surat terbuka mahasiswa 2

Surat Terbuka untuk Setiap Mahasiswa (2)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Penyejuk Hati 0 Comments

Saudaraku, banyak keutamaan dan alasan mengapa kita harus membaca atau menghafal al-Qur`an. Cukup saya bawakan di sini dua alasan. Renungkanlah semoga Anda mendapat hikmah.

Pertama: agar mendapatkan kedudukan yang tinggi di surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

“Akan dikatakan kepada Shahibul Qur`an, ‘Baca dan naiklah, dan bacalah dengan tartil sebagaimana dahulu kamu membacanya dengan tartil sewaktu di dunia. Sesungguhnya kedudukannmu (di surga) adalah di akhir ayat yang pernah kamu baca.” [Sunan Abu Dawud (no. 1252) dan ini lafazhnya, Sunan at-Tirmidzi (no. 2838), Sunan Ibnu Majah (no. 3770), Musnad Ahmad (no. 6508, 9706, dan 10933). Abu Isa at-Tirmidzi berkata, “Hasan Shahih.”]

قَالَ صَاحِبُ عَوْنِ الْمَعْبُودِ: وَقَدْ وَرَدَ فِي الْحَدِيث أَنَّ دَرَجَاتِ الْجَنَّة عَلَى عَدَد آيَات الْقُرْآنِ ، وَجَاءَ فِي حَدِيث مَنْ أَهْل الْقُرْآن فَلَيْسَ فَوْقَهُ دَرَجَةٌ ، فَالْقُرَّاءُ يَتَصَاعَدُونَ بِقَدْرِهَا .

Pengarang Aunul Ma’bud berkata, “Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa tingkatan-tingkatan surga sebanyak jumlah ayat al-Qur`an, dan disebutkan pula dalam sebuah hadits bahwa siapa yang menjadi ahli al-Qur`an, maka tidak ada derajat lagi di atasnya. Para Qurra` akan naik sesuai dengan kadar bacaannya.”

قَالَ الدَّانِيّ : وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ عَدَد آي الْقُرْآن سِتَّة آلَاف آيَة ثُمَّ اِخْتَلَفُوا فِيمَا زَادَ فَقِيلَ وَمِائَتَا آيَة وَأَرْبَع آيَات ، وَقِيلَ وَأَرْبَع عَشْرَة ، وَقِيلَ وَتِسْع عَشْرَة ، وَقِيلَ وَخَمْس وَعِشْرُونَ ، وَقِيلَ وَسِتّ وَثَلَاثُونَ.

Ad-Dani berkata, “Para ulama bersepakat bahwa jumlah ayat al-Qur`an adalah 6000 ayat, tetapi mereka berselih pendapat tentang kelebihannya. Ada yang berpendapat lebih 204 ayat, 214 ayat, 219 ayat, 225 ayat, dan 236 ayat.”

Sekarang renungkanlah, kira-kira siapakah manusia yang paling banyak bacaan al-Qur`annya? Tentu kita sepakat bahwa mereka adalah para penghafal al-Qur`an. Mengapa? Karena mereka berusaha menghafalnya, dan bila sudah hafal mereka terus membaca dan memurajaahnya agar tidak hilang.

قَالَ صَاحِبُ عَوْنِ الْمَعْبُودِ: وَيُؤْخَذ مِنْ الْحَدِيث أَنَّهُ لَا يُنَالُ هَذَا الثَّوَاب الْأَعْظَم إِلَّا مَنْ حَفِظَ الْقُرْآنَ وَأَتْقَنَ أَدَاءَهُ وَقِرَاءَتَهُ كَمَا يَنْبَغِي لَهُ .

Pengarang Aunul Ma’bud berkata, “Dari hadits ini terpahami bahwa pahala yang agung ini tidak akan diperoleh kecuali oleh orang yang menghafal al-Qur`an, mengamalkannya, dan terus membacanya, sebagaimana yang dituntut darinya.”

Kedua: agar mendapatkan pahala yang melimpah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka dia mendapatkan satu kebaikan, dan kebaikan itu dilipatgandakan sepuluh yang serupa. Aku tidak mengatakan bahwa alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” [Sunan at-Timidzi (no. 2835) dari Abdullah bin Mas’ud. Abu Isa at-Tirmidzi berkata, “Hadits hasan shahih gharib.”]

Ini adalah keutamaan yang agung bagi para ahli al-Qur`an. Pahala yang mereka dapatkan begitu banyak sesuai kadar bacaan mereka. Kita misalkan, membaca surat yang paling pendek al-Kautsar yang jumlah hurufnya sekitar 40, lalu dikalikan dengan 10, sehingga total kebaikan orang yang membacanya adalah 400 kebaikan, dan ini hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari 10 detik. Kira-kira adakah suatu amalan yang dilakukan dengan waktu sebentar lantas pahalanya banyak dan besar layaknya bacaan al-Qur`an? Kalau begitu, bergembiralah wahai ahli al-Qur`an!

Saudaraku …

Yang terbayang di benak mereka, dengan gelar sarjana teknik mereka bisa dengan mudah mencari dunia –dengan seizin Allah– dengan pendapatan yang besar sebagaimana yang dialami oleh orang-orang berdasi.

Wahai saudaraku, jika Anda yakin bahwa dengan mendapatkan gelar sarjana, maka kelapangan dunia ada di depan mata. Punya rumah bertingkat, mobil, istri cantik dan lain sebagainya, padahal Anda yakin bahwa Anda hanya bisa menikmatinya hanya 40 tahun atau bahkan lebih singkat dari itu. Maka, apakah konsep ini juga Anda terapkan untuk negeri akhirat Anda? Adapun orang cerdas, sebagaimana ia mengetahui keutamaan gelar sarjana ST (Sarjana Teknik), maka ia pun lebih bersemangat dalam meraih gelar PIS (Penuntu Ilmu Syar’i) karena akhirat jauh lebih baik dan kekal daripada dunia. Seandainya saja gelar sarjananya gagal, maka paling dunianya sempit dan merana –menurut persangkaan sebagian mereka–, tetapi jika akhiratnya yang gagal, maka dia akan merugi, menyesal, dan merana selama-lamanya. Naudzubillah wa nas`alullaha lana as-salamah wal afiyah.

Jika Anda tidak mampu menghafal al-Qur`an, maka luangkanlah waktumu untuk membacanya. Jika tidak mampu juga, maka cintailah ahlinya. Jika tidak mampu juga, maka saya turut berbela sungkawa dan akan bertakbir empat kali untuk menshalati Anda karena Anda telah meninggal dunia.

Namun, saya yakin Anda adalah orang cerdas, karena hanya orang cerdas saja yang bisa masuk ke perguruan tinggi favorit. Orang cerdas akan memutuskan untuk mengambil yang terbaik dari semua kebaikan yang ada. Maka, lanjutkanlah urusanmu dan barengilah dengan urusan akhiratmu. Bersemangatlah dan jangan lemah. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berwasiat kepada Anda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ

“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah, dan masing-masing mereka adalah baik. Bersemangatlah dalam melaksanakan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah.” [Shahih Muslim (no. 4816)]

Jika saya mengatakan kepada Anda, “Bersedakahlah!” lalu, saya tidak sempurna dalam bersedekah, maka demi Allah:

(( وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلا الإصْلاحَ مَا اسْتَطَعْتُ ))

“Saya tidak bermaksud untuk menyelisihi apa yang saya perintahkan kepada Anda. Saya tidak bermaksud kecuali mendatangkan perbaikan semampu saya.” [QS. Hud [11]: 88]

Yang jelas, persaudaraan di antara kaum muslimin menuntut untuk saling memberi nasehat karena nasehat itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin.

(( وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ ))

“Dan berilah nasehat, karena sesungguhnya nasehat itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin.” [QS. Adz-Dzariyat [51]: 55]

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Masjid Thaybah, 8 Pebruari 2012

Sahabatmu Fillah

Abu Zur’ah ath-Thaybi

*penomoran hadits berdasar al-Maktab asy-Syamilah

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*