Dr.Abdullah

Mengambil Ibrah dari Dr. Abdullah

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Nasihat Ulama 0 Comments

Dalam sebuah buku yang berjudul Istamti’ Bi Hayaatik, Dr. Al-Arifi mengisahkan kisah nyata mengenai layatnya ke rumah Dr. Abdullah. Mari kita mendengar kisahnya.

Belum lama ini saya pergi ke Madinah. Saya bertemu dengan Khalid dan ia berkata kepadaku,

“Bagaimana kalau kita berkunjung ke rumah Dr. Abdullah?”

            “Kenapa? Ada apa dengan beliau?” tanyaku.

            “Untuk mengucapkan bela sungkawa.”

            “Bela sungkawa?”

            “Ya. Putranya yang sulung pergi bersama seluruh keluarga beliau untuk menghadiri resepsi pernikahan di luar kota tetapi beliau tidak ikut karena kesibukannya mengajar di kampus. Dalam perjalanan pulang, mereka mengalami kecelakaan yang mengerikan. Mereka semua tewas seketika. Mereka berjumlah sebelas orang.”

            Dr. Abdullah adalah orang yang shalih dan usianya sekarang lebih dari 50 tahun. Beliau adalah manusia biasa yang mempunyai perasaan, hati, sepasang mata yang bisa menangis, dan jiwa yang bisa merasakan senang dan sedih. Namun, beliau menerima berita yang sangat mengejutkan itu dengan tabah. Beliau menshalati mereka, lalu meletakkan mereka satu per satu ke liang kuburnya, sebelas anggota keluarganya.

            Usai itu, beliau mondar-mondir di dalam rumahnya dalam keadaan sedih. Beliau melihat mainan anak-anak berserakan. Sudah beberapa hari mainan-mainan itu tidak bergerak. Sebab, Khalid dan Sarah yang biasa memainkannya telah tiada.

            Beliau menghampiri tempat tidurnya yang belum tertata. Sebab, istrinya telah dipanggil Yang Maha Kuasa.

            Beliau melihat sepeda Yasir yang tidak bergerak lagi. Sebab, orang yang biasa mengendarainya sudah meninggal dunia.

            Beliau memasuki kamar putri tertuanya. Beliau melihat koper-koper pengantinnya berjajar rapi. Sementara pakaian pengantinnya digelar di atas ranjangnya. Sang putri telah menghadap Sang Khaliq padahal dia belum selesai menata dan mengatur warna-warni pakaiannya.

            Maha Suci Allah yang telah memberinya kesabaran dan menabahkan hatinya. Tamu-tamu datang dengan membawa bekal makanan masing-masing karena tidak ada seorang pun di rumahnya yang memasakkan dan melayaninya. Anehnya, ketika Anda melihat orang tersebut dalam masa berkabung itu, Anda pasti mengira bahwa beliau adalah tamu yang mengucapkan bela sungkawa, padahal beliaulah yang mendapat musibah.

            Beliau terus-menerus mengucapkan, “Innaa lillaahi wa inna ilaihi raajiuun. Allah berhak mengambil dan memberi apa yang Dia kehendaki dan segala sesuatu telah memiliki ajal yang telah ditetapkannya.”

            Inilah puncak dari kedewasaan berpikir. Seandainya beliau tidak melakukannya, niscaya beliau sudah mati karena terbunuh oleh kesedihannya yang mendalam. [Selesai]

            Benar-benar kisah ini menyentuh hati. Kita mungkin sering mendengar nasehat tentang kesabaran tetapi kebanyakan kita tidak begitu terpengaruh. Ketika mendengar musibah secara nyata yang dialamai oleh seseorang, maka itu sangat membekas di hati kita.

            Dr. Abdullah telah mempraktekkan apa yang menjadi sifat orang-orang mukmin. Apabila ditimpa musibah, mereka bersabar. Maka, ini adalah pahala baginya. Dan keadaan ini tidaklah terjadi kecuali hanya pada orang-orang mukmin.

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Rasulullah ` bersabda, “Sungguh, amat menakjubkan keadaan orang mukmin. Semua keadaanya adalah baik dan ini tidak terjadi kepada seorang pun selain orang mukmin. Apabila ia mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka ini merupakan pahala baginya. Apabila ia ditimpa musibah ia bersabar, maka ini merupakan pahala pula baginya.”[1]

Orang-orang mukmin telah menjual diri dan harta mereka untuk ditukar dengan Surga. Transaksi ini mereka jalani dengan adil dan jujur. Maka, apa yang diambil oleh pembeli dari jiwa dan harta yang mereka miliki, mereka serahkan dengan senang hati. Apa yang belum diambil oleh pembeli, mereka menjaganya dan merawatnya dengan sebaik-baiknya. Yang menjadi pembeli di sini adalah Allah Yang Maha Kaya yang tidak akan berlaku curang dan menyalahi janji.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan Surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan al-Qur`an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”[2]

Orang-orang mukmin, apabila mereka mendapat musibah, mereka menyakini bahwa itu sudah ditakdirkan oleh Allah I dan mereka ridha terhadapnya. Ridha mereka ini diwujudkan dengan ucapan istirja’.

“Yaitu orang-orang yang apabila mereka tertimpa musibah mereka mengucapkan, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepadaNya kami kembali.”[3]

Sehingga, Allah membalas kesabaran mereka dengan keutamaan-keutamaan, yaitu: shalawat dari Allah, rahmatNya, hidayah, dan Allah U menggati musibah yang menimpanya dengan sesuatu yang lebih utama untuk dunia dan Akhiratnya.

مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا إِلَّا أَجَرَهُ اللَّهُ فِي مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

Rasulullah ` bersabda, “Tidaklah seorang hamba ditimpa musibah kemudian dia berdoa: ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepadaNya kami kembali. Ya Allah, berilah saya pahala atas musibahku dan gantilah ia dengan yang lebih baik darinya’ melainkan Allah akan memberikan pahala kepadanya atas musibahnya dan mengantinya dengan yang lebih baik darinya.”[4]

“Mereka mendapatkan shalawat dari Tuhan mereka dan rahmatNya. Dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”[5]

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى مَا لِعَبْدِي الْمُؤْمِنِ عِنْدِي جَزَاءٌ إِذَا قَبَضْتُ صَفِيَّهُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا ثُمَّ احْتَسَبَهُ إِلَّا الْجَنَّةُ

Dari Abu Hurairah a bahwa Rasulullah ` bersabda, “Allah I berfirman: ‘Tidak ada balasan yang sesuai di sisiKu bagi hambaKu yang beriman, jika aku mencabut nyawa orang yang dicintainya dari penduduk dunia kemudian ia rela dan bersabar, melainkan Surga.’”[6]

            Semoga kita termasuk bagian dari mereka, orang-orang mukmin. Akhir doa kami adalah al-hamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin.

Masjid Thaybah, 2 Mei 2011

Abu Zur’ah ath-Thaybi

Referensi:

[1] Shahih Muslim (VIII/227), Mukhtashar Shahih Muslim (no. 2101).

[2] QS. At-Taubah [9]: 111.

[3] QS. Al-Baqarah [2]: 156.

[4] Shahih Muslim (III/37-38), Mukhtashar Shahih Muslim (no. 464).

[5] QS. Al-Baqarah [2]: 157.

[6] Shahih al-Bukhari (no. 5944).

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*