strategi menyikapi akhwat

Strategi Bermanfaat Menyikapi “Akhwat” (1)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Adab, Fiqih 0 Comments

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّباً مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ:

 

Deskripsi Masalah:

Di antara ulama salaf ada yang berkata, “Akal akan hilang dari orang yang sedang menahan kencingnya, menahan buang air besar, dan orang yang kakinya terhimpit sepatu yang kekecilan.” [Karena Ilmu Mereka Rela Membujang (hal. 19). Lihat Gharibul Hadits (III/739) oleh Ibnu Qutaibah, al-Faiqu bi Gharibil Hadits (I/300) oleh az-Zamakhsyari, an-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar (I/378, 411, 416) oleh Ibnu Atsir]

Jika orang-orang seperti itu saja “kehilangan” akalnya, apalagi orang yang tengah menahan syahwatnya. Sebab pada saat itu jiwanya, hatinya, dan pikirannya sangat kacau.

Abu Muslim al-Khaulani asy-Syami berkata, “Wahai semua penduduk Khaulan! ‘Nikahilah’ wanita dan budak wanita kalian! Karena sesungguhnya hasrat seksual itu urusan yang sangat berat. Maka, persiapkan untuk menghadapinya. Ketahuilah, sesungguhnya orang yang bangkit nafsu syahwatnya, tidak lagi memiliki akal yang sehat. [Karena Ilmu Mereka Rela Membujang (hal. 18). Lihat Tajul Arus Syarhul Qamus (V/265) oleh al-Murtadha az-Zabidi]

Perkataan ini benar-benar mengena, karena akal pikiran akan melemah dan terpecah karena sedikit saja dari syahwat.

Kisah kaum luth adalah bukti nyata atas hal ini. Mereka adalah orang-orang yang tidak bisa menahan dan mengontrol syahwatnya, meskipun syahwat mereka tertuju kepada lelaki. Waktu itu, datanglah tamu yang rupawan ke kediaman Nabi Luth. Mendengar itu, bangkitlah nafsu birahi kaum Luth dan seketika mereka mendatanginya.

((وَجَاءَهُ قَوْمُهُ يُهْرَعُوْنَ إِلَيْهِ وَمِنْ قَبْلُ كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ السَّيِّئَاتِ قَالَ يَا قَوْمِ هَؤُلاءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ فَاتَّقُوْا اللهَ وَلاَ تُخْزُوْنِي فِي ضَيْفِي أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيْدٌ))

Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata, Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri)ku mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu memalukan aku di hadapan tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?’” [QS. Hud [11]: 78]

وَقَوْلُهُ: ((أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيْدٌ))، يَقُوْلُ: أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ ذُوْ رُشْدٍ، يَنْهَى مَنْ أَرَادَ رُكُوْبَ الْفَاحِشَةِ مِنْ ضَيْفِي، فَيَحُوْلُ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ ذَلِكَ؟

Ucapan Luth, Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal? Maksudnya, “Tidakkah ada di antara kalian lelaki yang punya akal yang bisa menahan kalian melakukan perbuatan keji terhadap tamuku, sehingga itu membentengi kalian dari perbuatan itu?” [Tafsir ath-Thabari (XV/411), cet. Muassasah ar-Risalah, tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir]

Dari sini, kita bisa memahami bahwa nafsu syahwat merupakan masalah besar yang jika tidak tersalurkan akan menjadikan seseorang lemah akalnya, kacau pikirannya, dan terpecah konsentrasinya.

Mukadimah:

Di antara para ulama ada yang mencapai derajat sangat tinggi dalam hal keilmuan padahal mereka tidak menikah –silahkan lihat note saya: Kolom Pendaftaran Ulama Uzzab, cet. facebook.com–, sebut saja Abu Bakar al-Anbari (271 H – 328 H). Bahkan di antara mereka ada yang mencapai derajat al-Imam al-Alim al-Alamah semisal Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari (224 H – 310 H) dan Syaikhul Islam semisal Ibnu Taimiyyah (661 H – 728 H). Mereka adalah ulama-ulama yang tidak menjadi lemah akalnya hanya karena tidak menikah, bahkan mereka adalah orang-orang yang cerdas.

Minimal ada dua alasan mengapa mereka tidak menikah: [1] Sibuk berdakwah sehingga tidak sempat memikirkan menikah, atau [2] Hasrat mereka terhadap ilmu lebih besar daripada hasrat mereka kepada wanita, dan ini pendapat yang saya pilih.

Maslamah bin Qasim berkata, “Muhammad bin Jarir adalah lelaki yang tidak memiliki syahwat terhadap wanita. Beliau pergi dari negerinya untuk mencari ilmu semenjak usia 12 tahun. Beliau terus mencari ilmu dan sangat mencintainya hingga beliau wafat.” [Karena Ilmu Mereka Rela Membujang (hal. 76). Lihat Lisanul Mizan (V/102) oleh Ibnu Hajar]

Ibnul Jauzi berkisah tentang Abu Bakar al-Anbari:

Al-Anbari pernah tertawan hatinya saat melihat budak yang dijual di pasar. Kemudian, dia pergi menemui ar-Radhi Billah dan berkata, “Dari mana saja Anda?” Maka, al-Anbari mengabarkan tentang budak tersebut lantas dibelilah oleh Khalifah ar-Radhi dan mengirimkannya ke rumahnya.

Ketika al-Anbari melihat budak itu, dia berkata, “Naiklah ke lantai atas untuk beristibra` .” [Istibra` adalah masa menunggu untuk mengetahui apakah rahim si budak berisi atau tidak, agar menjadi jelas nasab keturunan-penj]

Kemudian al-Anbari duduk untuk memecahkan suatu permasalahan tetapi hatinya terganggu memikirkan wanita itu. Kemudian, dia berkata kepada pembantunya, “Kembalikan wanita itu ke penjual budak!”

Budak wanita itu berkata, “Tolong sebutkan apa kesalahan saya?” Al-Anbari menjawab, “Anda tidak melakukan kesalahan apapun, hanya saja Anda membuatku gelisah dalam belajar.”

Ketika kabar ini sampai ke Khalifah ar-Radhi, dia berkata, “Sungguh tidak ada serorang pun yang ilmu lebih manis di dadanya selain lelaki itu.” [Al-Hatstsu ala Hifzhil Ilmi wa Tadzkiratul Huffadz (hal. 95) oleh Ibnul Jauzi]

Jika kita kaitkan ucapan ulama salaf tentang lemahnya akal karena besarnya hasrat kepada wanita dengan adanya ulama-ulama sekaliber Imam ath-Thabari dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang hidup membujang, maka kita mendapatkan benang merah bahwa para ulama itu memiliki kecintaan kepada ilmu melebihi kecintaan mereka kepada perempuan, sehingga yang lebih lebih utama mengalahkan yang utama. Inilah kunci mengapa mereka bisa menjadi ulama-ulama besar pada zamannya.

Di sinilah letak permasalahan yang sedang kita bahas yaitu memanfaatkan hasrat terhadap wanita untuk menjadi ulama. Kog bisa? Bagaimana caranya?

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*