sholat berjamaah 2

Sholat Berjamaah adalah Syiar Islam (2)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Fiqih, Penyejuk Hati 0 Comments

Dalam as-Shohihain dari Abu Huroiroh dari Nabi r, beliau r bersabda,

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ الْمُؤَذِّنَ فَيُقِيمَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا يَؤُمُّ النَّاسَ ثُمَّ آخُذَ شُعَلًا مِنْ نَارٍ فَأُحَرِّقَ عَلَى مَنْ لَا يَخْرُجُ إِلَى الصَّلَاةِ بَعْدُ

“Sungguh aku sangat ingin memerintahkan sholat untuk didirikan, lalu aku perintahkan seorang laki-laki untuk mengimami orang-orang. Kemudian, aku berangkat bersama beberapa orang laki-laki dengan membawa beberapa ikat kayu bakar kepada orang-orang yang tidak ikut sholat, lalu aku bakar rumah mereka dengan api tersebut.”[1]

            Hadits-hadits shohih ini menunjukkan bahwa sholat berjamaah termasuk kewajiban kaum laki-laki dan merupakan kewajiban yang paling utama, dan yang menyelisihinya berhak mendapatkan siksaan yang menyakitkan.

            Kita memohon kepada Alloh, semoga memperbaiki kondisi seluruh kaum muslimin dan memberi petunjuk kepada jalan yang diridhoiNya.

            Adapun meninggalkan sholat seluruhnya –ataupun hanya sebagian waktunya- maka ini adalah kekufuran yang besar meskipun tidak disertai mengingkari kewajibannya, demikian menurut pendapat yang paling kuat di antara dua pendapat para ulama, baik yang meninggalkan sholat itu laki-laki ataupun perempuan, berdasarkan sabda Nabi r,

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ

“Sesungguhnya (pembatas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat.”[2]

Dan berdasarkan sabda Nabi r,

الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian kita dengan mereka adalah sholat. Maka, barangsiapa meninggalkannya berarti dia telah kafir.[3]

            Juga berdasarkan hadits-hadits lainnya yang berkenaan dengan masalah ini.

            Sedangkan mengenai orang yang mengingkari kewajibannya –baik laki-laki maupun perempuan- maka pengingkarannya itu menjadikannya kafir dengan kekufuran yang besar berdasarkan kesepakatan ahlul ‘ilmi, bahkan sekalipun ia melaksanakan sholat. Kita memohon kepada Alloh I untuk kita dan kaum muslimin agar senantiasa dibebaskan dari yang demikian. Sesungguhnya, Dia I sebaik-baik tempat meminta.

            Wajib bagi semua kaum muslimin untuk saling menasehati dan saling berwasiat dengan kebenaran serta saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakqwaan. Di antaranya adalah dengan menasehati orang yang meninggalkan sholat berjamaah atau meremehkannya sehingga terkadang meninggalkannya, juga memperingatkannya akan kemurkaan dan siksaan Alloh I. Lain dari itu, hendaknya sang ayah, ibu, dan saudara-saudaranya yang serumah, agar senantiasa menasehatinya, dan terus-menerus mengingatkannya. Mudah-mudahan Alloh I memberinya petunjuk sehingga ia menjadi lurus. Demikian juga perempuan yang meninggalkannya, mereka harus dinasehati dan diperingatkan akan murka dan siksa Alloh I, serta terus-menerus diperingatkan. Selanjutnya, perlu mengambil tindakan dengan mengasingkan orang yang enggan dan memperlakukannya dengan cara yang sesuai dengan kemampuaan dalam masalah ini. Sebab, hal ini termasuk tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, serta amar ma’ruf dan nahi mungkar yang telah diwajibkan Alloh I kepada hambaNya baik yang laki-laki maupun perempuan, berdasarkan firman Alloh I,

“Dan orang-orang yang beriman baik laki-laki ataupun perempuan sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah yang mungkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Alloh dan RosulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Alloh. Sesungguhnya Alloh Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”[4]

            Juga berdasarkan sabda Nabi,

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anakmu untuk mengerjakan sholat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka (jika enggan) saat mereka berumur sepuluh tahun serta pisahkanlah tempat tidur mereka.”[5]

            Dari hadits ini dapat disimpulkan bahwa anak-anak, baik laki-laki ataupun perempuan, diperintahkan untuk sholat sejak berusia tujuh tahun, kemudian jika telah mencapai usia sepuluh tahun dan belum juga mau melaksanakannya maka mereka harus dipukul. Maka, orang yang lebih baligh tentu lebih wajib lagi untuk diperintah sholat dan dipukul jika enggan melaksanakannya tapi disertai dengan nasehat yang terus-menerus serta wasiat kepada kebaikan dan kesabarana. Alloh I berfirman,

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.”[6]

            Barangsiapa yang meninggalkan sholat setelah usia baligh dan enggan menerima nasehat, maka perkaranya bisa diadukan ke mahkamah syar’iyyah sehingga ia diminta untuk bertaubat, jika tidak mau bertaubat maka dibunuh. Kita memohon kepada Alloh agar memperbaiki kondisi kaum muslimin dan menganugrahi mereka kefahaman tentang agama serta menunjukkan mereka untuk senantiasa saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan, amar ma’ruf dan nahi mungkar, serta saling berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran. Sesungguhnya Dia Mahabaik lagi Mahamulia.[7]

5] Kisah Pembongkar Kubur

Seorang pemuda datang dengan sedih dan menangis kepada amirul mukminin Abdul Malik bin Marwan. Dia berkata, “Ya Amirul Mukminin, aku telah melakukan dosa besar. Apakah taubatku bisa diampuni?”

Abdul Malik bertanya, “Ya. Apa dosamu?”

Dia menjawab, “Dosaku besar.”

Abdul Malik berkata, “Apa itu? Bertaubatlah kepada Alloh I karena Dia menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan keburukan-keburukan.”

Dia menjawab, “Ya Amirul Mukminin, suatu malam aku membongkar kuburan. Aku melihat penghuninya telah dipalingkan dari arah kiblat. Aku ketakutan, maka aku keluar darinya. Tiba-tiba sebuah suara memanggilku dari dalam kubur, ‘Mengapa kamu tidak bertanya tentang si mayit? Mengapa wajahnya dipalingkan dari kiblat?’ Aku bertanya, ‘Mengapa?’ Suara itu menjawab, ‘Karena dahulu dia meremehkan sholat. Inilah balasannya.’”

Pemuda itu berkata, “Lalu aku membongkar kuburan lain. Aku melihat penghuninya telah berubah menjadi babi. Lehernya telah diborgol dengan rantai besi. Aku takut dan hendak keluar. Saat hendak keluar, aku mendengar suara, ‘Tidakkah kamu bertanya tentang amalnya mengapa dia disiksa?’ Akupun bertanya, ‘Mengapa?’ Suara itu menjawab, ‘Karena dahulu dia minum khomr dan mati sebelum bertaubat.’”

Pemuda itu bercerita lagi, “Aku membongkar kuburan ketiga. Ya Amirul Mukminin, aku melihat penghuninya diikat dengan tali busur dari api dan lisannya menjulur dari tengkuknya. Aku ketakutan. Manakala aku hendak keluar, ada suara memanggil, ‘Mengapa kamu tidak bertanya tentang keadaannya, mengapa bisa begitu?’ Aku bertanya, ‘Mengapa?’ Suara itu menjawab, ‘Karena dia tidak bisa menjaga diri dari kencing dan dia adalah penyebar fitnah. Maka inilah balasannya.’”

Pemuda itu melanjutkan, “Kuburan keempat aku bongkar. Wahai Amirul Mukminin, aku melihat dilapangkannya untuk si mayat sejauh mata memandang, bercahaya sangat kuat. Si mayat tidur di atas ranjang. Wajahnya berseri-seri dengan pakaian bagus. Aku takut padanya dan hendak meninggalkannya. Maka dikatakan padaku, ‘Tidakkah kamu bertanya tentang keadaanya, mengapa dia memperoleh kehormatan ini?’ Aku bertanya, ‘Mengapa?’ Dia menjawab, ‘Dia adalah seorang pemuda yang tumbuh di atas ketaatan dan ibadah kepada Alloh I.’”

Abdul Malik berkata, “Pada perkara-perkara itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang durhaka dan berita gembira bagi orang-orang yang taat.”

Barangsiapa yang melakukan dosa tersebut hendaklah segera bertaubat dan kembali kepada ketaatan. Semoga Alloh I menjadikan kita semua sebagai hamba-hambaNya yang taat dan menjauhkan kita dari amalan orang-orang fasik.[8]

Ya Alloh jadikanlah kami sebagai orang-orang yang dapat mengambil pelajaran dan janganlah Engkau jadikan kami sebagai orang-orang yang diambil pelajaran. Berilah kami taufik untuk mentaatiMu dan taufik untuk menjauhi murkaMu. Sesungguhnya Engkau adalah Mahapantas mengabulkan permohonan-permohonan hambaMu.

6] Penutup

            Segala puji milik Alloh I yang dengan karunianya saya bisa menyelesaikan risalah sederhana ini. Sungguh, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Alloh I. Saya berharap risalah ini murni karena mengharap wajah Alloh I sehingga bermanfaat sepeninggalku dan di hari di mana tidak bermanfaat lagi harta dan anak kecuali yang menghadap Alloh I dengan qolbun salim.

            Pada awalnya, risalah ini saya buat untuk bahan wawasan bagi para da’i penyeru kepada agama Alloh I dari LDJ Kalam Teknik Elektro ITS periode 2010/2011. Namun, saya mempersilahkan pemanfaatannya bagi siapa saja yang hendak mengambil faidah darinya.

            Saya hanyalah seorang penuntut ilmu yang kadang benar dan banyak salahnya. Saya sadari bahwa tidak ada kitab yang sempurna kecuali al-Qur’an sebagaimana yang telah dikabarkan Alloh Ta’ala sendiri. Oleh karena itu, apabila ditemukan di kutaib ini apa yang tidak sesuai dengan Kitabulloh dan Sunnah RosulNya, maka saya mengumumkan ruju’ kepada keduanya baik semasa hidup ataupun sepeninggalku. Kemudian, bagi ahlu ilmi, saya sangat mengharapkan untuk tidak segan-segan menegur kesalahan-kesalahan dalam kutaib ini dan mengirimkannya ke email akhnor@gmail.com untuk dipelajari. Semoga Alloh U membalas kebaikan Anda dengan lipatan yang banyak. Barangsiapa menunjukkan kebenaran maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.

            Sholawat dan salam semoga tercurah untuk pembawa risalah yang terang-benderang yang malamnya seperti siangnya dan tidak ada yang menyimpang darinya kecuali akan binasa. Juga untuk keluarganya dan para shohabatnya. Alloh u ‘alam.

Akhir doa kami adalah alhamdulillahi robbil ‘aalamiin…[]

Masjid Thaybah, 22 Romadhon 1431 H

al-Faqir ila ‘afwi robbih

Abu Zur’ah eth-Thoybi

[1] Shohih: HR. Al-Bukhori (2420), Muslim (651).

[2] Shohih: HR. Muslim (I/62).

[3] Shohih: HR. Ahmad (V/346), at-Tirmidzi (2621), an-Nasa’i (I/232), Ibnu Majah (1079).

[4] QS. At-Taubah [9]: 71.

[5] HR. Abu Dawud (495, 496).

[6] QS. Al-Ashr [103]: 1-3.

[7] Fatawa Muhimmah Tata’allaqu bis-Sholah (hlm. 21-27) karya Syaikh Bin Baz.

[8] Mausuatu Qososis Salaf karya Ahmad Salim Baduwailan.

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*