strategi menyikapi akhwat 2

Strategi Bermanfaat Menyikapi “Akhwat” (2)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Adab, Fiqih 0 Comments

Pemecahan Masalah:

Jika ada seseorang yang mempunyai konsep untuk menghilangkan hasratnya terhadap wanita, tentu saya tidak perlu repot-repot menulis artikel ini, itu pun jika diperbolehkan syara’ (akan ada pembahasannya nanti insya Allah). Hanya saja, kita bukan seperti Imam ath-Thabari yang tidak berhasrat terhadap wanita. Maka, kita membutuhkan metode meningkatkan hasrat terhadap ilmu tanpa menghilangkan fitrah.

Saya telah merenungkan cara itu, ternyata tidak ada –menurut saya– cara yang paling efektif, mudah, dan kemungkinan untuk berhasil kecuali ada pada doa. Maka saudaraku –semoga Allah memudahkan urusan kita– berdoalah kepada Allah agar dia memberikan kepada Anda hasrat kepada ilmu lebih besar daripada hasrat Anda kepada wanita. Sungguh Allah Maha Pengabul dan senang bila ada hamba yang merasa butuh kepadanya. Allah menegaskan:

((وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ))

“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan doamu. Sesungguhnya orang-orang yang tidak merasa butuh berdoa kepada-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.’” [QS. Al-Ghafir [40]: 60]

Inilah solusi yang saya tawarkan kepada Anda, memanfaatkan hasrat terhadap wanita untuk menjadi ulama. Jika Allah berkenan mengabulkan, maka semakin besar hasrat seseorang terhadap wanita semakin besar pula gairahnya menuntut ilmu.

Sebagai pelengkap saya sertakan di sini tiga hal penting lagi singkat tentang doa, dan saya tidak akan berbanyak-banyak karena bukan di sini tempatnya. Bagi yang ingin secara lengkap pembahasan mengenai adab-adab doa bisa melihatnya sendiri di kitab Syarah Hisnul Muslim (hal. 15-32) karya Abu Muslim Majdi, al-Maktab al-Islamiyah, cet. 3 th. 1427 H.

Pertama: hendaklah diawali dengan memuji-muji dan menyanjung Allah, menampakkan kelemahan, dan berwasilah dengan nama-nama-Nya yang indah nan agung, karena hal ini lebih dekat untuk dikabulkan, dan ini adalah petunjuk para nabi dan rasul alaihimus salam (lihat QS. Yusuf [12]: 101 dan QS. Al-Anbiya` [21]: 83). Contohnya mengawali doa dengan:

‹‹[اللَّهُمَّ إِنِّي] أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ››

“Ya Allah, aku memohon kepadamu dengan nama-nama milik-Mu yang Engkau menamai diri-Mu dengannya, atau yang Engkau ajarkan kepada salah satu makhluk-Mu, atau yang Engkau turunkan di Kitab-Mu, atau yang Engkau rahasiakan di ilmu ghaib di sisi-Mu.” [Shahih: Musnad Ahmad (no. 3712), Shahih Ibnu Hibbab (no. 972), Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (no. 29318), Musnad Abi Ya’la (no. 5296), dan Musnad al-Bazzar (no. 1994). Dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani dalam as-Shahihah (no. 199)]

Kedua: jangan ragu dalam berdoa tetapi yakinlah bahwa Allah akan mengabulkannya, dan perbanyaklah doa tersebut. Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

«لاَ يَقُولَنَّ أَحَدُكُمُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى، اللَّهُمَّ ارْحَمْنِى، إِنْ شِئْتَ. لِيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ، فَإِنَّهُ لاَ مُكْرِهَ لَهُ»

“Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian berdoa, ‘Ya Allah ampunilah saya, Ya Allah rahmatilah saya, jika Engkau mau.’ Namun, hendaklah dia tegas dalam meminta. Sesungguhnya Allah tidak ada yang memaksa-Nya.” [Muttafaqun Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 6339) dan Shahih Muslim (no. 2679)]

Ketiga: hendaklah Anda mulai menempuh jalan-jalan ilmu, karena Allah tidak akan menurunkan emas begitu saja dari langit.

 

Pertanyaan-Pertanyaan:

1] Mengapa kita tidak berdoa saja agar Allah menghilangkan hasrat kepada wanita (note: untuk beberapa tahun ke depan)? Dengan begitu, kita bisa fokus belajar dan tidak tersibukkan oleh selainnya. Kita tahu bahwa tidak ada satu pun yang menjadikan pemuda gelisah dan terpecah konsentrasinya kecuali karena hasrat itu.

Saya jawab: Hal ini pernah ditanyakan kepada ustadz-ustadz kita dan jawaban mereka sama, bahwa hal ini tidak boleh karena menyalahi fitrah (lihat Ali Imran [3]: 14), menyalahi hadits tentang menikah dan berbangga-bangganya Nabi shallahu alaihi wa sallam dengan keturunan yang banyak di hari Kiamat, tidak ada petunjuknya dari salafus shalih, dan hilangnya medan jihadun nafsi. Padahal dengan fitrah inilah Allah hendak menguji hamba-Nya siapakah di antara mereka yang jujur dalam keimanannya dan siapakah di antara mereka yang pura-pura dalam keimanannya, yakni siapakah di antara mereka yang paling baik amalnya.

Hal ini sama dengan masalah mengebiri (memutus ‘sesuatu’ –mohon maaf–). Syaikh al-Fauzan berkata saat menyebutkan kategori-kategori bid’ah:

وَمِنْهَا مَا هُوَ مَعْصِيَةٌ كَبِدْعَةِ التَّبَتّلِ وَالصِّيَامِ قَائِمًا فِي الشَّمْسِ، وَالْخَصَاءِ بِقَصْدِ قَطْعِ شَهْوَةِ الْجِمَاعِ ‏.‏

“Dan di antaranya pula berupa maksiat, seperti bid’ah tabattul (membujang), puasa sambil berdiri di terik matahati, mengebiri dengan tujuan memutus syahwat jima’.” [Aqidatut Tauhid (hal. 178) oleh Syaikh al-Fauzan. Lihat al-I’tisham (II/37) oleh asy-Syathibi]

2] Apakah ide ini bisa juga diterapkan oleh kaum wanita?

Saya jawab: Ya. Memang dalil-dalil menyebutkan bahwa yang menjadi fitnah bagi laki-laki adalah kaum wanita, di antaranya hadits muttafaqun alaihi Shahih al-Bukhari (no. 5096) dan Shahih Muslim (no. 2740) tentang fitnah terbesar bagi kaum lelaki adalah wanita. Namun, pada kenyataannya wanita juga bisa terfitnah oleh kaum lelaki khususnya yang rupawan, sebagaimana kisah wanita-wanita negeri Mesir yang terfitnah oleh keelokan Yusuf hingga memotong-motong tangannya sendiri. Allah mengabarkan:

((فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلاَّ مَلَكٌ كَرِيْمٌ))

“Maka, ketika mereka melihatnya, mereka merasa takjub dan memotong-motong (melukai) tangannya (jarinya). Mereka berkata, ‘Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.’” [QS. Yusuf [12]: 31]

Begitu pula istri al-Aziz. Dia terfitnah oleh Yusuf. Padahal dia memiliki suami yang kaya lagi raja, dan baik lagi santun. Akhlak al-Aziz bisa diamati dalam perkataannya kepada Yusuf di QS. Yusuf [12]: 21 dan 29. Namun begitu, Zulaikha tidak selamat dari fitnah Yusuf padahal Yusuf tidak pernah merayunya dan tidak pernah berkata dengan kalimat “suami istri” kepadanya.

Maka, ini semua menunjukkan bahwa wanita juga mempunyai hasrat terhadap lelaki. Untuk itu, mereka bisa memanfaatkan hasrat ini, sebagaimana penjelasan di muka.

3] Bagaimana kalau saya sudah menikah, apakah ide ini masih bisa diterapkan?

Saya jawab: Ya. Berdoalah, “Ya Allah berikanlah rasa cinta kepadaku terhadap ilmu melebihi rasa cintaku kepada istriku/suamiku.” Atau kalimat yang senada.

Tambahan: Pada realita, kecintaan manusia berbeda-beda. Ada yang kecintaan terbesar mereka –setelah Allah dan Rasul-Nya– ada pada harta, ayah-bunda, adik, motor, dsb. Maka, hasrat yang sangat besar itulah yang digunakan sebagai perbandingan dalam berdoa. Di sini dipilih akhwat, karena mengajacu pada hukum asal yang terjadi pada kebanyakan pemuda. Allahu alam.

 

Ikhtitam:

Demikianlah hasrat manusia terhadap wanita sampai-sampai menjadikan akal menjadi lemah dan terpecah konsentrasinya, yang jika seandainya di taruh di gunung maka gunung itu akan meledak. Lantas, bagaimana sekiranya hasrat ini ada pada menuntut ilmu? Allahu Akbar!

Seandainya saja setiap lelaki dikabulkan doanya oleh Allah, maka 10 tahun ke depan –insya Allah dengan seizin Allah– Surabaya akan menjadi gudang ilmu dan ulama. Syaikh al-Munajjid akan bertebaran di Surabaya, sarjana perminyakan sekaligus syaikh kibaril ulama.

Akhirnya, mari kita buktikan 10 tahun ke depan siapakah di antara kita yang paling besar hasratnya terhadap wanita … J

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Masjid Thaybah, 13 Maret 2012

Sahabatmu Fillah

Abu Zur’ah ath-Thaybi

 

Referensi:

  1. Shahih al-Bukhari karya Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari al-Ju’fi (w: 256 H), Penerbit: Dar Ibnu Katsir Beirut, th. 1407 H/1987 M, Tahqiq: Dr. Mushthafa al-Bagha dosen Ilmu Hadits di Fakultas Syari’ah Universitas Damaskus, 6 Jilid
  2. Shahih Muslim karya Abul Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi (w: 261 H), Penerbit: Ihyaut Turats al-Arabi Beirut, Tahqiq: Dr. Muhammad Fuad Abdul Baqi, 5 Jilid
  3. Musnad Ahmad karya Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal asy-Syaibani (w: 241 H), Tahqiq: Syuaib al-Arnauth dkk, Penerbit: Muassasah ar-Risalah, cet. ke-1 th. 1421 H
  4. Al-Ulama al-Uzzab Alladzina Atstsarul Ilma alaz Zawaj karya Syaikh Abdul Fattah, edisi Indonesia: Karena Ilmu Mereka Rela Membujang, Penerbit: Zam-zam, cet. I th. 2008
  5. Al-Hatstsu ala Hifzhil Ilmi wa Tadzkiratul Huffadz karya Abul Farraj Ibnul Jauzi (511 – 597 H), Tahqiq: Prof. Dr. Fuad Abdul Mun’im, Penerbit: Muassasah Syabab al-Jamiah Iskandariyah, cet. 2 th. 1412
  6. Aqidatut Tauhid karya Fadhilatus Syaikh Prof. Dr. Shalih al-Fauzan al-Fauzan, Penerbit: Darul Qasim Riyadh, tanpa tahun
  7. Al-Maktabah asy-Syamilah
Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*