Qishash

Ketentuan Qishash dalam Islam

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Fiqih 0 Comments

Islam memiliki syariat qishash. Qishash adalah membalas pelaku kejahatan atas kejahatannya dengan balasan yang setimpal dari korban sendiri atau atas tuntutan walinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

(( وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالأنْفَ بِالأنْفِ وَالأذُنَ بِالأذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ ))

“Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalam Kitab itu bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qishahsnya.” [QS. Al-Maidah [5]: 45]

(( وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ))

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.” [QS. Asy-Syura [42]: 40]

Seseorang membunuh, maka qishashnya orang itu dibunuh, memciderai maka diciderai, memotong maka dipotong, sampai pun masalah sepele: menendang dan mencubit misalnya. Semua bentuk kezhaliman, maka di dalamnya ada qishash.

Dalam menuntut qishash, hendaklah balasan itu setimpal dan tidak melampaui balas. Barangsiapa yang melampaui batas, maka ia akan mendapatkan dosa dan murka Allah. Allah berfirman:

(( إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الأرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ))

“Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zhalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu akan mendapatkan azab yang pedih.” [QS. Asy-Syura [42]: 42]

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الْمُسْتَبَّانِ مَا قَالَا فَعَلَى الْبَادِئِ مَا لَمْ يَعْتَدِ الْمَظْلُومُ

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Dua orang yang saling mencaci, dosa yang mereka berdua ucapkan menjadi tanggungan yang pertama memulai, selagi yang dizhalimi tidak melampai batas (dalam membalas cacian).” [Shahih Muslim (no. 2587)]

Di antara hikmah ditegakkannya syariat qishash agar manusia jera dan orang lain bisa mengambil pelajaran darinya, yaitu jika ia berlaku zhalim maka dia akan diqishash sebagaimana orang lain diqishash. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

(( وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الألْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ))

“Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” [QS. Al-Baqarah [2]:179]

Orang yang berjiwa besar akan memilih memaafkan daripada membalas, meskipun sangat mampu untuk membalasnya. Untuk itulah mengapa ihsan itu lebih baik daripada adil. Allah berfirman:

(( إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ))

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan ihsan (berbuat baik), memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” [QS. An-Nahl [16]: 90]

Al-Fairuz Abadi berkata, “Ihsan lebih tinggi dari adil, karena adil itu memberi kewajiban dan mengambil haknya, sementara ihsan itu memberi lebih banyak dari apa yang menjadi kewajibannya dan mengambil lebih sedikit dari apa yang menjadi haknya. Jadi, ihsan lebih tinggi dari adil. Mengusahakan keadilan adalah wajib dan mengusahakan ihsan adalah sunnah hukumnya dan bersifat anjuran, maka Allah memberikan pahala yang besar kepada orang-orang yang berbuat ihsan (kebaikan).” [Bashairur Dzawit Tamyiz (I/671)]

Pada diri mereka terdapat kekuatan untuk membela diri dari orang yang menzhalimi dan menyerang mereka. Mereka bukanlah orang-orang lemah dan tidak berdaya, melainkan mampu membalas terhadap orang yang semena-mena terhadap mereka. Meskipun mereka mampu membalas dendam, mereka memberi maaf.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah orang kuat itu yang kuat bantingannya, tetapi orang kuat itu adalah yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah.” [Shahih al-Bukhari (no. 6114) dan Shahih Muslim (no. 2609)]

Yusuf alaihis salam telah dihinakan, disakiti, diusir, dan dibuang oleh saudara-saudaranya. Kemudian, saat kekuatan berpihak kepada Yusuf alaihis salam, beliau memaafkan saudara-saudaranya, padahal dia seorang petinggi kerajaan yang mampu membalas dan menyiksa.

(( قَالَ لا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ ))

“Dia (Yusuf) berkata, ‘Pada hari ini tak ada cacian terhadap kalian, mudah-mudahan Allah mengampuni kalian, dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.’” [QS. Yusuf [12]: 92]

Demikian pula Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau memaafkan delapan puluh orang yang hendak mencelakakan beliau pada saa perjanjian Hudaibiyyah yang turun dari gunung Tan’im. Tatkala beliau mampu mengalahkan mereka, beliau lantas memaafkan mereka, meski beliau sanggup membalas mereka.

Begitu juga pemaafan beliau kepada Ghaurats bin al-Harits yang hendak membunuh beliau, ketika ia menghunus pedangnya sementara beliau sedang tidur. Lalu beliau terbangun, sementara pedang masih terhunus di tangannya. Beliau menghardiknya, lalu pendang terjatuh dari tangannya, lalu diambil oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Beliau memanggil para shahabatnya dan memberi tahu mereka tentang peristiwa yang terjadi antara beliau dengan orang itu, tetapi beliau memaafkannya. [Tafsir Ibnu Katsir (VII/211)]

(( وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ ))

“Dan jika kalian hendak membalas, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepada kalian. Akan tetapi, jika kalian bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” [QS. An-Nahl [16]: 126]

(( وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الأمُورِ ))

“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” [QS. Asy-Syura [42]: 43]

Jika korban kezhaliman menuntut ditegakkannya qishash kepada pelaku kezhaliman, maka dia telah mengambil haknya. Namun, siapa yang memaafkan maka dia telah berbuat baik dan itu menjadi penghapus dosa-dosanya. Allah berfirman:

(( فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ ))

“Barangsiapa yang melepaskan (hak qishash) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya.” [QS. Al-Maidah [5]: 45]

Barangsiapa yang dimaafkan atas tindak kezhalimannya, hendaknya ia juga berbuat baik kepada korban. Allah berfirman:

(( فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ ))

“Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah diiringi dengan cara yang baik, dan hendaklah membayar (diyat/denda) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik. Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat.” [QS. Al-Baqarah [2]: 178]

Cara berbuat baik adalah dengan membayar diyat atau denda kepada wali korban untuk tindak pembunuhan. Bentuk lain berbuat baik –ini disesuaikan dengan kadar kezhaliman– adalah memberi hadiah kepada korban, membantu kesusahannya, tersenyum kepadanya, dan kebaikan-kebaikan lainnya yang sekiranya bisa menghilangkan kesedihan, rasa sakit, dan penderitaanya sesuai dengan kadar kesanggupannya. /

Masjid Thaybah, 2 Pebruari 2012

Abu Zur’ah ath-Thaybi

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*