Keimanan

Korelasi Antara Keimanan, Amanah, dan Keamanan

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Aqidah 0 Comments

Secara bahasa, ada keterkaitan antara tiga istilah ini. Iman (الْإِيمَانُ), amanah (الأَمَانَةُ), dan keamanan (الأمْنُ), ternyata berasal dari akar kata yang sama, yaitu amana (أَمَنَ).

Iman adalah membenarkan dengan hati, melafazhkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan bahwa ia beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari Kiamat, dan Qadha dan Qadar yang baik maupun yang buruk.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Iman itu mempunyai 71 cabang atau 61 cabang lebih. Cabang yang paling utama adalah ucapan laa Ilaaha Illallah, sedangkan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan, dan rasa malu adalah salah satu cabang dari iman.” [Shahih Muslim (I/46)]

Dari hadits ini, Ahli Sunnah meyakini bahwa iman terdiri dari tiga komponen. Yang pertama, ia dibenarkan dengan hati yang ditunjukan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “rasa malu adalah salah satu cabang dari iman”. Yang kedua, ia dilafazhkan dengan lisan yang ditunjukkan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “ucapan laa ilaaha illallah”. Yang ketiga, ia diwujudkan dengan anggota badan yang ditunjukkan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “menyingkirkan halangan di jalan”.

Keimanan mencakup keimanan kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari Kiamat, dan Qadha dan Qadar yang baik ataupun yang buruk. Dalilnya adalah hadits Umar radhiyallahu ‘anhu tentang pertanyaan Jibril ‘alaihis salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang iman.

قَالَ : أَخْبِرْنِي عَنِ الْإِيْمَانِ قَالَ: ” أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ”

Jibril berkata, “Beritahukan kepadaku tentang Iman.” Rasulullah menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, kepada hari Kiamat, dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” [Hadits Arba’in an-Nawawi (no. 3), Shahih Muslim (I/30)]

Imam bisa bertambah dan berkurang. Ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat. Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya membuat sebuah Bab: (بَابُ: زِيَادَةُ الْإِيْمَانِ وَنُقْصَانِهِ) “Bab Bertambah dan Berkurangnya Iman”. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

(( هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ ))

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” [QS. Al-Fath [48]: 4]

Di antara hal yang bisa mengurangi keimanan seseorang adalah tidak bertanggung jawab atau tidak bisa dipercaya atau khianat yang merupakan lawan dari amanah. Maka, orang mukmin yang tidak amanah telah cacat keimanannya dan apa yang dipercayakan kepadanya untuk dijaga akan mengalami kehancuran. Seseorang terkadang diberi anamah Allah berupa keluarga, istri, anak, dan lain-lainnya. Terkadang pula seorang bawahan diberi anamah oleh atasannya. Bila amanah-amanah tersebut tidak dijaga dengan penuh tanggung jawab, maka ini menunjukkan akan lemahnya iman seseorang dan akibat dari hal ini adalah kebinasaan bagi dirinya sendiri dan apa yang diamanatkan kepadanya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika amanat telah disia-siakan, tunggulah kehancurannya.” Ada yang bertanya, “Bagaimana maksud amanat disia-siakan?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” [Shahih al-Bukhari (no. 6015)]

Bahkan, tidak amanah termasuk ciri-ciri orang munafik. Orang tersebut telah ternodai keimanannya dengan kemunafikan, dan sifat ini akan tetap melekat pada dirinya hingga dia mau meninggalkannya.

Dalam hadits shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa khianat atau tidak amanah termasuk salah satu dari tiga tanda orang munafik.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, Tanda-tanda munafik ada tiga: jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari, dan jika diberi amanat dia khianat.” [Shahih al-Bukhari (no. 32)]

Mukmin yang sempurna keimanannya adalah yang paling amanah. Apabila diserahi amanah dia laksanakan dengan penuh tanggung jawab, dapat dipercaya, dan bisa diandalkan, serta tanpa khianat. Allah subhanahu wa ta’ala memuji orang-orang seperti ini dengan memberikan keamanan di dalam hidupnya. Dia diberi jaminan keamanan di dunia dan di akhirat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

))الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ((

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kesyirikan, mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [QS. Al-An’am [6]: 82]

Inilah hubungan keimanan, amanah, dan keamanan yang penulis maksud. Seorang mukmin yang amanah karena keimanannya, akan terbebas dari salah satu sifat munafik dan dengan kesempurnaan keimanannya itu Allah memberikan jaminan keamanan baginya sehingga hidupnya tentram, nyaman, dan bahagia. Tingkat keamanan yang diberikan Allah ini sesuai dengan kadar keimanannya.

Sebenarnya, ini adalah hasil diskusi ringan antara penulis, Akh Heru, Akh Sulaiman, dan Akh Utsman pada 21 Mei 2011 di emper kamar 3 Pesma Thaybah. Kemudian, hati tergerak untuk mengikatnya dengan tulisan. Sehubungan dengan itu, kiranya ini hanyalah dijadikan sebagai selingan bacaan. Apa yang benar adalah murni dari Allah semata dan apa yang salah adalah dari kami dan setan. Koreksi dan tegur sapa pembaca sangat berarti bagi kami. Wallahul Muwaffiq.

))وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ((

Akhir do’a kami adalah Alhamdulillaahi Rabbil ‘Aalamin.

Masjid Thaybah, 21 Mei 2011

Abu Zur’ah ath-Thaybi

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*