surat muslim

Surat Terbuka untuk Setiap Muslim

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Penyejuk Hati 0 Comments

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّباً مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ:

Bagaimana menurut Anda jika Anda terlahir dari rahim bukan muslimah?

Bagaimana menurut Anda jika lingkungan Anda bukan islami? Negeri Anda, keluarga Anda, dan tetangga Anda bukan muslim, sehingga Anda pun bukan seorang muslim?

Bagaimana menurut Anda jika ini semua ditakdirkan kepada Anda?

Suhbanallah, betapa besar nikmat dan karunia yang telah diberikan Allah kepada kita, jika kita bisa merenungi pertanyaan-pertanyaan ini. Kita seorang muslim, alhamdulillah. Allah telah memilih kita dari sekian banyak manusia yang Dia ciptakan untuk menyandang predikat MUSLIM. Sebuah predikat yang menjadikan penyandangnya dijauhkan dari neraka dan didekatkan kepada surga, dengan seizin-Nya insya Allah. Bukankah ini nikmat dan karunia Allah yang amat besar? Mengapa kita tidak mau bersyukur?

Bukankah di negeri-negeri Barat dan Eropa banyak manusia yang terlahir dalam keadaan orang tuanya, kerabatnya, tetangganya, dan saudaranya nonmuslim, sehingga ia pun ikut-ikutan beragama dengan apa yang mereka beragama. Lalu ia meninggal dalam keadaan tersebut. Lalu, ia disiksa di kuburnya dan kelak dimasukkan ke dalam Jahannam dengan hina-dina sebagai suatu ketetapan dari Allah. Saudaraku, bukankah jumlah mereka tidak sedikit? Naudzubillah

))إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ((

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” [QS. Ali Imran [3]: 19]

))وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ((

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” [QS. Ali Imran [3]: 85]

Tidak ada satu pun agama yang diterima di sisi Allah selain Islam. Barangsiapa yang beragama selain Islam, maka dia seorang kafir. Siapa saja yang meninggal di atas kekafiran dan kesyirikan, maka dia akan menjadi penghuni neraka kekal selama-lamanya dan tidak ada satupun pelindung baginya selain Allah.

Orang-orang Nasrani atau Kristen adalah orang-orang kafir. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

))لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ((

“Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan: ‘Allah salah satu dari yang tiga (trinitas)’, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” [QS. Al-Ma`idah [5]: 73]

Orang-orang Yahudi adalah orang-orang kafir. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

))لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ((

“Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israel lewat lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.” [QS. Al-Ma`idah [5]: 78]

))إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ((

“Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik akan berada di neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” [QS. Al-Bayyinah [98]: 6]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak seorang pun dari kalangan ummat Yahudi atau Nasrani ini yang mendengar ajaranku, kemudian ia mati tanpa mengimani risalahku, kecuali ia tergolong penghuni neraka.” [Shahih Muslim (I/93)]

Kalau saja Yahudi dan Nasrani yang merupakan agama samawi (turun dari langit) menjadi sesat dan kafir pemeluknya karena telah merubah-rubah ajaran para nabi, lantas bagaimana dengan agama-agama shina’i (buatan manusia): Hindu, Budha, Konghucu, dan Sato??? Maka, bersyukurlah Allah telah memasukkan Anda ke dalam Islam. Ini adalah karunia yang besar dan lebih mahal daripada apa yang dikumpulkan oleh manusia.

Saudaraku, di mana bentuk syukurmu kepada Allah? Di mana shalatmu? Di mana puasamu? Di mana sedekahmu? Di mana engkau di sepertiga malam saat manusia tidur? Di mana bacaan al-Qur`anmu?

Saudaraku, lihatlah Sa’id bin Abdul Aziz. Muhammad bin Mubarak berkata, “Aku pernah melihat Sa’id bin Abdul Aziz saat ketinggalan shalat jamaah, ia memegang jenggotnya sambil menangis.” [Hilyatul Aulia wa Thabaqatul Asyfiya` (VI/126) oleh Abu Nu’aim al-Ashfahani]

Saudaraku, lihatlah ar-Rabi’. Saat ar-Rabi’ jatuh sakit, maka ia dipapah oleh dua orang pria menuju masjid kaumnya. Sebagian sahabatnya berkata kepadanya, “Hai Abu Yazid, Allah memberikan keringanan kepada Anda untuk shalat di rumah Anda.” Lantas, ia pun menjawab, “Itu menurut kalian. Hanya saja, aku mendengar panggilan hayya alal falah. Barangsiapa di antara kalian yang mendengar panggilan hayya alal falah, hendaklah ia memenuhi panggilan itu meskipun dengan merangkak atau merayap.” [Ibid (II/113)]

Saudaraku, lihatlah Sa’id bin Musayyib. Al-Auza’i berkata, “Sa’id bin Musayyib mempunyai keutamaan yang tidak kita ketahui. Keutamaan itu semula adalah milik seorang tabi’in. Yaitu, tidak pernah ketinggalan shalat berjamaah selama 40 tahun dan 20 tahun di antaranya tidak melihat tengkuk orang lain (karena selalu di shaff terdepan).” [Ibid (II/163)]

Saudaraku, lihatlah Sulaiman at-Tamimi. Mu’tamar bin Sulaiman at-Tamimi berkata, “Seandainya engkau bukan keluargaku, aku tidak akan menceritakan ayahku padamu. Selama 40 tahun ayahku sehari puasa dan sehari tidak puasa, dan beliau melaksanakan shalat Subuh dengan wudhu shalat Isya’. Kadang-kadang wudhunya batal, tetapi bukan karena tidur.” [Ibid (III/28)]

Lihatlah Kurz bin Wabrah. Fudhail bin Ghazwan berkata, “Aku pernah menemui Kurz bin Wabrah di rumahnya. Ternyata di tempat shalatnya ada sebuah kawah kecil yang ditutupi dengan jerami, bulu, dan sebuah kain. Kawah kecil itu ada karena lamanya ia berdiri (shalat). Dalam sehari-semalam ia menghatamkan al-Qur`an sebanyak 3 kali.” [Ibid (V/79)]

Saudaraku, di mana shalat Anda dibanding mereka?

Lihatlah Ibrahim an-Nakha’i. Hunaidah istri Ibrahim an-Nakha’i berkata, “Dulu Ibrahim selalu berpuasa sehari dan tidak berpuasa sehari.” [Ibid (IV/224)]

Imam Fudhail bin Iyyadh berkata, “Jika Anda tidak mampu melaksanakan shalat malam dan puasa di siang hari, maka ketahuilah bahwa Anda sedang dihalang dan dibelenggu oleh dosa Anda.” [Ibid (III/120)]

Saudaraku, di mana puasa Anda dibanding mereka?

Lihatlah Ali bin Husain. Syu’bah bin Nu’man berkata, “Dulu Ali bin Husain dikenal kikir. Namun, ketika ia meninggal dunia, mereka baru mengetahui bahwa ternyata ia sering memberi makan kepada 100 keluarga di kota Madinah.” [Ibid (III/136)]

Lihatlah Aisyah radhiyallahu ‘anha. Muawiyah radhiyallahu ‘anhu pernah mengirim uang 100.000 dirham kepada Aisyah. Kemudian, demi Allah, belum sampai matahari terbenam, ia sudah membagikannya. Kemudian seorang pembantunya berkata, “Sebaiknya sebagian uang itu digunakan untuk membeli daging untuk kita.” Beliau menjawab, “Andaikata engkau mengatakannya sebelum aku membagikannya, tentu aku sisakan.” [Ibid (II/47)]

Lihatlah Thalhah radhiyallahu ‘anhu. Thalhah pernah menjual tanah miliknya seharga 700.000 dirham. Uang tersebut berada di rumahnya selama satu malam. Namun, pada malam tersebut ia tidak bisa tidur karena mencemaskan hartanya sampai menjelang pagi. Akhirnya, ia membagi-bagikan uang tersebut.” [Ibid (I/89)]

Saudaraku, di mana sedekah Anda dibanding mereka?

Beginilah para pendahulu kita dari kalangan salafus shalih bersyukur. Mereka adalah orang-orang yang tahu diri karena menyadari karunia dan nikmat Allah yang tak terhitung yang dianugrahkan kepada mereka berupa Islam. Rasa syukur itu mereka ungkapkan dengan lisan, diakui oleh hatinya, dan diwujudkan dengan amal nyata.

Dalam sebuah riyawat disebutkan:

قَالَ دَاوُدُ: يَا رَبِّ، كَيْفَ أَشْكُرُكَ، وَالشُّكْرُ نِعْمَةٌ مِنْكَ؟ قَالَ: اَلْآنَ شَكَرْتَنِي حِيْنَ عَلِمْتَ أَنَّ النِّعْمَةَ مِنِّي

Nabi Dawud ‘alaihis salam berkata, “Wahai Rabb, bagaimana aku bersyukur kepadamu, sementara syukur sendiri adalah nikmat dari-Mu?” Allah berfirman, “Sekarang engkau telah bersyukur kepada-Ku, saat engkau mengakui bahwa nikmat itu berasal dari-Ku.” [Tafsir Ibnu Katsir (VI/501)]

Rasa syukur itu mereka ungkapkan dengan lisannya sebagai bentuk pengamalan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

))وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ((

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (mengungkapkannya).” [QS. Adh-Dhuha [93]: 11]

Setelah dua tahapan ini, mereka melengkapinya dengan mewujudkan syukur itu dengan amal nyata. Hal ini telah dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat turun surat al-Fath ayat dua yang menjelaskan bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa beliau baik yang lalu maupun yang akan datang, beliau amat gembira lalu bersyukur sebanyak-banyaknya kepada Allah. Hingga, diriwayatkan bahwa telapak kaki beliau bengkak-bengkak karena lamanya berdiri saat shalat malam. Mengetahui itu, Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya:

لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ؟

“Wahai Rasulullah, kenapa engkau melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah berlalu dan yang akan datang? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا؟

“Apakah aku tidak pantas jika menjadi hamba yang bersyukur?” [Shahih al-Bukhari (no. 4460)]

Mengakui bahwa nikmat Islam adalah anugrah Allah yang agung, mengungkapkannya dengan lisan, dan mewujudkannya dengan amal nyata, tiga inilah rukun syukur sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama.

Saudaraku, jika Anda berpaling dari agama Islam yang mulia ini, enggan mempelajarinya, dan malas beramal di dalamnya, maka ini sudah cukup untuk dikatakan bahwa Anda orang yang tak tahu diri dan tidak pandai bersyukur. Ketika Anda tidak mau mengolah hidayah Islam yang telah dianugrahkan Allah ini, kami mengkhawatirkan diri Anda karena Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

))فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ ((

“Tatkala mereka berpaling, Allah tambah palingkan hati mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” [QS. Ash-Shaff [61]: 5]

))نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا ((

“Maka, Kami akan palingkan mereka ke mana mereka berpaling, dan kelak Kami akan memasukkannya ke dalam Jahannam. Dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” [QS. An-Nisa [4]: 115]

Lihatlah orang-orang yang ada di belakang Anda. Jika Anda masih tak tahu diri, Allah kuasa untuk menggantikan Anda dengan mereka atau Dia menggantikan Anda dengan orang lain yang Allah mencintainya dan ia pun mencintai Allah dan Islam.

))فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ((

“Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [QS. Al-Ma`idah [5]: 54]

Sesungguhnya orang-orang yang bersyukur amatlah sedikit. Ada dan tiadanya Anda, mereka akan tetap ada hingga hari Kiamat. Yang jadi permasalahan, apakah Anda bertekad ingin bergabung dengan mereka ataukah enggan???

))وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ((

“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba Ku yang bersyukur.” [QS. Saba` [34]: 13]

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Masjid Thaybah, 25 Ramadhan 1432 H

Seseorang yang menginginkan kebaikan bagi dirinya dan saudaranya

Abu Zur’ah ath-Thaybi*

* Jika Anda memerlukan nasehat ini, demi Allah, penulis lebih berhak daripada Anda. Hanya saja, menjadi tanggung jawab setiap muslim untuk saling memberi nesehat dalam menetapi kebenaran dan nesehat dalam menetapi kesabaran. Penulis tidak mengaku dirinya bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Penulis mohon maaf bila ada kalimat yang tidak berkenan. Semoga Allah mengampuni kita semua. Alhamdulillah alladzi bini’matih tatimmush shaalihaat.

Murajaah: Ustadz Muhammad Nur Yasin

(Mudir Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*