taqlid buta 2

Taklid Buta Pembawa Petaka (2)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Manhaj 0 Comments

“Sesungguhnya Allah melaknat orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (Neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka tidak memperoleh seorang pelindung pun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam Neraka, mereka berkata, “Aduhai, kiranya dahulu kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.” Dan mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.”[1]

Sekiranya mereka tidak tergesa-gesa dan berlapang dada kepada kebenaran yang datang kepada mereka, tentulah mereka akan selamat.

 “Dan Dia telah memberikan kepadamu pendengaran, penglihatan, dan hati supaya kamu bersyukur.”[2]

Mereka tidak mau mensyukuri mata, telinga, dan akal yang telah Allah I anugrahkan kepadanya. Sebab, mereka tidak memanfaatkan dan menggunakannya sebagaimana mestinya. Sehingga akibatnya, kelak mereka akan menyesal.

 “Dan mereka berkata, ‘Sekiranya kami dahulu mendengar dan menggunakan akal, tentulah kami tidak akan menjadi penghuni Neraka Sa’ir.”[3]

Rupanya penyakit ini telah menjangkiti sebagian kaum muslimin. Ketika disodorkan kepada mereka ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi `, mereka menolaknya dengan alasan tidak pernah mendengarnya sebelumnya dan tidak pernah diajarkan oleh para pendahulunya.

Ketika dikatakan kepada mereka agar membiarkan jenggotnya karena memelihara jenggot merupakan syari’at Islam, mereka menolak karena kyai, syaikh, ustadz, pemimpin, dan pembesar mereka tidak pernah mengajarkannya dan mereka tidak mendapati kyai, syaikh, ustadz, pemimpin, dan pembesarnya berjenggot. Ayat dan hadits mereka tepis dengan argumen yang amat lemah, “Kami tidak pernah mendapati ajaran ini sebelumnya dan kami hanya akan mengikuti para kyai, syaikh, dan ustadz kami yang jauh lebih pintar daripada Anda!” Fayaa subhanallah!

Di antara mereka ada yang menisbatkan diri kepada para imam yang empat. Namun, ketika dikatakan bahwa ada hadits yang menyelisihinya, mereka tetap berpegang kepada pendapatnya. Padahal para imam sendiri berlepas diri darinya.

Para imam Ahli Sunnah mewasiatkan kepada murid-muridnya dan penganut madzhabnya untuk tidak bertaklid kepada mereka. Semua wasiat mereka melahirkan kesimpulan bahwa mereka memerintahkan agar berpegang teguh kepada al-Qur’an dan as-Sunnah dan meninggalkan setiap pendapat mereka dan selainnya yang bertentangan dengan keduanya.

Imam Abu Hanifah v berkata,

إِذَا صَحَّ الْحَدِيْثُ فَهُوَ مَذْهَبِيْ.

“Apabila suatu hadits telah shahih, maka itulah madzhabku.”[4]

Imam Malik bin Anas v berkata,

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُخْطِئُ وَأُصِيْبُ فَانْظُرُوْا فِي رَأْيِيْ فَكُلُّ مَا وَافَقَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ فَخُذُوْهُ وَكُلُّ مَا لَمْ يُوَافِقِ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ فَاتْرُكُوْهُ.

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa yang bisa salah dan benar. Maka, perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapatku yang sesuai dengan al-Kitab dan as-Sunnah, maka ambillah dan setiap pendapatku yang tidak sesuai dengan al-Kitab dan as-Sunnah, maka tinggalkanlah.”[5]

Imam asy-Syafi’i v berkata,

أَجْمَعَ الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَ لَهُ سُنَّةٌ عَنْ رَسُوْلِ اللَّهِ ` لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَّدَعَهَا لِقَوْلٍ أَحَدٍ.

“Kaum muslimin telah berijma’ bahwa barangsiapa yang telah jelas baginya Sunnah Rasulullah `, maka tidak halal baginya meninggalkannya hanya karena mengikuti pendapat seseorang.”[6]

Imam Ahmad bin Hanbal v berkata,

مَنْ رَدَّ حَدِيْثَ رَسُوْلِ اللَّهِ ` فَهُوَ عَلَى شَفَا هَلَكَةٍ.

“Barangsiapa menolak hadits Rasulullah `, maka dia berada di tepi kebinasaan.”[7]

Sungguh, tidak ada kejayaan, kebahagiaa, dan kesuksesan selain menerima hadits-hadits Nabi `, lalu mempelajarinya dan memahaminya, lalu mengamalkannya, lalu mendakwakannya. Jika demikian, mereka adalah orang yang beruntung. Wallahul muwaffiq.

Akhir do’a kami adalah alhamdulillahi robbil aalamiin.

Abu Zur’ah ath-Thaybi

*diluaskan dari manuskrip khutbah pada: Jum’at, 29 April 2011 di Masjid Thaybah

[1]  QS. Al-Ahzab [33]: 64-68.

[2]  QS. An-Nahl [16]: 78.

[3] QS. Al-Mulk [67]: 10.

[4]  Al-Haasyiyah (I/63) karya Ibnu Abidin.

[5]  Jaami’ Bayanil `Ilmi wa Fadhlih (II/32) karya Ibnu Abdil Barr.

[6]  Al-‘Iiqoozh (hal. 68).

[7] Al-Manaaqib (hal. 182) karya Ibnul Jauzi.

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*