Facebookers

Kode Etik Facebookers (1)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Adab, Penyejuk Hati 0 Comments

Kode etik ini berisi tujuh poin. Lima poin pertama untuk dijahui dan dua poin terakhir bersifat anjuran. Berikut penjelasannya.

1 :: Tidak Menulis kecuali Apa yang Diridhai Allah

Ingatlah, tidak ada satupun kata yang terucap ataupun kata yang terangkai melainkan dicatat oleh malaikat yang bertugas mencatat. Allah yang Maha Mendengar berfirman:

((مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ))

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” [QS. Qaf [50]: 18]

Terkadang, seorang facebooker menulis apa yang tidak penting dan tidak pula mendesak. Ini adalah sikap yang kurang baik. Boleh jadi seseorang menulis satu kata yang sepele menurutnya tetapi di sisi Allah besar dosanya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ»

“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan suatu kalimat yang remeh, tetapi karena itu dia tergelincir ke neraka sejauh antara timur dan barat.” [Muttafaqun ‘Alaih: Shahih al-Bukhari (no. 6477) dan Shahih Muslim (no. 7406)]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu:

«كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا» فَقُلْتُ: يَا نَبِيَ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُوْنَ مِمَّا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ فَقَالَ: «ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ وَهَلْ يُكِبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ -أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ- إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ»

“Tahanlah ini darimu.” Saya (Mu’adz) berkata, “Wahai Nabi Allah, apakah kami akan disiksa hanya karena ucapan kami?” Beliau menjawab, “Celaka engkau hai Mu’adz, Bukankah yang menenggelamkan manusia ke neraka di atas wajah-wajah mereka –atau atas hidung-hidung mereka­– tidak lain karena hasil lisan-lisan mereka?” [Shahih: Sunan at-Tirmidzi (no. 2616). Dinilai hasan shahih oleh at-Tirmidzi dan shahih oleh al-Albani]

Facebooker muslim adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, sebagai konsekuensinya mereka menjaga lisan dan tangannya dari ketersia-siaan. Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berwasiat kepada mereka:

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka berkatalah yang baik atau diam saja.” [Muttafaqun ‘Alaih: Shahih al-Bukhari (no. 6018) dan Shahih Muslim (no. 47)]

Mengobral semua yang terlintas dibenaknya tanpa peduli apa bermanfaat atau cuma sampah yang sia-sia, bukanlah karakter mereka bahkan itu hanya dilakukan oleh orang-orang rendahan. Adapun facebooker muslim akan meninggalkan setiap yang sia-sia dan mengambil setiap yang baik dan yang terbaik, sebagai pengamalan firman Allah:

((الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ))

“Yaitu orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti perkataan yang terbaik.” [QS. Az-Zumar [39]: 18]

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

«مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَالاَ يَعْنِيْهِ»

Di antara baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat.” [Shahih: Sunan at-Tirmidzi (no. 2318) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam al-Misykah (no. 4839)]

2 :: Tidak Mengeluh Kecuali Hanya kepada Allah

Aduh, lagi bokek ne …

Aduh, hujan lagi! hujan lagi! Jadi bete nggak bisa ke mana-mana …

Hari ini gue bete sekali. Sudah capek-capek pergi kuliah pake ontel, eh ternyata dosennya nggak dateng. Belum lagi saat pulang ontel gue bocor. Waduh …!

Kita membayangkan jika seandainya keluhan-keluhan di facebook dibukukan, maka akan menjadi buku ensiklopedi jumbo karena saking banyaknya. Lihatlah postingan kebanyakan facebooker, jika Anda tidak percaya.

Jika mau direnungkan, apa guna berkeluh-kesah. Apakah dengan mengeluhkan keadaan, seketika keadaannya akan berubah? Apakah dengan berkeluh-kesah akan merubah takdir?

Disebutkan dalam kisah salafush shalih bahwa seorang alim mengadakan safar dengan temannya. Di jalan, temannya ini mengeluh, “Panas sekali hari ini, aduh!” Katanya sambil mengelap keringat di pelipisnya.

Alim itu berkata, “Wahai saudaraku, apakah kamu sekarang sudah merasa dingin?”

“Tidak. Kenapa?”

“Jika kamu tahu bahwa keluhanmu tidak bisa merubah keadaan, lantas apa guna mengeluh? Seandainya waktumu kau gunakan untuk berdzikir, tentu akan lebih baik bagimu.” [Selesai secara makna]

Ya! Apa guna mengeluh!

Facebooker muslim akan menjadikan Ya’qub alahimus salam sebagai teladan baginya dalam hal ini. Ya’qub kehilangan putranya yang tercinta –Yusuf alaihis salam– saat masih kecil, lalu hilang pula putra kesayangannya yang kedua –Bunyamin–. Ya’qub mengalami kesedihan yang sangat mendalam dan banyak menangis hingga akhirnya hal tersebut menjadikannya buta.

((قَالُوا تَاللَّهِ تَفْتَأُ تَذْكُرُ يُوْسُفَ حَتَّى تَكُونَ حَرَضًا أَوْ تَكُوْنَ مِنَ الْهَالِكِيْنَ))

“Mereka (anak-anak Ya’qub) berkata, ‘Demi Allah, senantiasa Ayah mengingat Yusuf hingga Ayah mengidap penyakit yang berat atau Ayah akan termasuk orang-orang yang binasa.” [QS. Yusuf [12]: 85]

Namun, Ya’qub tidak mengeluhkan dan mengadukan penderitaanya kepada siapa pun, tidak pula anak-anak dan istrinya. Mereka baru menyadari beratnya penderitaan Ya’qub saat menjelang kebutaannya, ini sebagaimana yang dikatakan sebagian ahli tafsir. Beliau hanya mengadukannya kepada Allah yang Maha Lembut dan Maha Penyayang.

((قَالَ إِنَّمَا أَشْكُوْ بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ))

“Yakub berkata, ‘Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.’” [QS. Yusuf [12]: 86]

3 :: Tidak Mentazkiyah Diri dan Pamer Amal

Mentazkiyah diri maksudnya menganggap dirinya suci. Mungkin kita pernah melihat beberapa postingan facebooker yang terasa mengunggulkan dirinya sendiri.

Alhamdulillah, hari ini saya masih bertahan berpuasa padahal tidak sahur. Semoga diterima Allah.

Tadi malam saya hanya bisa shalat Tahajjud dua rakaat dan satu plus witirnya, padahal biasanya saya mampu tiga belas rakaat. Mungkin, karena sore harinya terlalu capek ngajar TPA.

Aku tidak menyangka kalau hari ini aku berhasil menghafal satu surat, padahal hanya satu kali duduk. Memang benarlah kata pepatah: man jadda wajada “Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, pasti akan memperolehnya.” J

Allah melarang berbuat demikian. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

((فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى))

“Maka, janganlah kalian menganggap suci diri-diri kalian. Dia lebih mengetahui siapakah orang yang bertakwa.” [QS. An-Najm [53]: 32]

Ibnu Katsir berkata:

تُمْدِحُوْهَا وَتَشْكُرُوْهَا وَتَمَنَّوْا بِأَعْمَالِكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Kalian memuji dan merasa telah mensyukuri diri sendiri serta merasa telah berjasa dengan melakukan amalan-amalan, sementara Allah lebih tahu siapakah yang orang bertakwa.” [Tafsir Ibnu Katsir (VII/462)]

Abu Hurairah bercerita:

أَنَّ زَيْنَبَ كَانَ اسْمُهَا بَرَّةً فَقِيْلَ تُزَكِّى نَفْسَهَا فَسَمَّاهَا رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ زَيْنَبَ

“Sesungguhnya Zainab bernama asli Barrah (yang banyak kebaikannya) sehingga terkesan menyanjung dirinya sendiri, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberinya nama Zainab.” [Shahih: Shahih Muslim (no. 2141)]

Jika bentuk mentazkiyah diri berupa menampakkan amal untuk memberi contoh kepada orang lain, maka diperbolehkan jika hatinya bisa selamat dari rusaknya niat.

Dikisahkan bahwa ada sekelompok orang Badui menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka miskin dan membutuhkan bantuan. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta para shahabatnya untuk berkenan membantu keperluannya. Namun, para shahabat lambat dan enggan melaksanakannya hingga membuat para Badui sedih. Kemudian, tiba-tiba datanglah seorang Anshar membawa bantuan. Kemudian hal ini diikuti oleh shahabat lainnya, sehingga senanglah orang-orang Badui itu. Lantas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ»

“Barangsiapa yang memberi contoh yang baik dalam Islam lalu dikerjakan orang lain setelahnya, maka ditulis baginya pahala seperti orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.” [Shahih Muslim (no. 1017) dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu]

4 :: Tidak Menjatuhkan Saudaranya

Niat baik tidak selalu hasilnya baik, jika tidak diolah dengan baik. Manusia adalah tempat salah dan lupa. Terkadang ketika seseorang melihat saudaranya salah, lantas dengan semangat dia menasihatinya meskipun di depan umum, tanpa memperhatikan sikon (situasai dan kondisi). Hendaklah hal ini dihindari.

Ketahuilah, manusia itu mempunyai sifat suka dipuji, dihormati, dan diperhatikan. Sebaliknya, mereka tidak suka dikritik dan dikoreksi, apalagi di depan umum. Jika Anda melanggarnya, teman Anda akan merasa jengkel dan dia suka untuk tidak bertemu dengan Anda lagi.

Ketahuilah, nasihat itu seperti cambuk dan tentu akan menimbulkan rasa sakit jika tidak tepat dalam mengayunkannya. Maka, peringanlah cambukanmu. Caranya adalah nasihatilah lewat message (menyendiri), jangan di wall-statusnya (di depan umum). Imam asy-Syafi’i berkata:

تَعَمَّدْنِيْ بِنُصْحِكَ فِي انْفِرَادِيْ * وَجَنِّبْنِيْ النَّصِيْحَةَ فِي الْجَمَاعَةِ

فَإِنَّ النُّصْحَ بَيْنَ النَّاسِ نَوْعٌ * مِنَ التَّوْبِيْخِ لاَ أَرْضَى اسْتِمَاعَهُ

وَإِنْ خَالَفْتَنِيْ وَعَصَيْتَ قَوْلِيْ * فَلاَ تَجْزَعْ إِذَا لَمْ تُعْطَ طَاعَةٌ

“Berilah aku nasihatmu saat kesendirianku

Jahuilah olehmu menasihatiku di depan umum

Sebab, nasehat di depan manusia merupakan

bentuk penghinaan. Aku tidak suka mendengarnya.

Jika kamu menolak dan mengindahkan ucapanku ini

Maka, jangan berkeluh kesah apabila nasihatmu tidak aku terima.”

[Diwan Imam asy-Syafi’i (hal. 75)]

Kita menyayangkan ada sebagian orang yang tidak mengindahkan kaidah ini, sehingga setiap kali saudaranya memposting sesuatu, serta merta dia berkomentar, “Afwan Akhi, yang benar adalah seperti ini,” “Ana pernah membaca di kitab anu dan bunyinya tidak seperti antum. Antum salah Akhi,” “Semoga Allah mengampunimu! Bukan begitu maksud hadits itu tetapi demikian.” Atau komentar-komentar yang semakna. Yang lain lebih keras lagi, “Bantahan atas Kesalahan Artikel ..” Padahal yang dibantah itu adalah teman karibnya sendiri dan dia belum mengklarifikasi. Hendaknya hal ini dihindari.

Biasanya, motif memberi nasihat dan kritik di depan umum –Allahu a’lam– adalah agar nampak di mata manusia bahwa si penasihat dan pengkritik jauh lebih pintar daripada selainnya. Tentu hal ini mengurangi keikhlasan seseorang sehingga mengakibatkan nasihat dan kritikannya tidak berkah.

Ini hukum asal menyikapi kesalahan saudara kita. Untuk kondisi tertentu, boleh jadi menasihati di depan umum lebih dianjurkan, misalkan dia secara terang-terangan menyerukan kepada kesyirikan dan kebid’ahan. Namun, hati-hatilah dalam bertindak, sebab jika Anda ceroboh berarti Anda telah siap kehilangan teman satu demi satu.

Satu hal lagi, saat menasihati saudara, posisikan diri Anda sebagai ibu yang menginginkan kebaikan bagi anaknya bukan seperti polisi yang mengintrogasi lagi memaksa. Sebab, tugas Anda hanya menyampaikan nasihat tidak menvonisnya dan memaksakan nasihat Anda untuk diterimanya. Jika dia menerima maka itulah! Jika tidak menerima, maka Anda telah terbebas dari kewajiban dan urusannya terserah Allah. Allah Ta’ala berfirman:

فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ

“Karena sesungguhnya kewajibanmu hanyalah menyampaikan dan kewajiban Kami menghisabnya.” [QS. Ar-Ra’d [13]: 40]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*