sastra al-quran

Sastra al-Qur`an yang Mengagumkan

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Tsaqafah 0 Comments

Seandainya ada suatu bacaan yang karena bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan, bumi jadi terbelah, atau orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, sungguh itu adalah suatu bacaan yang mengagumkan. Adakah bacaan seperti itu? Kalaupun ada itulah al-Qur`an.

(( وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الأرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَى ))

“Dan seandainya ada bacaan yang karenanya gunung-gunung dapat digoncangkan, bumi jadi terbelah, atau orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentu itu adalah al-Qur`an).” [QS. Ar-Ra’du [13]: 31]

Seandainya al-Qur`an benar-benar diturunkan ke gunung, niscaya gunung itu akan terbelah karena takut kepada Allah.

(( لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ))

“Kalau sekiranya Kami menurunkan al-Qur`an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah.” [QS. Al-Hasyr [59]: 21]

Al-Qur`an adalah suatu bacaan yang memiliki sastra sangat indah dan tinggi. Tidak ada satu pun manusia dari orang-orang Quraisy yang menjumpai turunnya al-Qur`an lalu dapat menandingi sastranya. Padahal pada masa itu, sastra arab mengalami kemajuan pada puncaknya.

Allah menantang orang-orang Quraisy untuk membuat satu kitab yang sama dengan al-Qur`an. Untuk itu, turunlah ayat:

(( قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الإنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا ))

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur`an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.’” [QS. Al-Isra’ [17]: 88]

Ternyata mereka tidak sanggup membuat satu kitab yang serupa dengan al-Qur`an. Maka, Allah menurunkan tantangannya hanya sepuluh surat. Untuk itu turunlah ayat:

(( قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ ))

“Katakanlah, ‘Datangkanlah sepuluh surat yang serupa yang buatan sendiri dan panggillah siapa saja semampu kalian selain Allah, jika kalian adalah orang-orang yang benar.’” [QS. Hud [11]: 13]

Ternyata mereka tidak sanggup pula mendatangkan 10 surat yang serupa dengan al-Qur’an dalam hal sastra, kandungan, dan balaghahnya. Maka Allah menurunkan tantangannya hanya satu surat saja. Untuk itu turunlah ayat:

(( قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ ))

“Katakanlah, ‘Maka, datangkanlah satu surat saja yang serupa dengan al-Qur`an dan panggillah siapa saja semampu kalian selain Allah, jika kalian adalah orang-orang yang benar.’” [QS. Yunus [10]: 38]

Satu surat saja, tidak lebih. Namun, tetap saja mereka tidak mampu menandingi sastra al-Qur`anul Karim. Hal ini menunjukkan bahwa al-Qur`an adalah Kalamullah yang diturunkan dari Allah.

(( أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا ))

“Maka, apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur`an? Kalau kiranya al-Qur`an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” [QS. An-Nisa [4]: 82]

Kalau begini kebenarannya, maka tidak ada seorang pun yang berani menantang al-Qur`an melainkan hanya karena kesombongan dan kedustaan belaka.

Dikisahkan oleh para ahli sejarah Islam bahwa Amr bin Ash berkunjung kepada Musailamah al-Kadzdzab, karena dahulu di zaman Jahiliyyah adalah temannya. Saat kunjungan itu Amr belum masuk Islam. Musailamah berkata kepadanya, (ويحك يا عمرو، ماذا أنزل على صاحبكم -يعني: رسول الله صلى الله عليه وسلم -في هذه المدة؟) “Celaka wahai Amr, apa yang diturunkan kepada rekanmu –yakni Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam– dalam waktu belum lama ini?” Amr menjawab, (لقد سمعت أصحابه يقرءون سورة عظيمة قصيرة) “Aku telah mendengar para shahabatnya membaca surat pendek nan agung.” Musailamah berkata, (وما هي؟) “Apa itu?” Lalu Amr membaca, { وَالْعَصْرِ إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ } “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.” [QS. Al-Ashr: 1-2] Lalu Musailamah berfikir sejenak, kemudian berkata, (وقد أنزل عليّ مثله) “Telah diturunkan kepadaku yang semisal dengannya.” Amr berkata, (وما هو؟) “Apa itu?” Ia berkata, (يا وبر وبر إنما أنت أذنان وصدر، وسائرك حَقْرٌ نَقْر، كيف ترى يا عمرو؟) “Wahai wabr, wahai wabr, sesungguhnya engkau hanya memiliki dua kuping dan satu dada. Dan selebihmu adalah lubang dan lekukan. Bagaimana menurutmu wahai Amr?” Lantas Amr berkata padanya, (والله إنك لتعلم أني أعلم أنك لتكذب) “Demi Allah, sungguh engkau sadar bahwa aku mengetahui engkau itu seorang pendusta.” [Tafsir Ibnu Katsir (IV/356), al-Bidayah wan Nihayah (I/101)]

Inilah al-Qur`an mukjizat yang akan kekal sampai hari Kiamat. Siapa yang mengambilnya, maka ia akan mulia karenanya dan siapa yang meninggalkannya maka ia akan sengsara seumur hidupnya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ الْأَنْبِيَاءِ نَبِيٌّ إِلَّا أُعْطِيَ مَا مِثْلهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللَّهُ إِلَيَّ فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada seorang nabi pun dari para nabi melainkan dia diberi mukjizat yang dipercayai ummatnya dan sesungguhnya mukjizat yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan Allah kepadaku. Maka, aku berharap menjadi yang paling banyak pengikutnya di hari Kiamat kelak.” [HR. Al-Bukhari (no. 4598)]

Masjid Thaybah, 7 Februari 2012

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*