strategi surga tertinggi 2

Strategi Kiri Agar Dibonceng ke Surga Tertinggi (2)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Aqidah, Penyejuk Hati 0 Comments

Pembahasan

Kemudian, sesuai dengan judul kutaib ini Strategi Kiri Agar Dibonceng ke Surga Tertinggi, maka penulis akan membawakan strategi agar bisa naik ke surga tertingi meskipun sedikit amalnya disebabkan fisik yang tidak mendukung atau lainnya –dan Allah lebih mengetahui keadaan kita–. Berikut pembahasannya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

(( وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ ))

“Dan orang-orang mukmin dan anak keturunan yang mengikuti mereka dalam keimanan akan Kami kumpulkan mereka bersama, dan Kami tidak akan mengurangi amal mereka sedikitpun. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” [QS. Ath-Thur [52]: 21]

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Allah subhanahu wa ta’ala dengan karunia-Nya, kemulian-Nya, luasnya pemberian-Nya, kelembutan-Nya, dan kebaikan-Nya kepada makhluk-Nya mengabarkan bahwa orang-orang mukmin dan keturunan mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan akan dikumpulkan dalam satu tingkat surga, meskipun amal keturunan mereka tidak sampai menyamai mereka. Hal ini supaya para orang tua merasa senang dengan dikumpulkannya mereka dengan keturunannya di satu tempat. Mereka dikumpulkan dalam sebaik-baik balasan, di mana yang amalnya kurang dinaikkan dengan yang amalnya sempurnya tanpa mengurangi amalnya sedikitpun di tingkat surganya, sehingga kedudukan mereka sama. Oleh karena itu, Allah berfirman, ‘Kami kumpulkan mereka dengan keturunan mereka, dan Kami tidak akan mengurangi amal mereka sedikitpun.’” [Tafsir Ibnu Katsir (VII/432)]

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: إِنَّ اللَّهَ لَيَرْفَعُ ذُرِّيَّةَ الْمُؤْمِنِ فِي دَرَجَتِهِ، وَإِنْ كَانُوْا دُوْنَهُ فِي الْعَمَلِ، لِتَقِرُّ بِهِمْ عَيْنُهُ. ثم قرأ: (( وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ))

Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya Allah benar-benar mengangkat keturunan orang mukmin pada kedudukannya, meskipun amal mereka di bawah amalnya, supaya hatinya tentram karena hal itu.” Kemudian beliau membaca ayat, “Dan orang-orang mukmin dan anak keturunan yang mengikuti mereka dalam keimanan akan Kami kumpulkan mereka bersama, dan Kami tidak akan mengurangi amal mereka sedikitpun. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” [Ibid (VII/432)]

Ayat yang agung ini memberikan harapan yang besar bagi setiap muslim untuk mendapatkan surga tertinggi, meskipun dirinya belum bisa maksimal dalam beramal.

Ayat ini juga memberikan faidah agar seseorang mencari pendamping yang shalih atau shalihah. Jika tidak mampu, maka anak-anaknya dibina dan dididik agar menjadi anak shalih yang dicintai Allah. Jika tidak mampu pula, dia berusaha memberi semangat kerabat dekatnya untuk menempuh ilmu dan jalan-jelan kebaikan. Semoga dengan begitu, mereka menjadi orang-orang yang banyak amal kebaikannya.

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ الْجَنَّةَ سَأَلَ عَنْ أَبَوَيْهِ وَزَوْجَتِهِ وَوَلَدِهِ، فَيُقَالُ لَهُ: إِنَّهُمْ لَمْ يَبْلُغُوا دَرَجَتَكَ وَعَمَلَكَ! فَيَقُولُ : يَا رَبِّ، قَدْ عَمِلْتُ لِي وَلَهُمْ. فَيُؤْمَرُ بِإِلْحَاقِهِمْ»

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang masuk surga, dia akan bertanya tentang kedua orang tuanya, istrinya, dan anaknya. Lalu dikatakan kepadanya, ‘Mereka tidak bisa mencapai derajatmu dan amalmu.’ Lalu dia berkata, ‘Wahai Rabb-ku! Sungguh amalku untuk saya dan mereka.’ Lalu, diperintahkan Malaikat untuk mempertemukan mereka.” [al-Mu’jam ash-Shaghir (no. 640) oleh ath-Thabarani dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma]

قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ: «إِنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ: أَنَّى هَذَا؟ فَيُقَالُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ»

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguhnya seseorang benar-benar diangkat derajatnya di surga lalu dia pun bertanya, ‘Dari mana ini?’ Dijawab, ‘Karena istighfar anakmu untukmu.’” [Shahih: Sunan Ibnu Majah (no. 3660) dan redaksi ini miliknya, Musnad Ahmad (no. 10609), al-Mu’jam al-Ausath (no. 5104) oleh ath-Thabarani, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (no. 30359) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dinilai shahih dalam az-Zawa`id tetapi dinilai hasan oleh al-Arnauth dalam tahqiq Musnad Ahmad]

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila manusia meninggal dunia maka terputuslah semua amalnya darinya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan orang tuanya.” [Shahih: Shahih Muslim (no. 1631), Sunan Abu Dawud (no. 2880), Musnad Ahmad (mo. 8844 ), Shahih Ibnu Khuzaimah (no. 2494), Shahih Ibnu Hibban (no. 3016), Musnad Abu Ya’la (no. 6457), dan Sunan ad-Darimi (no. 559) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Hendaknya setiap orang memperhatikan siapa yang akan menjadi istrinya, pendidikan anak-anaknya, dan keadaan kerabat-kerabatnya. Boleh jadi seseorang terangkat derajatnya di surga karena keberadaan orang-orang tersebut. Tentu ini adalah strategi yang amat menguntungkan.

Memang banyak jalan-jalan kebaikan, tetapi jika memungkinkan jalan pertama yang Anda pilih adalah jalan ilmu sebagaimana Imam Malik ridha dibukakan kebaikannya dari jalan ini. Tidakkah Anda ingin seandainya istri, anak, atau kerabat Anda berada di surga tertinggi karena hafalannya lalu Anda pun diminta untuk bergabung dengan mereka?

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا»

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Akan dikatakan kepada Shahibul Qur`an, ‘Baca dan naiklah, dan bacalah dengan tartil sebagaimana dahulu kamu membacanya dengan tartil sewaktu di dunia. Sesungguhnya kedudukannmu (di surga) adalah di akhir ayat yang pernah kamu baca.” [Hasan Shahih: Sunan Abu Dawud (no. 1252) dan ini lafazhnya, Sunan at-Tirmidzi (no. 2838), Sunan Ibnu Majah (no. 3770), dan Musnad Ahmad (no. 6508, 9706, dan 10933) dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma. Abu Isa at-Tirmidzi dan al-Albani menilainya hasan shahih]

قَالَ صَاحِبُ عَوْنِ الْمَعْبُودِ: وَقَدْ وَرَدَ فِي الْحَدِيث أَنَّ دَرَجَاتِ الْجَنَّةِ عَلَى عَدَدِ آيَاتِ الْقُرْآنِ، وَجَاءَ فِي حَدِيْثٍ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ فَلَيْسَ فَوْقَهُ دَرَجَةٌ، فَالْقُرَّاءُ يَتَصَاعَدُوْنَ بِقَدْرِهَا.

Pengarang Aunul Ma’bud berkata, “Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa tingkatan-tingkatan surga sebanyak jumlah ayat al-Qur`an, dan disebutkan pula dalam sebuah hadits tentang orang yang menjadi ahli al-Qur`an, bahwa tidak ada derajat lagi di atasnya. Para Qurra` akan naik sesuai dengan kadar bacaannya.” [Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abu Dawud (IV/338) oleh Abu ath-Thayyib Abadi, al-Maktabah as-Salafiyah: cet. ke-2 th. 1388 H/1968 M]

Maksudnya, tidak ada seorang pun yang kedudukannya di surga melebihi kedudukan para ahli al-Qur`an.

قَالَ الدَّانِيّ : وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ عَدَدَ آيِ الْقُرْآن سِتَّةُ آلَافِ آيَةٍ ثُمَّ اخْتَلَفُوا فِيمَا زَادَ، فَقِيلَ وَمِائَتَا آيَةٍ وَأَرْبَعَ آيَاتٍ، وَقِيلَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ، وَقِيلَ وَتِسْعَ عَشْرَةَ، وَقِيلَ وَخَمْسَ وَعِشْرُونَ ، وَقِيلَ وَسِتَّ وَثَلَاثُوْنَ.

Ad-Dâni berkata, “Para ulama bersepakat bahwa jumlah ayat al-Qur`an adalah 6000 ayat, tetapi mereka berselih pendapat tentang kelebihannya. Ada yang berpendapat lebih 204 ayat, 214 ayat, 219 ayat, 225 ayat, dan 236 ayat.” [Ibid (IV/338)]

Maka, alangkah bahagianya seseorang yang menjadi istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, anak-anak beliau, dan kerabat beliau.

Alangkah bahagianya seseorang yang memiliki anak yang hafal al-Qur`an dan berakhlak mulia.

Semoga Allah menjadikan diri-diri kita, istri kita, anak keturunan kita, dan kerabat-kerabat kita sebagai orang-orang yang dibukakan bagi mereka jalan-jalan kebaikan yang banyak.

Ya Allah dengan nama-nama-Mu yang agung dan sifat-sifat-Mu yang mulia kabulkanlah doa kami.

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Selesai ditulis: 25 Sya’ban 1433 H/15 Juli 2012

Al-Faqir ila afwi rabbih

Abu Zur’ah ath-Thaybi

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*