minum berdiri

Hukum Makan dan Minum Sambil Berdiri

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Adab, Fiqih 0 Comments

Hukum makan dan minum sambil berdiri hukumnya makruh tanzih, yaitu boleh. Bahkan, makan sambil berjalan pun boleh. Hanya saja makan dan minum sambil duduk lebih utama, menjaga muru’ah, dan menjaga kesehatan. Adapun perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dimaksudkan untuk menjelaskan hukum, bukan meninggalkan yang lebih afdhal.

Di sana ada dua nash yang zhahirnya saling bertentangan, yang satu melarang makan dan minum sambil berdiri dan nash lainnya membolehkannya.

Dalil Larangan

Dari Qatadah, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

«أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَجَرَ عَنِ الشُّرْبِ قَائِمًا»

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang minum sambil berdiri.” [HR. Muslim (no. 2024, III/1600)]

Bahkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan dimuntahkan jika ingat, berdasarkan sabda beliau:

«لَا يَشْرَبَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ قَائِمًا، فَمَنْ نَسِيَ فَلْيَسْتَقِئْ»

“Jangan salah seorang dari kalian minum sambil berdiri, barangsiapa yang lupa hendaklah memuntahkannya (saat ingat).” [HR. Muslim (no. 2026, III/1601) dan Abu ‘Awanah (V/151)]

Dalil Pembolehan

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

«سَقَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ زَمْزَمَ، فَشَرِبَ وَهُوَ قَائِمٌ»

“Aku memberi minum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam air zamzam lalu beliau meminumnya dalam keadaan berdiri.” [Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 1637, II/156) dan Muslim (no. 2027). Namun ‘Ikrimah (murid Ibnu ‘Abbas) bersumpah bahwa beliau bukan berdiri tetapi saat naik keledai. Tetapi hadits shahih lain, Ibnu ‘Abbas menyatakan beliau minum sambil duduk dan kadang sambil berdiri]

Para shahabat pun mengamalkan ini dalam rangka mengajari umat, bahkan makan sambil berjalan. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:

«كُنَّا نَأْكُلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَمْشِي، وَنَشْرَبُ وَنَحْنُ قِيَامٌ»

“Kami makan di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan berjalan dan kami minum dengan berdiri.” [Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 1880, IV/300) dan Ibnu Majah (no. 3301). Dinilai shahih al-Albani]

Penjelasan Ulama

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Ashqalani (w. 852 H) menjelaskan:

الصَّوَابُ أَنَّ النَّهْيَ فِيهَا مَحْمُولٌ عَلَى التَّنْزِيهِ، وَشُرْبُهُ قَائِمًا لِبَيَانِ الْجَوَازِ، وَأَمَّا مَنْ زَعَمَ نَسْخًا أَوْ غَيْرَهُ فَقَدْ غَلِطَ، فَإِنَّ النَّسْخَ لَا يُصَارُ إِلَيْهِ مَعَ إِمْكَانِ الْجَمْعِ لَوْ ثَبَتَ التَّارِيخُ، وَفِعْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِبَيَانِ الْجَوَازِ لَا يَكُونُ فِي حَقِّهِ مَكْرُوهًا أَصْلًا، فَإِنَّهُ كَانَ يَفْعَلُ الشَّيْءَ لِلْبَيَانِ مَرَّةً أَوْ مَرَّاتٍ وَيُوَاظِبُ عَلَى الْأَفْضَلِ، وَالْأَمْرُ بِالِاسْتِقَاءَةِ مَحْمُولٌ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ، فَيُسْتَحَبُّ لِمَنْ شَرِبَ قَائِمًا أَنْ يَسْتَقِيءَ لِهَذَا الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ الصَّرِيحِ، فَإِنَّ الْأَمْرَ إِذَا تَعَذَّرَ حَمْلُهُ على الوجوب حُمِلَ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ

“Yang benar adalah larangan di sini dibawa ke makruh tanzih sementara perkara beliau minum sambil berdiri untuk menjelaskan akan kebolehannya. Siapa yang menyangka telah di naskh (hukumnya dihapus) atau lainnya maka dia telah keliru, karena naskh tidak berlaku jika masih bisa dijama’ (hadits-hadits dikumpulkan lalu dipilih jalan tengah), meskipun tarikhnya (peristiwa dalil yang dahulu dan terakhir) telah diketahui. Perbuatan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut untuk menjelaskan kebolehannya, bukan beliau melakukan perkara makruh, karena beliau melakukan sesuatu untuk menjelaskan itu hanya sekali atau beberapa kali saja, dan beliau juga meruntinkan sesuatu untuk tujuan afdhaliyah (yang lebih utama). Adapun perintah untuk memuntahkan dibawah kepada makna istihbab (sunnah). Maka siapa yang minum sambil berdiri disunnahkan untuk memuntahkannya berdasarkan hadits shahih sharih ini, karena perintah yang tidak mungkin dibawa ke hukum wajib dibawa ke hukum istihbab.” [Fathul Bârî (X/ 83)]

Senada disampaikan oleh al-Mubarakfuri, Syaikh ‘Abdul Muhsin al-Badr, Syaikh Bin Baz, dan Syaikh al-‘Utsaimin.

Faidah

Anjuran tidak makan dan minum sambil berdiri adalah untuk kemaslahatan orang tersebut maupun kebaikan kesehatannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«لَوْ يَعْلَمُ الَّذِي يَشْرَبُ وَهُوَ قَائِمٌ مَا فِي بَطْنِهِ لَاسْتَقَاءَهُ»

“Seandainya orang yang minum sambil berdiri tahu apa (penyakit/mudharat) yang (terjadi) di dalam perutnya, pasti dia akan memuntahkannya.” [Shahih: HR. Al-Baihaqi (no. 14643, VII/460) dan Ahmad (no. 7808) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Al-Arna`uth menyatakan sanad Ahmad dhaif tetapi sanad al-Baihaqi shahih]

Kesimpulan

Hukum asal makan dan minum adalah sambil duduk, tetapi bagi yang memiliki keperluan atau uzur diperbolehkan sambil berdiri, begitu juga sambil berjalan. Makan dan minum sambil berdiri merusak kesehatan. Makan dan minum sambil duduk bisa mendatangkan pahala. Allahu a’lam.[AZ]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*