Memuji Allah

Jika Manusia Enggan Memuji Allah, Maka Langit dan Bumi telah Mencukupi

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Aqidah 0 Comments

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّباً مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ:

Segala puji milik Allah …

Allah adalah Rabb yang Maha Terpuji. Dia terpuji bukan karena ada yang memuji, begitu pula Dia terpuji meskipun seandainya tidak ada yang memuji-Nya.

Allah terpuji dalam setiap keadaan. Meskipun takdir-Nya yang menimpa manusia tidak disukainya, Dia tetap terpuji. Untuk itu, jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat sesuatu yang tidak beliau sukai, beliau berkata:

«الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ»

“Segala puji milik Allah dalam setiap keadaan.” [Hasan: Sunan Ibnu Majah (no. 3808) dari ‘Aisyah. Dinilai hasan oleh al-Albani]

Dalam kaidah bahasa Arab, huruf «ل» memiliki faidah lilmilki “kepemilikan”, maka «الْحَمْدُ لِلَّهِ» bermakna segala puji milik Allah dan tidak ada pujian yang baik apapun kecuali hanya Dia yang berhak menyandang-Nya bukan selainnya.

Segala puji milik Allah …

Untuk itu dia memuji diri-Nya sendiri saat menurunkan al-Qur`an yang menjadi petunjuk bagi manusia.

((الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا (١) قَيِّمًا…))

“Segala puji milik Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Kitab yang lurus dan tidak dijadikan-Nya kebengkokan padanya.” [QS. Al-Kahfi [18]: 1-2]

Dia memuji diri-Nya sendiri saat menciptakan langit dan bumi yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia.

((الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ))

“Segala puji milik Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan menciptakan kegelapan-kegelapan dan cahaya.” [QS. Al-An’am [6]: 1]

Karena keagungan pujian Allah inilah, Dia menjadikan pujian ini pada ayat pertama dalam al-Fatihah, lalu Dia jadikan shalat seseorang tidak sah tanpa membacanya, lalu Dia jadikan amal pertama yang dihisab adalah shalat dan menjadikan neraka bagi yang meniggalkannya.

Segala puji milik Allah …

Sebagaimana Allah terpuji dalam setiap keadaan, Dia dipuji dan disanjung oleh seluruh makhluk-Nya: langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya berupa binatang, pepohonan, bebatuan dan sebagainya. Allah Yang Maha Terpuji berfirman:

((تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ))

“Bertasbih kepada-Nya langit yang tujuh dan bumi serta apa yang ada di dalamnya. Dan tidak ada satupun kecuali bertasbih kepadanya dengan memuji-Nya, hanya saja kalian tidak tahu (cara) bertasbih mereka.” [QS. Al-Isra` [17]: 44]

قَالَ ابْنُ كَثِيْرٍ: أَيْ لَا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ أَيُّهَا النَّاسُ، لِأَنَّهَا بِخِلاَفِ لُغَتِكُمْ. وَهَذَا عَامٌ فِي الْحَيَوَانَاتِ وَالنَّبَاتِ وَالْجَمَادِ

Ibnu Katsir berkata, “Yakni, kalian tidak paham tasbih mereka, hai manusia, karena berbedanya bahasa kalian. Dan ini umum mencakup hewan-hewan, tumbuhan-tumbuhan, dan benda-benda.” [Tafsir Ibnu Kastir (V/79)]

Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami pernah safar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan persediaan air menipis, lalu beliau bersabda, ‘Carilah air yang masih tersisa.’ Maka, para shahabat datang membawa wadah berisi sedikit air, lalu beliau bersabda, ‘Kemarilah air yang bersih lagi berkah dan keberkahan dari Allah.’ Aku melihat air keluar di antara jari-jari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh pada waktu itu aku mendengar suara tasbih makanan saat dimakan.” [Shahih: Shahih al-Bukhari (no. 3579)]

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil batu dengan tangannya lalu beliau mendengar suara dari batu tersebut seperti suara lebah, begitu pula batu yang di tangan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhum.” [Tafsir Ibnu Katsir (V/79)]

قَالَ قَتَادَةُ: كُلُّ شَيْءٍ فِيْهِ الرُّوْحُ يُسَبِّحُ مِنْ شَجَرٍ أَوْ شَيْءٍ فِيْهِ.

Qatadah berkata, “Segala sesuatu memiliki ruh yang bertasbih baik pohon atau selainnya.” [Ibid (V/80)]

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: مَرَّ النَّبِىُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ: «إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِى كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ وَأَمَّا الآخَرُ فَكَانَ يَمْشِى بِالنَّمِيمَةِ» ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً، فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ، فَغَرَزَ فِى كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ فَعَلْتَ هَذَا؟ قَالَ: «لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا»

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua kuburan lalu bersabda, ‘Keduanya sedang diadzab dan keduanya tidak diadzab karena dosa besar. Adapun salah satunya karena tidak menutup diri saat kencing, dan adapun yang satunya lagi suka menebar namimah/adu domba.’ Kemudian, beliau mengambil pelepah kurma dan membelahnya menjadi dua lalu menanamkannya pada masing-masing kubur. Para shahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, untuk apa Anda melakukan ini? Beliau menjawab, ‘Semoga itu meringankan keduanya selagi belum kering.’” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 218) dan Shahih Muslim (no. 292)]

Sebagian ulama saat menjelaskan hadits ini berkata:

لِأَنَّهُمَا يُسَبِّحَانِ مَا دَامَ فِيْهِمَا خَضْرَة، فَإِذَا يَبِسا اِنْقَطَعَ تَسْبِيْحُهُمَا

“Karena keduanya bertasbih selagi masih hijau (segar), apabila sudah layu terputuslah tasbihnya.” [Tafsir Ibnu Katsir (V/81)]

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «قَرَصَتْ نَمْلَةٌ نَبِيًّا مِنَ الأَنْبِيَاءِ، فَأَمَرَ بِقَرْيَةِ النَّمْلِ فَأُحْرِقَتْ، فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ: أَنْ قَرَصَتْكَ نَمْلَةٌ أَحْرَقْتَ أُمَّةً مِنَ الأُمَمِ تُسَبِّحُ؟»

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,Seekor semut menggigit seorang nabi. Maka, dia memerintahkan agar sarang semut itu dibakar, lalu Allah menurunkan wahyu kepadanya, ‘Apakah seekor semut menggigitmu, lalu engkau tega membakar suatu umat dari umat-umat yang sedang bertasbih?’” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 3019) dan Shahih Muslim (no. 2241) dari Abu Hurairah]

Segala puji milik Allah …

Setiap orang suka dipuji dan disanjung. Namun, betapa pun besarnya kecintaan mereka kepada pujian tidak mampu mengalahkan kecintaan Allah kepadanya. Oleh karena itulah, Allah suka kepada orang yang memuji-Nya dan memberi balasan yang agung karenanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«وَلاَ أَحَدَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْمَدْحَةُ مِنَ اللَّهِ، وَمِنْ أَجْلِ ذَلِكَ وَعَدَ اللَّهُ الْجَنَّةَ»

“Tidak ada satupun yang pujian lebih dicintainya selain Allah, dan karena itulah Allah menjanjikan surga.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 7416) dan Shahih Muslim (no. 1499) dari al-Mughirah bin Syu’bah]

Segala puji milik Allah …

Dia terpuji dan tersanjung selama-lamanya tanpa batas. Bahkan Allah memberi ilham kepada penduduk surga untuk memuji dan bertasbih kepada-Nya seperti memberi ilham kepada mereka untuk bernafas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ يُلْهَمُوْنَ التَّسْبِيْحَ وَالتَّحْمِيْدَ كَمَا يُلْهَمُوْنَ النَّفَسَ»

“Sesungguhnya penduduk surga itu diberi ilham untuk bertasbih dan bertahmid seperti diberi ilham untuk bernafas.” [Shahih: Shahih Muslim (no. 2835) dari Jabir bin Abdillah]

Pujian dan sanjungan mereka bukanlah beban bagi mereka tetapi merupakan suatu kelezatan tersendiri bagi mereka sebagai suatu kenikmatan yang tidak ada habisnya. [Lih. Tafsir Ibnu Katsir (IV/251)]

Ketika mereka menginginkan apapun di surga, maka yang mereka lakukan di awal dan di akhir adalah memuji dan menyanjung-Nya.

قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ: إِذَا مَرَّ بِهِمُ الطَّيْرُ يَشْتَهُوْنَهُ، قَالُوْا: ((سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ)) وَذَلِكَ دَعْوَاهُمْ فَيَأْتِيْهِمُ الْمَلَكُ بِمَا يَشْتَهُوْنَهُ، فَيُسَلِّمُ عَلَيْهِمْ، فَيَرُدُّوْنَ عَلَيْهِ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ: ((وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلامٌ)) قَالَ: فَإِذَا أَكَلُوْا حَمِدُوْا اللَّهَ رَبَّهُمْ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ: ((وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ))

Ibnu Juraij berkata, “Jika burung melewati mereka (penduduk surga) dan mereka sangat menginginkannya, maka mereka berkata, ‘Maha suci Engkau, ya Allah!’ itulah doa mereka, lalu datanglah malaikat membawa apa yang diinginkan mereka. Malaikat itu mengucapkan salam kepada mereka, lalu mereka menjawab salamnya. Itulah makna firman-Nya, ‘Dan penghormatan mereka di dalamnya adalah salam.’ Apabila mereka telah memakannnya memuji Allah Rabb mereka. Itulah makna firman-Nya, ‘Dan akhir doa mereka adalah segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.’” [Ibid (IV/250). Lihat QS. Yunus [10]: 10]

Saat menafsirkan ayat, “Dan akhir doa mereka adalah segala puji bagi Allah Rabb semesta alam,” Ibnu Kastir berkata:

هَذَا فِيْهِ دَلَالَةٌ عَلَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى هُوَ الْمَحْمُوْدُ أَبَدًا، الْمَعْبُوْدُ عَلَى طُوْلِ الْمَدَى؛ وَلِهَذَا حَمِدَ نَفْسَهُ عِنْدَ ابْتِدَاءِ خَلْقِهِ وَاسْتِمْرَارِهِ، وَفِي ابْتِدَاءِ كِتَابِهِ، وَعِنْدَ ابْتِدَاءِ تَنْزِيْلِهِ

Ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang dipuji selamanya, yang disembah dengan pujian sepanjang masa. Oleh karena itu, Dia memuji diri-Nya sendiri saat memulai dan saat berlangsung penciptaan makhluk-Nya, saat memulai Kitab-Nya, dan saat pertama menurunkannya.” [Ibid (IV/250)]

Segala puji milik Allah …

Langit, bumi, hewan, tumbuhan, batu, hingga semut disarangnya memuji dan bertasbih kepada-Nya. Namun, anehnya manusia yang dikaruniani Allah akal enggan memuji dan menyanjungnya. Bahkan, di antara mereka tidak hormat dan lancang kepada-Nya dengan mengatakan tangan Allah terbelenggu! Allah mengambil malaikat sebagai anak perempuan! Allah punya istri! Bahkan, ada yang lebih lancang dengan mengatakan Allah adalah salah satu dari tiga tuhan!!! Wal ‘iyâdzu billâh!

((وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ))

“Dan mereka tidak menghormati Allah sebagaimana mestinya, padahal seluruh bumi digenggam oleh-Nya pada hari Kiamat dan langit dilipat dengan tangan kanan-Nya. Maha suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan.” [QS. Az-Zumar [39]: 67]

Semoga Allah menjadikan kita di antara para makhluk-Nya yang paling banyak memuji dan menyanjung-Nya.

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Surabaya, 9 April 2012

Abu Zur’ah ath-Thaybi

Referensi:

  1. Shahih al-Bukhari karya Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari al-Ju’fi (w: 256 H), Penerbit: Dar Ibnu Katsir Beirut th. 1407 H/1987 M, Tahqiq: Dr. Mushthafa al-Bagha dosen Ilmu Hadits di Fakultas Syari’ah Universitas Damaskus, 6 Jilid
  2. Shahih Muslim karya Abul Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi (w: 261 H), Penerbit: Ihyaut Turats al-Arabi Beirut, Tahqiq: Dr. Muhammad Fuad Abdul Baqi, 5 Jilid
  3. Sunan Ibnu Majah karya Abu Abdillah Muhammad bin Yazid Ibnu Majah (w: 273 H), Penerbit: Darul Fikr Beirut, Pentahqiq: Muhammad Fuad Abdul Baqi, 2 Jilid.
  4. Tafsir Ibnu Katsir karya Abul Fida Ismail bin Umar bin Katsir al-Quraisy ad-Dimasyqi (w: 774 H), Tahqiq: Sami Muhammad Salamah, Penerbit: Darut Tayyibah, cet. ke-2 th. 1420 H/1999 M, 8 Jilid
  5. Al-Maktabah asy-Syamilah versi 10 000 Kitab
  6. Dan lainnya

Sumber: Majalah Tauhidullah Surabaya

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*