tiang

Hukum Shalat Makmum Terpisah di Antara Dua Tiang Masjid: Makruh

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Fiqih 0 Comments

‘Abdul Hamid bin Mahmud menceritakan, “Kami shalat di belakang penguasa [pada hari Jumat] dan manusia mendesak kami sehingga kami shalat di antara dua tiang masjid [kami satu sama lain maju mundur (tidak lurus shafnya)]. Setelah kami shalat, Anas merespon:

«كُنَّا نَتَّقِي هَذَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»

“Kami dahulu menghindari ini di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 229, I/443), Abu Dawud (no. 673), dan an-Nasa`i (no. 821). Dinilai shahih al-Albani dan dalam kurung dari Abu Dawud]

Penjelasan ‘Ulama

Menyikapi hadits ini, mereka terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu yang menilainya makruh dan yang lain menilainya tidak terlarang.

Imam at-Tirmidzî berkata:

وَقَدْ كَرِهَ قَوْمٌ مِنْ أَهْلِ العِلْمِ: أَنْ يُصَفَّ بَيْنَ السَّوَارِي، وَبِهِ يَقُولُ أَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ، وَقَدْ رَخَّصَ قَوْمٌ مِنْ أَهْلِ العِلْمِ فِي ذَلِكَ

“Sekelompok ahli ilmu menilai makruh membuat shaf di antara tiang-tiang dan ini dipegang Ahmad dan Ishaq, tetapi sekelompok ahli ilmu lain memberi keringanan dalam masalah ini.” [Al-Jâmi’ (I/443)]

Yang menilai makruh adalah Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih, Ibrahim bin Yazid An-Nakha’i, dan beberapa shahabat. Dan pendapat ini banyak dikuatkan oleh para ahli tahqiq seperti asy-Syaukani dan al-Albani rahimahumullah ta’ala.

Sementara yang menilai ada keringanan (boleh) adalah  pendapat Abu Hanifah, Malik, dan asy-Syafi’i, Ibnul Mundzir dan diriwayatkan dari Hasan al-Bashri, Ibnu Sirin, Ibrahim at-Taimi, Sa’id bin Jubair, Suwaid bin Ghaflah, dan pendapat orang-orang Kufah.

Kelompok yang membolehkan ini berdalil dengan hadits shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di dalam Ka’bah di antara dua tiang. Ibnu ‘Umar bertanya kepada Bilal yang menemani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam Ka’bah:

أَصَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الكَعْبَةِ؟ قَالَ: «نَعَمْ، رَكْعَتَيْنِ، بَيْنَ السَّارِيَتَيْنِ اللَّتَيْنِ عَلَى يَسَارِهِ إِذَا دَخَلْتَ، ثُمَّ خَرَجَ، فَصَلَّى فِي وَجْهِ الكَعْبَةِ رَكْعَتَيْنِ»

“Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di dalam Ka’bah?” Dia menjawab, “Ya. Dua rakaat di antara dua tiang yang berada di samping kiri beliau saat masuk. Kemudia beliau keluar lalu shalat menghadap arah Ka’bah dua rakaat.” [HR. Al-Bukhari (no. 397, I/88)]

Pendapat ini dibantah, bahwa hadits ini berbicara tentang shalat sendirian bukan jamaah. Yang terlarang shalat di antara dua tiang adalah shalat jamaah bagi makmum. Inilah yang benar. Sehingga jelaslah bahwa letak perbedaan ini terjawab dengan penjelasan ini.

Syaraful Haq Abadi menjelaskan:

وَأَمَّا حَدِيثُ الْبَابِ فَفِيهِ النَّهْيُ عَنْ مُطْلَقِ الصَّلَاةِ بَيْنَ السَّوَارِي فَيُحْمَلُ الْمُطْلَقُ عَلَى الْمُقَيَّدِ، وَيَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ صَلَاتُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ السَّارِيَتَيْنِ، فَيَكُونُ النَّهْيُ عَلَى هَذَا مُخْتَصًّا بِصَلَاةِ الْمُؤْتَمِّينَ بَيْنَ السَّوَارِي دُونَ صَلَاةِ الْإِمَامِ وَالْمُنْفَرِدِ، وَهَذَا أَحْسَنُ مَا يُقَالُ، وَمَا تَقَدَّمَ مِنَ الْقِيَاسِ عَلَى الْإِمَامِ وَالْمُنْفَرِدِ فَاسِدُ الِاعْتِبَارِ لِمُصَادَمَتِهِ لِلْأَحَادِيثِ، هَذَا تَلْخِيصُ مَا قَالَ الشَّوْكَانِيُّ فِي النَّيْل

“Dalam hadits Anas ini terdapat larangan secara mutlaq shalat di antara tiang-tiang. Yang muthlaq ini dibawa ke muqayyad. Yang menunjukkan hal ini adalah shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara dua tiang. Oleh karena itu, larangan ini khusus untuk shalatnya makmum bukan shalatnya imam dan munfarid. Inilah pendapat yang paling baik, sementara mengqiyaskan imam dan munfarid adalah qiyas yang rusak karena bertentangan dengan hadits-hadits. Inilah ringkasan yang disampaikan oleh asy-Syaikani dalam Nailul Authâr.” [‘Aunul Ma’bûd (II/262) olehnya]

Tanbih:

Mereka sepakat bahwa tidak masalah shalat di antara tiang jika diperlukan, seperti jamaah shalat banyak sehingga akan terdesak ke luar masjid jika tidak merapat ke tiang.

Hikmah Pelarangan

  1. Karena hal itu manjadikan shaf terputus, sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menekankan akan shaf shalat dalam sabdanya:

«أَقِيمُوا الصُّفُوفَ وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسُدُّوا الْخَلَلَ وَلِينُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ وَلَا تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللَّهُ، وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللَّهُ»

“Luruskanlah shaf-shaf dan rapatkanlah pundak-pundak serta tutuplah celah-celah dengan lembut terhadap tangan saudara-saudara kalian. Janganlah kalian meninggalkan celah bagi setan. Siapa yang menyambung shaf maka Allah akan menyambungnya dan siapa yang memutus shaf maka Allah akan memutusnya.” [Shahih: HR. Abu Dawud (no. 666, I/178), Ahmad (no. 5724), dan al-Baihaqi (no. 5186) dalam al-Kubrâ dari Abu Syajarah radhiyallahu ‘anhu. Dinilai shahih al-Albani]

Dalam hadits ini terdapat ancaman bagi yang shalat di antara tiang dengan sengaja karena berarti memutus shaf.

  1. Syaraful Haq Abadi menjelaskan karena tiang masjid biasanya tempat menaruh sandal-sandal yang biasanya kotor.
  2. Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa tiang masjid tempat shalat jin beriman.

Kesimpulan

Makmum dilarang shalat di antara dua tiang atau tiang-tiang masjid, kecuali jika diperlukan karena darurat maka ini diperbolehkan. Adapun imam atau munfarid diperbolehkan. Allahu a’lam. [AZ]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*