ibadah bertahun-tahun

Ibadah Kita Bertahun-Tahun Apakah Diterima Allah?

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Aqidah, Fiqih, Manhaj 0 Comments

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

(( وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ))

“Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” [QS. Adz-Dzariyat [51]: 56]

Dari ayat ini, jika ada manusia yang tidak beribadah kepada Allah, maka seolah-olah dia tidak tercipta dan tidak pula hidup. Kalaupun hidup, laksana bangkai berjalan. Sebabnya tidak lain karena ia telah keluar dari tujuan diciptakannya.

Manusia berbeda-beda dalam beribadah kepada Allah, dan tidak setiap yang dianggap baik oleh manusia baik pula di sisi Allah. Maka, Dia mengutus seorang rasul kepada umat manusia agar ibadah mereka sesuai dengan apa yang diinginkan Allah Ta’ala.

Di antara manusia ada yang beribadah kepada Allah dengan didasari niat yang baik dan semangat yang tinggi dalam berislam. Hanya saja, modal mereka hanya dua ini saja. Lantas, apakah hal ini cukup dan dibenarkan dalam Islam? Agar Anda bisa menjawab sendiri pertanyaan ini, penulis bawakan dua kisah dan silahkan direnungkan dan disimpulkan.

Kisah pertama:

Dikisahkan bahwa ada seorang shahabat yang bernama Abu Bardah radhiyallahu ‘anhu menyembelih hewan kurbannya sebelum shalat ‘Id. Beliau beranggapan bahwa dengan menyembelih kambingnya lebih dini, dagingnya bisa langsung dimasak oleh keluarganya dan saat usai shalat ‘Id bisa langsung dibagikan agar bisa dinikmati. Sebab, daging kurban kaum muslimin disembelih setelah shalat ‘Id dan baru bisa dinikmati dagingnya menjelang Dhuhur, dan ini adalah masa yang lama.

Dari sini, kita mengetahui bahwa Abu Bardah radhiyallahu ‘anhu melakukan semua ini tentu dengan niat yang baik dan semangat berislam yang tinggi.

Ketika kabar ini sampai ke Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

«شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ»

“Kambingmu adalah kambing daging biasa.” [Muttafaqun ‘Alaih: Shahih al-Bukhari (no. 5556) dan Shahih Muslim (no. 1961)]

Maksudnya, kambingmu bukan kambing kurban karena tata caranya tidak sesuai dengan Sunnah, karena Sunnahnya adalah sembelihan kurban dilaksanakan setelah shalat ‘Id. Adapun menyembelih sebelum shalat ‘Id yang bukan pada waktunya, maka tidak dianggap sebagai kurban.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيَذْبَحْ أُخْرَى مَكَانَهَا، وَمَنْ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ بِاسْمِ اللَّهِ»

“Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat (‘Id), hendaklah menyembelih lagi di tempatnya. Barangsiapa yang belum menyembelih, maka menyembelihlah dengan menyebut nama Allah.” [Muttafaqun ‘Alaih: Shahih al-Bukhari (no. 985) dan Shahih Muslim (no. 1960)]

Kisah Kedua:

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkisah:

جَاءَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوْتِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِىِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا، فَقَالُوا: وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِىِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. قَالَ أَحَدُهُمْ: أَمَّا أَنَا فَإِنِّى أُصَلِّى اللَّيْلَ أَبَدًا، وَقَالَ آخَرُ: أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلاَ أُفْطِرُ، وَقَالَ آخَرُ: أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلاَ أَتَزَوَّجُ أَبَدًا. فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا، أَمَا وَاللَّهِ إِنِّى لأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّى أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّى وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى»

“Tiga orang datang ke kediaman istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menanyakan ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat diberitahu, seolah-olah mereka mengganggap ibadah beliau sedikit. Lalu mereka berkata, ‘Di mana kita dibanding Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Sungguh dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni.’ Maka orang pertama berkata, ‘Adapun aku akan shalat malam terus.’ Yang lain berkata, ‘Aku akan puasa terus dan tidak pernah absen.’ Yang lain berkata, ‘Aku menjauhi wanita dan tidak akan menikah.’ Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi mereka seraya berkata, ‘Kaliankah yang mengatakan demikian dan demikian. Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya di antara kalian. Namun, aku puasa dan juga berbuka (tidak berpuasa), shalat malam dan juga tidur, dan menikahi wanita-wanita. Barangsiapa yang tidak menyukai sunnah-Ku, maka dia bukan termasuk golonganku.’” [Muttafaqun ‘Alaih: Shahih al-Bukhari (no. 5063) dan Shahih Muslim (no. 1401). Ini lafazh al-Bukhari]

Tiga orang ini memiliki semangat yang tinggi dalam berislam. Di antara buktinya, di antara mereka ada yang selalu berpuasa sunnah dan tidak pernah absen. Yang lain selalu shalat malam dan tidak tidur. Yang lain tidak menikah agar bisa fokus ibadah.

Mereka melakukan ibadah-ibadah itu atas persangkaan dan niat yang baik berdasarkan ucapan mereka, ‘Di mana kita dibanding Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Sungguh dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni.’ Mereka beranggapan, meskipun ibadah Nabi biasa-biasa saja, hal itu sesuatu yang wajar karena beliau manusia terbaik sekaligus seorang Rasul serta dosa-dosanya yang lalu maupun yang akan datang telah diampuni. Sementara kita, tidak ada jaminan diampuni dan kita tidak tahu apakah kita akan masuk surga atau neraka. Maka, kita harus giat dalam beribadah.

Namun, ketika kabar ini sampai ke Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau tidak menyukainya. Sebab, dalam Islam tidak boleh takalluf dalam ibadah sunnah.

Dari dua kisah ini kita mengetahui bahwa beramal dan beribadah dengan niat yang baik dan semangat yang tinggi saja dalam Islam, tidaklah cukup. Namun, ia harus ditambah dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:

قَالَ الشَّيْخُ أَبُوْ مُحَمَّدٍ بِنْ أَبِي جَمْرَةَ: وَفِيْهِ أَنَّ الْعَمَلَ وَإِنْ وَافَقَ نِيَّةً حَسَنَةً لَمْ يَصِحَّ إِلاَّ إِذاَ وَقَعَ عَلَى وَفْقِ الشَّرْعِ

“Syaikh Abu Muhammad bin Abu Jamrah berkata, ‘Dalam hadits ini terpahami bahwa amal tidak sah meskipun dengan niat yang baik kecuali jika dikerjakan sesuai syari’at.” [Fathul Baari (X/17) oleh Ibnu Hajar]

Untuk itulah para ulama menjelaskan bahwa syarat diterimanya amal ada dua: ikhlas dan ittiba’/mutaba’ah. Dikatakan ikhlas jika amal itu hanya untuk Allah, dan mutaba’ah jika amal itu sesuai petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

(( الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ))

“Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan supaya menguji kalian siapakah di antara kalian yang paling baik amalnya.” [QS. Al-Mulk [76]: 2]

Redaksi ayat ini «أَحْسَنُ عَمَلًا» “yang paling ihsan amalnya” bukan «أَكْثَرُ عَمَلًا» “yang paling banyak amalnya”, maka yang menjadi perhatian Allah bukan kuantitas semata tetapi kualitas amal.

قَالَ فُضَيْلُ بْنُ عِيَّاض: ((أَحْسَنُ عَمَلاً)) أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ. الْعَمَلُ لاَ يُقْبَلْ حَتَّى يَكُوْنَ خَالِصًا صَوَابًا، الْخَالِصُ إِذَا كَانَ لِلَّهِ وَالصَّوَابُ إِذَا كَانَ عَلىَ السُّنَّةِ

Fudhail bin Iyyadh berkata, “«أَحْسَنُ عَمَلًا» maksudnya yang paling ikhlas dan benar. Amal tidak akan diterima hingga ikhlas lagi benar. Dikatakan ikhlas jika hanya untuk Allah dan dikatakan benar jika sesuai sunnah.” [Tafsir al-Baghawi (VIII/173)]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Inti agama ada dua pokok, yaitu kita tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan kita tidak menyembah Allah subhanahu wa ta’ala kecuali dengan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan dan tidak mengada-ngada.” [Kitab Tauhid Jilid Satu (hal. 86) oleh Syaikh Shalih al-Fauzan cet. Darul Haq. Lihat al-Ubudiyyah (hal. 103), Majmuu’atut Tauhid (hal. 645)]

Amal yang didasari dengan dua syarat inilah yang diterima Allah, dan sebagai pelengkapnya Allah akan mengampuni mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

(( أُولَئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجَاوَزُ عَنْ سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ ))

“Mereka itulah orang-orang yang Kami terima amalperbuatan mereka yang ihsan, dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka. Mereka berada di surga sebagai janji yang benar yang dijanjikan kepada mereka.” [QS. Al-Ahqaf [46]: 16]

Saudaraku hafizhakumullah

Dalam sehari semalam, minimal 17 kali kita memohon kepada Allah agar dijauhkan dari orang-orang yang sesat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

(( اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (٦) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ))

“Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu, jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat bukan orang-orang yang Engkau murkai dan tidak pula orang-orang yang sesat.” [QS. Al-Fatihah [1]: 6-7]

Siapakah yang dimaksud orang-orang yang sesat? Mereka adalah orang-orang Nasrani yang beramal tanpa ada petunjuknya dari Nabi ‘Isa ‘alaihis salam sehingga mereka divonis Allah sebagai orang yang sesat.

Di antara ritual ibadah mereka yang tidak pernah diajarkan Nabi ‘Isa ‘alaihis salam adalah kerahiban/kependetaan. Mereka mengasingkan diri ke gereja atau biara untuk fokus ibadah dengan menjauhi manusia, makanan lezat, dan tidak menikah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

(( وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ ))

“Dan mereka mengadakan kerahiban padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka. Tetapi (mereka sendiri yang mengada-ngadakannya) untuk mencari keridhaan Allah.” [QS. Al-Hadid [57]: 27]

Di sini Allah yang Mahatahu mengabarkan bahwa motif kerahiban mereka adalah untuk mencari ridha Allah, dan tentunya dilakukan dengan niat yang baik dan semangat yang tinggi dalam beragama.

قَالَ قَتَادَةُ: الرَّهْبَانِيَّةُ الَّتِي ابْتَدَعُوْهَا رَفْضُ النِّسَاءِ وَاتِّخَاذُ الصَّوَامِعِ

Qatadah berkata, “Kerahiban yang diada-adakan mereka adalah menjauhi wanita dan mengurung diri di biara-biara.” [Tafsir al-Qurthubi (XVII/263)]

Tentang kesudahan orang Nasrani ini, Allah mengabarkan dalam sebuah surat-Nya:

(( هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ (١) وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ (٢) عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ (٣) تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً (٤) تُسْقَى مِنْ عَيْنٍ آنِيَةٍ (٥) لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلَّا مِنْ ضَرِيعٍ (٦) لَا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ ))

Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan? Banyak muka pada hari itu tunduk terhina karena banyak beramal lagi kepayahan, mereka memasuki api yang sangat panas, diberi minum dari sumber yang sangat panas. Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar. [QS. Al-Ghasyiyah [88]: 1-7]

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Firman Allah «عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ» ‘karena banyak beramal lagi kepayahan’ maksudnya orang-orang Nasrani.” [Tafsir Ibnu Katsir (VIII/385)]

أَبُوْ عِمْرَانَ الْجَوْنِي يَقُوْلُ: مَرَّ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِدَيْرِ رَاهِبٍ فَنَادَاهُ: ياَ رَاهِبُ! فَأَشْرَفَ. فَجَعَلَ عُمَرُ يَنْظُرُ إِلَيْهِ وَيَبْكِي. فَقِيْلَ لَهُ: ياَ أَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْنَ، مَا يُبْكِيْكَ مِنْ هَذَا؟ قَالَ: ذَكَرْتُ قَوْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي كِتَابِهِ: ((عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً)) فَذَاكَ الَّذِي أَبْكَانِي

Abu Imran al-Jauni berkata, “Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu melewati seorang pendeta lalu dia menyapanya, ‘Hai Pendeta!’ lantas pendeta itu menoleh. Maka, Umar pun menatapnya dan menangis. Ditanyakan kepadanya, ‘Wahai Amirul Mu’minin, apa yang menyebabkanmu menangis?’ Dia menjawab, ‘Aku teringat firman Allah Azza wa Jalla di Kitab-Nya ‘Karena banyak beramal lagi kepayahan, kelak mereka memasuki api yang sangat panas’ itulah yang membuatku menangis.’” [Ibid (VIII/385)]

Inilah gambaran orang-orang yang beribadah hanya bermodal niat yang baik dan semangat yang tinggi semata. Amal ibadah ini tertolak dan tidak diterima Allah subhanahu wa ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»

“Barangsiapa yang mengerjakan amal tanpa ada petunjuknya dari kami, maka amal itu tertolak.” [Shahih: Shahih Muslim (no. 1718)]

Kelak mereka di akhirat akan menyesal. Mereka menyesal karena waktu mereka habis saat di dunia untuk beribadah dengan tekun, capek, lelah, dan kepayahan tetapi jerih payah mereka tidak dianggap oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak mendapatkan pahala.

(( وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا ))

“Dan kami hadapkan semua amal-perbuatannya yang pernah dikerjakannya, lalu Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan.” [QS. Al-Furqan [25]: 23]

(( قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا (١٠٣) الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا ))

“Katakanlah, ‘Maukah kami kabarkan kepadamu tentang orang-orang yang merugi amal-perbuatannya? Yaitu orang-orang yang sesat usaha mereka di kehidupan dunia, sedangkan mereka menyangka bahwa telah mengerjakan ibadah yang terbaik.” [QS. Al-Kahfi [18]: 103-104]

Saudaraku hafizhakumullah

Ikhlas, hampir semua orang bisa mengusahakannya, tetapi mutaba’ah –syarat kedua diterimanya ibadah– hampir tidak ada yang bisa memenuhinya kecuali ulama dan penuntut ilmu. Sebab, mereka adalah orang-orang yang membaca dan mengkaji hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga mereka mengetahui sifat ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: sifat shalat Nabi, sifat wudhu Nabi, sifat puasa Nabi, mualamah Nabi, dan seterusnya.

Itulah mengapa ilmu di dalam Islam terpuji dan banyak keutamannya. Sampai-sampai menuntut ilmu lebih disukai ulama Salaf daripada ibadah sunnah, dan belajar satu bab ilmu lebih disukai daripada shalat sunnah 1000 rakaat.

Imam al-Bukhari membuat sebuah bab:

الْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ

“Ilmu sebelum berucap dan beramal.” [Shahih al-Bukhari (I/26)] Kemudian beliau menyebutkan dalil-dalil tentang keutamaan ilmu dan pemiliknya dari al-Qur`an, hadits, dan ucapan ulama salaf.

Maka, bergembiralah ketika Allah subhanahu wa ta’ala memilih Anda untuk menjadi seorang penuntut ilmu!!!

Ditulis oleh:

Abu Zur’ah ath-Thaybi

Surabaya, 1 April 2012

 

Referensi:

  1. Shahih al-Bukhari karya Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari al-Ju’fi (w: 256 H), Penerbit: Dar Ibnu Katsir Beirut th. 1407 H/1987 M, Tahqiq: Dr. Mushthafa al-Bagha dosen Ilmu Hadits di Fakultas Syari’ah Universitas Damaskus, 6 Jilid.
  2. Shahih Muslim karya Abul Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi (w: 261 H), Penerbit: Ihyaut Turats al-Arabi Beirut, Tahqiq: Dr. Muhammad Fuad Abdul Baqi, 5 Jilid.
  3. Tafsiru Qur`anil Adzim (Tafsir Ibnu Katsir) karya Abul Fida Ismail bin Umar bin Katsir al-Quraisy ad-Dimasyqi (w: 774 H), Tahqiq: Sami Muhammad Salamah, Penerbit: Darut Tayyibah, cet. ke-2 th. 1420 H/1999 M, 8 Jilid
  4. Ma’alimut Tanzil (Tafsir al-Baghawi) karya Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi (w: 510 H), Muhaqqiq: Muhammad Abdullah an-Namr dan Sulaiman Muslim al-Harsy, Penerbit: Darut Thayyibah, cet. ke-4 th. 1417 H/1997 M, 8 Jilid.
  5. Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari karya Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Hajar al-‘Asqalani asy-Syafi’i (w: 852 H), Penerbit: Darul Ma’rifat Beirut, cet. th. 1379 H, 13 Jilid.
  6. Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an (Tafsir al-Qurthubi) karya Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, Muhaqqiq: Ahmad al-Barduni dan Ibrahim Athfisy, Penerbit: Darul Kutub al-Mishriyyah, cet. ke-2 th. 1384 H/1964 M, 20 Juz dalam 10 Jilid.
  7. Al-Maktabah asy-Syamilah
  8. Dan Kitab Lainnya
Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*