الَّذِيْنَ يَعْلَـمُوْنَ أَنَّ اللَّهَ عَلَـى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

“Mereka adalah orang-orang yang mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [Tafsir Ibnu Katsir (VII/485) cet. Pustaka Ibnu Katsir]

Qatadah berkata:

كَانَ يُقَالُ: كَفَـى بِـالرَّهْبَةِ عِلْـمًا.

“Dahulu disebutkan bahwa cukuplah disebut berilmu jika punya rasa takut.”

Keutamaan rasa takut ini akan nampak jika dihubungkan dengan ayat:

))وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى((

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” [QS. An-Nazi’at [79]: 40-41]

Di ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala memberitahukan bahwa penduduk surga al-Ma`wa mempunyai sifat takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Siapakah yang takut kepada Allah? Dari surat Fatir ayat 28 di atas, terpahami bahwa yang takut kepada Allah dari kalangan hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama. Maka, ini merupakan keutamaan yang besar bagi penuntut ilmu yang tidak dianugrahkan Allah kepada selain mereka. Dari sini, tampak jelas bahwa kebanyakan penduduk surga adalah orang berilmu, baik ulama atau penuntut ilmu syar’i.

Mari kita melihat pengaruh ilmu bagi pemiliknya: Ar-Rabi’ bin Khutsaim rahimahullah, salah seorang tabi’in mulia, berita tentang rasa takutnya kepada Allah begitu banyak, di antaranya adalah kisah yang diceritakan oleh sahabatnya, “Suatu hari kami pergi menyertai Abdullah bin Mas’ud ke suatu tempat bersama ar-Rabi’ bin Khutsaim. Tatkala berjalan kami sampai di tepi sungai Eufrat kami melewati suatu perapian besar tempat membakar batu bata. Apinya menyala berkobar-kobar, terbayang akan kengeriannya, semburan apinya menjilat dengan dahsyatnya, gemuruh suara percikan apinya dan gemertak batu bata yang sudah dimasukkan ke dalamnya. Ketika melihat pemandangan itu, ar-Rabi’ terpaku di tempatnya, tubuhnya gemetar dengan hebatnya lalu beliau membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala:

))إِذَا رَأَتْهُمْ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا وَإِذَا أُلْقُوا مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُقَرَّنِينَ دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُورًا((

“Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan kobaran nyala apinya. Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan.” [QS. Al-Furqan [25]: 12-13] Hingga akhirnya beliau pingsan. Kami merawatnya hingga sadar kembali lalu membawanya pulang ke rumahnya.” [Mereka adalah Para Tabi’in (hal. 60-61)]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*