risalah pencinta

Risalah Untuk Pencinta Kebenaran dan Yang Merasa di Atas Kebenaran

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Manhaj, Penyejuk Hati 0 Comments

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّباً مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ:

Merupakan suatu anugrah yang amat besar apabila Allah memilih seorang hamba dari para hamba-Nya sebagai orang yang berhasrat dan condong kepada kebenaran. Hanya saja, banyak di antara kaum muslimin yang meninggalkan jejak nubuwwah dan metode para shahabat dalam menyambut kebenaran, sehingga ujung-ujungnya setan membisikkan keraguan kepadanya sehingga kebenaran ditolak dan dianggap kebatilan.

Bagaimanakah konsep mencari kebenaran? Mohon dibaca dengan perenungan dua kisah singkat keislaman para shahabat berikut ini:

Keislaman Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu

Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu pergi ke Makkah untuk mencari informasi tentang perihal seseorang yang mengaku nabi. Dia ingin mendengar perkataanya, jika baik dia ikuti dan jika sebaliknya maka dia tinggalkan.

Singkat kisah Abu Dzar bertemu dengan Ali lalu terjadi Dialog.

Ali bertanya, “Apa keperluanmu dan maksud kedatanganmu ke negeri Makkah ini?”

Abu Dzar menjawab, “Jika engkau mau merahasiakannya, maka akan aku jelaskan.”

Ali berkata, “Baiklah.”

“Telah sampai berita kepada kami bahwa ada seorang laki-laki yang muncul di sini mengaku sebagai Nabi Allah, lalu aku utus saudaraku untuk berbicara dengannya, dia pun pulang, tetapi informasi yang dibawanya tidak memuaskanku sehingga aku sekarang ingin menemuinya langsung.”

Ali berkata kepadanya, “Anda telah bertindak benar. Sekarang aku mau menuju ke kediamannya. Masuklah seperti aku masuk. Apabila aku melihat ada seseorang yang hendak mencelakaimu, aku akan minggir ke tembok seolah tengah memperbaiki sandalku, sementara Anda teruslah berjalan.”

Abu Dzar pun berlalu dan ikut berjalan memasuki rumah. Abu Dzar masuk bersamanya menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia berkata kepada beliau, “Jelaskan kepadaku tentang Islam?” Maka, beliau pun menjelaskan Islam kepadanya, lalu seketika itu juga Abu Dzar masuk Islam. [Shahih: Lihat Shahih al-Bukhari (no. 3522)]

Beginilah sikap para shahabat dalam mencari kebenaran. Mereka mau mendengarkan apa yang ditawarkankan kepada mereka. Jika baik maka mereka terima, jika sebaliknya maka mereka tingggalkan.

Keislaman Usaid bin Khudair radhiyallahu ‘anhu

Singkat kisah, Usaid mengambil tombaknya dan pergi menemui Mush’ab bin Umair dan As’ad bin Zurarah untuk menghabisi mereka berdua karena membawa ajaran baru ke Madinah. Ketika As’ad melihatnya, dia berkata kepada Mush’ab, “Ini adalah pemimpin kaumnya, dia telah datang kepadamu. Maka, tunjukkanlah kepadanya kebenaran dari Allah.”

Mush’ab berkata, “Bila dia mau duduk, aku tentu akan berbicara kepadanya.”

Usaid datang lalu berdiri di hadapan keduanya seraya mengumpat dan berkata, “Apa yang kalian berdua bawa kepada kami? Kalian mau membodohi orang-orang lemah di antara kami? Menjauhlah dari kami, jika kalian berdua masih mencintai nyawa kalian!”

Mush’ab menjawab, “Sudikah Anda duduk dulu lalu mendengar. Jika Anda berkenan, silahkan diterima. Jika Anda tidak berkenan, maka tolaklah apa yang tidak disukai oleh diri Anda.”

Dia pun membalas, “Baiklah, aku setuju.” Lalu dia menancapkan tombak dan duduk.

Kemudian Mush’ab berbicara kepadanya tentang Islam dan membacakan ayat-ayat al-Qur`an.

Lantas dia berkomentar, “Demi Allah! Sungguh kami sudah dapat mengenal Islam dari wajahnya yang berseri dan bersinar sebelum berbicara,” lanjutnya, “Alangkah indahnya dan alangkah bagusnya ajaran ini! Apa yang kalian lakukan saat ingin masuk ke dalam agama ini?”

Keduanya berkata, “Anda mandi, membersihkan pakaian, lalu mengucapkan syahadat dengan Syahadatul Haq, kemudian mengerjakan shalat dua rakaat.”

Dia pun berdiri, mandi, membersihkan pakaiannya, bersyahadat, dan mengerjakan shalat dua rakaat. [Ar-Rahiqul Makhtum (hal. 172) oleh Syaikh al-Mubarakfuri]

Hal ini berbeda dengan sebagian kaum muslimin yang berada di atas prinsip hidup yang tidak diajarkan Rasulullah. Ketika seorang da’i ingin menawarkan kebenaran yang berlandaskan kepada al-Qur`an dan as-Sunnah kepadanya, ia langsung menolaknya tanpa mau mendengarkanya. Telah tertanam dalam otaknya bahwa selain yang diikutinya sekarang adalah suatu kesesatan.

Apa salahnya jika si fulan duduk sejenak membaca atau mendengarkan apa yang ditawarkan kepadanya? Sesungguhnya keyakinan itu tidak bisa digoyahkan dengan keragunan yang rapuh. Jika memang “kebenaran” yang sekarang diikuti si fulan benar-benar dibagun di atas bashirah dan ilmu, lantas apa yang perlu ditakuti? Maka, hendaklah ia membacanya atau mendengarkannya, lalu dibandingkan dengan pemahaman yang selama ini dianutnya dengan perenuangan yang adil. Setelah itu, terserah si fulan ingin memilih yang mana, yang jelas setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban masing-masing.

Sesungguhnya kebenaran itu amat jelas dan diterima akal serta fithrah karena kebenaran itu menentramkan jiwa. Hal itu karena kebenaran dibangun di atas bashirah dan ilmu yang berlandaskan al-Qur`an dan as-Sunnah serta penjelasan para shalafus shalih dan para imam yang ikhlas mengikuti mereka.

Kita menyayangkan, sebagian orang menuduh segolongan kaum muslimin sebagai golongan garis keras, suka mengkafirkan, suka membid’ahkan, dan lain sebagainya. Padahal tuduhannya itu tidak bisa dibuktikan. Ketika dikatakan kepada penuduh itu, “Duduklah sebentar untuk mendengar pemahaman dan ajaran Rasulullah yang ada pada kami. Setelah itu, terserah apa kata Anda tentang kami.” Maka, ia pun menjawab, “Kami sekali-kali tidak akan mau mendengarkan perkataanmu.”

Bagitu pula, ada segologan manusia yang dinasiati bahwa perbuatannya itu menyelesihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapi dia malah menuduh sebaliknya. Saat dikatakan kepadanya, “Mohon duduk sebentar untuk membaca tulisan ini, atau kalau Anda mau saya akan jelaskan letak kesalahan Anda berdasarkan Kitabullah, Sunnah Rasulullah, dan saya akan bawakan juga perkataan para salafus shalih tentangnya. Setelah itu, terserah Anda dan saya tidak memaksa Anda untuk mengikuti apa yang saya bawa,” maka ia pun menangkis, “Saya tidak butuh penjelasan Anda karena hanya pemahaman ini yang diajarkan ustadz-ustadz dan guru saya.” Allahul Musta’an.

Jika si fulan tetap pada sikapnya ini? Lantas dari mana dia bisa membandingkan keabsahan kebenaran pemahamannya? Sungguh, dia bukan seorang yang adil.

Kita memohon kepada Allah Yang Mahatahu semoga Dia menjadikan kita termasuk orang-orang yang dimaksud dalam firman-Nya:

(( الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ ))

“Yaitu orang-orang yang mau mendengarkan perkataan lalu dia mengikuti (memilih) yang terbaik. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang berakal.” [QS. Az-Zumar [39]: 18]

«اللَّهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنْ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ»

“Ya Allah Rabb Jibril, Mika`il, dan Isra`il, Pencipta langit dan bumi Yang mengetahui yang ghaib dan yang nampak, Engkaulah yang memutuskan perkara para hamba-Mu apa yang dahulu mereka perselisihkan tentang kebenaran dengan seizin dari-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa saja yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus.” [Shahih: Shahih Muslim (no. 770)]

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 

Sahabatmu Fillah

Abu Zur’ah ath-Thaybi

 

Maraji’:

[1] Shahih al-Bukhari karya Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari al-Ju’fi (w: 256 H), Penerbit: Dar Ibnu Katsir Beirut th. 1407 H/1987 M, Tahqiq: Dr. Mushthafa al-Bagha dosen Ilmu Hadits di Fakultas Syari’ah Universitas Damaskus.

[2] Ar-Rahiqul Makhtum karya Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Darussalam, cet. ke-5 th. 1421 H/2001 M.

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*