strategi surga tertinggi

Strategi Kiri Agar Dibonceng ke Surga Tertinggi (1)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Aqidah, Penyejuk Hati 0 Comments

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّباً مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ:

 

Mukadimah

Setiap orang berakal tentu ingin masuk surga yang penuh kenikmatan. Manusia masuk surga bukan karena amal ibadahnya, tetapi karena rahmat Allah subhanahu wa ta’ala semata.

قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ» قَالُوْا: وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ؟ قَالَ: «لاَ، وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ»

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal seseorang tidak akan bisa memasukkannya ke surga.” Para shahabat bertanya, “Tidak juga Anda, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak juga aku. Hanya saja Allah meliputiku dengan karunia dan rahmat-Nya.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 5673) dan Shahih Muslim (no. 2816) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Keindahan surga yang meliputi istana-istananya, pohon-pohonnya, sungai-sungainya, dan bidadari-bidadarinya tidak menyamai ibadah yang dipersembahkan manusia sewaktu di dunia. Bahkan, satu tolehan seorang bidadari surga yang hanya sekejab saja lebih indah dan lebih utama daripada dunia dan seisinya. Maka, mustahil seseorang bisa membeli surga dengan ibadahnya. Untuk itulah mengapa manusia tidak akan masuk surga karena amal ibadahnya.

Kalau memang manusia masuk surga bukan karena amalnya, lantas untuk apa seseorang beramal? Untuk mencari wajah Allah dan keridhaan-Nya. Barangsiapa yang dicintai dan diridhai Allah, maka Dia akan memasukkanya ke dalam surga. Sementara jumlah amalnya menentukan posisinya di surga, karena surga itu bertingkat-tingkat. Kebaikan apapun yang dipersembahkan untuk-Nya, pasti Allah balas tanpa menguranginya sedikitpun.

(( مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ))

“Barangsiapa yang beramal shalih baik laki-laki atau perempuan dalam keadaan beriman maka Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan membalas mereka dengan sebaik-baik apa yang dulu mereka kerjaan.” [QS. An-Nahl [16]: 97]

Dari sini, kita mengetahui bahwa semakian banyak amal seseorang maka semakin tinggi pula kedudukannya di dalam surga. Namun, tidak semua orang mampu menempuh semua jalan-jalan kebaikan. Ada yang kuat dalam puasanya tetapi tidak dalam shalat malamnya. Ada yang kuat dalam sedekahnya tetapi tidak dalam jihad.

Diriwayatkan bahwa seorang ahli ibadah bernama Abdullah al-Umari menasehati Imam Malik karena terlalu banyak menyampaikan hadits sehingga menurutnya hal itu menjadikannya terluput banyak sekali dari ibadah-ibadah sunnah dan menyendiri kepada Allah. Maka, Imam Malik menulis balasan nasihatnya:

إِنَّ اللَّهَ قَسَّمَ الأَعْمَالَ كَمَا قَسَّمَ الأَرْزَاقَ، فَرُبَّ رَجُلٍ فُتِحَ لَهُ فِي الصَّلاَةِ وَلَمْ يُفتَحْ لَهُ فِي الصَّوْمِ، وَآخَرَ فُتِحَ لَهُ فِي الصَّدَقَةِ وَلَمْ يُفتَحْ لَهُ فِي الصَّوْمِ، وَآخَرَ فُتِحَ لَهُ فِي الجِهَادِ. فَنَشْرُ العِلْمِ مِنْ أَفْضَلِ أَعْمَالِ البِرِّ، وَقَدْ رَضِيْتُ بِمَا فُتِحَ لِي فِيْهِ، وَمَا أَظُنُّ مَا أَنَا فِيْهِ بِدُوْنِ مَا أَنْتَ فِيْهِ، وَأَرْجُو أَنْ يَكُوْنَ كِلاَنَا عَلَى خَيْرٍ وَبِرٍّ.

“Sesungguhnya Allah telah membagi amal seperti membagi rezeki. Betapa banyak orang yang dibuka untuknya (kebaikan dari jalan) shalat, tetapi tidak dibuka untuknya dalam puasa. Yang lain dibuka baginya dalam sedekah, tetapi tidak dibuka baginya dalam puasa. Sementara yang lain dibuka baginya dalam jihad. Menyebar ilmu termasuk di antara sebaik-baik amal kebaikan. Aku telah ridha kebaikanku dibuka dari sini. Dan aku tidak menyangka bahwa apa yang sedang aku jalani lebih rendah dari apa yang sedang engkau jalani. Aku berharap semoga kita berdua selalu berada dalam kebaikan dan kebajikan.” [Siyar ‘Alâmin Nubalâ` (VIII/114) oleh Imam adz-Dzahabi]

Amat jarang ada seseorang yang mampu memasuki semua pintu kebaikan ini. Kalaupun ada dia memang orang istimewa yang mendapat taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu teladan dalam hal ini, dan pantaslah dia disebut sebagai penghulu semua kebaikan.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ نُودِىَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ: يَا عَبْدَ اللَّهِ، هَذَا خَيْرٌ! فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلاَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّلاَةِ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ» فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: بِأَبِى أَنْتَ وَأُمِّى يَا رَسُولَ اللَّهِ! مَا عَلَى مَنْ دُعِىَ مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ؟ فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ كُلِّهَا؟ قَالَ: «نَعَمْ، وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ»

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabbda, “Barangsiapa yang menyedekahkan sepasang miliknya di jalan Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Hai hamba Allah! Inilah kebaikan itu.’ Barangsiapa termasuk ahli shalat akan dipanggil dari pintu shalat, barangsiapa termasuk ahli jihad akan dipanggil dari pintu jihad, barangsiapa termasuk ahli puasa akan dipanggil dari pintu ar-Rayyan, dan barangsiapa yang ahli bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ayah dan ibuku menjadi tebusan bagi Anda, wahai Rasulullah! Bagaimana dengan seseorang yang dipanggil dari semua pintu itu? Apakah ada seorang yang dipanggil dari semua pintu itu?” Beliau menjawab, “Ya, dan aku berharap kamu termasuk dari mereka.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 1897) dan Shahih Muslim (no. 1027)]

Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Umar bin Khaththab ingin unggul dalam sedekah, lalu dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa setengah hartanya. Tiba-tiba datang Abu Bakar membawa seluruh hartanya.

Tidak semua orang memiliki kesehatan yang baik sehingga mampu berdiri lama dalam shalat malamnya, menahan lapar dalam puasanya, dan lama dalam membaca al-Qur`annya. Boleh jadi pula seseorang tidak mampu beramal kecuali hanya yang wajib dan meninggalkan larangan-larangan saja, baik karena memang fisiknya lemah atau memang keinginannya lemah dalam beramal karena kemalasannya. Dikatakan bahwa orang seperti akan masuk surga meskipun tidak memiliki amal-amal nafilah selagi tidak batal keislamannya dan konsinten dalam Islam. Dalilnya adalah:

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ وَصُمْتُ رَمَضَانَ وَأَحْلَلْتُ الْحَلَالَ وَحَرَّمْتُ الْحَرَامَ وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئًا أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ؟ قَالَ: «نَعَمْ» قَالَ: وَاللَّهِ لَا أَزِيدُ عَلَى ذَلِكَ شَيْئًا.

Dari Jabir bin Abdillah al-Anshari radhiyallahu ‘anhuma bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Bagaimana pendapat Anda jika aku shalat wajib, berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram, dan aku tidak menambah selain itu, apakah aku akan masuk surga?” Beliau menjawab, “Ya.” Dia berkata, “Demi Allah! Aku tidak akan menambah selain itu.” [Shahih: Shahih Muslim (no. 15), Musnad Ahmad (III/316, 348), Musnad Abu Ya’la (no. 1936, 2291), Musnad Abu Awanah (I/4-5), dan al-Iman libni Mandah (no. 137). Dalam riwayat Ibnu Mandah ini disebutkan bahwa nama shahabat yang bertanya itu adalah an-Nu’man bin Qauqal al-Anshari radhiyallahu ‘anhu]

قَالَ النَّوَوِي: وَمَعْنَى حَرَّمْتُ الْحَرَامَ: اِجْتَنَبْتُهُ، وَمَعْنَى أَحْلَلْتُ الْحَلَالَ: فَعَلْتُهُ مُعْتَقِدًا حِلَّهُ.

Imam an-Nawawi berkata, “Makna aku mengharamkan yang haram adalah aku menjauhinya, dan makna aku menghalalkan yang haram adalah aku mengerjakannya dengan menyakini kehalalannya.” [Arbain an-Nawawi (no. 22)]

Imam al-Qurthubi berkata, “Hadits di atas menunjukkan bahwa orang yang mencukupkan untuk mengerjakan perkara yang wajib dan meninggalkan yang haram maka dia akan masuk surga. Akan tetapi, barangsiapa yang meninggalkan amalan-amalan sunnah dan tidak mengerjakannya sedikitpun maka dia telah rugi besar, tidak mendapat pahala yang banyak. Orang semacam ini kurang agamanya dan cacat kepribadiannya.” [Lihat al-Mufhim lima Asykala min Talkhîsi Kitâbi Muslim (I/166) oleh beliau]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*