sholat berjamaah

Sholat Berjamaah adalah Syiar Islam (1)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Fiqih, Penyejuk Hati 0 Comments

1] Muqoddimah

            Segala puji milik Alloh U. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah untuk Rosululloh r.

Wa ba’du:

Saudara-saudariku semoga Alloh I merahmatimu…

Ketahuilah, sholat yang dilaksanakan secara berjamaah adalah salah satu syiar Islam yang paling besar. Dengannya, persaudaraan di antara kaum muslimin bertambah erat, pertahanan kaum muslimin bertambah kuat, dan menjadikan kaum muslimin disegani oleh umat-umat.

Sesungguhnya pondasi segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah sholat, kemudian puncaknya adalah jihad. Sholat secara berjamaah adalah kebiasaan para da’i-da’i yang mengajak kepada Alloh U. Tiap kali terdengar seruan adzan mereka segera meninggalkan urusan-urusannya lalu bergegas memenuhi panggilan Alloh U. Tidaklah seseorang membiasakan hal ini melainkan akan bertambah kecintaannya kepada Alloh U sehingga Alloh U memudahkan baginya untuk melaksanakan amalan-amalan sholih lain, tidak meremehkan amalan selainnya, menjadi baik akhlaknya, dan bertambah kewibawaanya di mata makhlukNya I.

Sungguh, Alloh U telah menyediakan pahala yang besar dalam sholat berjamaah. Rosulululloh r telah menyebutkannya dalam hadits-haditsnya. Di antaranya adalah,

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Sholat berjamaah melebihi keutamaan sholat sendirian dengan selisih 27 derajad.”[1]

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ تَعَالَى فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ إِمَامٌ عَدْلٌ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Ada tujuh (golongan orang beriman) yang akan mendapat naungan (perlindungan) dari Alloh U dibawah naunganNya pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naunganNya. Yaitu, [1] pemimpin yang adil, [2] seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan ibadah kepada Robbnya, [3] seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, [4] dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Alloh U, keduanya bertemu karena Alloh U dan berpisah karena Alloh U, [5] seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita kaya lagi cantik lalu dia berkata, “Aku takut kepada Alloh”, [6] seorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan [7] seorang laki-laki yang berdzikir kepada Alloh U dengan mengasingkan diri sendirian hingga kedua matanya basah karena menangis.”[2]

 

2] Hukum Sholat Berjamaah

Tidak ragu lagi bagi kita bahwa sholat berjamaah merupakan perkara besar dalam Islam bahkan amalan pertama yang akan dihisab. Jika baik sholatnya, maka diharapkan amalan lainnya baik. Jika buruk sholatnya, maka dikhawatirkan amalan lainnya juga demikian.

Telah terjadi khilaf di antara para ulama tentang hukum sholat berjamaah. Di antara ulama yang mewajibkannya (fardhu a’in) adalah madzhab Ahmad, Ibnu Hazm, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah[3]. Sedangkan yang tidak mewajibkannya (tapi fardhu kifayah) adalah madzhab jumhur Abu Hanifah, Malik, dan asy-Syafi’i[4]. Pendapat yang paling rojih adalah hukum sholat berjamaah fardhu kifayah, seperti pendapat Imam asy-Syafi’i. Inilah pendapat yang paling adil, paling kuat, dan paling benar berdasarkan hadits-hadits yang ada lalu dikumpulkan. Hanya saja perlu diketahui bahwa orang yang melalaikan sholat berjamaah dan tidak merutinkannya (tanpa suatu udzur yang syar’i) hanyalah menimpa orang-orang yang terhalang dari rahmat Alloh I dan orang-orang yang celaka. Naudzu billah.

Sedangkan bagi kaum wanita, maka telah terjadi ijma’ dikalangan ulama bahwa sholat berjamaah tidak diwajibkan bagi mereka. Namun, mereka tidak dilarang bila menghendakinya asal aman dari fitnah, tidak berparfum, tidak bertabarruj, dan berhijab syar’i. Hanya saja, sholat mereka di kamarnya lebih baik daripada sholat mereka di bagian tengah rumah, sholat mereka di bagian tengah rumah lebih baik daripada sholat mereka di mushola, dan sholat mereka di mushola lebih baik daripada sholat mereka di masjid kota.[5]

3] Hikmah Para Ulama Salaf tentang Sholat

Sa’id bin Musayyib berkata, “Barangsiapa bisa menjaga sholat lima waktu secara berjamaah, maka ia telah memenuhi daratan dan lautan dengan ibadah.”[6]

Imam Ibnul Mubarok berkata, “Aku pernah melihat Sa’id bin Abdul Aziz manakala ketinggalan sholat jama’ah, ia memegang jenggotnya karena menangis.”[7]

Abu Hayyan berkata, “Ayahku pernah bercerita bahwa setelah ar-Robi’ jatuh sakit, maka dia dipapah oleh dua orang pria menuju masjid kaumnya.” Dikisahkan bahwa shahabat-shahabatnya berkata, “Hai Abu Yazid, Alloh memberi keringanan kepada Anda untuk sholat di rumah Anda.” Lalu dia menjawab, “Itu menurut kalian. Namun, aku mendengar panggilan hayya ‘alal falah (mari menuju keberuntungan). Maka, barangsiapa di antara kalian mendengar panggilan hayya ‘alal falah, hendaklah ia memenuhi panggilan itu meskipun dengan merangkak atau merayap.”[8]

Imam al-Auza’i meriwayatkan bahwa Umar bin Khoththob pernah menulis surat kepada para pekerjanya, “Hindarilah kesibukan menjelang sholat. Sebab, orang-orang yang menyia-nyiakan sholat akan lebih berani menyia-nyiakan syiar-syiar Islam yang lain.”[9]

4] Fatwa Ulama tentang Hukum Meremehkan Sholat

Pertanyaan: Banyak di antara orang-orang sekarang yang meremehkan sholat, bahkan sebagian mereka ada yang meninggalkan semuanya, bagaimana hukum mereka? Dan apa yang diwajibkan kepada setiap muslim berkaitan dengan mereka dan kerabatnya, seperti: orang tua, anak, istri, dan sebagainya?

Jawaban: Meremehkan sholat termasuk kemungkaran yang besar dan termasuk sifat orang-orang munafik. Alloh berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang munafiq itu menipu Alloh I dan Alloh I akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk sholat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan sholat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Alloh I kecuali sedikit sekali.”[10]

“Tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Alloh I dan RosulNya r dan mereka tidak mengerjakan sholat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka melainkan dengan rasa enggan.”[11]

لَيْسَ صَلَاةٌ أَثْقَلَ عَلَى الْمُنَافِقِينَ مِنْ الْفَجْرِ وَالْعِشَاءِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Tidak ada sholat yang lebih berat bagi orang-orang munafik daripada sholat Shubuh dan seandainya mereka mengetahui pahala yang terkandung pada keduanya, tentulah mereka akan mendatangi keduanya meskipun dengan merangkak.”[12]

Maka, yang wajib bagi setiap muslim dan muslimah adalah memelihara sholat yang lima pada waktunya, melaksanakannya dengan thuma’ninah, konsentrasi, khusyu’, dan menghadirkan diri. Sebab, Alloh Ta’ala telah berfirman,

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya.”[13]

Berdasarkan riwayat dari Nabi r bahwa beliau memerintahkan kepada orang yang buruk dalam melakukan sholatnya tanpa thuma’ninah agar mengulangi sholatnya. Dan kepada kaum lelaki hendaknya mereka memelihara sholat-sholat tersebut dengan berjamaah di rumah-rumah Alloh I, yakni di masjid-masjid, hal ini berdasarkan hadits Nabi r,

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

“Barangsiapa yang mendengar adzan tapi tidak mendatanginya, maka sholatnya tidak berarti kecuali karena ada udzur.”[14]

Pernah ditanyakan kepada Ibnu Abbas, “Apa yang dimaksud dengan udzur itu?” Beliau menjawab, “Takut atau sakit.”

Dalam Shohih Muslim, dari Abu Huroiroh dari Nabi r, bahwa beliau didatangi oleh seorang laki-laki buta, lalu berkata, “Wahai Rosululloh, tidak ada orang yang menuntunku pergi ke masjid. Apakah aku punya rukhsoh (keringanan) untuk sholat di rumahku?” kemudian beliau bertanya,

هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ

“Apakah engkau mendengar seruan untuk sholat?” Dia menjawab, “Ya.” Beliau r berkata lagi, “Kalau begitu, penuhilah.”[15]

[1] Shohih: HR. Al-Bukhori (645) dan Muslim (650).

[2] Shohih: HR. Al-Bukhori (660), Muslim (1031).

[3] Al- Mughni (II/176), Kasyaf al-Qonna’ (I/454), al-Bada’i (I/155), al-Muhalla (IV/188), dan Majmu’ al-Fatawa (XXIII/239).

[4] Al-Mughni (I/229), Ibnu Abidin (I/371), al-Qowanin (69).

[5] Lihat HR. Ibnu Hibban (III/1689). Rosululloh r menganjurkan para wanita pada zaman itu agar sholat di rumahnya karena itu lebih afdhol bagi mereka. Padahal, para shohabiyah y adalah wanita suci yang paling jauh dari fitnah lagi berhijab syar’i. Lalu, bagaimana pendapat Anda dengan wanita zaman sekarang yang keluar sambil berhias, berparfum wangi, serta berpakainan indah yang menampakkan apa yang seharusnya ia sembunyikan? Bagaimana sekiranya Rosululloh r masih hidup di zaman kita?! Allohul musta’an.”

[6] Hilyatul Auliya (II/160).

[7] Ibid (VI/126).

[8] Ibid (II/113).

[9] Ibid (V/316).

[10] QS. An-Nisa [4]: 142.

[11] QS. At-Taubah [9]: 54.

[12] Shohih: HR. Al-Bukhori (no. 657), Muslim (no. 252, 651).

[13] QS. Al-Mukminun [23]: 1-2.

[14] Shohih: HR. Ibnu Majah (no. 793), ad-Daruqutni (I, no. 420), Ibnu Hibban (no. 2064).

[15] Shohih: HR. Muslim (II/124).

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*