taqlid buta

Taklid Buta Pembawa Petaka (1)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Manhaj 0 Comments

Oleh: Abu Zur’ah ath-Thaybi

Siapa pun orangnya, tentu tidak ingin menderita. Baik ia orang baik ataupun orang jahat, shalih ataupun thalih. Derita yang dialami manusia di dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan di Neraka. Apalah jadinya bila seluruh api di dunia dikumpulkan jadi satu lalu dilipatkan 70 kali, lantas api itu digunakan untuk membakar kulit? Itulah api Neraka. Sungguh, celakalah orang masuk Neraka. Celakalah seseorang yang diberi sandal dari api Neraka lalu, karena sandal itu, otaknya mendidih seperti mendidihnya air di dalam periuk besar. Bahkan, itu adalah siksa paling ringan bagi penduduk Neraka.

إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا مَنْ لَهُ نَعْلَانِ وَشِرَاكَانِ مِنْ نَارٍ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ كَمَا يَغْلِ الْمِرْجَلُ مَا يَرَى أَنَّ أَحَدًا أَشَدُّ مِنْهُ عَذَابًا وَإِنَّهُ لَأَهْوَنُهُمْ عَذَابًا

Rasulullah ` bersabda, “Sesungguhnya azab penduduk Neraka yang paling ringan adalah seseorang yang dipakaikan sepasang sandal dari api yang mengakibatkan otaknya mendidih sebagaimana mendidihnya air dalam bejana. Dia menganggap bahwa tidak ada seorang pun yang siksanya lebih berat selain dirinya. Padahal, dia adalah orang yang paling ringan siksanya.”[1]

Untuk siapakah Neraka itu? Apakah ciri-ciri dan sifat-sifat penghuninya? Barangkali, tanpa kita sadari sifat-sifat dan ciri-ciri calon penduduk Neraka melekat pada diri kita! Naudhu billah, kita memohon kepada Allah I keselamatan dan berlindung dari keburukannya.

Siapa yang tidak mengetahui keburukan, maka dia akan terjatuh melakukannya. Maka, barangsiapa yang tidak mengetahui sifat, watak, dan kepribadian penduduk Neraka, maka dikhawatirkan dia akan terjerumus ke dalam sifat itu tanpa disadarinya. Kita mempelajari keburukan bukan untuk melakukannya, tetapi kita mempelajarinya agar kita terhindar darinya tatkala keburukan itu menghampiri kita. Inilah sunnah dari para pendahulu kita yang shalih. Hudzaifah bin Yaman a berkata,

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ  `عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي

“Dahulu para shahabat sering bertanya kepada Rasulullah ` tentang kebaikan-kebaikan sementara aku bertanya kepada beliau tantang keburukan karena khawatir terjerumus ke dalamnya.”[2]

Watak penduduk Neraka ketika masih hidup di dunia adalah taklid secara membabi buta. Ketika kebenaran datang kepada mereka, mereka menolaknya. Padahal kebenaran itu datang dengan jelas dan terang, sejelas putih dari hitam dan seterang siang sehingga seolah-olah malamnya seperti siangnya. Namun, tetap saja mereka menolaknya. Alasan mereka cukup sederhana, “Kami tidak pernah mendengar ajaran itu sebelumnya dan kami hanya akan mengikuti ajaran para pendahulu kami.” Begitulah argumen mereka.

 “Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah!’ Maka, mereka akan menjawab, ‘Tidak, kami hanya akan mengikuti apa yang kami dapatkan dari pendahulu-pendahulu kami.’ Apakah (mereka akan tetap mengikutinya) meskipun pendahulu-pendahulu mereka tidak berakal dan tidak mendapat petunjuk?”[3]

Mereka taklid secara membabi buta. Apa yang mereka terima dari para pendahulu mereka adalah yang paling benar. Jika ada yang menyelisinya, mereka anggap sesat. Sehingga, taklid buta ini membentengi mereka dari menerima dakwah para nabi dan rasul u.

 “Bahkan mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati para pendahulu kami menganut suatu ajaran dan kami mendapat pentunjuk dengan mengikuti jejaknya.’ Demikian pula, tidaklah Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelummu (Muhammad) pada suatu daerah melainkan orang-orang yang hidup mewah berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati para pendahulu kami menganut suatu ajaran dan kami hanya sekedar ikut-ikutan saja.’ Rasul itu berkata, ‘Apakah (kalian tetap akan mengikutinya) meskipun aku membawa ajaran yang lebih baik daripada apa yang kalian dapati dari pendahulu-pendahulu kalian?’ Mereka menjawab, ‘Kami mengingkari ajaran yang kamu diutus membawanya.’ Lalu Kami azab mereka. Maka, perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan kebenaran.”[4]

Sebenarnya, mereka hanya ikut-ikutan  dalam mengikuti ajaran para pendahulunya. Keluarganya, ibu-bapaknya, saudaranya, dan tetangganya mengikutinya, maka mereka pun mengikutinya pula. Meskipun mereka tidak mempunyai hujjah yang nyata, argumen yang kuat, dan bashirah yang jelas.

Di antara pemicu, mengapa mereka tetap berpegang kepada kesesatan adalah fanatik kepada suatu ajaran, golongan, pendahulu, dan pemimpin mereka. Mereka tidak menghiraukan kebenaran yang datang kepada mereka.

Dalam sejarah Islam, tersebut bahwa Abu Thalib sangat berjasa ketika awal-awal Islam muncul. Pengorbanan dan pembelaannya kepada Nabi ` amatlah besar. Dia juga meyakini tentang kebenaran Islam yang dibawa oleh keponakannya. Tanda-tanda kenabian yang terdapat di Kitab Samawi, ia dapatkan di diri Muhammad `. Prilaku dan keyakinannya sudah menunjukkan keimanan dan pembelaannya kepada Nabi `. Namun, dia enggan mengucapkan syahadat. Sebab, mengucapkan kalimat itu berarti menvonis sesat para pendahulunya.

Kefanatikannya mengalahkan akalnya yang sehat. Apa yang dia dapati dari pendahulunya, itulah kebenaran yang harus dipegang dengan kokoh. Apa yang menyelisihinya adalah sesat. Inilah yang dipahami oleh Abu Thalib meskipun hatinya mengingkarinya.

Ketika Abu Thalib sedang sakarat, Nabi ` menjenguknya dan menawarkan Islam kepadanya.

Nabi ` berkata kepadanya,

أَيْ عَمِّ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ

“Wahai Paman, ucapkanlah laa ilaaha illallah, yaitu sebuah kalimat yang akan aku gunakan untuk membelamu kelak di hadapan Allah!”

Ketika itu, Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah ada di dekat Abu Thalib. Mereka membantah Nabi ` dan meyakinkan Abu Thalib agar tidak menghiraukan seruan Nabi `. Mereka berkata,

يَا أَبَا طَالِبٍ تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ؟

“Wahai Abu Thalib! Apakah engkau membenci agama Abdul Muththalib?”

Mereka terus-menerus mengatakan itu hingga akhirnya Abu Thalib meninggal di atas agama pendahulunya.

Abu Thalib enggan masuk Islam karena fanatik kepada ajaran para pendahulunya, khususnya ayahnya sendiri yaitu Abdul Muththalib. Padahal, dia meyakini bahwa ajaran yang dibawa keponakannya adalah ajaran wahyu yang tidak lain adalah kebenaran. Bahkan, dia buktikan itu dengan sikap dan prilakunya. Dia membela Nabi ` dan dakwahnya. Dia tidak membiarkan seorang pun menyakitinya. Namun pada akhirnya, dia termasuk orang yang divonis masuk Neraka karena kefanatikannya.

Balasan bagi orang-orang yang bertaklid buta yang menolak kebenaran adalah buah zaqqum, minuman dari air yang mendidih, dan Neraka Jahim. Sungguh, amat buruk kesudahan mereka.

 “Hidangan bagi penduduk Surga yang lebih baik ataukah pohon zaqqum? Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim. Mayangnya seperti kepala setan-setan. Mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. Kemudian, sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke Neraka Jahim. Hal itu dikarenakan mereka mendapati para pendahulu mereka dalam keadaan sesat. Lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jejak para pendahulu mereka itu.[5]

Setelah azab di depan mata, baru mereka sadar akan kecerobohan mereka sewaktu di dunia. Andaikata mereka bisa dikembalikan ke dunia, mereka berjanji akan beramal shalih dan mengikuti kebenaran serta menjauhi para pemimpin dan pembesar yang dahulunya menyesatkan mereka. Namun, itu hanyalah angan-angan yang tidak mungkin terwujud. Oleh karena itu, mereka berputus asa sehingga mencaci para pendahulunya dan meminta kepada Allah agar ditimpakan azab kepada mereka dua kali lipatnya.

[1] Mukhtashar Shahih Muslim (no. 1987).

[2] Shohih al-Bukhari (no. 6557).

[3] QS. Al-Baqarah [2]: 170.

[4]  QS. Az-Zukhruf [43]: 22-24.

[5]  QS. Ash-Shaffat [37]: 62-70.

Bersambung…

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*