isbal

Hukum Celana Cingkrang atau Menggantung (1)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Fiqih, Manhaj 0 Comments

Jika Anda yakin bahwa sebaik-baik teladan manusia kain celananya atau sarungnya di atas mata kaki dan berjenggot lebat, maka tidak usah pedulikan kata orang. Sesungguhnya celaan mereka tidak akan mengurangi harta Anda, jabatan Anda, dan kedudukan Anda di sisi Allâh. Justru masing-masing kita akan menghadap Allâh secara sendiri-sendiri mempertanggung-jawabkan sikap kita terhadap ajaran Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allâh berfirman:

«وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا»

“Dan setiap mereka akan datang kepada-Nya secara sendiri-sendiri.” [QS. Maryam [19]: 95]

Banyak sekali dalil yang menyebutkan bahwa kain bawah Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas mata kaki. Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Asy’ats bin Sulaim berkata:

سَمِعْتُ عَمَّتِي تُحَدِّثُ عَنْ عَمِّهَا قَالَ: بَيْنَا أَنَا أَمشِي بِالْمَدِينَةِ، إِذَا إِنْسَانٌ خَلْفِي يَقُولُ: «ارْفَعْ إِزَارَكَ، فَإِنَّهُ أَتْقَى وَأَبْقَى» فَإِذَا هُوَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللّٰهِ إِنَّمَا هِيَ بُرْدَةٌ مَلْحَاءُ، قَالَ: «أَمَا لَكَ فِيَّ أُسْوَةٌ؟» فَنَظَرْتُ فَإِذَا إِزَارُهُ إِلَى نِصْفِ سَاقَيْهِ

“Aku mendengar bibiku berkisah dari pamannya yang berkata, ‘Saat aku berjalan di Madinah, tiba-tiba seseorang di belakangku berkata, ‘Naikkan kain bawahmu karena itu lebih bertakwa dan langgeng.’ Ternyata dia adalah Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berkata, ‘Wahai Rasûlullâh burdah ini memang untuk keindahan.’ Beliau bersabda, ‘Bukankah di dalam diriku terdapat teladan bagimu?’ Lantas aku melihat ternyata kain sarung beliau mencapai setengah betis.” [Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 120) dalam asy-Syamâ`il al-Muhammadiyah. Dinilai shahih oleh al-Albani]

Salamah bin al-Akwa’ berkata:

كَانَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ يَأْتَزِرُ إِلَى أَنْصَافِ سَاقَيْهِ وَقَالَ: هَكَذَا كَانَتْ إِزْرَةُ صَاحِبِي، يَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“’Utsman bin ‘Affan memakai kain sarung hingga setengah betis dan dia berkata, ‘Seperti inilah kain sarung temanku,’ maksudnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 121) dalam asy-Syamâ`il al-Muhammadiyah. Dinilai shahih oleh al-Albani]

Setelah membaca riwayat-riwayat yang secara terang menjelaskan bahwa pakaian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setengah betis dan tidak menjulur sampai melebihi mata kaki, manusia terbagi menjadi beberapa kelompok.

Di antaranya: mereka yang menanggapi, “Biarlah Rasûlullâh kainnya setengah betis, adapun kami lebih enjoy dijulurkan. Lagian teman-teman kami banyak yang menjulurkannya.”

Di antaranya: mereka yang menanggapi, “Memang nash menunjukkan bahwa kain Rasûlullâh setengah betis tetapi Anda terlalu keburu menyimpulkan hukum. Tidaklah Anda kecuali hanya sekedar mengetahui secara tekstual saja, sementara kami memahaminya secara kontekstual hingga ke akar-akarnya. Bahkan, kami sedikitpun tidak pernah mendapati para kyai dan ustadz kami mengajarkan hal itu dan tidak pula mereka menaikkan kainnya hingga di atas mata kaki. Yang jelas, mereka lebih pintar dan lebih alim daripada Anda!”

Di antaranya: mereka yang menanggapi, “Meskipun amal kami tidak bisa menyamai Abu Bakar yang bisa masuk dari segala pintu kebaikan, tidak pula ‘Umar yang tegas dan tegar dalam membela Islam, tidak pula ‘Utsman yang memiliki keutamaan hingga membuat para malaikat merasa malu kepadanya. Namun, demi Allâh kami mencintai Allâh dan Rasul-Nya. Maka, kami menjadikan Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan bagi kami dengan kami meninggikan kain celana hingga setengah betis atau minimal di atas mata kaki, sebagai bentuk kecintaan kami kepada Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Demi Rabb Ka’bah, orang terakhir inilah yang kita cintai karena Allâh karena kecintaan mereka kepada Allâh dan Rasul-Nya. Demi Allâh, merekalah orang-orang yang telah dilapangkan dadanya oleh Allâh untuk menerima ajaran Islam. Semoga kita termasuk golongan mereka.

«فَمَنْ يُرِدِ اللّٰهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللّٰهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ»

“Barangsiapa yang dikehendaki Allâh diberi hidayah, niscaya Dia lapangkan dadanya untuk (menerima ajaran) Islam, dan barangsiapa yang dikehendaki-Nya untuk disesatkan, niscaya Dia akan menjadikan hatinya sempit dan sesat seakan-akan dia naik ke langit. Demikianlah Allâh menjadikan rijs atas orang-orang yang tidak beriman.” [QS. Al-An’âm [6]: 125]

Al-Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan, “Ibnu Abi Thalbah berkata dari Ibnu ‘Abbas bahwa makna rijs adalah setan. Mujahid berkata, ‘Apapun yang tidak ada kebaikannya.’ ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata, ‘Siksa.’” [Tafsîr Ibnu Katsîr (III/337)]

Ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Bagi Musbil

Musbil adalah orang yang menjulurkan kain bawah (celana atau sarung) melebihi mata kaki. Kain yang terjulur dan bagian kaki tempat kain tersebut akan dimasukkan ke dalam neraka berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

«مَا أَسْفَلَ مِنَ الكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِي النَّارِ»

“Apa yang dibawah mata kaki dari kain izar maka di neraka.” [Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 5787, VII/141), an-Nasa`i (no. 5331), dan Ahmad (no. 9934) dalam Musnadnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan, “Al-Khaththabi berpendapat bahwa yang dimaksud adalah tempat yang dikenakan kain tersebut yang di bawah mata kaki di neraka.” Lanjut Ibnu Hajar, “Memungkinkan hadits ini dibawa kepada makna zhahirnya seperti firman Allâh, ‘Sesungguhnya kalian dan apa yang kalian sembah selain Allâh (patung-patung berhala) adalah bahan bakar Jahannam.’”[QS. Al-Anbiyâ` [24]: 98, Fathul Bârî (X/257) oleh Ibnu Hajar. Sepertinya Ibnu Hajar memaksudkan bahwa yang dimasukkan ke neraka adalah kaki sekaligus kainnya]

Jika isbalnya itu disertai kesombongan, maka dosanya lebih berat dan akan mendapat tiga keburukan di akhirat: tidak dilihat Allâh, tidak disucikan dari dosa, dan mendapat siksa yang pedih, berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

«ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللّٰهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ»

“Tiga orang yang tidak akan diajak bicara Allâh pada hari Kiamat, tidak dilihat Allâh (dengan rahmat), dan ia mendapat siksa yang pedih.”

Beliau mengucapkanya sebanyak tiga kali lalu Abu Dzar berkata, “Celaka mereka dan merugi mereka, siapakah mereka wahai Rasûlullâh?” Beliau menjawab:

«الْمُسْبِلُ، وَالْمَنَّانُ، وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ»

“Musbil, mannan (menyebut-nyebut pemberian), dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah dusta.” [Shahih: HR. Muslim (no. 106, I/102), at-Tirmidzi (no. 1211), Abu Dawud (no. 4087), an-Nasa`i (no. 2563), Ibnu Majah (no. 2208), Ahmad (no. 21318) dalam Musnadnya, dan Ibnu Hibban (no. 4907) dalam Shahîhnya]

Bersambung…

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*