facebookers

Kode Etik Facebookers (2)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Adab, Penyejuk Hati 0 Comments

5 :: Tidak Menyebarkan Paham Sesat

Jangan sekali-kali seseorang dengan sengaja menyebarkan paham sesat di facebook. Sebab, akibatnya sangat fatal bagi pelaku dan korban karena apa yang telah masuk internet bisa diakses oleh siapapun, dimanapun, dan kapanpun. Dia akan memikul dosanya sendiri dan dosa orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi dosanya sedikit pun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«مَنْ دَعَا إِلىَ ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا»

“Barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan, maka dia menanggung dosa seperti dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun.” [Shahih Muslim (no. 2674) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Kita tentu mengenal putra Adam yang telah membunuh saudaranya. Dia adalah manusia pertama yang melakukan pembunuhan. Maka, setiap pembunuhan yang terjadi, dia mendapat jatah dosanya, meskipun dia tidak bermaksud memberi contoh pembunuhan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«لاَ تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا إِلاَّ كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا، لأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ»

“Tidaklah satu jiwa dibunuh secara zhalim, melainkan anak Adam yang pertama menanggung dosanya, karena dialah yang pertama kali memberi contoh pembunuhan.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 3335) dan Shahih Muslim (no. 1677) dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu]

Lantas, bagaimana jika facebooker dengan sengaja menyebarkan pahamnya agar kesesatannya diikuti orang lain? Nas’alullah as-salamah wal ‘afiyah.

Termasuk kategori di sini adalah menyebarkan sontekan ujian yang dirahasiakan. Syaikh Shalih al-Munajjid berkata:

فَانْصَحْ مَنْ يَقُوْمُ بِبَيْعِ الْأَسْئِلَةِ أَوْ شَرَائِهَا أَوْ يَقُوْمُ بِنَشْرِهَا عَبْرَ شَبْكَةِ الْإِنْتِرْنِتِ وَغَيْرِهَا وَالَّذِيْنَ يَقُوْمُوْنَ بِإِعْدَادِ أَوْرَاقِ الغَّشِّ، وَقُلْ لَهُمْ أَنْ يَتَّقُوْا اللَّهَ، وَأَخْبِرْهُمْ بْحُكْمِ فِعْلِهِمْ وَحُكْمِ مَكْسَبِهِمْ

“Nasehatilah orang-orang yang melakukan jual-beli jawaban atau yang mempublikasikannya, atau yang menyebarkannya lewat internet dan semacamnya, serta orang-orang yang menyiapkan kertas sontekan. Katakan kepada mereka agar bertakwa kepada Allah dan kabarkan kepada mereka akibat buruk perbuatan mereka itu.” [Isyrûna Nashîhatan lit Thullâb fil Ikhtibârât (hal. 45) oleh Syaikh al-Munajjid]

6 :: Menjadikan Facebook Sebagai Sarana Memperkuat Persaudaraan

Nikmat Allah begitu banyak. Jika kita menghitungnya, tentu tidak akan bisa menghinggakannya. Di antara nikmat itu adalah nikmat Facebook –terlepas dari penemunya yang seorang Yahudi dan kita pun berlepas diri darinya–. Nikmat Allah secara asal hukumnya mubah untuk dimanfaatkan. Namun, bisa menjadi haram, makruh, anjuran, bahkan wajib, tergantung sikap seseorang terhadapnya. Ini sebagaimana pendapat Syaikh al-Albani ketika menjelaskan tentang nikmat televisi.

Alhamdulilah, dengan facebook saudara kita yang secara tempat, waktu, dan sikon tidak memungkinkan dikunjungi, bisa dengan mudah berkomunikasi dengannya lewat facebook. Ini adalah kesempatan yang baik untuk merajut kembali tali persaudaraan. Berikut contoh-contohnya:

  • Menanyakan kabarnya serta keluarga dan anak-anaknya jika sudah menikah.
  • Jika benar-benar Anda melihat padanya keimanan yang ihsan, akhlak yang baik, dan keshalihan yang langka, dan Anda mencintainya karena Allah, maka sampaikan kepadanya bahwa Anda mencintainya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«إِذَا أَحَبَّ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَلْيُخْبِرْهُ أَنَّهُ يُحِبُّهُ»

“Apabila seseorang mencintai saudaranya, hendaklah dia memberitahukannya bahwa dirinya mencintainya.” [Shahih: Sunan Abu Dawud (no. 5124) dari Miqdad bin Ma’di Karib radhiyallahu ‘anhu. Dinilai shahih oleh al-Albani]

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:

أَنَّ رَجُلاً كَانَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ فَقَالَ: يَارَسُوْلَ اللَّهِ إِنِّيْ لَأُحِبُّ هَذَا، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: «أَعْلِمْتَهُ؟» قَالَ: لاَ، قَالَ: «أَعْلِمْهُ» قَالَ: فَلَحِقَهُ فَقَالَ: إِنِّيْ أُحِبُّكَ فِي اللَّهِ، فَقَالَ: أَحَّبَكَ الَّذِيْ أَحْبَبْتَنِيْ لَهُ

“Seorang lelaki berada di samping Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu, lewatlah orang lain. Maka, lelaki itu berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku benar-benar mencintai orang itu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah sudah kamu beritahukan kepadanya?” Dia menjawab, “Belum.” Beliau bersabda, “Beritahukan kepadanya.” Maka, lelaki itu mengejarnya lantas berkata, “Sungguh, aku mencintaimu karena Allah.” Dia menjawab, “Semoga mencintaimu Dzat yang kamu mencitaiku karena-Nya.” [Hasan: Sunan Abu Dawud (no. 5125). Dinilai hasan oleh al-Albani]

  • Berikan tanggapanmu kepada saudaramu, maka dia akan semakin cinta kepada Anda. Jika Anda membaca postingan atau note miliknya dan Anda mendapati faidah dalam notenya, maka jangan pelit untuk memberi komentar minimal menge-LIKE. Bayangkanlah diri Anda ketika postingan atau note Anda banyak yang membaca dan memberi tanggapan, tentu Anda merasa dihargai, jerih payah Anda mengarangnya tidak sia-sia dan akan timbul rasa senang pada diri Anda kepadanya. Sungguh, membuat hati saudara senang karena Allah adalah bentuk ibadah kepada-Nya. Renungkanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, maka Anda akan mendapati bahwa ‘illat hadits adalah membuat saudara seislam merasa senang.

«لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئاً وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ»

“Janganlah kamu menyepelekan kebaikan apapun, meskipun sekedar kamu menemui saudaramu dengan wajah ceria.” [Shahih: Shahih Muslim (no. 2626) dan ini lafazhnya, Sunan at-Tirmidzi (no. 1833) dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu]

  • Berilah dia link-link bermanfaat, seperti: link kajian ilmiyah as-Sunnah (ex: kajian.net), link artikel ilmiah (ex: muslim.or.id), link para ustadz (ex: abiubaidah.com), dan link masyayikh (ex: binothaimeen.com), dan link kitab ulama salaf berbahasa Arab (ex: almeshkat.net).

Sebuah kisah. Di sebuah taklim di Kertajaya Surabaya, saya sempat berkenalan dengan seorang bapak yang sudah berkeluarga. Usai itu, kami berbincang-bincang. Ternyata taklim ini adalah taklim pertama yang diikutinya. Rupanya beliau termotivasi dengan ilmu karena menemukan sebuah situs kajian Islam (kajian.net). Beliau sering mendowload kajian mp3 di situs tersebut dan mendengarkannya. Alhamdulillah, dari situs tersebut beliau mengenal tauhid yang dibawa para nabi dan rasul, dan mengenal syirik sehingga menjauhinya.

7 :: Menyebar dan Berbagi Ilmu

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا»

“Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk, maka dia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.” [Shahih: Shahih Muslim (no. 2674) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Ini adalah perdagangan yang menguntungkan dalam Islam. Maka, ambillah transaksi ini, meskipun dengan hanya sekedar mengutip satu atau dua paragraf ayat, hadits, faidah ayat-hadits, dan perkataan ulama. Kita tidak tahu, mungkin dengan tulisan yang sederhana itu bisa menimbulkan pengaruh padanya: yang tadinya malas shalat jadi berjamaah, yang tadinya suka boros jadi suka berderma. Alhamdulillah.

Umar bin Khaththab berkata:

قَيِّدُوْا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ

“Ikatlah itu dengan tulisan.” [Syarhus Sunnah (I/295) oleh Imam al-Baghawi. Ucapan ini juga pernah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Imam asy-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu]

Tulisan merupakan peninggalan yang sangat bermanfaat karena faidahnya masih bisa dia rasakan meskipun telah wafat.

Jangan ada orang yang berkata, “Buat apa kita harus menulis artikel? Buat apa kita memposting artikel orang lain? Bukankah di internet sudah banyak dan melimpah ruah?” Kita jawab, “Banyaknya artikel yang ada belum bisa mengimbangi banyaknya manusia yang mengakses internet. Bahkan, berapa pun banyaknya artikel ilmiah akan tetap bermanfaat bagi umat. Belum lagi, di internet banyak sampah pemikiran sesat bak jamur di musim hujan. Allahul Musta’an.”

Demikian Kode Etik Facebooker yang telah disempurnakan, jika ada poin yang berseberangan dengan nash, maka layak untuk ditinggalkan.

Alhamdulillah yang karena nikmat Allah amal shalih jadi sempurna.

Surabaya, 30 Maret 2012

Abu Zur’ah ath-Thaybi

 

Referensi:

  1. Shahih al-Bukhari karya Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari al-Ju’fi (w: 256 H), Penerbit: Dar Ibnu Katsir Beirut th. 1407 H/1987 M, Tahqiq: Dr. Mushthafa al-Bagha dosen Ilmu Hadits di Fakultas Syari’ah Universitas Damaskus, 6 Jilid.
  2. Shahih Muslim karya Abul Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi (w: 261 H), Penerbit: Ihyaut Turats al-Arabi Beirut, Tahqiq: Dr. Muhammad Fuad Abdul Baqi, 5 Jilid.
  3. Sunan Abu Dawud karya Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’ats as-Sijistani as-Azdi (w: 275 H), Pentahqiq: Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, Penerbit: Darul Fikr, 4 Jilid.
  4. Sunan at-Tirmidzi karya Abu Isa Muhammad bin Isa at-Tirmidzi (w: 249 H), Pentahqiq: Ahmad Muhammad Syakir, Penerbit: Ihyaut Turats al-Arabi Beirut, 5 Jilid.
  5. Syarhus Sunnah karya al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi (w: 516), Tahqiq: Syu’aib al-Arnauth dan Muhammad Zuhair asy-Syawisi, Penerbit: al-Maktab al-Islami, cet. ke-2 th. 1430 H/1983 M, 15 Jilid
  6. Tafsir Ibnu Katsir karya Abul Fida Ismail bin Umar bin Katsir al-Quraisy ad-Dimasyqi (w: 774 H), Tahqiq: Sami Muhammad Salamah, Penerbit: Darut Tayyibah, cet. ke-2 th. 1420 H/1999 M, 8 Jilid
  7. Diwan Imam asy-Syafi’i karya Muhammad bin Idris asy-Syafi’i (w: 204 H), Dikumpulkan dan Disyarah: Dr. Mufid Qumaihah, Penerbit: Darul Kutub al-Ilmiyyah, cet. ke-6 th. 2010 M
  8. Isyrûna Nashîhatan lit Thullâb fil Ikhtibârât karya Syaikh al-Munajjid, cet. al-Maktabah asy-Syamilah

Al-Maktabah asy-Syamilah Versi 10 000 Kitab

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*