harta

Sekilas Tentang Perserikatan Usaha (Syirkah)

Abu Zakariya Sutrisno, ST., M.Sc. Fiqih 0 Comments

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah pada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat serta pengikutnya.

Seiring berkembangnya zaman semakin banyak bentuk usaha dan beragam pula transaksi bisnis yang dilakukan manusia. Sebelum melakukan usaha, seorang muslim perlu mengetahui hukum yang berkaitan dengan perserikatan usaha (syirkah) agar terhindar dari perselisihan dan perkara yang diharamkan.

Hukum Perserikatan

Perserikatan (syirkah) dalam bisnis dan yang lainnya hukumnya ja’iz(diperbolehkan) sesuai dalil dari Al Qur’an dan Sunnah. Allah berfirman,

وَإِنَّ كَثِيراً مِّنْ الْخُلَطَاء لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَّا هُمْ

Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini” (QS Shaad: 24)

Ayat yang mulia diatas menunjukkan diperbolehkannya perserikatan dan dilarangnya kedzoliman di dalamnya. Adapun dalil dari As Sunnah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berkata, “Aku adalah pihak ketiga bagi dua orang yang melakukan perserikatan, selama salah seorang diantara mereka tidak berkhianat kepada yang lainnya. Apabila diantara mereka ada yang berkhianat, maka Aku akan keluar dari mereka” [HR Abu Dawud 3383]

Macam Perserikatan

Perserikatan terbagi menjadi dua:

Pertama: perserikatan kepemilikan (syirkatul amlak)

Yaitu perserikatan kepemilikan atas suatu barang. Seperti perserikatan atas kepemilikan rumah, pabrik, kendaraan atau yang lainnya.

Kedua: perserikatan transaksional/kontrak (syirkatul uquud)

Perserikatan transaksional ini bisa dalam bentuk modal (mal) dan usaha (‘amal) atau bisa juga dalam bentuk usaha saja tanpa modal. Perserikatan transaksional ini ada lima jenis: syirkah ‘inan, mudharabah, syirkah wujuh,syirkah abdan, dan syirkah mufawadhah. Berikut penjelasan singkatnya.

  1. Syirkah ‘Inan

Dalam perserikatan ini dua pihak atau lebih berserikat dalam modal dan usaha. Modal dijadikan satu kemudian keduanya berusaha atau bekerja bersama-sama untuk mengembangkannya. Bisa juga modalnya bersama tetapi salah satu saja yang bekerja sehingga bagian keuntungannya lebih besar.   Ulama’ bersepakat bolehnya perserikatan seperti ini jika modalnya dalam bentuk uang (nuquud). Adapun jika modalnya berupa barang (uruudh) maka ulama berbeda pendapat tetapi yang shahih adalah diperbolehkan.

Disyaratkan untuk keabsahan syirkah ‘inan ini adanya perjanjian yang jelas tentang prosentasi pembagian keuntungan untuk masing-masing pihak (misal 40% dan 60%). Jika prosentasi pembagian keuntungan tidak jelas atau salah satu pihak mensyaratkan keuntungan tertentu (misal 1 juta) maka tidak sah. Bisa jadi salah satu pihak mendapat keuntungan tertentu sedang yang lain tidak mendapat keuntungan sama sekali sehingga menyebabkan terjadinya perselisihan.

  1. Mudharabah

Dalam mudharabah satu pihak menyediakan modal dan pihak lain melakukan usaha. Bentuk kerjasama seperti ini diperbolehkan secara ijma’ dan telah ada sejak zaman Rasulullah. Disyaratkan untuk keabsahan mudharabah adanya prosentase bagi hasil yang jelas antara pelaku usaha dan pemodal. Kadar atau prosentase bagi hasil tergantung kesepakatan kedua belah pihak.

Diperbolehkan membatasi akad mudharabah dengan waktu tertentu seperti satu tahun atau dua tahun. Tidak boleh pelaku usaha melakukan mudharabah dengan orang lain yang mana hal tersebut dapat mendatangkan kemudharatan bagi pemodal pertama kecuali dengan izinnya. Tidak boleh pelaku usaha menggunakan uang modal untuk keperluan safar (transportasi) atau yang lainnya kecuali jika ada perjanjian dengan pemilik modal untuk itu. Pelaku usaha adalah orang yang dipercaya (amin) maka hendaknya dia bertaqwa kepada Allah dan besikap amanah dalam usaha yang ia lakukan.

  1. Syirkah Wujuh

Dua orang atau lebih berserikat untuk membeli barang dengan berhutang (atau kredit) kemudian menjualnya kembali dan keuntungan yang didapat dibagi diantara mereka. Disebut dengan syirkah wujuh (wajah/kedudukan) karena sebenarnya mereka tidak memiliki modal sendiri, mereka mengandalkan reputasi dan keahlian yang mereka miliki. Keuntungan yang diperoleh dibagi sesuai perjanjian yang dibuat. Rasulullah bersabda, “Seorang muslim tergantung syarat (perjanjian) yang mereka buat” [HR Abu Dawud 3594 dan Tirmidzy 1352]. Perserikatan ini mirip dengan syirkah ‘inansehingga hukumnya pun serupa.

  1. Syirkah Abdan

Dua orang atau lebih berserikat untuk melakukan pekerjaan dengan badan/keahlian mereka dan hasil yang didapat dibagi diantara mereka sesuai perjanjian. Perserikatan bentuk ini sah meskipun ada perbedaan dalam keahlian atau perkerjaan yang dilakukan seperti seorang penjahit beserikat dengan seorang tukang cukur.

  1. Syirkah Mufawadhoh

Perserikatan ini menggabungkan perserikatan yang telah lewat (syirkah ‘inan, mudharabah, syirkah wujuh, dan syirkah abdan). Bentuk perserikatan seperti ini diperbolehkan karena dia menggabungkan bentuk perserikatan yang diperbolehkan. Keuntungan yang didapat dibagi bedasarkan perjanjian yang dibuat. Jika ada kerugian maka masing-masing menaggung sesuai kadar kepemilikan dalam perserikatan tersebut.

Demikian syariat Islam memberi kelonggaran untuk melakukan usaha selama dalam perkara yang mubah. Manusia diperbolehkan melakukan usaha sendirian atau bekerja sama dengan yang lainnya. Manusia diperbolehkan melakukan muammalah sesuai perjanjian yang dibuat selama perjanjian tidak mengandung unsur kecurangan atau keharaman.

Semoga tulisan singkat ini bermanfaat, tulisan ini kami ringkas dari kitabMulakhos Fiqhy karya Syaikh Dr Shaleh Al Fauzan hafidzahullah ta’ala.

Selesai ditulis di Riyadh, 12 Muharram 1437H.

Abu Zakariya Sutrisno

Dipublish ulang dari: www.ukhuwahislamiah.com

Alumni Pesma Thaybah, serta lulus T Elektro ITS tahun 2010. Lulus S2 T Elektro di King Saud University, Saudi Arabia tahun 2013, sekarang sedang menempuh pendidikan S3 di tempat yang sama.
Aktivitas keilmuan sekarang mulazamah masyaikh di Riyadh serta mengajar di Maktab Dakwah Naseem, Riyadh.
Lebih dekat dapat dilihat di website beliau ukhuwahislamiah.com dan sutrisnolink.wordpress.com.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*