isbal

Hukum Celana Cingkrang atau Menggantung (2)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Fiqih, Manhaj 0 Comments

Musykilah

Di antara ulama` ada yang berpendapat jika isbal karena sombong maka haram tetapi jika isbal tanpa sombong maka makruh. Ini pendapat Imam an-Nawawi. Dari sini telah nampak bahwa tidak ada satupun ulama` yang berselisih pendapat akan keharaman isbal karena sombong, mereka hanya berselisih untuk hukum isbal tanpa sombong. Ucapan sebagian mereka “jika isbal tanpa sombong maka makruh” menunjukkan yang terbaik adalah tidak isbal untuk menjauhkan diri dari perkara makruh, yakni dibenci Allâh. Hanya saja, pendapat dibolehkannya isbal tanpa sombong adalah lemah, karena isbal sendiri merupakan kesombongan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

«وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ، فَإِنَّهَا مِنَ المَخِيلَةِ وَإِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ»

“Hendaklah kamu menjauhi isbal dalam kain karena isbal adalah kesombongan. Sesungguhnya Allâh tidak menyukai orang yang sombong.” [Shahih: HR. Abu Dawud (no. 4084, IV/56), Ahmad (no. 20635) dalam Musnadnya, Ibnu Hibban (no. 521) dalam Shahîhnya dari Abi Juray Jabir bin Sulaim radhiyallahu ‘anhu. Dinilai shahih oleh al-Albani]

Juga Nabi tidak menerima alasan seorang shahabat yang isbal karena cacat (kakinya bengkok), bukan karena sombong. Seandainya boleh isbal asal tidak sombong, tentulah shahabat ini telah diberi keringan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena cacat.

Asy-Syarid berkata:

أَبْصَرَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَجُرُّ إِزَارَهُ، فَأَسْرَعَ إِلَيْهِ أَوْ هَرْوَلَ، فَقَالَ: «ارْفَعْ إِزَارَكَ وَاتَّقِ اللّٰهَ» قَالَ: إِنِّي أَحْنَفُ تَصْطَكُّ رُكْبَتَايَ، فَقَالَ: «ارْفَعْ إِزَارَكَ، فَإِنَّ كُلَّ خَلْقِ اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ حَسَنٌ» فَمَا رُئِيَ ذَلِكَ الرَّجُلُ بَعْدُ إِلَّا إِزَارُهُ يُصِيبُ أَنْصَافَ سَاقَيْهِ أَوْ إِلَى أَنْصَافِ سَاقَيْهِ

“Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seseorang yang menjulurkan kain bawahnya. Beliau pun mengejarnya atau berlari lalu bersabda, ‘Naikkan kainmu dan bertaqwalah kepada Allâh.’ Dia menjawab, ‘Saya ahnaf (berkaki bengkok) sehingga dua lutut saling terpaut.’ Beliau menjawab, ‘Naikkan kainmu karena semua ciptaan Allâh adalah baik.’ Semenjak itu, lelaki tersebut tidak terlihat kecuali kain bawahnya setengah betis –atau mencapai setengah betis–.” [Shahih: HR. Ahmad (no. 19475, XXXII/223) dalam Musnadnya, ath-Thabarani (no. 7241) dalam al-Mu’jam al-Kabîr, dan al-Humaidi (no. 829) dalam Musnadnya. Dinilai shahih oleh al-Arna`uth sesuai syarat Muslim dan al-Albani sesuai syarat al-Bukhari Muslim dengan sanad yang lain]

Syaraful Haq Abadi berkata, “Kesimpulannya adalah isbal melazimkan menjulurkan kain, dan menjulurkan kain melazimkan sombong meskipun pelakunya tidak meniatkannya.” [‘Aunul Ma’bûd (XI/96) olehnya]

Ukuran Kain Bawah Menurut Sunnah

Yang lebih utama adalah setengah betis, tetapi jika tepat di atas mata kaki (sebagian pendapat: menutupi mata kaki) tidak masalah. Adapun melebihi mata kaki maka hukumnya haram. Hal ini berdasarkan Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

«إِزْرَةُ الْمُؤْمِنِ إِلَى أَنْصَافِ سَاقَيْهِ، لَا جُنَاحَ عَلَيْهِ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ، وَمَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ فِي النَّارِ». يَقُولُ ثَلَاثًا: «لَا يَنْظُرُ اللّٰهُ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا»

“Kain (izar) orang beriman adalah sampai setengah betis, dan tidak mengapa di antara dua mata kaki. Apa yang di bawah mata kaki di neraka.” Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. “Allâh tidak melihat kepada seseorang yang menjulurkan kain bawahnya karena sombong.” [Shahih: HR. Ibnu Majah (no. 3573, II/1183), Abu Dawud (no. 4093), Ahmad (no. 11010) dalam Musnadnya, dan Ibnu Hibban (no. 5446) dalam Shahîhnya. Dinilai shahih al-Albani dan Syu’aib al-Arna`uth dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu]

Adapun bagi kaum wanita, justru yang utama adalah dijulurkan sampai menyentuh tanah, karena wanita adalah aurat.

Ummul Mu`minin Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata:

سُئِلَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَمْ تَجُرُّ الْمَرْأَةُ مِنْ ذَيْلِهَا؟ قَالَ: «شِبْرًا» قُلْتُ: إِذًا يَنْكَشِفُ عَنْهَا قَالَ: «ذِرَاعٌ لَا تَزِيدُ عَلَيْهِ»

“Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, ‘Berapa (panjang) ujung kain bawah yang boleh perempuan julurkan?’ Beliau menjawab, ‘Satu jengkal.’ Aku berkata, ‘Kalau begitu akan tersingkap (aurat) darinya.’ Beliau berkata, ‘Satu hasta dan jangan tambah melebihi itu.’” [Shahih: HR. Ibnu Majah (no. 3580, II/1185), an-Nasa`i (no. 5339), dan ad-Darimi (no. 2686)]

Imam at-Tirmidzi berkata:

وَفِي هَذَا الحَدِيثِ رُخْصَةٌ لِلنِّسَاءِ فِي جَرِّ الإِزَارِ لِأَنَّهُ يَكُونُ أَسْتَرَ لَهُنَّ

“Dalam hadits ini terdapat keringanan bagi kaum wanita untuk menjulurkan kain bawahnya karena hal itu lebih menutupi mereka (auratnya).” [Sunan at-Tirmidzî (IV/224)][AZ]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*