ahlussunnah

Siapa Sebenarnya Ahlus Sunnah Itu?

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Manhaj 0 Comments

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ» قِيلَ: يَا رَسُولَ اللّٰهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ: «الْجَمَاعَةُ»

وَفِى رِوَايَةٍ: «مَنْ كَانَ عَلَى مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي»

“Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, satu di surga dan 70 di neraka. Nashrani terpecah menjadi 72 golongan, 71 di neraka dan 1 di surga. Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sungguh benar-benar umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, 1 di surga dan 72 di neraka.” Ditanyakan, “Wahai Rasûlullâh, siapakah mereka?” Beliau menjawab, “Al-Jamaah.” [Shahih: HR. Ibnu Majah (no. 3992, II/1322), ath-Thabarani (no. 129) dalam al-Mu’jam al-Kabîr, al-Lalika`i (no. 149) dalam Syahrul Ushûl dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Dinilai shahih al-Albani. Hadits tentang perpecahan umat ini banyak sekali redaksinya dan diriwayatkan oleh para imam dalam kebanyakan kitab induk hadits mereka. Menurut kami yang paling sempurna redaksinya dan mencukupi adalah hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah ini]

Dalam riwayat lain, “Siapa yang berada di atas ajaranku dan para shahabatku hari ini.” [Hasan: HR. Ath-Thabarani (no. 7840, VIII/22) dalam al-Mu’jam al-Ausath. Di dalamnya ada perawi bernama ‘Abdullah bin Sufyan yang dinilah tsiqah oleh Ibnu Hibban. Lafazh yang lebih ringkas ada di Sunan at-Tirmidzi (no. 2641) dan dinilai hasan oleh al-Albani]

Dalam hadits agung tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan golongan yang selamat adalah siapa yang mengikuti para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beragama baik dalam keyakinan, perkataan, maupun perbuatan. Mereka disebut jamaah karena mengikuti jamaah kaum muslimin dari kalangan shahabat Muhajirin dan Anshar meskipun seorang diri. Ukuran jamaah di sini bukan dari segi jumlah tetapi kesesuaian dengan al-Qur`an dan sunnah sesuai pemahaman para shahabat.

‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

الْجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَكَ

“Jamaah adalah yang sesuai kebenaran meskipun kamu seorang diri.” [Syarhul Ushûl (no. 160) oleh al-Lalika`i]

Syaraful Haq Abadi menjelaskan dalam syarah Sunan Abî Dâwûd:

«الْجَمَاعَة» أَيْ أَهْلُ الْقُرْآنِ وَالْحَدِيثِ وَالْفِقْهِ وَالْعِلْمِ الَّذِينَ اجْتَمَعُوا عَلَى اتِّبَاعِ أَثَارِهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَمِيعِ الْأَحْوَالِ كُلِّهَا وَلَمْ يَبْتَدِعُوا بِالتَّخْرِيفِ وَالتَّغْيِيرِ وَلَمْ يُبَدِّلُوا بِالْآرَاءِ الْفَاسِدَةِ

“Jamaah adalah ahli al-Qur`an, hadits, fiqih, dan ilmu yang berkumpul dalam mengikuti jejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua keadaannya dan tidak berbuat bid’ah dengan tahrif dan taghyir dan tidak pula mengganti dengan pendapat-pendapat yang rusak.” [Aunul Ma’bûd (XII/223) oleh Syaraful Haq Abadi]

Oleh karena itu, pemicu pertama munculnya aliran sesat adalah tatkala mereka memutuskan untuk berpaling dari para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memahami agama menurut akal mereka. Akhirnya, muncul banyak sekali perpecahan dan perselisihan di akhir umat ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan hal ini sekaligus memberi solusi jalan keluar dalam sabdanya:

«فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ»

“Barangsiapa yang hidup sepeninggalku, pasti ia akan melihat banyak sekali perselisihan. Maka, wajib atas kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah Khulafa Rasyidin (para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkhusus penghulu mereka khalifah yang empat: Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum) yang terbimbing. Pegang teguh ia dan gigitlah ia dengan gigi geraham.” [Shahih: HR. Abu Dawud (no. 4607, IV/200), at-Tirmidzi (no. 2676), Ibnu Majah (no. 42), Ahmad (no. 17144) dalam Musnadnya, Ibnu Hibban (no. 5) dalam Shahîhnya, dan al-Hakim (no. 329) dalam al-Mustadrâk dari Abu Najih ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu. Dinilai shahih oleh al-Albani, al-Arna`uth, at-Tirmidzi, al-Hakim, dan adz-Dzahabi]

Imam Malik (w. 179 H) berkata:

لَنْ يُصْلِحَ آخِرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا مَا أَصْلَحَ أَوَّلَهَا

“Tidak akan bisa memperbaiki umat sekarang ini kecuali apa yang telah menjadikan baik generasi pertamanya.” [Lihat as-Syifâ (II/87-88) oleh al-Qadhi ‘Iyadh]

Generasi pertama umat ini berada dalam puncak kejayaan dan puncak keimanan dan ketaqwaaan, karena mereka berpegang teguh kepada al-Qur`an dan sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta mengikuti bimbingan Khulafa Rasyidin sepeninggal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. Wajib Menjadi Ahlus Sunnah dan Mengikuti Para Shahabat
  • Dalil dari al-Qur`an:

«فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا»

“Jika mereka beriman seperti keimanan kalian (para shahabat), tentulah mereka akan mendapat petunjuk.” [QS. Al-Baqarah [2]: 137]

«وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا»

“Barangsiapa yang menentang Rasûlullâh setelah jelas baginya petunjuk dan mengikuti selain jalan orang-orang beriman (para shahabat), maka Kami akan palingkan ia ke mana dia berpaling (biarkan sesat) dan Kami akan memasukkannya ke Jahannam dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” [QS. An-Nisâ` [4]: 115]

«وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ»

“Dan orang-orang yang bersegera dan pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allâh ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada-Nya, dan menyediakan untuk mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.” [QS. At-Taubah [9]: 100]

  • Dalil dari Sunnah

«خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ»

“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku (para shahabat), kemudian orang-orang setelah mereka (para tabi’in), kemudian orang-orang setelah mereka (para tabi’ut tabi’in).” [Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 2652, III/171), Muslim (no. 2533), at-Tirmidzi (no. 3859), Ibnu Majah (no. 2362), Ahmad (no. 3594), dan Ibnu Hibban (no. 7222) dalam Shahîhnya dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu]

  • Dalil dari Ucapan Ulama`

Imam al-Auza’i berkata:

عَلَيْكَ بِآثَارِ مَنْ سَلَفَ وَإِنْ رَفَضَكَ النَّاسُ، وَإِيَّاكَ وَرَأْيَ الرِّجَالِ وَإِنْ زَخْرَفُوهُ بِالْقَوْلِ

“Wajib atasmu berpegang kepada jejak kaum salaf meskipun manusia menolakmu. Waspadalah terhadap pendapat manusia, meskipun mereka menghiasinya dengan ucapan yang indah.” [Diriwayatkan al-Baihaqi (no. 233, I/199) dalam as-Sunan al-Kubrâ, Ibnu Abdil Barr (no. 2077) dalam al-Jâmi’, dan adz-Dzahabi (VII/120) dalam as-Siyar]

Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) berkata:

أُصُولُ السُّنَّةِ عِنْدَنَا: التَّمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالِاقْتِدَاءُ بِهِمْ، وَتَرْكُ الْبِدَعِ وَكُلُّ بِدْعَةٍ فَهِيَ ضَلَالَةٌ

“Prinsip sunnah menurut kami adalah berpegang teguh dengan apa yang dijalani para shahabat Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meneladani mereka, serta meninggalkan bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” [Syarhul Ushûl (no. 317, I/176) oleh al-Lalika`i]

Hal ini dikarenakan para shahabat belajar langsung kepada Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau benar-benar membimbing mereka dengan sebaik-baik bimbingan. Juga mereka adalah kaum yang paling tahu tentang tafsir al-Qur`an dan ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selamat dari kesesatan.[AZ]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*