celana cingkrang

Tahukah Anda bahwa Celana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Cingkrang?

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Fiqih 0 Comments

قَالَ الأَشْعَثُ بْنُ سُلَيْمٍ: سَمِعْتُ عَمَّتِي تُحَدِّثُ عَنْ عَمِّهَا قَالَ: بَيْنَا أَنَا أَمشِي بِالْمَدِينَةِ، إِذَا إِنْسَانٌ خَلْفِي يَقُولُ: «ارْفَعْ إِزَارَكَ، فَإِنَّهُ أَتْقَى وَأَبْقَى» فَإِذَا هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا هِيَ بُرْدَةٌ مَلْحَاءُ، قَالَ: «أَمَا لَكَ فِيَّ أُسْوَةٌ؟» فَنَظَرْتُ فَإِذَا إِزَارُهُ إِلَى نِصْفِ سَاقَيْهِ.

Al-Asy’ats bin Sulaim berkata, “Aku mendengar bibiku berkisah dari pamannya yang berkata, ‘Saat aku berjalan di Madinah, tiba-tiba seseorang di belakangku berkata, ‘Naikkan kain sarungmu karena itu lebih bertakwa dan langgeng.’ Ternyata dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah burdah ini memang untuk keindahan.’ Beliau bersabda, ‘Bukankah di dalam diriku terdapat teladan bagimu?’ Lantas aku melihat ternyata kain sarung beliau mencapai setengah betis.” [Shahih: Asy-Syamail al-Muhammadiyah (no. 120) oleh Imam at-Tirmidzi. Dinilai shahih oleh al-Albani]

قَالَ سَلَمَةُ بْنُ الأَكْوَعِ: كَانَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ يَأْتَزِرُ إِلَى أَنْصَافِ سَاقَيْهِ وَقَالَ: هَكَذَا كَانَتْ إِزْرَةُ صَاحِبِي، يَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Salamah bin al-Akwa’ berkata, “’Utsman bin ‘Affan memakai kain sarung hingga setengah betis dan dia berkata, ‘Seperti inilah kain sarung temanku,’ maksudnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Shahih: Asy-Syamail al-Muhammadiyah (no. 121) oleh Imam at-Tirmidzi. Dinilai shahih oleh al-Albani]

Setelah membaca riwayat-riwayat yang secara terang menjelaskan bahwa pakaian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setengah betis dan tidak menjulur sampai melebihi mata kaki, manusia terbagi menjadi beberap kelompok.

Di antaranya: mereka yang menanggapi, “Biarlah Rasulullah kainnya setengah betis, adapun kami lebih enjou dijulurkan. Lagian teman-teman kami banyak yang menjulurkannnya.”

Di antaranya: mereka yang menanggapi, “Memang nash menunjukkan bahwa kain Rasulullah setengah betis tetapi Anda terlalu keburu menyimpulkan hukum. Tidaklah Anda kecuali hanya sekedar mengetahui secara tekstual saja, sementara kami memahaminya secara kontekstual hingga ke akar-akarnya. Bahkan, kami sedikitpun tidak pernah mendapati para kyai dan ustadz kami mengajarkan hal itu dan tidak pula mereka menaikkan kainnya hingga di atas mata kaki. Yang jelas, mereka lebih pintar dan lebih alim daripada Anda!”

Di antaranya: mereka yang menanggapi, “Meskipun amal kami tidak bisa menyamai Abu Bakar yang bisa masuk dari segala pintu kebaikan, tidak pula ‘Umar yang tegas dan tegar dalam membela Islam, tidak pula ‘Utsman yang memiliki keutamaan hingga membuat para malaikat merasa malu kepadanya. Namun, demi Allah kami mencintai Allah dan Rasul-Nya. Maka, kami menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan bagi kami dengan kami meninggikan kain celana hingga setengah betis atau minimal di atas mata kaki, sebagai bentuk kecintaan kami kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Demi Rabb Ka’bah, orang terakhir inilah yang kita cintai karena Allah karena kecintaan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah, merekalah orang-orang yang telah dilapangkan dadanya oleh Allah untuk menerima ajaran Islam. Semoga kita termasuk golongan mereka.

((أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ))

“Apakah orang yang Allah lapangkan dadanya untuk menerima Islam sedang dia di atas cahaya dari Rabb-nya (sama dengan orang yang sempit dadanya menerima ajaran Islam?) Maka, celakalah hati yang keras dari mengingat Allah. Mereka itulah orang-orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.” [QS. Az-Zumar [39]: 22]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*