islam

Islam adalah Agama Para Nabi dan Rasul ‘Alaihimus Shalatu Was Salam (1)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Aqidah 0 Comments

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّباً مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ:

Para nabi ‘alaihimus shalatu was salam bersaudara dan agama mereka satu, yaitu Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ

“Para nabi bersaudara seayah beda ibu dan agama mereka satu.” [Shahih al-Bukhari (no. 3443), Shahih Muslim (no. 2365)]

Agama mereka satu tetapi syari’at mereka berbeda-beda. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

))لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا((

“Untuk tiap-tiap ummat di antara kalian, Kami berikan syari’at dan manhaj tersendiri.” [QS. Al-Ma’idah [5]: 48]

Di dalam syari’at Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak boleh seseorang bersujud kepada seorang pun kecuali hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Seandainya diperbolehkan bersujud kepada selain Allah, tentu beliau akan memerintahkan istri bersujud kepada suaminya sebagai bentuk terima kasih dan hormat kepadanya. Hanya saja, hal tersebut tidak diperbolehkan dalam syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, hal ini diperbolehkan pada syari’at-syari’at terdahulu, seperti kisah Yusuf alaihis salam. Allah Ta’ala mengisahkannya dalam al-Qur`an:

))إِذْ قَالَ يُوسُفُ لأبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ((

“(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, ‘Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan. Kulihat semuanya sujud kepadaku.” [QS. Yusuf [12]: 4]

Takwil mimpi ini adalah bahwa para saudara Yusuf akan bersujud kepadanya sebagai bentuk penghormatan kepadanya. Mimpi Nabi Yusuf ‘alaihis salam ini menjadi kenyataan pada masa beliau menjadi raja menggantikan raja al-Aziz. Allah subhanahu wa ta’ala mengisahkannya:

))وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا وَقَالَ يَا أَبَتِ هَذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ((

“Dan ia menaikkan kedua ibu-bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya bersujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf, ‘Wahai ayahku inilah takbir mimpiku yang dahulu itu. Sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah setan merusakkan hubungan antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.’” [QS. Yusuf [12]: 100]

Begitu pula kisah Adam ‘alaihis salam dengan para malaikat dan Iblis. Allah mengisahkannya:

))وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ((

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kalian kepada Adam!’ Maka, sujudlah mereka kecuali Iblis. Ia enggan dan sombong, dan adalah dia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” [QS. Al-Baqarah [2]: 34]

Agama Islam adalah agama tauhid. Oleh karena itu, para nabi ‘alaihimus shalatu was salam diutus kepada kaumnya masing-masing dengan membawa risalah tauhid, yaitu “tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah”. Semua nabi ‘alaihimus shalatu was salam mulai dari Nabi Adam, Nabi Idris, Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shalih, Nabi Ibrahim, Nabi Luth, Nabi Syu’aib, Nabi Ismail, Nabi Ishaq, Nabi Yusuf, Nabi Ayyub, Nabi Dzulkifli, Nabi Yunus, Nabi Musa, Nabi Ilyas, dan lain-lain hingga Nabi Muhammad ‘alaihimus shalatu was salam mengajak kaumnya kepada penghambaan hanya kepada satu tuhan yaitu Allah pencipta langit dan bumi, dan memperingatkan mereka untuk menjauhi tuhan-tuhan selain Allah. Dakwah kepada penghambaan hanya kepada Allah dan meninggalkan tuhan-tuhan yang disembah selain Allah, inilah dakwah Islam yang dibawa oleh para nabi dan rasul ‘alaihimus shalatu was salam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

))وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ أَنْ لا تَعْبُدُوا إِلا اللَّهَ ((

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya untuk mendakwahkan, ‘Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kalian yaitu janganlah kalian menyembah selain Allah.’” [QS. Hud [11]: 25-26]

))وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ((

“Dan kepada kaum Ad (Kami utus) saudara mereka, Hud. Ia berkata, ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu tuhan selain Dia.’” [QS. Hud [11]: 50]

))وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ ((

“Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Shalih. Dia berkata, ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu tuhan selain Dia.’” [QS. Hud [11]: 61]

))وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ((

“Dan kepada penduduk Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syua’ib. Dia berkata, ’Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada tuhan bagimu selain Dia.’” [QS. Hud [11]: 84]

))وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ((

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus seorang rasul pada tiap-tiap ummat untuk mendakwahkan, ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut.’” [QS. An-Nahl [16]: 36]

))وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ((

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelummu (hai Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Sesungguhnya tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku saja.’” [QS. Al-Anbiya` [21]: 25]

Dari ayat-ayat ini, jelaslah bahwa dakwah para nabi ‘alaihimus shalatu was salam adalah (( لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ )) “tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah” dan ini adalah inti dakwah agama Islam.

Oleh karena agama mereka Islam, maka mereka pun orang-orang muslim. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman mengenai kemusliman Nabi Nuh ‘alaihis salam:

))إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ((

“Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci, dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk dari golongan orang-orang muslim.” [QS. An-Nahl [27]: 91]

Nabi Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub alaihimus salam adalah orang-orang muslim. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

))إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ((

“(Ingatlah) ketika Tuhannya berfirman kepadanya: ‘Jadilah muslim!’ Ibrahim menjawab: ‘Aku seorang muslim kepada Rabb semesta alam.’ Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): ‘Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.’” [QS. Al-Baqarah [2]: 131-132]

Nabi Yusuf alaihis salam adalah seorang muslim. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

))رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الأحَادِيثِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ((

“(Yusuf berdoa): Wahai Rabb-ku, sesungguhnya Engkau telah menganugrahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan sebagian dari takwil mimpi. Wahai Pencipta langit dan bumi, Engkau-lah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku bersama orang-orang shalih.” [QS. Yusuf [12]: 101]

Oleh: Abu Zur’ah ath-Thaybi

Murajaah: Ustadz Muhammad Nur Yasin

(Mudir Pesantren Mahasiswa Thaybah Surabaya)

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*