kafir kufur

Makna Lafazh KAFIR/KUFUR (الكفر) dalam al-Qur`an

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Aqidah 0 Comments

Lafazh (الكفر) dalam al-Qur`an memiliki 4 makna, yaitu:

  1. Kufur Hakikat (الكفر نفسه), yaitu kufur dari mentauhidkan Allah dan mengingkarinya yakni kebalikan dari iman. Inilah makna asal yang dipakai dalam aqidah dan al-Qur`an, misalkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

«إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ»

“Sesungguhnya orang-orang kafir sama saja atas mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan mereka tidak akan beriman.” [QS. Al-Baqarah [2]: 6]

«إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَأُولَئِكَ هُمْ وَقُودُ النَّارِ»

“Sesungguhnya orang-orang kafir tidak akan bermanfaat bagi mereka harta-harta mereka dan tidak pula anak-anak mereka sedikitpun, dan mereka adalah bahan bakar neraka.” [QS. Ali Imrân [3]: 10]

Yang dimaksud kafir di sini adalah kafir dalam arti sebenarnya (hakikat) yaitu lawan dari beriman kepada Allah. Untuk itu Allah menafikan keimanan dari diri mereka dan orang kafir tempatnya neraka.

  1. Mengingkari/menolak setelah mengetahui (الجحود), misalnya firman Allah subhanahu wa ta’ala:

«وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ»

“Dan tatkala sebuah kitab dari sisi Allah datang kepada mereka yang membenarkan apa yang bersama mereka dan mereka sebelumnya meminta kemenangan atas orang-orang kafir (dengan kedatangan rasul dalam kitab tersebut), maka ketika apa (rasul) yang mereka ketahui datang kepada mereka, mereka kafir (mengingkarinya). Maka laknat Allah atas orang-orang kafir.” [QS. Al-Baqarah [2]: 89]

Yang dimaksud adalah orang Yahudi yang mengenal ciri-ciri dan tanda-tanda rasul yang ada di kitab mereka, tetapi ketika rasul tersebut datang mereka justru mengingkarinya dan memusuhinya karena rasa dengki bahwa rasul itu bukan berasal dari keturunan Bani Isra`il tetapi Bani Isma’il. Untuk itu Allah berfirman:

«الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ»

“Orang-orang yang telah Kami beri al-Kitab mengenalnya seperti mengenal anak-anak mereka.” [QS. Al-Baqarah [2]: 146 dan al-An’âm [6]: 20]

  1. Berlepas diri (البراءة), misalnya firman Allah subhanahu wa ta’ala:

«قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ»

“Sungguh pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya terdapat uswah hasanah bagi kalian, yaitu tatkala mereka berkata kepada kaumnya, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami kafir kepada (berlepas diri dari) kalian dan telah nampak permusuhan dan perseteruan antara kami dan kalian selama-lamanya hingga kalian beriman kepada Allah semata.” [QS. Al-Mumtahanah [60]: 4]

Jika ada yang bertanya, “Kalau benar artinya kufur di sini bara`ah (berlepas ini), lalu apa faidahnya Ibrahim mengulangnya dua kali?” Jawabannya, sebagai penegasan Ibrahim untuk berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya. Makna ini semakin jelas dalam ayat lainnya berikut:

«وَقَالَ إِنَّمَا اتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا مَوَدَّةَ بَيْنِكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُ بَعْضُكُمْ بِبَعْضٍ وَيَلْعَنُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ»

“Dan (Ibrahim) berkata, ‘Sesungguhnya apa yang kalian sembah selain Allah adalah berhala-berhala yang menyenangkan kalian di kehidupan dunia kemudian pada hari kiamat nanti sebagian kalian akan kafir kepada (berlepas diri dari) sebagian yang lain dan sebagian kalian melaknat sebagian yang lain serta tempat tinggal kalian adalah neraka dan tidak ada bagi kalian seorang penolong pun.” [QS. Al-‘Ankabût [29]: 25]

  1. Kufur nikmar (كفر النعمة), misalkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

«فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ»

“Maka ingatlah Aku niscaya Aku mengingat kalian dan bersyukurlah kepada-Ku dan jangan kufur.” [QS. Al-Baqarah [2]: 152]

Yakni kufur nikmat dengan tidak bersyukur. Lafazh kufur dengan makna ini banyak terdapat di al-Qur`an dan hadits, contohnya ucapan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam yang diberi banyak nikmat Allah dan pasukan yang siap memindah singgasana ratu Bilqis hanya sekejap mata:

«قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ»

“Dia berkata, ‘Ini adalah karunia Rabb-ku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur (nikmat). Barangsiapa yang bersyukur maka dia bersyukur kepada dirinya sendiri dan barangsiapa yang kufur maka sesungguhnya Rabb-ku Mahakaya lagi Mahamulia.’” [QS. An-Naml [27]: 40]

«وَفَعَلْتَ فَعْلَتَكَ الَّتِي فَعَلْتَ وَأَنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ»

“Dan kamu telah berbuat apa yang kamu perbuat dan kamu termasuk orang-orang kafir.” [QS. Asy-Syu’arâ` [26]: 19]

Ini ucapan Fir’aun yang telah merawat Nabi Musa ‘alaihissalam semenjak kecil kemudian di waktu dewasa membelot darinya dan mengajaknya menyembah Allah dan melarangnya dari pengakuan dirinya sebagai tuhan yang mahatinggi. Fir’aun pun menuduh Musa sebagai orang kafir, yaitu orang yang melupakan nikmat yang diberikannya kepada Musa saat masih dalam buaian dan masa kecil.

Faidah

Tidak semua lafazh kufur dalam nash membatalkan keislaman atau kekal di neraka, tetapi orang-orang Khawarij telah sesat karena memaknai lafazh kufur sebagai keluar dari Islam dan kekal di neraka. Oleh karena itu, mereka memandang orang Islam yang melakukan dosa besar batal keislamannnya. Yang benar, di sana ada kufur nikmat atau kufrun duna kufrin yang tidak membatalkan keislaman.[AZ]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*