Risalah pembatal puasa

Risalah Singkat Enam Pembatal Puasa

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Fiqih 0 Comments

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّباً مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ:

Satu dan Dua: Makan dan Minum dengan Sengaja

Orang yang berpuasa dilarang makan dan minum dari semenjak terbit fajar (Shubuh) hingga terbenamnya matahari (Maghrib) berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’la:

(( وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ))

“Dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian, sempurnakanlah puasa hingga (memasuki waktu) malam.” [QS. Al-Baqarah [2]: 187]

Makan dan minum dengan sengaja membatalkan puasa dan pelakunya wajib menggantinya tetapi tidak wajib membayar kaffarat (akan datang penjelasannya insya Allah). Namun, jika makan dan minum karena lupa maka puasanya tetap sah dan harus diteruskan puasanya tanpa perlu menggantinya dan membayar kaffarat. Dalilnya adalah sebuah hadits:

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا نَسِيَ فَأَكَلَ وَشَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ»

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang lupa makan dan minum maka hendaklah meneruskan puasanya, karena sesungguhnya dia sedang diberi makan dan minum oleh Allah.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 1933) dan Shahih Muslim (no. 1155) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Ada kisah lucu mengenai hal ini. Berikut kisahnya.

عَنْ عَمْرٍو بِنْ دِيْناَرٍ، أَنَّ إِنْسَانًا جَاءَ أَبَا هُرَيْرَةَ فَقَالَ: أَصْبَحْتُ صَائِمًا فَنَسِيْتُ فَطَعَمْتُ وَشَرَبْتُ، قَالَ: لَا بَأْسَ اَللَّهُ أَطْعَمَكَ وَسَقَاكَ، قَالَ: ثُمَّ دَخَلْتُ عَلَى إِنْسَانٍ آخَرَ فَنَسِيْتُ فَطَعَمْتُ وَشَرَبْتُ، قَالَ: لَا بَأْسَ اَللَّهُ أَطْعَمَكَ وَسَقَاكَ، قَالَ: ثُمَّ دَخَلْتَ عَلَى إِنْسَانٍ آخَرَ فَنَسِيْتُ وَطَعَمْتُ، فَقَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ: أَنْتَ إِنْسَانٌ لَمْ تُعَاوِدِ الصِّيَامِ!

Diriwayatkan dari Amr bin Dinar bahwa ada seseorang yang datang kepada Abu Hurairah lalu berkata, “Aku memasuki waktu pagi dalam keadaan berpuasa lalu lupa sehingga makan dan minum.” Beliau berkata, “Tidak mengapa, Allah telah memberimu makan dan memberimu minum.” Dia berkata lagi, “Kemudian aku masuk ke rumah orang lain lalu lupa lagi sehingga makan dan minum.” Beliau menjawab, “Tidak mengapa, Allah telah memberimu makan dan memberimu minum.” Dia berkata lagi, “Kemudian aku masuk ke rumah orang lain lalu lupa lagi sehingga makan.” Abu Hurairah berkata, “Memang kamu ini manusia yang tidak terbiasa berpuasa!” [Mushannaf Abdurrazzaq (no. 7378)]

 

Dua: Muntah dengan Sengaja

Orang yang muntah dengan sengaja, batal puasanya dan wajib menggantinya tetapi tidak perlu membayar kaffarat.

Seandainya seseorang muntah dengan sendirinya, maka puasanya tidak batal dan tidak perlu menggatinya dan tidak perlu membayar kaffarat.

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ ذَرَعَهُ القَيْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ، وَمَنْ اسْتَقَاءَ عَمْدًا فَلْيَقْضِ»

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda, “Barangsiapa yang muntah maka dia tidak wajib mengganti puasanya, dan barangsiapa yang muntah dengan sengaja maka hendaklah dia menggantinya.” [Shahih: Sunan at-Tirmidzi (no. 720) dan ini lafazh miliknya, Sunan Abu Dawud (no. 2380), Sunan Ibnu Majah (no. 1676), Musnad Ahmad (II/498), dan al-Hakim (I/427)]

Empat dan Lima: Haid dan Nifas

Wanita yang haid atau nifas batal puasanya, meskipun hanya sebentar saja di waktu siang atau sore hari dan wajib baginya untuk mengganti puasanya tetapi tidak perlu membayar kaffarat. Puasanya wanita haid tidak sah, karena puasa disyaratkan bersih dari haid dan nifas. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

«أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟»

“Bukankah jika wanita haid maka tidak boleh shalat dan berpuasa?” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 304) dan Shahih Muslim (no. 132) dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma]

Dalil bahwa wanita yang haid wajib mengganti puasanya adalah hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كُنَّا نَحِيضُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ نَطْهُرُ، فَيَأْمُرُنَا بِقَضَاءِ الصِّيَامِ وَلاَ يَأْمُرُنَا بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Kami dahulu haid pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu suci. Kemudian, beliau menyuruh kami mengqadha puasa dan tidak menyuruh kami mengqadha shalat.” [Shahih: Sunan at-Tirmidzi (no. 787) dan ini lafazh miliknya, Shahih al-Bukhari (no. 321), Shahih Muslim (no. 335)]

Mengqadha puasa boleh diundur hingga bulan Sya’ban hanya saja disegerakan lebih baik untuk membebaskan tanggungan.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كَانَ يَكُون عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلاَّ فِي شَعْبَانَ.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Dahulu aku mempunyai tanggungan puasa Ramadhan tetapi aku tidak mampu melunasinya kecuali pada bulan Sya’ban.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 1950) dan Shahih Muslim (no. )]

Enam: Bersetubuh

Bersetubuh di bulan Ramadhan membatalkan puasa dan orang tersebut diperintahkan untuk berhenti dan tidak makan minum hingga menjelang berbuka dan wajib baginya membayar kaffarat. Berikut dalilnya dan penjelasan kaffarat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِىِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ! قَالَ: «مَا لَكَ؟» قَالَ: وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِى وَأَنَا صَائِمٌ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا؟» قَالَ: لاَ، قَالَ: «فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ؟» قَالَ: لاَ، فَقَالَ: «فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا؟» قَالَ: لاَ، قَالَ: فَمَكَثَ النَّبِىُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أُتِىَ النَّبِىُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ -وَالْعَرَقُ الْمِكْتَلُ- قَالَ: «أَيْنَ السَّائِلُ؟» فَقَالَ: أَنَا! قَالَ: «خُذْهَا فَتَصَدَّقْ بِهِ!» فَقَالَ الرَّجُلُ: أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّى يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا -يُرِيدُ الْحَرَّتَيْنِ- أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِى، فَضَحِكَ النَّبِىُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ: «أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ!»

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: saat kami duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki lalu berkata, “Wahai Rasullullah, aku telah binasa!” Beliau berkata, “Ada apa denganmu?” Dia berkata, “Aku bersetubuh dengan istriku padahal aku sedang berpuasa.” Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu memilki budak yang bisa kamu merdekakan?” Dia menjawab, “Tidak.” Beliau bertanya, “Apakah kamu mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Dia menjawab, “Tidak.” Beliau bertanya, “Apakah kamu mampu memberi makan enam puluh orang miskin?” Dia menjawab, “Tidak.” Usai itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diam sejenak. Ketika kami dalam keadaan seperti itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi seseorang sekarung berisi kurma lalu beliau bertanya, “Mana tadi orang yang bertanya?” Dia menjawab, “Saya!” Lalu beliau bersabda, “Ambil ini dan sedekahkan ia.” Lelaki itu berkata, “Apakah untuk orang yang lebih miskin daripadaku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada keluarga di daerahku yang lebih miskin daripada keluargaku.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa hingga nampak gigi grahamnya, kemudian bersabda, “Berikan makan keluargamu dengan ini!” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 1936) dan Shahih Muslim (no. 1111)]

Dari hadits ini, urutan kaffarat adalah memerdekakan budak, jika tidak mampu maka berpuasa dua bulan berturut-turut, jika tidak mampu maka memberi makan enam puluh orang miskin.

Para ulama berselisih apakah mereka wajib mengqadha puasa atau tidak? Yang rajih –Allahu a’lam– adalah mengqadhanya. [Lihat at-Tamhid (VII/157) oleh Ibnu Abdil Barr]

Para ulama berselisih apakah istri yang diajak besetubuh juga membayar kaffarat atau tidak? Yang rajih –Allahu a’lam– adalah jika dengan kerelaan maka wajib membayar kaffarat dan jika dipaksa maka tidak wajib. Ini pendapat Imam Malik, satu riwayat dari Imam as-Syafi’i dan Imam Ahmad. [Lihat Bidayatul Mujtahid (II/592) oleh Ibnu Rusydi, al-Mughni (IV/375) oleh Ibnu Quddamah]

Pembatal-pembatal ini adalah yang disepakati para ulama. Di sana masih ada pembatal-pembatal lain tetapi sengaja tidak penulis masukkan karena terjadinya khilaf atau masuk kategori pembatal umum atau sudah mencakup salah satu dari pembatal di atas. Seperti murtad, ia tidak khusus untuk puasa, bahkan seluruh amal ibadahnya batal dan terhapus. Allahu a’lam.

Semoga shalawat dan salam tercurah untuk Rasulullah SAW, keluarganya, para shahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Wallahul muwaffiq.[]

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Surabaya, 19 Sya’ban 1433 H/9 Juli 2012

Al-Faqir ila afwi rabbih

Abu Zur’ah ath-Thaybi

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*