bahasa arab

Tiga Pengaruh Agung Bahasa Arab Bagi Ahlinya (1)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Manhaj 0 Comments

Bahasa Arab adalah bahasa al-Qur`an, sementara al-Qur`an adalah petunjuk yang lurus bagi manusia dan isinya tidak lain semuanya adalah ilmu. Dari sini kita bertanya-tanya, sebenarnya ada apa dengan bahasa Arab sehingga digunakan sebagai wasilah yang dengannya al-Qur`an bisa terbaca? Setidaknya ada tiga fungsi diturunkannya al-Qur`an berbahasa Arab yang memiliki pengaruh agung bagi ahlinya. Berikut pembahasannya.

Pertama: Pengaruh Spiritual

Al-Qur`an diturunkan Allah dengan berbahasa Arab agar manusia semakin bertakwa kepada-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

(( وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا وَصَرَّفْنَا فِيهِ مِنَ الْوَعِيدِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ أَوْ يُحْدِثُ لَهُمْ ذِكْرًا ))

“Dan demikianlah Kami menurunkan Kitab itu berupa al-Qur`an dengan berbahasa Arab dan Kami sebutkan ancaman secara berulang-ulang di dalamnya, supaya mereka BERTAQWA atau menimbulkan kesadaran bagi mereka.” [QS. Thaha [20]: 113]

((قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ ))

“Al-Qur`an berbahasa Arab tanpa kebengkokan supaya mereka BERTAQWA.” [QS. Az-Zumar [39]: 28]

Orang yang membaca al-Qur`an akan terguncang hatinya karena indahnya uslub-uslub bahasanya, dalamnya makna kata yang dimilikinya, dan kesesuaian dalam pemilihan kata antara ghayah dan lafazh yang digunakannya. Ini semua tidak dimiliki oleh bahasa manapun, tetapi hanya ada dalam bahasa Arab karena kefasihan bahasanya dan ini hanya bisa dinikmati oleh ahlinya, tidak selainnya. Tentang kefasihan ini, Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan:

(( وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٩٢) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (١٩٣) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (١٩٤) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ ))

“Dan sesungguhnya dia benar-benar diturunkan dari Rabb semesta alam. Dibawa turun oleh ar-Ruhul Amin kepada hatimu supaya kamu menjadi pemberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas (fasih).” [QS. Asy-Syuara` [26]: 192-195]

Al-Qur`an menjadi kalam yang enak dibaca dan meninggalkan bekas yang sangat mendalam bagi pembacanya, sampai-sampai bergetar hati yang membacanya dan berlinang air matanya. Ini tidak lain adalah pengaruh makna-makna yang mendalam pada bahasa Arab yang dengannya al-Qur`an dibaca. Para shahabat adalah contoh nyata dalam hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

(( إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ))

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu hanyalah orang-orang yang apabila disebut nama Allah maka bergetarlah hati-hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka, dan hanya kepada Rabb-nya mereka bertawakal.” [QS. Al-Anfal [8]: 2]

Di sini Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa bacaan yang mengetarkan jiwa ini menghasilkan buah tawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga bertambahlah rasa takut dan ketaqwaan mereka kepada-Nya.

Orang-orang yang bisa mentadaburi al-Qur`an dengan bantuan bahasa Arabnya memiliki tingkat spiritual yang tinggi kepada Rabb-nya. Hidupnya selalu bergantung kepada-Nya, sehingga lapang dadanya dan mendapat sebaik-baik bimbingan dan petunjuk. Adapun selain mereka, tidak bisa mengambil manfaat dari al-Qur`an kecuali hanya sedikit, sehingga sempit hidupnya dan banyak mengalami keraguan dan kegoncangan dalam hidupnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

(( وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (١٢٤) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (١٢٥) قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى ))

“Dan barangsiapa yang berpaling dari al-Qur`an-Ku, maka dia akan mendapatkan kehidupan yang sempit dan kelak Kami akan menggiringnya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, mengapa Engkau menggiringku dalam keadaan buta padahal dahulunya aku bisa melihat?’ Allah berfirman, ‘Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami lalu kamu melupakannya, dan demikian pula pada hari ini kamu pun dilupakan.’” [QS. Thaha [20]: 124-126]

قَالَ عَبْدُ اللَّهِ: إِنَّ الْقُرْآنَ شَافِعٌ وَمُشَفَّعٌ وَمَاحِلٌ مُصَدِّقٌ فَمَنْ جَعَلَهُ أَمَامَهُ قَادَهُ إِلَى الْجَنَّةِ وَمَنْ جَعَلَهُ خَلْفَهُ سَاقَهُ إِلَى النَّارِ.

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Sesunggunya al-Qur`an adalah pemberi syafaat yang diterima syafaatnya dan pendebat yang dibenarkan hujjahnya. Barangsiapa yang menaruhnya di depannya maka dia akan membimbingnya menuju surga, dan barangsiapa yang menaruhnya di belakangnya maka dia akan mencampakkannya menuju neraka.” [Shahih: Mushannaf Abdurrazzaq (no. 6010) dan al-Mu’jamul Kabir lith Thabarani (no. 8655)]

Kedua: Pengaruh Intelijensi

Bahasa Arab akan menjadikan seseorang memiliki tingkat intelijensi yang tinggi. Allah yang Mahatahu berfirman:

(( إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ ))

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Qur`an dengan berbahasa Arab suapaya kalian BERAKAL.” [QS. Yusuf [12]: 2]

(( إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ ))

“Sesungguhnya Kami menjadikan al-Kitab itu berupa al-Qur`an dengan berbahasa Arab supaya kalian BERAKAL.” [QS. Az-Zukhruf [43]: 3]

Hal ini terjadi karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih dan sangat mendalam makna kosa-katanya, dan bahasa yang paling mudah dihafal bagi yang menguasai kaidah-kaidahnya. Dikatakan cerdas apabila seseorang bisa mengungkapkan kalimat yang ringkas tapi sangat mendalam maknanya, dan juga banyak hafalannya. Dua keutamaan ini (kalimat ringkas dan banyak hafalan), sangat mungkin dicapai dengan bahasa Arab.

Bukti untuk yang pertama adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah lelaki yang berbahasa Arab dan memiliki intelijensi yang sangat mengagumkan dalam menyingkat kalimat, yang umum di kalangan ulama disebut sebagai jawami’ul kalim. Beliau bersabda:

«أُوْتِيْتُ جَوَامِعَ الْكَلِمِ»

“Aku telah diberi jawami’ul kalim.” [Shahih: Musnad Ahmad (no. 7403) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Maksudnya, kalimat yang ringkas tapi padat dan sarat makna]

Seorang ulama bernama al-Qadhi Izzuddin  Abdul Aziz al-Kahari (w: 724 H) menulis kitab yang berisi 1000 faidah dari sebuah hadits tentang kaffarat jima’ di bulan Ramadhan sebanyak dua jilid. [Lihat at-Ta’rif bima Ufrida Minal Ahadits (hal. 164) oleh Yusuf al-Athiq]

Bukti untuk yang kedua adalah para salafus shalih. Para salafus shalih adalah orang-orang yang mendahulukan bahasa Arab, apabila sudah menguasai bahasa Arab baru mereka menghafal al-Qur`an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

قَالَ شُعْبَةَ: إِذَا كَانَ الْمُحَدِّثُ لَا يَعْرِفُ النَّحْوَ فَهُوَ كَالْحِمَارِ يَكُونُ عَلَى رَأْسِهِ مِخْلَاةٌ لَيْسَ فِيهَا شَعِيرٌ.

Syu’bah berkata, “Apabila seorang ahli hadits tidak mengetahui ilmu nahwu, maka ia seperti keledai yang terdapat muatan di atas kepalanya tetapi tidak berisi apapun.” [Syu’abul Iman (no. 1566) oleh Imam al-Baihaqi, Maktabah ar-Rusyd: cet. ke-1 th. 1423 H/2003 M]

Mereka memiliki hafalan yang luar biasa banyaknya dan luar biasa kuatnya.

قَالَ مَعْمَر: اجْتَمَعْتُ أَنَا وَشُعْبَةُ وَالثَّوْرِيُّ وَابْنُ جُرَيْجٍ، فَقَدِمَ عَلَيْنَا شَيْخٌ، فَأَمْلَى عَلَيْنَا: أَرْبَعَةَ آلافِ حَدِيثٍ عَنْ ظَهْرِ قَلْبٍ، فَمَا أَخْطَأَ إِلاَّ فِي مَوْضِعَيْنِ، لَمْ يَكُنِ الْخَطَأُ مِنَّا وَلا مِنْهُ، إِنَّمَا الْخَطَأُ مِنْ فَوْقِهِ، وَكَانَ الرَّجُلُ طَلْحَةُ بْنُ عَمْرٍو.

Ma’mar berkata, “Aku pernah berkumpul bersama Syu’bah, ats-Tsauri, dan Ibnu Juraij. Kemudian, datanglah seorang syaikh kepada kami, lalu dia menyampaikan 4000 hadits dari hafalannya. Dia tidak keliru kecuali di dua tempat, tetapi kesalahan itu bukan berasal dari kami dan bukan pula darinya. Kesalahan itu berasal dari perawi lain dalam sanadnya. Lelaki itu adalah Thalhah bin Amr.” [Al-Hatstsu ala hifzil Ilmi wa Dzikru Kibaril Huffazh (hal. 72) oleh Ibnul Jauzi, Muassasah Syababul Jamiah: cet. ke-2 th. 1412 H]

Bersambung…

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*