Lelaki Mukmin

Mungkinkah Lelaki Mukmin Tidak Akan Memandang Wanita Ajnabi???

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Adab, Fiqih 0 Comments

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّباً مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ:

Di antara hukum Islam seputar muslim dan muslimah adalah mereka saling menundukkan pandangan. Tidak ada perbedaan dalam hal ini, baik ia lelaki atau perempuan. Allah berfirman:

(( قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (٣٠) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ ))

“Katakanlah kepada orang-orang mukmin agar mereka menundukkan [sebagian] pandangannya dan menjaga kemaluannya. Itu lebih suci bagi mereka. Allah mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakan pula kepada wanita-wanita mukminah agar mereka menundukkan [sebagian] pandangannya dan menjaga kemaluannya.” [QS. An-Nur [24]: 30-31]

Dalam kaidah bahasa Arab, lafazh min «مِنْ» bisa bermakna lit-tab’id “sebagian”, maka –Allahu ‘alam– makna ayat di atas adalah kaum muslimin diperintahkan untuk menundukkan sebagian pandangan mereka. Mengapa sebagian pandangan saja? Karena ada pandangan-pandangan yang dimaafkan, seperti pandangan fuja’ah (tiba-tiba/spontan), nazhar (memandang wanita yang hendak dinikahi), dan lain-lain. Ini makna pertama.

عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِي أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِي

Dari Jarir bin Abdillah, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan fuja’ah, lalu beliau memerintahkanku untuk memalingkan pandanganku.” [Shahih: Shahih Muslim (no. 2159)]

Syaikh Fuad Abdul Baqi berkata, “Makna fuja’ah adalah seseorang memandang wanita ajnabi (wanita asing atau bukan mahram–penj) tanpa sengaja, maka ia tidak berdosa di awalnya dan wajib baginya untuk segera memalingkan pandangannya. Jika dia mau memalingkan pandangannya, maka tidak ada dosa baginya. Namun, jika ia terus-menerus memandangnya, maka ia berdosa. Al-Qadhi berkata, ‘Para ulama mengatakan bahwa dalam hadits ini terdapat hujjah bahwa wanita tidak wajib menutup wajahnya saat di jalan, tetapi itu hanya sunnah mustahab, dan wajib bagi setiap lelaki menundukkan pandangannya dalam setiap keadaan.’” [Tahqiq Shahih Muslim (III/1699) oleh Syaikh Fuad Abdul Baqi]

Saya benar-benar mengetahui ada seseorang yang ingin mengisi BBM di SPBU. Saat dia sibuk mematikan mesin dan mengambil uang, tiba-tiba ada suara, “Berapa liter, Mas?” Spontan dengan refleks dia menatap petugas wanita itu. Lantas, siapa yang bisa selamat dari gerakan refleks seperti ini?

Makna yang kedua, bahwa Allah telah menetapkan zina bagi setiap orang sehingga nyaris tidak ada yang selamat darinya. Penggunaan lafazh min di sini untuk menunjukkan hal ini, bahwa hampir tidak ada manusia yang terbebas dari memandang wanita ajnabi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا، أَدْرَكَ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ، فَزِنَا الْعَيْنِ النَّظَرُ، وَزِنَا اللِّسَانِ الْمَنْطِقُ، وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِى، وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ كُلَّهُ وَيُكَذِّبُهُ»

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagian zina atas anak Adam yang pasti akan dilakukannya tidak mungkin tidak. Zina mata dengan melihat, zina lisan dengan berbicara, dan jiwa mengkhayalkannya dan menginginkannya. Adapun kemaluannya akan membenarkan semua itu atau malah mendustakannya.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 6243, 6612) dan Shahih Muslim (no. 2657) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Syaikh Fuad Abdul Baqi berkata, “Makna hadits adalah telah ditakdirkan bagi anak Adam bagiannya dalam zina. Di antara mereka berbuat zina hakiki berupa memasukkan kemaluan ke dalam kemaluan yang haram; dan di antara mereka berbuat zina majazi berupa melihat yang haram, melakukan istimta` menuju zina atau wasilah kepadanya, memegang dengan tangannya wanita ajnabi atau menciumnya, atau melangkahkan kakinya kepada perzinaan, atau memandang, memegang, dan berbicara haram kepada wanita ajnabi atau semacamnya, atau memikirkannya dalam hati. Semua jenis itu adalah zina majazi, sementara kemaluannya nanti yang membenarkan semua itu atau mendustakannya. Maknanya, terkadang ia mewujudkannya melalui kamaluannya atau terkadang pula ia tidak mewujudkannya dengan tidak memasukkan kemaluannya ke dalam kemaluan.” [Tahqiq Shahih Muslim (IV/2046)]

Terkadang terlintas dalam diri seorang lelaki apa yang hanya boleh dilakukan oleh suami istri, karena lemahnya iman. Selagi dia berusaha menghilangkannya, maka tidak ada dosa baginya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِى مَا حَدَثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَتكَلَّمْ»

“Sesungguhnya Allah mengampuni dari umatku apa yang terlintas dalam jiwanya selama belum dikerjakan atau dibicarakan.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 2528) dan Shahih Muslim (no. 127) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Adapun seorang lelaki yang sengaja membayangkannya dan meneruskannya meskipun tidak melakukannya –Allahu ‘alam– dia berdosa berdasarkan firman Allah:

(( وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ ))

“Dan tidak ada dosa terhadap apa yang kalian salah darinya, tetapi (dosa itu) apa yang disengaja oleh hati-hati kalian.” [QS. Al-Ahzab [33]: 5]

Jika kita renungkan, di akhir ayat dalam surat an-Nur yang memerintakan menundukkan pandangan ini, Allah menutup dengan firman-Nya:

(( …وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ))

“Dan bertaubatlah kalian SEMUA kepada Allah wahai orang-orang mukmin agar kalian beruntung.” [QS. An-Nur [24]: 31]

Lafazh jami’an “semua” seakan mengisyaratkan kepada kita bahwa hampir tidak ada seorang pun yang selamat dari dosa memandang ini, tidak terkecuali orang mukmin.

Nabi pun pernah melihat wanita ajnabi –padahal beliau adalah lelaki yang paling bertakwa dan takut kepada Allah– yang mengakibatkan muncul hasrat beliau, hanya saja beliau adalah Nabi yang mendapatkan penjagaan dari Allah. Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma mengisahkan:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى امْرَأَةً فَأَتَى امْرَأَتَهُ زَيْنَبَ وَهِيَ تَمْعَسُ مَنِيئَةً لَهَا فَقَضَى حَاجَتَهُ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى أَصْحَابِهِ فَقَالَ: «إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ، فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ، فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ»

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seorang perempuan, lalu beliau mendatangi istrinya Zainab yang sedang menyamak kulit miliknya. Kemudian beliau menyalurkan hasrat beliau. Setelah itu, beliau keluar kepada para shahabatnya, lalu bersabda, Sesungguhnya perempuan itu datang dalam rupa setan, dan pergi dalam rupa setan pula. Apabila seorang dari kalian melihat perempuan, maka segeralah ia mendatangi (menyetubuhi) istrinya, karena hal tersebut bisa meredam apa yang ada dalam jiwanya.” [Shahih: Shahih Muslim (no. 1403)]

Maka, –wahai para pemuda– setelah Anda mengetahui ini, yang bisa Anda lakukan –dan inilah solusi yang diberikan Allah dalam surat an-Nur di atas– adalah memperbanyak istighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Sungguh Allah Maha Pengampun.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«وَاللَّهِ! إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً»

“Demi Allah! Sungguh aku meminta ampun kepada Allah dan bertaubat kepadanya dalam sehari lebih dari 70 kali.” [Shahih: Shahih al-Bukhari (no. 6307) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

«مَنْ قَالَ: اَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ، غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ»

“Barangsiapa berdoa, ‘Aku memohon ampun kepada Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia Yang Mahahidup Yang Mahaberdiri sendiri, dan aku bertaubat kepadanya,’ maka Dia akan mengampuninya meskipun pernah kabur saat perang berkecamuk.” [Shahih: Sunan at-Tirmidzi (no. 3577) dan Sunan Abu Dawud (no. 1517). Dinilai shahih oleh Imam al-Hakim, Imam at-Tirmidzi, dan Syaikh al-Albani, serta disetujui Imam adz-Dzahabi]

Penutup

Mungkin di antara pembaca ada yang kurang suka dengan risalah ini karena terlalu vulgar, memang saya akui demikian. Seandainya saya bisa merubah ungkapan yang tidak membuat salah paham, tentu saya lakukan. Saya tidaklah bermaksud kecuali berbagi apa yang ada dalam benak saya. Bahkan, dengan menulis ini saya berharap ada yang meluruskannya jika memang ada kesalahan di dalamnya, sehingga pemahaman saya selama ini bisa diluruskan.

قَالَتْ عَائِشَةُ: نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ الأَنْصَارِ لَمْ يَمْنَعْهُنَّ الْحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِى الدِّينِ

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Rasa malu tidak menghalangi mereka untuk mendalami agama.” [Shahih al-Bukhari dalam Kitabul Ilmi Babul Haya` fil Ilmi (I/232)]

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Selesai ditulis menjelang Asar

Masjid Thaybah, 7 Sya’ban 1433 H/24 Juni 2012

Abu Zur’ah ath-Thaybi

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*