nahwu

Enam Contoh Mengoreksi Bacaan al-Qur`an dengan Ilmu Nahwu

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Nahwu-Sharaf 0 Comments

Segala puji bagi Allah yang menurunkan al-Qur`an berbahasa Arab yang fasih, dan semoga salam dan shalawat tercurah untuk Nabi yang ummi. Waba’du:

Berikut adalah enam contoh tentang perbandingan bacaan i’rab yang benar dan yang salah dalam sebagian ayat al-Qur`an:

Pertama: QS. Al-Kafirun [109]: 2

(( قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (١) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (٢) ))

“Katakanlah, ‘Wahai orang-orang kafir! Aku TIDAK AKAN menyembah apa yang kalian sembah.’”

Seandainya lafazh «لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ» dibaca «لَأَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ» dengan lafazh laa dibaca pendek, maka artinya berubah menjadi:

“Katakanlah, ‘Wahai orang-orang kafir! SUNGGUH aku menyembah apa yang kalian sembah.’”

Penjelasan I’rab:

Yang pertama adalah laa nafi yang berfungsi meniadakan perkerjaan, sedang yang kedua adalah lam taukid yang berfungsi menguatkan atau menegaskan kalimat setelahnya.

Tanbih:

Tidak diragukan lagi bahwa arti yang kedua adalah bentuk kekufuran. Seandainya yang membaca itu disertai keyakinan yang mantap atau mengetahui kekeliruannya tetapi tetap melanggarnya, maka dikhawatirkan batal keislamannya.

Kedua: QS. Fatir [35]: 28

(( إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ))

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari kalangan hamba-hamba-Nya adalah para ulama.”

Seandainya lafazh ALLAHA dibaca ALLAHU dan ULAMAA-U dibaca ULAMAA-A,  maka artinya berubah menjadi:

“Sesungguhnya yang takut kepada para ulama dari kalangan para hamba adalah Allah.”

Penjelasan I’rab:

Lafazh Allah yang pertama menjadi maf’ul bih dengan alamat manshubnya berupa fathah, sementara lafazh Allah yang kedua menjadi fa’il dengan alamat marfu’nya berupa dhammah.

Tanbih:

Bacaan yang kedua ini adalah bacaan yang batil. Maha suci Allah dari apa yang mereka sifatkan.

Ketiga: QS. An-Nisa [4]: 164

(( وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا ))

“Dan Allah berbicara kepada Musa dengan sebenarnya.”

Seandainya lafazh ALLAHU dibaca ALLAHA, maka artinya berubah menjadi:

“Dan Musa berbicara kepada Allah dengan sebenarnya.”

Penjelasan I’rab:

Lafazh Allah yang pertama menjadi fa’il dengan alamat marfu’nya berupa dhammah, sementara lafazh Allah yang kedua menjadi maf’ul bih dengan alamat manshubnya berupa fathah. Lalu di mana maf’ul bih untuk bacaan yang pertama dan fa’il untuk bacaan yang kedua? Jawabannya adalah lafazh Musa. Musa berupa isim maqsur sekaligus isim mamnu’ minash sharfi sehingga marfu’ dan manshubnya muqaddarah (diperkirakan atau tidak mengalami perubahan harakat secara zhahir)

Tanbih:

Meskipun ini adalah makna yang benar tetapi bukan itu yang dimaksud dalam ayat. Ini tidak lain adalah bacaan kaum Mu’tazilah yang mengingkari bahwa Allah berbicara langsung dengan Musa ‘alaihis salam. Mereka mengedepankan akalnya dalam memahami ayat ini sehingga bacaannya harus dirubah. Mereka beranggapan bahwa Allah terlalu mulia untuk berbicara langsung dengan Musa ‘alaihis salam.

Adapun Ahlus Sunnah mengimani zhahir ayat bahwa Allah berbicara langsung kepada Nabi Musa ‘alaihis salam. Hal ini juga didukung oleh banyak hadits, di antaranya perkataan manusia saat di padang mahsyar kepada Nabi Musa ‘alaihis salam:

«يَا مُوسَى! أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ، فَضَّلَكَ اللَّهُ بِرِسَالَتِهِ وَبِكَلاَمِهِ عَلَى النَّاسِ، اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ! أَلاَ تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ؟»

“Hai Musa! Anda adalah Rasulullah. Allah telah memuliakan Anda dengan kerasulan dan dengan kalam-Nya atas seluruh manusia. Maka, berilah kami syafa’at kepada Rabb-mu. Tidakkah Anda melihat kesulitan kami ini?” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 4712) dan Shahih Muslim (no. 194) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Maksud “dengan kalam-Nya” adalah beliau diajak berbicara langsung oleh Allah sehingga beliau dijuluki Kalimullah “orang yang pernah diajak bicara langsung oleh Allah.”

Adapun peristiwa itu –Allahu a’lam– adalah yang disebutkan dalam ayat:

(( فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ يَا مُوسَى (١١) إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى (١٢) وَأَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى (١٣) إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي ))

“Lalu tatkala Musa mendatanginya dia diseru, “Hai Musa! Sesungguhnya Aku adalah Rabb-mu, maka lepaskanlah sandalmu. Sesungguhnya kamu berada di lembah Thuwa yang suci, dan Aku telah memilihmu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya Aku adalah Allah yang tidak ada ilah yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” [QS. Thaha [20]: 11-14]

Keempat: QS. Taubah [9]: 3

(( أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ ))

“Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik.”

Seandainya lafazh «رَسُولُهُ» dibaca «رَسُولُهِ» maka artinya akan berubah menjadi:

“Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan Rasul-Nya.”

Penjelasan I’rab:

Lafazh «رَسُولُهُ» menjadi mubtada’ yang alamat marfu’nya dhammah dan khabarnya mahdzuf (dibuang) taqdirannya adalah barii-un minhum aidhan. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (IV/103)]

Sementara bacaan «رَسُولُهِ» menjadi ma’thuf dari musyrikin dengan i’rab majrur.

Kelima: QS. Al-Maidah [5]: 6

(( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ))

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu berdiri hendak shalat, maka BASUHLAH wajahmu dan tanganmu, dan USAPLAH kepalamu dan (BASUHLAH) kakimu hingga ke mata kaki.”

Seandainya lafazh «أَرْجُلَكُمْ» dibaca «أَرْجُلِكُمْ» maka hukum kaki tidak DIBASUH tetapi cukup DIUSAP.

Penjelasan I’rab:

Bacaan pertama menjadi ma’thuf dari wa aidiyakum, sementara bacaan kedua menjadi ma’thuf dari bi ru-uusikum.

Tanbih:

Apakah dampak dari bacaan yang kedua ini? Dampaknya amat besar, yaitu diancam neraka. Tidak main-main, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang mengancamnya.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: تَخَلَّفَ عَنَّا النَّبِىُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى سَفْرَةٍ سَافَرْنَاهَا، فَأَدْرَكَنَا وَقَدْ أَرْهَقَتْنَا الصَّلاَةُ وَنَحْنُ نَتَوَضَّأُ، فَجَعَلْنَا نَمْسَحُ عَلَى أَرْجُلِنَا، فَنَادَى بِأَعْلَى صَوْتِهِ: «وَيْلٌ لِلأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ!» مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا.

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tertinggal dari kami dalam suatu safar kami. Kemudian beliau berhasil menyusul kami saat masuk waktu shalat sementara kami sedang berwudhu. Saat kami mulai MENGUSAP kaki-kaki kami, beliau berteriak dari kejauhan, “Celakalah tumit-tumit dari neraka!” sebanyak dua atau tiga kali. [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 60) dan Shahih Muslim (no. 241)]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari para shahabat yang hanya MENGUSAP kakinya karena yang benar adalah MEMBASUHNYA. Para ahli fikih mengatakan bahwa dikatakan MENGUSAP jika hanya dipercikkan air lalu diusap (al-mas-hu bit takhfif) dan dikatakan MEMBASUH jika diguyur dengan air secara merata dan sempurna (al-ghuslu bit taghlizh).

Keenam: QS. Ali Imran [3]: 6

(( هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ ))

“Dialah yang telah menurunkan kepadamu al-Kitab. Di antaranya berupa ayat-ayat muhkamat yaitu Ummul Kitab dan di antaranya pula berupa ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada penyimpangan akan mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan mencari-cari ta`wilnya. Padahal, tidak ada yang tahu ta`wilnya kecuali Allah. DAN orang-orang yang dalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman terhadapnya. Semuanya dari sisi Rabb kami dan tidak ada yang bisa mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.”

Penjelasan I’rab:

Seandainya wawu pada lafazh «وَالرَّاسِخُونَ» dijadikan wawu athaf bukan wawu ibtida`, maka akan berubah maknanya, yaitu yang mengerti ta`wil ayat-ayat mutasyabihat tidak hanya Allah tetapi juga orang-orang yang mendalam ilmunya.

Tanbih:

Tentang ayat-ayat mutasyabihat, Ibnu Katsir berkata:

وَقِيْلَ: هِيَ الْحُرُوْفُ الْمُقَطَّعَةُ فِي أَوَائِلِ السُّوَرِ، قَالَهُ مُقَاتِلٌ بِنْ حَيَّان.

“Ada yang berpendapat bahwa maksudnya adalah huruf-huruf muqatha’ah (huruf-huruf potongan/tunggal) yang berada di awal surat. Ini pendapat Muqatil bin Hayyan.” [Tafsir Ibnu Katsir (II/7)]

Uama yang menjadikan wawu di sini sebagai wawu ibtida` berpandangan bahwa ta`wil huruf-huruf muqatha’ah hanya Allah saja yang mengetahui. Sementara ulama yang menjadikannya sebagai wawu athaf berpandangan bahwa huruf-huruf muqatha’ah bisa dita`wil.

Dari dua wawu ini mana yang lebih rajih penulis tidak tahu, Allahu a’lam. Hanya saja, yang nampak bagi penulis, bacaan wawu athaf adalah bacaan yang diterima dengan alasan banyak atsar dari para shahabat yang menta`wil huruf-huruf ini.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: الم، قَالَ: أَنَا اللَّهُ أَعْلَمُ.

Dari Ibnu Abbas, dia berkata tentang makna alif lam mim, “Aku adalah Allah yang Mahatahu.” [Tafsir Ibnu Katsir (I/157)]

Segala puji bagi Allah yang karena nikmat-nikmat-Nya, amal shalih menjadi sempurna.

Selesai ditulis menjelang dini hari, 22 Sya’ban 1433 H/12 Juli 2012

Abu Zur’ah ath-Thaybi

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*