cadar

Hukum Cadar: Khilaf Para Ulama (2)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Fiqih 0 Comments

Betapa banyak kaum wanita yang meninggalkan perintah Allâh ini sehingga mereka diincar oleh mata-mata nakal lalu hilang kehormatannya. Mereka pergi dari rumah kampung halamannya dengan membawa impian dan harapan orangtua, kemudian pulang ke kampungnya lagi dengan membawa ijazah dan anak tanpa ayah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا»

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya, yaitu [1] kaum lelaki yang membawa cemeti seperti ekor sapi yang digunakan untuk mencambuk manusia, dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, yang condong dan berlegak-legok, kepala mereka seperti punuk unta yang menonjol. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapati aromanya padahal aromanya bisa dirasakan sejauh perjalanan sekian dan sekian.” [Shahih: HR. Muslim (no. 2128, III/1680), Ahmad (no. 8665) dalam Musnadnya, dan Ibnu Hibban (no. 7461) dalam Shahîhnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Sabda beliau “yang belum pernah aku lihat sebelumnya” menunjukkan bahwa wanita-wanita itu tidak ada pada zaman Nabi. Namun, pada zaman ini menjadi sebaliknya, wanita yang seperti pada zaman dulu hampir tidak ada pada zaman sekarang kecuali hanya sedikit.

Siapakah Bilqis? Dia adalah ratu kafir yang menyembah matahari tetapi kemudian Allâh memuliakannya dengan menjadi pendamping seorang nabi.

Saat dia diundang Sulaiman ‘alaihis salam untuk datang ke istananya, Allâh yang Mahatahu mengabarkan kedatangannya:

«قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الصَّرْحَ فَلَمَّا رَأَتْهُ حَسِبَتْهُ لُجَّةً وَكَشَفَتْ عَنْ سَاقَيْهَا قَالَ إِنَّهُ صَرْحٌ مُمَرَّدٌ مِنْ قَوَارِيرَ»

“Dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam istana!’ Maka, tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman, ‘Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca.’” [QS. An-Naml [27]: 44]

Ayat ini menunjukkan bahwa pada waktu itu ratu Bilqis memakai pakaian panjang dan longgar hingga menutupi betisnya. Padahal siapa dia? Seorang wanita kafir penyembah matahari. Sementara, sebagian wanita muslimah sekarang justru berlomba-lomba melepaskan jilbab dan memilih pakaian yang tidak tahu malu dan tidak takut kepada Allâh. Sangatlah memilukan seorang wanita kafir memakai pakaian yang lebih sopan daripada pakaian sebagian wanita muslimah. Untuk itulah –wallahu a’lam– ratu Bilqis pantas untuk menjadi istri seorang nabi sekaligus raja yang luas kerajaannya, bukan yang lainnya.[]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*