ahlussunnah

Ragam Nama Ahlus Sunnah

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Manhaj 0 Comments

Berdasarkan banyak dalil dan riwayat ternyata Ahlus Sunnah memiliki banyak nama semenjak zaman. Mengenal hal ini adalah penting, karena hanyak kelompok ini saja yang direkomendasikan Nabi dan terbebas dari kesesatan dan neraka. Siapa saja nama mereka?

 

  • Ahlus Sunnah wal Jamaah

Mereka dinamakan Ahlus Sunnah karena mereka berpegang kepada sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ciri-ciri mereka adalah selalu mengkaji dan mempelajari sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mewujudkannya dalam keyakinan, ucapan, dan amal mereka. Mereka dinamakan Ahlus Sunnah wal Jamaah karena mereka berpegang kepada sunnah Nabi dan sunnah jamaah kaum muslimin Muhajirin dan Anshar, berdasarkan hadits lalu tentang satu golongan yang selamat:

«الْجَمَاعَةُ»

  • Firqah Najiyah

Mereka disebut firqah najiyah (kelompok yang selamat) karena kelompok mereka satu-satunya yang akan selamat dari kesesatan dan neraka, berdasarkan hadits iftiraqul ummah (perpecahan umat) di muka:

«وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ»

Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sungguh benar-benar umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, 1 di surga dan 72 di neraka.”

  • Thaifah Manshurah

Mereka disebut thaifah manshurah (kelompok yang ditolong) karena mereka mendapat jaminan pertolongan Allâh hingga hari Kiamat meskipun jumlahnya sangat sedikit, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

«لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ مَنْصُورَةٌ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللّٰهِ»

“Akan senantiasa ada sekelompok umatku di atas kebenaran yang manshurah (ditolong) hingga datang perintah Allâh (hari Kiamat).” [Shahih: HR. Ibnu Hibban (no. 6714, XV/110) dalam Shahîhnya, al-Baihaqi (no. 18617) dalam as-Sunan al-Kubrâ, dan Ibnu Abdil Barr (no. 2246) dalam al-Jâmi’ dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu. Dinilai shahih oleh al-Albani (IV/252, 1957) dalam as-Shahîhah dan al-Arna`uth seraya berkata, “Sesuai syarat Muslim.” Hadits ini muttafaqun ‘alaih diriwayatkan al-Bukhari Muslim dan lainnya secara shahih tanpa “manshurah” dengan sedikit perbedaan redaksi]

  • Ghuraba

Mereka disebut ghuraba (orang-orang terasing) karena mereka mengamalkan sunnah dan ajaran Islam sesungguhnya yang sudah ditinggalkan dan dilupakan manusia sehingga mereka tampak aneh dan asing di mata manusia, berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

«بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»

“Islam asing saat kedatangannya pertama kali dan akan kembali asing sepeti awalnya, maka beruntunglah orang-orang terasing tersebut.” [Shahih: HR. Muslim (no. 145, I/130), Ibnu Majah (no. 3986), Ahmad (no. 9054) dalam Musnadnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Dalam riwayat lain ada tambahan:

قِيلَ: يَا رَسُولَ اللّٰهِ، وَمَنِ الْغُرَبَاءُ؟ قَالَ: «الَّذِينَ يُصْلِحُونَ عِنْدَ فَسَادِ النَّاسِ»

“Ditanyakan, ‘Wahai Rasûlullâh, siapakah orang-orang terasing itu?’ Beliau menjawab, ‘Orang-orang yang mengadakan perbaikan saat manusia telah rusak.’” [HR. Ibnu Baththah (no. 32, I/196) dalam al-Ibânah dan al-Lalika`i (no. 174) dalam Syarhul Ushûl. Boleh pula dibaca “yashluhûna” artinya orang-orang shalih]

  • Atsari

Mereka disebut atsari (pengikut jejak) karena mereka mengikuti jejak-jejak pendahulunya: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para shahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan para ulama` dari zaman ke zaman yang mengikuti mereka dengan baik. Penamaan ini ada dasarnya, sebagaimana ucapan kaum salaf di muka dan lainnya.

Imam al-Baihaqi (w. 458 H) berkata:

لَنْ يَصِحَّ لَهُ مَعَانِي الْقُرْآنِ إِلَّا بِالْآثَارِ وَالسُّنَنِ، وَلَا مَعَانِي السُّنَنِ وَالْآثَارِ إِلَّا بِأَخْبَارِ الصَّحَابَةِ، وَلَا أَخْبَارُ الصَّحَابَةِ إِلَّا بِمَا جَاءَ عَنِ التَّابِعِينَ

“Makna-makna al-Qur`an tidak akan benar baginya kecuali dengan atsar-atsar dan sunnah-sunnah, dan tidak akan benar makna-makna sunnah dan atsar kecuali dengan penjelasan para shahabat, dan tidak ada penjelasan para shahabat kecuali dengan apa yang datang dari para tabi’in.” [Syu’abul Imân (III/187) oleh al-Baihaqi]

  • Salafi

Mereka disebut salafi (pengikut pendahulu) karena mereka mengikuti pendahulu mereka yang shalih (salafush shalih), yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para shahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan para ulama` dari zaman ke zaman yang mengikuti mereka dengan baik. Penamaan ini masyhur digunakan oleh para ulama` zaman dahulu, seperti ucapan Ibnul Mubarak yang diriwayatkan Imam Muslim dalam muqaddimah kitab Shahîhnya:

دَعُوا حَدِيثَ عَمْرِو بْنِ ثَابِتٍ، فَإِنَّهُ كَانَ يَسُبُّ السَّلَفَ

“Tinggalkanlah hadits ‘Amr bin Tsabit karena dia mencaci kaum salaf.” [Shahîh Muslim (I/16). Yang dimaksud kaum salaf di sini oleh Ibnul Mubarak adalah para shahabat radhiyallahu ‘anhum atau tabi’in senior, karena Ibnul Mubarak generasi tabi’in yang wafat tahun 181 H]

Oleh karena itu, diperbolehkan bagi siapapun dari kaum muslimin menisbatkan dirinya kepada salah satu dari nama-nama tersebut, bahkan sebagian ulama` mewajibkan bernisbat kepada salafi seperti Syaikhul Islam dalam ucapannya:

لَا عَيْبَ عَلَى مَنْ أَظْهَرَ مَذْهَبَ السَّلَفِ وَانْتَسَبَ إلَيْهِ وَاعْتَزَى إلَيْهِ، بَلْ يَجِبُ قَبُولُ ذَلِكَ مِنْهُ بِالِاتِّفَاقِ. فَإِنَّ مَذْهَبَ السَّلَفِ لَا يَكُونُ إلَّا حَقًّا

“Bukanlah aib bagi orang yang menampakkan madzhab salaf, dan menisbatkan dirinya kepadanya. Bahkan, wajib menerimanya berdasarkan kesepakatan (para ulama`),  karena madzhab salaf tidak lain kecuali kebenaran.” [Majmu’ Fawâtâ (IV/149) oleh Syaikhul Islam]

Boleh –bahkan wajib– seseorang mengatakan saya pengikut ahlus sunnah, firqah najiyah, thaifah manshurah, ghuraba, atau saya seorang atsari atau salafi. Namun, pengakuan tidaklah dianggap tanpa adanya bukti. Kalau sekedar pengakuan, maka semua orang menyatakan memiliki hubungan dengan Laila tetapi hanya Qais seorang yang diakui oleh Laila. Allâh berfirman:

«قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ»

“Katakanlah, ‘Datangkanlah bukti kalian, jika kalian memang jujur.’” [QS. Al-Baqarah [2]: 111]

Oleh karena itu, janganlah Anda mengukur manhaj (Metode atau cara. Menjadikan sesuatu sebagai manhaj artinya menjadikannya sebagai pedoman hidup) salaf dengan orang-orang yang mengaku “Saya salafi” karena mereka manusia biasa yang terkadang salah, keliru, dan cerobah. Kesalahan, kekeliruan, dan kecerobohan sebagian mereka tidak akan menggugurkan manhaj salaf sebagai satu-satunya pedoman jalan hidup yang selamat dan ditolong. Kadar pengakuan mereka sesuai dengan kadar ittiba’ mereka dalam mengikuti Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum.[AZ]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*