ide amaliah

Ide Amaliyah dalam Menempuh Perjalanan Ilmiyah

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Adab, Manhaj, Penyejuk Hati 0 Comments

Segala puji milik Allah dan shalawat dan salam untuk Rasulullah. Amma ba’du:

Perjalanan Ilmiyah di sini hanya penulis tinjau dari segi hafalan saja. Semua poin yang akan penulis sebutkan hanya sekedar pendapat yang boleh diambil dan layak pula ditinggal. Di sini penulis akan membawakan tujuh poin di mana lima poin pertama untuk jangka pendek dan dua poin terakhir untuk jangka panjang. Berikut ulasannya.

Poin Pertama: Menghafal Kitabullah

Apapun kesibukan Anda dan apapun profesi Anda, hal tersebut tidaklah menghalangi Anda untuk meraih kemuliaan ilmu. Sementara, yang wajib bagi setiap pendampa kemuliaan ilmu adalah menghafal al-Qur`an.

Anda harus memiliki hafalan dan mulai dari sekarang merintisnya. Akan datang suatu masa di mana boleh jadi Anda akan diminta menjadi imam shalat. Maka, minimal bagi Anda adalah hafal juz Amma. Kemudian dilanjutkan dengan ayat-ayat yang lain. Tidak disangsikan lagi bahwa semakin bertambah usia, maka kesibukan pun akan bertambah pula. Maka, jangan pernah menunda-nunda. Jika Anda memasuki waktu pagi jangan menunggu datangnya waktu sore, tetapi pergunakanlah waktu sekarang dengan sebaik-baik pengaturan untuk menghafal. Cukuplah kisah Ka’ab bin Malik dan dua saudaranya menjadi pelajaran bagi orang mukmin. Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa orang mukmin itu tidak akan terjerembab di satu lubang untuk kedua kalinya.

Menghafal al-Qur`an lebih mudah dan menjadi nikmat jika disertai pemahaman dalam bahasa Arab. Seandainya belum mahir bahasa Arab, maka bahasa Arab harus Anda dahulukan.

قَالَ الْبَيْهَقِي: وَيَنْبَغِي لِمَنْ أَرَادَ طَلَبَ الْعِلْمِ، وَلَمْ يَكُنْ مِنْ أَهْلِ لِسَانِ الْعَرَبِ أَنْ يَتَعَلَّمَ اللِّسَانَ أَوَّلًا وَيَتَدَرَّبَ فِيهِ، ثُمَّ يَطْلُبُ عِلْمَ الْقُرْآنِ، ولَنْ يصِحَّ لَهُ مَعَانِي الْقُرْآنِ إِلَّا بِالْآثَارِ وَالسُّنَنِ، وَلَا مَعَانِي السُّنَنِ وَالْآثَارِ إِلَّا بِأَخْبَارِ الصَّحَابَةِ، وَلَا أَخْبَارُ الصَّحَابَةِ إِلَّا بِمَا جَاءَ عَنِ التَّابِعِينَ.

Imam al-Baihaqi berkata, “Sepatutnya bagi seseorang yang ingin menuntut ilmu sementara dia bukan ahli berbahasa Arab untuk pertama kalinya dengan mempelajari bahasa Arab dan mempraktikannya, baru kemudian mempelajari Ilmu al-Qur`an. Makna-makna al-Qur`an tidak akan benar baginya kecuali dengan atsar-atsar dan sunah-sunnah, dan tidak akan benar makna-makna sunnah dan atsar kecuali dengan penjelasan para shahabat, dan tidak ada penjelasan para shahabat kecuali dengan apa yang datang dari para tabi’in.” [Syu’abul Iman (III/187) oleh al-Baihaqi]

قَالَ وَكِيْعٌ: أَتَيْتُ الْأَعْمَشَ أَسْمَعُ مِنْهُ الْحَدِيْثَ وَكُنْتُ رُبَمَا لَحَنْتُ فَقَالَ لِي: يَا أَبَا سُفْيَانَ! تَرَكْتَ مَا هُوَ أَوْلَى بِكَ مِنَ الْحَدِيْثِ. فَقُلْتُ: يَا أَبَا مُحَمَّدٍ! وَأَيُّ شَيْءٍ أَوْلَى مِنَ الْحَدِيْثِ؟ فَقَالَ: النَّحْوُ. فَأَمْلَى عَلَيَّ الْأَعْمَشُ النَّحْوَ ثُمَّ أَمْلَى عَلَيَّ الْحَدِيْثَ.

Waki’ berkata, “Aku mendatangi al-A’masy untuk mendengarkan hadits darinya dan terkadang aku mengalami lahn, lalu dia berkata kepadaku, ‘Wahai Abu Sufyan! Kamu telah meninggalkan sesuatu yang lebih utama bagimu daripada hadits.’ Aku bertanya, ‘Wahai Abu Muhammad! Apa itu yang lebih utama daripada hadits?’ Dia menjawab, ‘Nahwu.’ Lalu al-A’masy mengajariku Nahwu baru kemudian menyampaikan hadits kepadaku.” [Al-Jami’ li Akhlaqir Rawi (no. 1078) oleh al-Khatib al-Baghdadi. Lahn adalah kesalahan dalam bahasa Arab, baik karena kesalahan ucap atau karena kesalahan i’rab]

Dikarenakan Anda adalah mahasiswa super sibuk kuliah, maka penulis memandang tidak mengapa berbarengan antara belajar bahasa Arab dan menghafal al-Qur`an. Hanya saja yang prioritas bagi Anda adalah bahasa Arab dahulu, dan di waktu-waktu senggang atau saat bosan pindah menghafal al-Qur`an. Kita manusia tidak terlepas dari bosan dan rasa jenuh, maka obatnya adalah pergantian kegiatan ilmiyah.

Seandainya konsep-konsep dasar bahasa Arab telah Anda kuasai, maka menghafal al-Qur`an ditambah porsinya sambil memantapkan bahasa.

Syaikh Bin Baz pernah ditanya tentang matan yang sebaiknya dihafal oleh penuntut ilmu pemula, lalu beliau menjawab, “Al-Qur`an.” Ibnu Mas’ud mengatakan –secara makna– bahwa barangiapa yang ingin menguasai ilmunya orang-orang terdahulu dan orang-orang terkemudian, maka pelajarilah al-Qur`an. Syaikh Utsaimin mengatakan bahwa al-Qur`an seluruhnya adalah ilmu. Maka, penuntut ilmu yang kurang cerdas adalah yang sibuk dengan hafalan matan-matan dan membaca kitab-kitab tetapi mengabaikan al-Qur`an dan tidak menghafalnya.

Poin Kedua: Menghafal Arbain an-Nawawi

Kutaib ini berisi hadits-hadits pokok dalam ajaran Islam dan tidak selayaknya ditinggal oleh penuntut ilmu tanpa menghafalnya. Selayaknya kutaib ini dihafal berbarengan dengan al-Qur`an. Sekali lagi, manusia gampang sekali jenuh dan bosan karena kegiatan-kegiatan yang monoton, maka saat itu terjadi buanglah kejenuhan itu dengan menghafal Arbain an-Nawawi. Lebih jauhnya terkait kutaib ini serta tips menghafalnya bisa dibaca sebuah risalah sederhana Ada Apa dengan Hadits Arbain? di www.abuzurah.cu.cc.

Poin Ketiga: Menghafal Hishnul Muslim

Usai menghafal Arbain an-Nawawi dilanjutkan menghafal Hishnul Muslim. Kutaib ini disusun oleh Syaikh Sa’id al-Qahthawi yang berisi hadits-hadits tentang doa-doa keseharian. Tidak diragukan lagi berdoa dalam setiap keadaan menjadikan seseorang memiliki ketergantuang yang tinggi kepada Allah sehingga berakibat baik dalam menata hatinya, keyakinannya, dan akidahnya, dan inilah semulia-mulia perkara. Dari sisi inilah mengapa sangat dianjurkan menghafal kutaib ini.

Poin Keempat: Menghafal al-Lu’lu wal Marjan

Kitab hadits ini disusun oleh Syaikh Fuad Abdul Baqi yang berisi hadits-hadits muttafaqun alaihi yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim sebanyak 1906 hadits.

Mengapa perlu mendahulukan menghafal kitab ini? Minimal karena dua alasan:

1 – Kebanyakan kitab-kitab para ulama lebih mendahulukan dalil dari hadits-hadits Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, lalu al-Bukhari sendirian, baru kemudian Muslim sendirian. Dengan Anda menghafal kitab ini, maka akan memudahkan Anda nantinya dalam membaca kitab-kitab para ulama, dan menimbulkan semangat dan kegandrungan membaca kitab-kitab.

2 – Kitab-kitab hadits yang mu’tabar ada banyak dan yang terkenal adalah kutubus sittah (Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan at-Tirmidzi, Sunan Abu Dawud, Sunan Ibnu Majah, dan Sunan an-Nasa`i). Terkadang ada satu hadits yang diriwayatkan oleh para imam tersebut tetapi redaksinya sedikit berbeda antara satu dengan yang lainnya. Tentu hal ini akan melemahkan dan membuat buyar hafalan Anda. Maka, menjadikan hadits-hadits muttafaqun ‘alaihi al-Bukhari Muslim sebagai patokan hafalan Anda adalah tindakan yang bijak.

Menghafal kitab ini berbarengan dengan al-Qur`an setelah selesai mengahafal Arbain an-Nawawi, hanya saja al-Qur`an tetap diprioritaskan. Tidak harus selesai seandainya al-Qur`an telah selesai. Jika memang demikian, hafalannya dilanjutkan bersamaan dengan membaca Syarah Arbain an-Nawawi di bawah ini.

Poin Kelima: Membaca Syarah Arbain an-Nawawi karya Ibnu Daqiq al-Id

Bisa dibilang kitab ini amat sederhana dalam pembahasan tetapi banyak faidahnya. Perlu diketahui, membaca di sini maksudnya membaca dan memahami secara sempurna isi kitab dan menghafal atsar para ulama salaf yang ada di dalamnya. Sebagai contoh saat Anda sampai pada hal. 67, Anda akan mendapati ucapan seorang salaf berbunyi:

قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بِنْ مَهْدِي: يَنْبَغِي لِكُلِّ مَنْ صَنَّفَ كِتَاباً أَنْ يَبْتَدِئَ فِيْهِ بِهَذَا الْحَدِيْثِ تَنْبِيْهًا لِلطَّالِبِ عَلَى تَصْحِيْحِ النِّيَّةِ.

Abdurrahman bin Mahdi berkata, “Semestinya bagi setiap orang yang menyusun sebuah kitab untuk memulainya dengan hadits ini (hadits niat ‘Umar bin Khaththab–penj) sebagai pengingat bagi pelajar untuk memperbaiki niatnya.” [Syarah Arbain an-Nawawiyah (hal. 67) oleh Ibnu Daqiq al-Id Darus Salam cet. ke-3 th. 1428 H/2007 M]

Maka, jangan lewatkan ucapan ini melainkan Anda hafal. Kita melihat satu ucapan ulama salaf lebih kuat hujjah dan lebih dalam kandungannya daripada puluhan ucapan orang-orang setelahnya.

Hafalkan al-Qur`an sambil membaca kitab penuh berkah ini. Sandainya kitab ini telah selesai –walhamdulillah– segera selesaikan hafalan al-Qur`an Anda. Penulis tidak menambah poin lagi hingga Anda secara khusus menyelesaikan hafalan Anda.

Jika telah usai hafalan Anda 30 Juz –walhamdulillah semoga Allah menjadikan hafalan Anda berkah dan berpengaruh pada diri Anda–, maka dengan itu selesailah poin jangka pendek.

Poin Keenam: Membaca Kitab Jâmi’ul Ulûm wal Hikam karya Ibnu Rajab al-Hanbali

Kitab ini berisi syarah hadits Arbain an-Nawawi yang telah Anda hafal. Kitab ini sangat baik dan lengkap dalam mensyarah hadits-hadits Arbain. Di dalamnya terdapat banyak faidah dan atsar para salafus shalih. Teknik membacanya sama dengan Syarah Ibnu Daqiq al-Id hanya saja lebih longgar karena pertimbangan ketebalan.

Poin Ketujuh: Membaca Tafsir Ibnu Katsir

Tafsir Ibnu Katsir dibaca berbarengan dengan Jâmi’ul Ulûm wal Hikam. Kitab tafsir ternyata jumlahlah banyak sekali sehingga bingung mana yang perlu didahulukan. Di sana ada Tafsir ath-Thabari yang super jumbo, Tafsir Ibnu Abi Hatim full atsar para ulama salaf, Tafsir al-Baghawi, Tafsir al-Qurthubi, Zadul Masir oleh Ibnul Jauzi full qiraah, Durrrul Mantsur oleh as-Suyuthi, Ruhul Ma’ani oleh al-Alusi, dan lain lain banyak sekali.

Dipilih Tafsir Ibnu Katsir karena penyusunannya sistematis dalam membawakan pemahaman ayat dengan dalil penguat ayat dan hadits serta atsar para salafus shalih. Tebal tapi ringkas. Adapun Tafsir ath-Thabari terlalu tebal dan butuh kesabaran ekstra dan pengkajian yang mendalam, bahkan jika boleh dikata bahwa Tafsir Ibnu Katsir telah mencukupi karena ia tidak lain merupakan perasan dari Tafsir ath-Thabari. Adapun Tafsir Ibnul Jauzi terlalu melebar pembahasannya. Di dalamnya disebutkan qiraah-qiraah yang belum dibutuhkan kecuali oleh orang-orang tertentu saja, dan juga di sana disebutkan perbedaan-perbedaan pendapat yang banyak dan tajam dari para salaf tentang tafsir suatu ayat sehingga bikin kepala pusing. Sekedar contoh, tentang makna “Allah mengolok-olok mereka” [QS. Al-Baqarah [2]: 15] beliau menyebutkan 9 pendapat!!! Ala kuli hal, setiap kitab tafsir memiliki keutamaan-keutamaan masing-masing dan yang paling cocok untuk penuntut ilmu pemula adalah Tafsir Ibnu Katsir. Ini pendapat beberapa ulama di antaranya Syaikh al-Albani. Allahu alam.

Poin ketujuh ini adalah akhir dari poin jangka panjang.

Jangan lupa untuk sering menghadiri majlis ilmu para asatidzah agar tidak salah dalam pemahaman. Seandainya Anda telah usai dari urusan dunia Anda baik kuliah atau kerja, Anda bisa menuntut ilmu lebih intens kepada para masyayikh Ahlus Sunnah di belahan timur: Saudi, Yaman, Mesir, atau lainnya, jika Anda berkenan.

Perlu diketahui, ini hanyalah pendapat penulis pribadi yang boleh diambil dan boleh pula ditinggal. Bahkan, di sana mungkin ada langkah-langkah yang jauh lebih baik yang tidak ada di sini dalam hal menghafal ilmu. Penulis tidak berpendapat bahwa semua poin disini harus disikapi rigit/kaku tanpa toleransi. Semuanya kembali kepada diri masing-masing dari kita. Penulis hanya penjual yang menawarkan barang, sementara Anda memiliki hak khiyar untuk melanjutkan aqad atau membatalkannya. Semoga Allah memudahkan segala urusan ilmiyah kita.

قَالَ الْاِمَامُ مَالِكٌ: إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُخْطِئُ وَأُصِيْبُ فَانْظُرُوْا فِي رَأْيِيْ، فَكُلُّ مَا وَافَقَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ فَخُذُوْهُ، وَكُلُّ مَا لَمْ يُوَافِقِ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ فَاتْرُكُوْهُ

Imam Malik berkata, “Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa yang bisa salah dan benar, maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapatku yang sesuai dengan al-Kitab dan as-Sunnah ambillah, dan setiap pendapatku yang tidak sesuai dengan al-Kitab dan as-Sunnah tinggalkanlah.” [Lihat Jâmi’ Bayânil Ilmi wa Fadhlih (II/32) oleh Ibnu Abdil Bar]

Segala puji bagi Allah yang karena nikmat-nikmat-Nya amal shalih menjadi sempurna.

Masjid Thaybah, 26 Sya’ban 1433 H/16 Juli 2012

Abu Zur’ah ath-Thaybi

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*